Posted in

DIA MEMINTAKU MEMBATALKAN PERNIKAHAN DEMI MERAWAT MANTAN KEKASIHNYA. AKU LANGSUNG MENGIYAKANNYA—KARENA AKU TAHU, ITULAH KALI TERAKHIR KAMI AKAN BERTEMU.**

DIA MEMINTAKU MEMBATALKAN PERNIKAHAN DEMI MERAWAT MANTAN KEKASIHNYA. AKU LANGSUNG MENGIYAKANNYA—KARENA AKU TAHU, ITULAH KALI TERAKHIR KAMI AKAN BERTEMU.**

Malam sebelum hari pernikahan kami.

Jericho diam-diam meletakkan surat pendaftaran pernikahan kami ke dalam tanganku.

“Tina, besok kita tunda dulu pendaftaran pernikahan. Dianne sedang mengalami gangguan emosional yang berat. Aku harus menemaninya.”

“Aku sudah memesankan paket liburan untukmu ke Bali. Pergilah beristirahat beberapa hari. Setelah semua masalah di sini selesai, kita bicarakan lagi langkah selanjutnya.”

Aku menerima dokumen itu dan hanya mengangguk pelan.

Melihat aku tidak marah ataupun membuat keributan, wajahnya langsung tampak lega. Ia bahkan tersenyum dan memujiku karena begitu “pengertian.”

Sayangnya, ia tidak tahu bahwa aku sama sekali tidak berniat pergi ke Bali.

Aku mengembalikan surat pendaftaran pernikahan itu kepada kedua orang tuaku, bersamaan dengan menerima surat penugasan untuk bergabung dalam misi medis yang akan diberangkatkan ke Kepulauan Maluku.

Kali ini, aku bahkan tidak ingin meninggalkan sepatah kata pun untuknya.

Jericho kembali ke kamar untuk mengambil beberapa potong pakaian. Tak lama kemudian, ia terburu-buru mengemudi di tengah malam menuju rumah Dianne.

Begitu pintu tertutup, aku langsung meraih ponselku.

“Selamat malam. Saya ingin membatalkan resepsi pernikahan yang dijadwalkan pada tanggal delapan bulan depan.”

Petugas di seberang telepon terdiam sejenak.

“Bu Tina, kalau dibatalkan sekarang, uang muka yang sudah dibayarkan tidak bisa dikembalikan.”

“Tidak apa-apa. Tolong batalkan juga seluruh dekorasi venue.”

Setelah menutup telepon, aku menghubungi pihak hotel. Lima puluh meja katering yang telah kami pesan kubatalkan semuanya.

Lalu aku mengirim pesan kepada sahabatku yang akan menjadi maid of honor.

**”Pernikahannya batal. Kamu tidak perlu lagi fitting gaun.”**

Teleponnya langsung masuk.

“Tina, kamu sudah gila?! Undangan sudah dibagikan ke semua orang, sekarang kamu bilang pernikahannya dibatalkan?”

“Jericho pergi menemani Dianne. Katanya pernikahan harus ditunda.”

Di ujung telepon hening selama dua detik, lalu disusul rentetan makian penuh amarah.

“Brengsek! Aku sudah curiga dia belum benar-benar putus hubungan dengan perempuan itu! Tunggu, aku datangi dia sekarang juga!”

Aku segera menghentikannya.

“Tidak usah. Sampah seperti itu tidak layak membuat tanganmu kotor.”

Setelah panggilan berakhir, aku membuka laci meja.

Di dalamnya tersimpan formulir pendaftaran tim medis sukarelawan yang akan diberangkatkan ke Kepulauan Maluku.

Awalnya aku menolak tawaran kepala departemen karena sibuk mempersiapkan pernikahan.

Sekarang kupikir, mungkin Tuhan memang sedang menunjukkan jalan lain untukku.

Tanpa ragu, kutandatangani namaku di halaman terakhir. Formulir itu kumasukkan ke dalam tas, berganti pakaian, lalu naik taksi menuju rumah orang tuaku.

Tepat pukul dua belas malam aku mengetuk pintu.

Ayah dan Ibu keluar mengenakan jaket dengan wajah penuh keterkejutan.

“Tina? Kenapa pulang selarut ini? Mana Jericho?”

Aku meletakkan surat pendaftaran pernikahan di atas meja.

“Ayah… Ibu… Aku tidak jadi menikah.”

Wajah Ibu langsung pucat.

“Apa yang terjadi? Bukankah besok kalian akan mendaftarkan pernikahan?”

Aku menceritakan semuanya, termasuk alasan Jericho pergi menemani Dianne.

Saking marahnya, Ayah membanting gelas yang dipegangnya hingga pecah di lantai.

