Posted in

Aku Adrian. Aku adalah CEO sebuah perusahaan besar. Karena kesibukan pekerjaan, aku sering kali jarang berada di rumah. Satu-satunya teman bagi istriku, Mia, di mansion kami yang megah hanyalah lima orang pembantu dan kepala pelayan kepercayaanku, Bu Tess.

Aku Adrian. Aku adalah CEO sebuah perusahaan besar. Karena kesibukan pekerjaan, aku sering kali jarang berada di rumah. Satu-satunya teman bagi istriku, Mia, di mansion kami yang megah hanyalah lima orang pembantu dan kepala pelayan kepercayaanku, Bu Tess.

Mia sedang mengandung anak pertama kami. Usia kandungannya sudah delapan bulan. Kehamilannya cukup rentan, jadi aku telah berpesan kepada seluruh staf untuk merawatnya dengan baik. Aku sangat mencintai Mia. Dia berasal dari keluarga sederhana, dan aku tidak ingin dia merasa kesulitan tinggal di mansion ini.

“Bu Tess, jangan biarkan Mia melakukan pekerjaan apa pun, ya? Penuhi semua keinginannya. Bonus kalian bulan ini akan dilipatgandakan asalkan kondisi istriku baik-baik saja,” pesanku sebelum berangkat ke Jepang untuk perjalanan bisnis.

“Tentu, Pak Adrian! Serahkan saja semuanya kepada kami. Bagi kami, Nyonya sudah seperti seorang ratu di rumah ini,” jawab Bu Tess sambil tersenyum.

Aku pun merasa tenang. Aku pikir istriku berada di tangan yang tepat.

Seharusnya aku berada di Jepang selama tiga hari, tetapi karena semuanya berjalan lancar, kesepakatan bisnis itu selesai hanya dalam satu hari. Aku pun memutuskan untuk segera pulang dan memberikan kejutan kepada Mia. Aku membeli cheesecake kesukaannya dan beberapa perlengkapan untuk bayi kami.

Aku tidak meminta sopir untuk menjemputku. Aku pulang dengan taksi agar tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku akan tiba lebih awal. Aku ingin melihat senyum Mia saat mengetahui bahwa aku pulang lebih cepat.

Pukul tiga sore, aku tiba di mansion.

Rumah itu sunyi.

Perlahan aku membuka pintu. Aku membayangkan akan melihat Mia sedang beristirahat di sofa sambil dilayani para pembantu.

Namun, pemandangan yang menyambutku sama sekali berbeda. Sebuah pemandangan yang menghancurkan hatiku dan mengubah Adrian yang selama ini murah hati.

Di tengah ruang tamu yang luas, aku melihat istriku yang sedang hamil berlutut dan merangkak di lantai.

Di tangannya ada selembar kain lap. Dia tampak kesulitan membungkuk karena perutnya yang sudah sangat besar. Tubuhnya dipenuhi keringat, pakaiannya kusut, dan wajahnya terlihat sangat lelah. Dia sedang membersihkan jus yang tumpah di atas karpet mahal.

Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir dari cerita tersebut:

Aku mematung di ambang pintu. Kotak cheesecake di tangan kananku bergetar, dan kantong belanjaan berisi perlengkapan bayi yang kubawa terasa amat berat. Jantungku berdegup kencang, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang mendadak mendidih di dalam dadaku.

“Aduh, Nyonya! Gosok yang bersih dong! Masa bersihin karpet impor begini saja tidak becus? Karpet ini harganya ratusan juta, kalau sampai bernoda, apa Nyonya mau tanggung jawab?”

Suara melengking itu berasal dari sofa mewah di sudut ruangan. Aku menoleh tajam. Di sana, Bu Tess sedang duduk santai sambil menikmati segelas es sirup, sementara dua pembantu lainnya asyik bermain ponsel dan mengikir kuku di belakangnya. Tidak jauh dari mereka, sebotol jus yang sengaja ditumpahkan tergeletak di lantai.

Mia tidak menjawab. Ia hanya menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang basah, lalu kembali menggosok lantai dengan napas yang terengah-engah. Tubuhnya yang sedang hamil tua tampak sangat rapuh.

“Bu Tess… perut saya agak kram dari tadi. Boleh saya istirahat sebentar?” tanya Mia, suaranya parau dan bergetar, menahan tangis.

“Istirahat? Enak saja!” Bu Tess mendengus sinis, beranjak dari sofa dan berdiri di dekat kepala istriku. “Nyonya harus sadar diri. Anda itu cuma perempuan kampung miskin yang beruntung dinikahi Pak Adrian. Jangan sok bertingkah seperti ratu di sini. Pak Adrian tidak ada di rumah selama tiga hari ke depan, jadi di rumah ini, kata-kata saya adalah hukum!”

BRAAK!

