Posted in

DI ACARA LAMARAN ADIK IPARKU, TUNANGANNYA YANG SOMBONG MENYIRAMKAN SATU PITCHER ES TEH KE BAJU KU; AKU PERGI TANPA SEPATAH KATA, TAPI TIGA PULUH MENIT KEMUDIAN, SEMUA TELEPON BERDERING BERSAMAAN—DAN SAAT ITULAH MEREKA TAHU TANDA TANGAN SIAPA YANG MENENTUKAN MASA DEPANNYA MALAM ITU

DI ACARA LAMARAN ADIK IPARKU, TUNANGANNYA YANG SOMBONG MENYIRAMKAN SATU PITCHER ES TEH KE BAJU KU; AKU PERGI TANPA SEPATAH KATA, TAPI TIGA PULUH MENIT KEMUDIAN, SEMUA TELEPON BERDERING BERSAMAAN—DAN SAAT ITULAH MEREKA TAHU TANDA TANGAN SIAPA YANG MENENTUKAN MASA DEPANNYA MALAM ITU

BAGIAN 1 — MEREKA MENGIRA AKU HANYA SEORANG PEMBUKUAN YANG BEKERJA DARI RUMAH. SAAT AKU MENOLAK MENGAGUNKAN RUMAH KAMI, AKU DICAP PELIT DAN DIPERMALUKAN DI DEPAN SELURUH KELUARGA SEAKAN-AKAN AKU TIDAK PUNYA HARGA DIRI

Aku tidak berteriak ketika teh es yang dingin menghantam wajahku.

Aku juga tidak membalas ketika cairan berwarna merah kecokelatan itu mengalir dari rambutku, turun ke leher, lalu membasahi gaun putih yang sudah kupilih dengan hati-hati selama berjam-jam untuk menghadiri acara lamaran adik iparku.

Seluruh aula acara langsung terdiam.

Bahkan grup musik yang sedang tampil di sudut ruangan ikut berhenti memainkan lagu.

Di hadapanku berdiri Darwin Salcedo. Wajahnya memerah karena alkohol dan amarah. Di tangannya masih tergenggam gelas yang beberapa saat lalu penuh berisi teh es.

“Semoga kepalamu jadi lebih dingin,” bentaknya. “Tidak mungkin selamanya kamu yang mengatur keluarga ini!”

Beberapa tamu langsung menarik napas kaget.

Ayah mertuaku, Pak Ernesto, bangkit dari kursinya. Namun aku perlahan mengangkat tangan untuk menghentikannya.

“Sudahlah, Pak.”

Hanya itu yang kukatakan.

Aku mengambil serbet dari meja, mengusap wajahku, lalu berusaha membersihkan noda di gaunku. Setelah itu, aku mengambil tas tangan yang tergantung di belakang kursi.

“Lia,” panggil suamiku, Marco.

Aku tidak menoleh.

Aku masih bisa mendengar isak tangis Bianca, adik iparku, suara memohon dari ibu mertuaku, Bu Celia, serta teriakan Darwin yang belum juga berhenti.

Namun aku terus melangkah keluar.

Sesampainya di lobi, aku melihat jam di ponselku.

Pukul 19.30.

Sudah tiga tahun aku menikah dengan Marco Reyes.

Selama tiga tahun itu, aku selalu berusaha menyesuaikan diri dengan keluarganya.

Keluarga Reyes bukanlah keluarga kaya.

Pak Ernesto dulunya bekerja sebagai mekanik di sebuah perusahaan bus di Jawa Barat. Sementara Bu Celia berjualan lauk rumahan di depan rumah mereka.

Mereka memiliki dua orang anak.

Marco adalah anak sulung. Ia bekerja sebagai supervisor penjualan di sebuah toko peralatan elektronik. Ia pekerja keras, rendah hati, dan tidak pernah malu mengakui bahwa dulu ia memulai karier sebagai pengangkat barang di gudang.

Anak bungsu mereka adalah Bianca, atau yang biasa dipanggil Bia. Ia bekerja sebagai staf administrasi penggajian di sebuah lembaga bimbingan belajar kecil dan memperoleh penghasilan sekitar Rp5.500.000 per bulan.

Orang tuanya sangat menyayanginya.

Dalam setiap acara keluarga, Bia selalu menjadi pusat perhatian.

Katanya dia cantik.

Katanya dia pintar.

Katanya dia pandai memilih pria yang memiliki masa depan cerah.

Pria itu adalah Darwin.

