Posted in

Ruangan salon mendadak menjadi sunyi sesaat setelah air dingin itu mengguyur seluruh tubuh Alya. Beberapa pelanggan yang sejak tadi hanya berani mencuri pandang kini mulai berbisik-bisik, penasaran dengan keributan yang terjadi di siang bolong itu.

Ruangan salon mendadak menjadi sunyi sesaat setelah air dingin itu mengguyur seluruh tubuh Alya. Beberapa pelanggan yang sejak tadi hanya berani mencuri pandang kini mulai berbisik-bisik, penasaran dengan keributan yang terjadi di siang bolong itu.

Tari langsung berlari mengambil handuk bersih dengan wajah panik.

“Nyonya Alya, maafkan kami… saya benar-benar minta maaf…” ucapnya sambil gemetar.

Namun Alya hanya mengangkat tangan, menghentikan Tari yang hendak membersihkan pakaiannya. Tatapannya justru tertuju pada Maya yang berdiri dengan wajah penuh kemenangan di samping Siska.

“Aku akan memberimu kesempatan terakhir untuk meminta maaf,” kata Alya pelan.

Maya tertawa sinis.

“Meminta maaf? Kepadamu? Jangan bercanda. Orang seperti kamu bahkan tidak pantas berada di ruangan VIP ini.”

Siska menyilangkan tangan di dada, lalu menimpali dengan nada mengejek.

“Maya benar. Orang miskin sepertimu seharusnya tahu diri. Setelah Mas Rendra datang nanti, kamu akan mengerti bahwa ada jurang yang sangat lebar antara dirimu dan kami.”

Alya mengusap tetesan air di pipinya. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah semakin dingin.

“Menarik sekali,” katanya lirih.

“Karena lima tahun lalu, saat Rendra masih tinggal di apartemen sempit dan menumpang mobil temannya untuk menghadiri rapat bisnis, dia tidak pernah berbicara tentang kasta.”

Ucapan itu membuat Siska terdiam selama beberapa detik.

Lalu wanita itu kembali tertawa keras.

“Kamu benar-benar gila. Berani sekali mengarang cerita tentang suamiku.”

Belum sempat Alya menjawab, pintu salon terbuka lebar.

Seorang pria bertubuh tinggi mengenakan jas hitam mahal melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Di belakangnya berdiri dua orang pengawal pribadi.

“Mas!”

Siska segera berlari dan memeluk lengan pria itu dengan manja.

“Syukurlah kamu datang. Wanita miskin ini sudah membuatku kesal setengah mati.”

Rendra Pratama mengusap rambut Siska dengan lembut sebelum akhirnya mengangkat kepala.

Namun, tepat ketika pandangannya bertemu dengan Alya yang berdiri diam di tengah ruangan, seluruh warna di wajahnya mendadak lenyap.

Tubuhnya membeku.

“Al… Alya?”

Suara itu keluar pelan, hampir tak terdengar.

Siska mengerutkan dahi.

“Mas, kamu mengenalnya?”

Alya tersenyum tipis.

“Kenapa? Bukankah suamimu sedang berada di Amerika Serikat untuk urusan bisnis?”

Jantung Rendra seolah berhenti berdetak.

Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu istrinya di tempat itu.

“Dengar, Alya, aku bisa menjelaskan semuanya…”

“Menjelaskan apa?” potong Alya.

“Menjelaskan alasanmu mencuri berlian keluargaku? Atau menjelaskan mengapa kamu memperkenalkan wanita lain sebagai istrimu?”

Kalimat itu membuat seluruh salon gempar.

Beberapa pegawai langsung menoleh ke arah Rendra dengan wajah tidak percaya.

Siska tertawa keras.

“Sudahlah, jangan terus berakting. Mas Rendra, tunjukkan saja invoice pembelian berlian itu.”

Dengan tangan sedikit gemetar, Rendra mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya. Namun sebelum ia sempat membukanya, Alya sudah mengeluarkan ponselnya.

“Menarik. Karena aku juga membawa sesuatu.”

Ia menekan layar ponsel, lalu memperlihatkan dokumen digital kepada semua orang.

“Itu adalah sertifikat asli kepemilikan berlian merah muda keluarga Wijaya, lengkap dengan nomor seri internasional dan dokumen pelelangan di London.”

Senyum di wajah Siska perlahan menghilang.

“Mustahil…”

Alya melanjutkan dengan suara tenang.

“Berlian ini dibeli lima tahun lalu atas nama ibuku. Tujuh hari yang lalu, benda itu hilang dari brankas rumahku.”

Rendra mulai berkeringat.

“Alya, kita bisa membicarakan ini di rumah.”

“Rumah?”

Alya tertawa pelan.

“Rumah yang mana? Rumah yang kamu tinggali sebagai suamiku, atau rumah yang akan kamu kunjungi malam ini sebagai calon menantu keluarga Siska?”

Suasana menjadi semakin tegang.

Siska memandang Rendra dengan wajah pucat.

“Mas… apa yang sebenarnya terjadi?”

Rendra membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

Pada saat itulah pintu salon kembali terbuka.

Empat pria berpakaian jas hitam masuk dengan langkah cepat. Di belakang mereka, dua orang polisi berpakaian dinas ikut memasuki ruangan.

Seorang pria berkacamata maju beberapa langkah dan membungkuk hormat kepada Alya.

“Nona Alya Wijaya, seluruh dokumen yang Anda minta sudah kami siapkan.”

Mata semua orang membelalak.

“Nona… Wijaya?”

Maya menjatuhkan gelas yang masih dipegangnya.

Tari menutup mulutnya karena terkejut.

Sementara itu, Siska memandang Alya seolah baru menyadari sesuatu yang mengerikan.

Pria berkacamata itu melanjutkan ucapannya.