Aku membanting pintu mansion dengan sangat keras hingga kaca-kaca di sekitarnya bergetar. Kotak kue dan belanjaan di tanganku sengaja kujatuhkan ke lantai.

Suara itu memecah keheningan. Bu Tess dan para pembantu langsung melompat dari tempat duduk mereka. Wajah mereka yang tadinya penuh kesombongan seketika berubah pucat pasi, seolah-olah baru saja melihat malaikat maut berdiri di depan pintu.

“P-Pak… Pak Adrian?!” suara Bu Tess bergetar hebat. “Kenapa… kenapa Bapak sudah pulang?”

Aku tidak memedulikan mereka. Aku berlari menghampiri Mia, langsung berlutut di lantai yang basah, dan mendekap tubuh istriku yang gemetar. Begitu menyadari kehadiranku, pertahanan Mia runtuh. Ia menangis histeris di dadaku, memeluk leherku dengan erat seolah mencari perlindungan dari mimpi buruk.

“Adrian… maafkan aku… aku tidak bermaksud merusak karpetnya…” tangis Mia pecah.

“Sshh… tidak, Sayang. Kamu tidak salah. Ini salahku karena tidak menjagamu dengan baik,” bisikku, mengecup keningnya berulang kali sambil menahan air mata yang hampir tumpah karena melihat kondisi istri yang sangat kucintai ini.

Aku perlahan membantu Mia berdiri, menuntunnya untuk duduk di sofa terbaik, lalu berbalik menghadapi kelima pembantu dan kepala pelayan yang kini berdiri menunduk dengan tubuh gemetar ketakutan.

Murah hati? Ya, aku adalah Adrian yang dikenal sangat royal dan baik hati kepada stafku. Tapi hari ini, mereka telah membangkitkan iblis di dalam diriku.

“Jadi… begini cara kalian memperlakukan istriku saat aku tidak ada?” tanyaku, suaraku sangat pelan, namun dingin dan menusuk hingga ke tulang.

“Pak… maafkan kami, Pak! Kami… kami cuma bercanda… Nyonya Mia yang bersikeras ingin membersihkannya sendiri!” Bu Tess mencoba membela diri dengan kebohongan yang menjijikkan.

“Diam!” bentakku, membuat mereka semua tersentak mundur.

Aku berjalan mendekati Bu Tess, menatapnya dengan tatapan mematikan yang biasa kugunakan untuk menghancurkan musuh bisnisku.

“Kau pikir aku buta dan tuli, Tess? Aku mendengar setiap kalimat busuk yang keluar dari mulutmu,” kataku dingin. “Kamu bilang istriku perempuan kampung yang beruntung? Biar kuperjelas satu hal: Akulah pria paling beruntung di dunia karena dia bersedia mendampingiku. Tanpa dia, kemewahan rumah ini tidak ada artinya.”

Aku mengeluarkan ponsel dari saku jasku, lalu menghubungi kepala keamanan mansion dan tim hukum perusahaanku.

“Bawa sepuluh petugas keamanan ke dalam rumah sekarang juga,” perintahku tegas ke telepon. “Dan hubungi kepolisian. Saya ingin melaporkan kasus penganiayaan terhadap ibu hamil, intimidasi, dan kelalaian berlapis.”

Mendengar kata ‘polisi’, Bu Tess langsung bersimpuh di lantai, mencoba menggapai kakiku sambil menangis histeris. “Pak Adrian, tolong kasihanilah saya! Saya sudah tua, jangan penjarakan saya! Kami mohon maaf, Pak!” Pembantu lainnya pun ikut menangis dan memohon belas kasihan.

Aku menarik kakiku menjauh, menatap mereka dengan jijik.

“Tidak ada maaf. Mulai detik ini, kalian semua dipecat secara tidak hormat tanpa pesangon sepeser pun. Semua barang-barang kalian di rumah ini disita untuk pemeriksaan, dan kalian akan keluar dari sini dengan borgol di tangan.”

Petugas keamanan segera masuk dan menyeret Bu Tess serta para pembantu keluar dari mansion. Suara tangis dan jeritan penyesalan mereka perlahan menjauh, menyisakan keheningan di ruang tamu yang luas.

Aku kembali berjalan ke arah Mia, berlutut di hadapannya, lalu menggenggam kedua tangannya yang kasar karena habis menggosok lantai. Aku menghapus sisa air mata di pipinya dengan ibu jariku.

“Mulai hari ini, tidak akan ada orang asing lagi di rumah ini, Sayang. Aku akan memindahkan jadwalku dan bekerja dari rumah sampai anak kita lahir. Aku yang akan merawatmu dengan tanganku sendiri,” janjiku dengan tulus.

Mia tersenyum di tengah sisa tangisnya, mengangguk perlahan, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Mansion mewah ini mungkin sempat terasa dingin dan kejam baginya, namun pelukanku akan selalu menjadi rumah yang paling aman dan hangat untuknya dan calon bayi kami.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.