Posted in

Para penumpang marah ketika sopir angkot tiba-tiba menghentikan kendaraannya di pinggir jalan dan menundukkan kepala ke setir. Namun, semuanya terdiam saat seseorang menyadari bahwa pria itu sudah tidak bernapas.

Para penumpang marah ketika sopir angkot tiba-tiba menghentikan kendaraannya di pinggir jalan dan menundukkan kepala ke setir. Namun, semuanya terdiam saat seseorang menyadari bahwa pria itu sudah tidak bernapas.

Senin pagi. Jam sibuk.

Angkot yang dikemudikan Pak Ruben penuh sesak oleh penumpang.

Udara panas, debu beterbangan, dan kemacetan begitu parah.

Semua orang sedang terburu-buru.

Ada para pelajar yang takut terlambat mengikuti ujian, dan para karyawan yang khawatir mendapat teguran karena datang terlambat ke kantor.

Saat mereka melewati jalan yang curam dan menurun, para penumpang tiba-tiba merasakan angkot itu tersentak.

Tiba-tiba Pak Ruben membanting setir ke kanan.

SKREEEET!

Angkot itu berhenti di tepi jalan, tidak jauh dari jurang.

Begitu kendaraan berhenti, mereka melihat Pak Ruben perlahan menundukkan tubuhnya.

Wajahnya tertelungkup di atas setir. Matanya terpejam.

Para penumpang saling berpandangan.

Mereka mengira sopir itu hanya mengantuk atau sedang bermalas-malasan.

“Pak!” teriak seorang pria berjas yang hendak pergi bekerja.

“Ada apa? Kenapa berhenti? Saya bisa terlambat untuk rapat!”

Pak Ruben tidak menjawab.

Kepalanya tetap tertunduk.

“Parah sekali sopir ini!” keluh seorang pelajar.

“Tidur saat bekerja? Ini masih pagi! Bisa jalan lagi, tidak?”

“Hei! Bangun!” teriak seorang ibu.

“Kami sudah membayar, malah ditinggal tidur! Waktu kami terbuang sia-sia!”

Keluhan dan omelan pun bermunculan.

Semua orang mulai kesal.

Bahkan beberapa penumpang ingin turun dan tidak membayar ongkos.

Karena sopir itu tidak bergerak sama sekali, penumpang yang duduk di kursi depan akhirnya mendekat.

“Pak, bangun! Semua orang sudah marah!”

Ia menepuk bahu Pak Ruben.

Namun, begitu disentuh, tubuh Pak Ruben langsung terjatuh ke samping.

Mata penumpang itu membelalak.

Wajah Pak Ruben sudah pucat keabu-abuan.

Matanya terbuka, tetapi tidak lagi menunjukkan kehidupan.

Bibirnya mulai membiru.

Penumpang itu memegang pergelangan tangan Pak Ruben.

Seketika, suasana di dalam angkot menjadi sunyi.

“D-dia sudah tidak ada…” katanya dengan suara gemetar.

“Tidak ada denyut nadinya. Pak sopir sudah meninggal.”

Seolah disiram air es, para penumpang yang beberapa saat sebelumnya masih berteriak dan memaki mendadak membeku.

“Apa? Meninggal?”

Mereka menatap tubuh sopir itu.

Serangan jantung.

Pak Ruben terkena serangan jantung saat sedang mengemudi.

Namun, mereka semakin terharu ketika salah seorang penumpang menyadari sesuatu pada tangan Pak Ruben.

Tangan kanannya menggenggam rem tangan dengan sangat erat.

Kaki kirinya menekan pedal rem sekuat tenaga.

Saat itulah mereka memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika Pak Ruben menyadari bahwa dirinya sedang mengalami serangan jantung dan mungkin tidak akan selamat…

ia tidak melepaskan setir.

Mereka sedang berada di jalan menurun yang sangat curam.

Jika ia melepaskan kendali dan meninggal begitu saja, angkot itu bisa terjun ke jurang atau menabrak truk-truk dari arah berlawanan.

Dalam detik-detik terakhir sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, yang dipikirkan Pak Ruben bukanlah rasa sakit yang menghantam dadanya. Bukan pula ajalnya sendiri yang kian mendekat.

Pikiran terakhirnya adalah keselamatan belasan nyawa yang sedang ia bawa di belakangnya.

Dengan sisa kekuatan terakhir yang ia miliki, ia menguras seluruh energinya untuk satu tujuan: menyelamatkan para penumpangnya. Ia sengaja membanting setir ke kanan—menjauhi jurang di sebelah kiri—menepikan angkot, menarik rem tangan sekuat tenaga, dan menahan pedal rem dengan kaki kirinya yang kini telah kaku.

Satu per satu penumpang mulai melangkah turun dari angkot dengan tubuh bergetar. Keheningan yang mencekam menyelimuti pinggir jalan menurun itu.

Pria berjas yang tadi berteriak marah karena takut terlambat rapat, kini jatuh terduduk di atas pembatas jalan. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat karena tangis penyesalan yang mendalam.

“Ya Tuhan… aku tadi memaki pria yang baru saja menyelamatkan nyawaku,” bisiknya parau, air matanya menetes membasahi aspal.

Ibu yang mengeluh rugi karena telah membayar ongkos kini mendekat ke arah kemudi. Dengan tangan gemetar dan air mata yang mengalir deras, ia perlahan merapikan posisi tubuh Pak Ruben yang terkulai, lalu menutup mata pria tua itu dengan lembut.

“Maafkan kami, Pak… Maafkan kelancangan kami. Terima kasih banyak sudah membawa kami sampai ke tempat yang aman,” isak ibu itu, menaruh rasa hormat yang teramat dalam pada jasad sang pahlawan tanpa tanda jasa.

Beberapa pelajar yang tadi menggerutu kini sibuk menelepon ambulans dan polisi dengan suara yang terbata-bata karena tangis.

Tidak ada satu pun penumpang yang beranjak pergi meninggalkan tempat itu untuk mengejar urusan mereka masing-masing. Rapat penting, ujian sekolah, dan urusan kantor yang beberapa menit lalu terasa seperti akhir dunia, kini mendadak tidak lagi berarti. Mereka semua memilih bertahan di sana, menjaga jasad Pak Ruben di tepi jalan, seolah-olah menjaga anggota keluarga mereka sendiri.

Ketika sirene ambulans akhirnya terdengar meraung-raung dari kejauhan membelah keheningan pagi, para penumpang berdiri melingkari angkot tua itu.

Mereka tahu, mereka pulang ke rumah hari ini bukan karena sebuah kebetulan. Mereka selamat karena seorang sopir angkot miskin berpakaian lusuh memilih untuk bertarung melawan kematiannya selama beberapa detik, hanya demi memastikan bahwa belasan orang asing di belakangnya bisa kembali memeluk keluarga mereka masing-masing dengan utuh.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.