Posted in

Pria yang menyelamatkan hidupku saat aku berumur sepuluh tahun muncul di depan pintu rumah. Hal pertama yang ia tanyakan adalah, “Kamu masih memegang janji itu?”

Pria yang menyelamatkan hidupku saat aku berumur sepuluh tahun muncul di depan pintu rumah. Hal pertama yang ia tanyakan adalah, “Kamu masih memegang janji itu?”

Aku sedang mencuci piring ketika bel berbunyi.

Bukan bel yang manis. Bel rumah kontrakanku sudah rusak setengah tahun, jadi kalau ditekan bunyinya seperti cicak kesetrum.

Aku mengeringkan tangan di ujung daster, berjalan ke ruang depan, lalu membuka pintu tanpa melihat dulu dari lubang kecil.

Kesalahan bodoh.

Tapi setelah tiga puluh tahun hidup, orang kadang tetap ceroboh untuk hal-hal kecil.

Di depan pintu berdiri seorang pria tua dengan jaket abu-abu lusuh. Rambutnya hampir putih semua. Wajahnya lebih tirus dari ingatanku, tapi matanya…

Aku tahu mata itu.

Mata yang dulu menatapku dari balik asap bus terbakar.

Mata yang berkata,

“Jangan tidur, Dik. Kalau kamu tidur, kamu kalah.”

Aku mundur setengah langkah.

“Pak Harun?”

Pria itu tersenyum sedikit. Bukan senyum bahagia. Lebih seperti seseorang yang sudah berjalan terlalu jauh dan akhirnya menemukan alamat yang benar.

“Rani.”

Suaraku hilang.

Dua puluh tahun.

Dua puluh tahun sejak kecelakaan bus di jalan menurun dekat Puncak. Aku sepuluh tahun waktu itu. Bus sekolah kami terguling, kaca pecah, bensin bocor, anak-anak menjerit. Aku terjepit di kursi belakang, kaki kiriku berdarah, napasku hampir habis karena asap.

Orang-orang di luar panik.

Lalu seorang sopir truk berhenti. Masuk ke badan bus yang sudah mulai terbakar kecil di bagian mesin. Ia mengangkat satu anak. Keluar. Masuk lagi. Mengangkat anak lain. Keluar. Masuk lagi.

Ketika ia menemukanku, aku sudah tidak bisa menangis.

“Nama kamu siapa?”

“Rani…”

“Rani, dengar saya. Kamu harus janji satu hal.”

“Janji apa, Pak?” tanyaku dengan suara parau, terbatuk-batuk di tengah kepulan asap yang kian mencekik.

“Berjanjilah untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang baik,” bisiknya, suaranya mantap di tengah kepanikan sekitar. “Dan jika suatu hari nanti… saat saya sudah tua, kehilangan segalanya, dan dunia memunggungi saya… berjanji jugalah untuk tidak menutup pintumu ketika saya datang mengetuk.”

Saat itu, di usia sepuluh tahun, aku tidak sepenuhnya paham apa arti kehilangan segalanya. Namun, didekap oleh pria asing yang rela menerobos api demi menyelamatkanku, aku mengangguk kuat-kuat.

“Saya janji, Pak. Saya janji.”

Detik berikutnya, ia membopongku keluar. Beberapa saat setelah kaki kami menyentuh aspal jalanan Puncak yang dingin, bagian belakang bus itu meledak. Pak Harun mendekapku erat, melindungiku dari serpihan kaca. Setelah menyerahkanku ke petugas medis, ia menghilang begitu saja ke dalam kabut malam.

Kembali ke Masa Kini

Kenangan itu menghantamku begitu keras hingga dadaku terasa sesak.

Aku menatap pria tua di hadapanku. Dua puluh tahun telah berlalu. Aku mendengar kabar dari kampung halamannya beberapa tahun lalu bahwa Pak Harun kehilangan seluruh keluarganya dalam sebuah tragedi, rumahnya disita, dan ia hidup luntang-lantung sebagai tunawisma. Dunia yang kejam telah merampas segalanya dari pria paling baik yang pernah kukenal.

“Kamu masih memegang janji itu, Rani?” tanyanya lagi. Suaranya gemetar, dipenuhi keraguan yang teramat sangat—seolah ia siap berbalik arah jika aku menggeleng.

Air mataku luruh tanpa bisa ditahan. Semua rasa lelah karena hidup serbapas-pasan di rumah kontrakan sempit ini menguap begitu saja. Dibandingkan dengan nyawa yang ia berikan padaku dua puluh tahun lalu, apa arti sebuah pintu yang terbuka?

Aku tersenyum lebar di tengah tangis, lalu melangkah maju dan menggenggam kedua tangan tuanya yang kasar dan dingin.

“Saya tidak pernah melupakannya, Pak. Sedetik pun tidak.”

Aku menarik tas kain lusuhnya dengan lembut, lalu bergeser ke samping, membuka pintu rumahku selebar mungkin. Bau harum sisa sabun cuci piring dan kehangatan dari dalam rumah berembus keluar.

“Masuklah, Pak Harun. Tehnya baru saja saya seduh. Rumah ini memang kecil, tapi mulai hari ini… ini adalah rumah Bapak juga.”

Pak Harun menatapku lama, sebelum akhirnya sepasang matanya yang lelah itu berkaca-kaca. Bahunya yang tegang perlahan rileks, melepaskan beban puluhan tahun yang selama ini dipikulnya sendirian.

Ia melangkah melewati batas pintu, meninggalkan dinginnya dunia luar, menuju tempat perlindungan yang telah menantinya selama dua puluh tahun.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.