Menurut cerita yang terus-menerus ia banggakan, Darwin adalah pegawai tetap di Dinas Pertanian Kota. Ia memiliki jabatan, banyak koneksi, dan mengaku dekat dengan beberapa pejabat pemerintah daerah.

Hubungannya dengan Bia sudah berjalan lebih dari dua tahun.

Tiga bulan sebelum acara lamaran, mereka memesan sebuah rumah tipe townhouse di kawasan perumahan baru.

Harga rumah itu mencapai Rp4.800.000.000.

Mereka harus menyediakan sekitar Rp950.000.000 untuk uang muka serta berbagai biaya administrasi.

Pak Ernesto dan Bu Celia berhasil mengumpulkan Rp240.000.000.

Sementara keluarga Darwin memberikan Rp165.000.000.

Meski begitu, mereka masih kekurangan lebih dari Rp545.000.000.

Di situlah semua masalah mulai muncul.

Pada suatu hari Minggu setelah makan siang, Bu Celia mengeluarkan brosur perumahan itu…

BAGIAN 2 — KEBOHONGAN YANG BERUJUNG MALAPETAKA

Bu Celia meletakkan brosur perumahan mewah itu tepat di depanku. Matanya berbinar, namun ada gurat kecemasan di wajahnya.

“Lia,” kata Bu Celia lembut, namun nadanya menuntut. “Keluarga Darwin sudah membantu banyak. Tapi kita masih kurang 545 juta rupiah. Ibu tahu kamu punya sertifikat rumah warisan orang tuamu di kota. Bisakah kita jaminkan ke bank sebentar? Darwin berjanji akan mencicilnya setiap bulan setelah mereka menikah.”

Aku tertegun. Rumah itu adalah satu-satunya peninggalan almarhum orang tuaku.

“Maaf, Ibu,” jawabku setenang mungkin. “Saya tidak bisa. Uang muka itu terlalu besar untuk penghasilan Bia dan Darwin. Menjaminkan rumah warisan sangat berisiko kalau cicilannya macet.”

Seketika itu juga, suasana hangat di meja makan menguap. Darwin, yang saat itu juga hadir, langsung menggebrak meja.

“Kau ini cuma pembukuan lepas yang kerja dari rumah, Lia! Kerjamu cuma di depan laptop pakai daster!” ejek Darwin dengan sombong. “Kau tidak tahu bagaimana dunia bisnis dan birokrasi bekerja. Saya ini ASN di Dinas Pertanian, koneksi saya banyak! Masa depan saya cerah. Kau pelit sekali pada adik iparmu sendiri, seperti tidak punya harga diri dan rasa kekeluargaan!”

Bia langsung menangis sesenggukan, menuduhku ingin merusak kebahagiaannya. Pak Ernesto dan Bu Celia memandangku dengan tatapan kecewa yang mendalam. Hanya Marco yang membelaku, namun suaranya tenggelam oleh makian Darwin dan tangisan Bia.

Sejak hari itu, aku dicap sebagai menantu pembangkang, pelit, dan egois. Mereka tidak tahu, pekerjaan “pembukuan dari rumah” yang mereka sewa-sewakan sebenarnya adalah posisi Chief Financial Officer (CFO) dan penasihat keuangan utama untuk sebuah konsorsium pengembang properti terbesar di provinsi ini—perusahaan yang sedang membangun kawasan townhouse mewah yang sangat diimpikan Darwin.

Hingga tibalah malam acara lamaran resmi ini, di mana Darwin, yang merasa di atas angin karena mengira pinjaman banknya akan segera cair berkat “koneksi pejabatnya”, memutuskan untuk mempermalukanku di depan umum dengan menyiramkan es teh ke bajuku.

BAGIAN 3 — TIGA PULUH MENIT YANG MENGUBAH SEGALANYA

Aku masuk ke dalam taksi dengan baju yang basah kuyup dan lengket. Alih-alih menangis, mataku menatap dingin ke luar jendela.

Mereka mengira aku tidak punya harga diri? Mari kita lihat siapa yang sebenarnya tidak punya apa-apa malam ini.

Aku merogoh ponselku dan melakukan satu panggilan telepon kepada Direktur Utama Bank Daerah yang bekerja sama dengan proyek perumahan tersebut, yang juga merupakan rekan bisnis dekatku.

“Halo, Pak Sanjaya? Ini Lia. Saya ingin meninjau kembali berkas analisis risiko untuk proyek townhouse Cluster Amarilis. Khususnya, aplikasi kredit atas nama Darwin Salcedo.”

Di seberang telepon, suara Pak Sanjaya langsung berubah formal dan penuh hormat. “Ah, Ibu Lia. Tentu saja. Ada masalah dengan berkas tersebut?”