“Keterlaluan! Apa dia pikir putriku tidak punya keluarga yang akan membelanya?!”

Aku menggenggam tangan Ayah.

“Ayah, tidak perlu mendatanginya.”

“Hubungan yang dipaksakan tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Hatinya sudah bukan milikku lagi. Kalaupun kami tetap menikah, yang ada hanya pertengkaran dan penyesalan.”

“Aku sudah memutuskan ikut penugasan rumah sakit ke Kepulauan Maluku.”

Mata Ibu langsung memerah.

“Tempat itu sangat jauh dan fasilitasnya terbatas. Apa kamu sanggup?”

“Justru itu akan menjadi pengalaman yang baik untukku. Lebih baik bekerja di sana daripada tetap tinggal di sini dan harus melihat mereka setiap hari.”

Aku memeluk Ibu.

“Jangan khawatir. Putri Ayah dan Ibu adalah seorang dokter bedah yang setiap hari memegang pisau operasi. Aku tidak selemah yang kalian bayangkan.”

Malam itu aku tidur sangat nyenyak.

Tidak ada lagi dengkuran Jericho.

Tidak ada lagi suara telepon Dianne yang selalu mengganggu di tengah malam.

Keesokan paginya aku datang ke rumah sakit.

Aku meletakkan formulir penugasanku di meja kepala departemen.

Beliau menatapku dengan heran.

“Dokter Tina, bukankah Anda akan menikah?”

“Batal.”

“Saya siap berangkat kapan saja.”

Beliau menepuk bahuku.

“Bagus sekali. Kepulauan Maluku sedang membutuhkan ahli bedah jantung seperti Anda. Saya akan segera mengurus semua dokumennya.”

Baru saja aku keluar dari ruangannya, ponselku bergetar.

Pesan dari Jericho.

**”Tina, tadi malam Dianne benar-benar sedang terpuruk, jadi aku menemaninya semalaman. Tiket pesawatmu ke Bali sudah kukirim lewat email. Nikmati liburanmu. Setelah pulang nanti, aku punya hadiah untukmu.”**

Aku tidak membalasnya.

Aku hanya membuka media sosial.

Unggahan pertama yang muncul berasal dari Dianne.

Di foto itu tampak dua mangkuk bubur seafood yang masih mengepul hangat.

Di sampingnya ada sepasang tangan dengan jari-jari panjang yang sedang mengupas udang dengan hati-hati.

Jam tangan di pergelangan tangan itu persis hadiah ulang tahun yang kuberikan kepada Jericho bulan lalu.

Caption-nya singkat.

**”Walaupun lagi sakit, tetap dimanja seperti anak kecil. Rasanya bahagia sekali.”**

Aku tersenyum pahit.

Tanpa ragu, aku langsung memblokir akun Dianne.

Barulah kemudian aku membalas pesan Jericho.

**”Baik. Rawat dia baik-baik.”**

## BAB 2

Setelah mengirim pesan itu, aku mengubah ponselku ke mode senyap dan mulai membereskan seluruh berkas serah terima pasien di departemen.

Persetujuan penugasanku ke Kepulauan Maluku ternyata jauh lebih cepat dari perkiraan.

Lusa pagi aku sudah harus berangkat.

Dalam dua hari yang tersisa, semua pasien yang kutangani harus dialihkan kepada dokter lain.

Kepala perawat mendekat lalu berbisik,

“Dokter Tina, Anda benar-benar yakin akan berangkat ke Kepulauan Maluku? Lalu bagaimana dengan Jericho?”

“Dia sudah punya seseorang yang lebih penting daripada aku.”

Perawat kepala menghela napas panjang.

“Dianne itu benar-benar seperti lintah. Setiap kali hubungan kalian membaik, dia selalu tiba-tiba jatuh sakit.”

Tepat saat itu pintu ruang praktik terbuka.

Dianne masuk sambil memegangi dadanya dengan wajah pucat.

Jericho menopangnya dengan sangat hati-hati, seolah sedang menjaga sebuah kristal yang sangat rapuh..

BAB 2 (Lanjutan)

“Tina?”

Jericho terkejut saat melihatku masih mengenakan jas putih dokter di koridor rumah sakit. Langkah kakinya langsung terhenti.

“Kenapa kamu masih di sini? Bukannya penerbanganmu ke Bali siang ini? Aku sengaja membawa Dianne ke rumah sakit lain tadi malam agar tidak mengganggumu, tapi kondisinya memburuk pagi ini.”

Dianne bersandar di bahu Jericho, wajahnya tampak pucat tanpa riasan, matanya sayu menatapku.

“Dokter Tina… maafkan aku,” bisik Dianne dengan suara terengah-engah yang dibuat-buat. “Aku tahu hari ini kamu seharusnya berlibur… tapi dadaku rasanya sesak sekali. Aku hanya percaya pada kemampuan bedah jantungmu.”