“Sesuai instruksi keluarga Wijaya, tim hukum telah mengajukan gugatan perceraian dan laporan kehilangan barang berharga kepada pihak kepolisian.”

Ia kemudian menyerahkan sebuah map tebal kepada Alya.

“Selain itu, Dewan Direksi juga telah membekukan seluruh akses keuangan pribadi milik Tuan Rendra Pratama sampai proses investigasi selesai.”

Tubuh Rendra langsung limbung.

“Apa?”

Alya menerima map itu tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun.

“Lima tahun lalu, aku meninggalkan keluargaku demi membangun Pratama Group bersamamu.”

“Uang pertama perusahaan berasal dari berlian yang kugadaikan.”

“Jaringan bisnis pertama berasal dari nama keluargaku.”

“Dan sekarang, kau menggunakan semua itu untuk membiayai wanita simpananmu.”

Air mata mulai menggenang di mata Siska.

“Mas… dia sebenarnya siapa?”

Untuk pertama kalinya sejak memasuki salon, Rendra tidak mampu menjawab pertanyaan itu.

Alya menatap Siska lurus-lurus.

“Aku adalah istri sah Rendra Pratama.”

“Dan juga putri keluarga Wijaya, pemilik sebagian besar saham yang menopang kerajaan bisnis yang selama ini kalian banggakan.”

Kalimat itu menghantam ruangan seperti petir.

Wajah Siska berubah pucat pasi.

Sementara Maya mundur beberapa langkah dengan lutut yang mulai gemetar.

Mereka akhirnya menyadari bahwa wanita sederhana yang sejak tadi mereka hina bukanlah orang miskin biasa.

Dia adalah pemilik asli berlian enam puluh miliar rupiah yang dicuri.

Dan yang lebih mengerikan lagi…

Dialah orang yang memiliki kekuasaan untuk menghancurkan seluruh kehidupan mereka dalam sekejap.

Alya melangkah perlahan menuju Siska. Gaunnya yang basah kuyup karena siraman air dingin sama sekali tidak mengurangi keanggunan dan wibawa yang terpancar dari tubuhnya. Di setiap langkahnya, lantai salon seolah ikut bergetar oleh ketegasan seorang pewaris tunggal keluarga Wijaya.

Siska mundur selangkah, matanya melebar penuh ketakutan. Keruntuhan instan dari seluruh ilusi kemewahan yang selama ini ia banggakan sedang terjadi tepat di depan matanya.

“Siska,” panggil Alya, suaranya begitu tenang namun sarat akan ancaman mematikan. “Kamu bilang ada jurang yang sangat lebar antara diriku dan kalian? Kamu benar. Hanya saja, kamu salah melihat siapa yang berada di atas, dan siapa yang berada di dasar jurang.”

Alya melirik Maya yang kini bersimpuh di dekat meja rias, menangis tersedu-sedu sambil meratapi kebodohannya. Alya lalu beralih menatap Rendra yang wajahnya sudah seperti mayat hidup. Pria yang satu jam lalu merupakan CEO berkuasa, kini tak lebih dari seorang pencuri yang tertangkap basah.

“Alya… tolong… demi pernikahan kita yang sudah lima tahun…” Rendra memberanikan diri mendekat, mencoba meraih tangan Alya dengan tubuh gemetar hebat. “Aku khilaf, Al. Aku dijebak oleh mereka. Tolong jangan tarik saham Wijaya Group. Perusahaan kita akan hancur besok pagi!”

Alya menarik tangannya menjauh dengan tatapan jijik.

“Perusahaan kita?” Alya tertawa getir. “Tidak ada lagi kata kita, Rendra. Pratama Group dibangun dari keringatku dan nama besar keluargaku. Besok pagi, tim kurator akan menyita seluruh aset perusahaan untuk menutup kerugian atas penggelapan dana yang kamu lakukan.”

Alya kemudian menoleh ke arah dua polisi yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu masuk.

“Pak Polisi, silakan bawa Tuan Rendra Pratama. Invoice pembelian berlian merah muda yang dia bawa adalah palsu, dan dokumen pembekuan aset serta bukti pencurian dari brankas keluarga saya sudah lengkap di dalam map ini.”

“Baik, Nona Wijaya,” jawab salah satu polisi dengan tegas.

Kedua polisi itu langsung maju dan mencengkeram lengan Rendra. Bunyi klik dari borgol besi yang mengunci pergelangan tangannya memecah keheningan salon. Rendra berteriak histeris, memohon belas kasihan saat tubuhnya diseret keluar menuju mobil patroli, mengabaikan tatapan sinis dari para pelanggan salon yang kini sibuk merekam kejadian tersebut dengan ponsel mereka.

Setelah Rendra dibawa pergi, Alya membalikkan badannya menghadap Siska yang kini terduduk lemas di lantai marmer, menangis meratapi nasibnya yang batal menjadi istri seorang miliarder.

“Dan untukmu, Siska… nikmati gaun pengantin dan kehidupan mewah yang kamu impikan dari uang curian itu selagi bisa. Karena setelah ini, pengacaraku akan memastikan keluargamu ikut terseret sebagai penadah barang curian,” ucap Alya dingin.

Alya berbalik, menatap Tari—pegawai salon yang tadi ketakutan—dan memberikan senyuman hangat pertamanya siang itu. “Tari, terima kasih handuknya. Kamu tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah.”

Dengan kepala tegak dan langkah anggun, Alya Wijaya berjalan keluar dari salon. Air dingin yang mengguyur tubuhnya justru telah membasuh habis sisa-sisa kesabaran dan masa lalunya yang kelam. Di luar, sebuah mobil limosin hitam dengan logo keluarga Wijaya telah menantinya, siap membawa sang ratu kembali ke singgasana yang sesungguhnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.