“Ya. Berdasarkan analisis saya sebagai CFO konsorsium, data pendapatan yang bersangkutan mengalami manipulasi sekunder, dan agunan tambahan yang diajukan tidak valid. Saya tidak akan menandatangani persetujuan subsidi developer untuk akun tersebut. Tolong batalkan aplikasinya, dan coret namanya dari daftar prioritas ASN.”

“Baik, Ibu Lia. Perintah Anda segera dilaksanakan. Saya akan menghubungi kepala cabang sekarang juga.”

Setelah menutup telepon, aku mengirim satu pesan singkat kepada Marco: ‘Aku pulang ke rumah kita. Jangan susul aku sebelum acara selesai. Biarkan mereka menikmati malamnya.’

BAGIAN 4 — SAAT SEMUA TELEPON BERDERING BERSAMAAN

Tepat tiga puluh menit setelah aku melangkah keluar dari aula hotel—pukul 20.00 WIB—acara lamaran yang megah itu mendadak kacau.

Ponsel Darwin berdering keras. Itu dari Kepala Cabang Bank Daerah. Darwin tersenyum sombong kepada calon mertuanya, mengira ini adalah kabar baik tentang pencairan dana.

“Halo, Pak? Ya, saya Darwin—”

Wajah Darwin mendadak pucat pasi. Suara di seberang telepon begitu keras hingga bisa terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.

“Saudara Darwin, kami menyesal mengumumkan bahwa pengajuan kredit rumah Anda ditolak secara permanen oleh komite pusat karena ketidaksesuaian data keuangan. Unit Anda di townhouse akan dialihkan ke pembeli lain besok pagi.”

“Ta-tapi Pak! Koneksi saya di Dinas—” Sebelum Darwin selesai berbicara, telepon ditutup sepihak.

Belum sempat Darwin mencerna kejutan itu, ponsel ayahnya, yang juga menjabat di instansi yang sama, berdering. Kali ini dari kantor inspektorat wilayah.

Di saat yang sama, ponsel Bia berbunyi. Pihak manajemen perumahan menghubungi untuk menyatakan bahwa uang tanda jadi (booking fee) mereka hangus karena pembatalan sepihak dari sistem pusat.

Aula yang tadinya penuh tawa mendadak mencekam. Tiga telepon berdering bersamaan membawa badai kehancuran bagi impian mereka.

“Bagaimana bisa?!” teriak Darwin frustrasi, menjambak rambutnya sendiri. “Siapa yang berani membatalkan ini? Tanda tangan siapa yang berwenang di atas kepala cabang?!”

Marco, yang sejak tadi hanya diam menahan amarah atas apa yang menimpa istrinya, perlahan bangkit dari kursinya. Ia merogoh ponselnya, lalu memutar sebuah video profil perusahaan pengembang townhouse tersebut yang baru saja dirilis di situs resmi mereka bulan lalu—video yang selama ini tidak pernah dipedulikan oleh keluarganya.

Marco meletakkan ponselnya di tengah meja, tepat di hadapan Darwin, Bia, dan kedua orang tuanya.

Di layar video itu, sosokku mengenakan setelan blazer formal yang elegan, duduk di meja marmer besar dengan papan nama berukir emas: Lia katarina, S.E., M.B.A. — Chief Financial Officer & Head of Risk Assessment.

Suara narator video terdengar jelas di seluruh ruangan: “…dan setiap proyek serta persetujuan pembiayaan konsumen di bawah naungan konsorsium wajib melalui audit dan persetujuan tanda tangan dari Ibu Lia Katarina.”

Ruangan itu seketika hening, lebih dingin daripada es teh yang disiramkan ke bajuku.

“L-Lia…?” bisik Bu Celia dengan bibir gemetar, wajahnya mendadak kehilangan warna.

“Dia bukan sekadar pembukuan yang bekerja dari rumah dengan daster, Darwin,” kata Marco dengan nada dingin yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. “Dia adalah orang yang menentukan apakah rumah 4,8 miliar itu bisa kau tempati atau tidak. Dan malam ini, dengan menyiramnya, kau baru saja menandatangani surat kemiskinanmu sendiri.”

Darwin terduduk lemas di lantai hotel, kesombongannya runtuh total. Bia menangis histeris, sementara Pak Erneso dan Bu Celia hanya bisa menatap kosong, menyadari bahwa menantu yang mereka permalukan dan mereka cap pelit, adalah satu-satunya orang yang memegang kunci masa depan keluarga mereka.

Namun semuanya sudah terlambat. Tanda tanganku malam itu sudah final.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.