Aku menatap mereka berdua dengan tatapan datar. Keintiman yang dulu selalu membuat hatiku teriris, kini terasa begitu hambar. Di mataku, mereka berdua tak lebih dari sepasang badut yang sedang memainkan drama murahan.

“Maaf,” jawabku dingin sambil merapikan tumpukan dokumen di tanganku. “Aku sudah tidak menerima pasien baru. Silakan mendaftar ke poli umum atau temui dokter spesialis lain yang sedang berjaga.”

Wajah Jericho langsung berubah tegang. Ia menatapku dengan sorot mata tidak percaya, seolah aku baru saja melakukan kejahatan besar.

“Tina! Kenapa kamu jadi begitu dingin dan tidak punya empati?” suara Jericho meninggi, memancing perhatian beberapa perawat di koridor. “Dianne sedang sakit parah! Kamu dokter spesialis bedah jantung terbaik di sini. Apa susahnya memeriksa dia sebentar? Jangan bawa-bawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan!”

Kepala perawat yang berdiri di sampingku langsung melangkah maju, hendak membela, tetapi aku mengangkat tangan untuk menghentikannya.

Aku menatap langsung ke dalam mata Jericho.

“Jericho, sebagai dokter, aku tahu mana pasien yang benar-benar membutuhkan pertolongan darurat dan mana yang hanya sedang mencari perhatian,” ucapku tenang, tatapanku beralih ke arah Dianne yang seketika menegang. “Dan sebagai informasi untukmu… mulai detik ini, aku bukan lagi dokter di rumah sakit ini.”

“Apa maksudmu?” Jericho mengernyitkan dahi, tampak kebingungan.

Aku tidak menjawab. Aku meletakkan kartu identitas dokterku di atas meja perawat, mengambil tas ranselku, lalu berjalan melewati mereka begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.

“Tina! Clara Tina! Tunggu!”

Teriakan Jericho menggema di koridor, tetapi aku terus melangkah maju. Ini adalah kali terakhir aku berjalan di koridor ini, dan aku tidak akan membiarkan bayang-bayang masa lalu merusak langkah baruku.

BAB 3: Penyesalan yang Terlambat

Dua hari kemudian.

Jericho baru menyadari ada yang tidak beres ketika ia menerima telepon dari ibunya yang menangis histeris.

“Jericho! Apa yang kamu lakukan?! Ibu baru saja pergi ke gedung pertemuan untuk memastikan dekorasi pernikahan kalian, tapi pihak pengelola bilang pernikahan kalian sudah dibatalkan sejak dua hari lalu!”

Jericho yang saat itu sedang mengupas buah apel untuk Dianne di bangsal rumah sakit langsung berdiri hingga kursinya terjatuh.

“Apa?! Ibu salah dengar mungkin. Tina hanya sedang berlibur ke Bali!”

“Ibu tidak salah dengar! Pihak katering, dekorasi, bahkan gaun pengantin semuanya sudah dibatalkan! Dan keluarga Tina… rumah mereka kosong! Tetangga bilang mereka sudah pindah ke luar kota!”

Ponsel di genggaman Jericho hampir saja terjatuh. Jantungnya berdegup kencang dibayangi rasa takut yang luar biasa. Ia segera mencoba menghubungi nomor teleponku, namun yang terdengar hanyalah suara operator: “Nomor yang Anda tuju tidak aktif.”

Ia mencoba mengirim pesan instan, tetapi hanya ada tanda centang satu. Ia telah diblokir di semua platform.

Dengan panik, Jericho berlari meninggalkan Dianne di rumah sakit dan mengemudi bagaikan kesetanan menuju apartemenku. Menggunakan kunci cadangan yang ia miliki, ia membuka pintu dengan tangan gemetar.

Apartemen itu kosong melompong.

Semua barang-uaku, pakaian, bahkan gantungan kunci kecil yang pernah kami beli bersama telah lenyap. Yang tersisa di atas meja makan hanyalah sebuah kotak beludru merah berisi cincin pertunangan kami, berdampingan dengan surat pembatalan pernikahan resmi yang telah ditandatangani olehku.

Di bawah kotak cincin itu, ada secarik kertas kecil bertuliskan:

“Jericho, selamat atas kebebasanmu. Jaga Dianne baik-baik. Kita tidak akan pernah bertemu lagi.”

Jericho terduduk lemas di lantai ruang tamu yang dingin. Air matanya luruh seketika. Pada saat itulah kesadaran menghantamnya dengan keras: perempuan yang selama lima tahun ini selalu sabar menunggunya, selalu mengalah demi egoismenya, kini telah pergi untuk selamanya.

EPILOG: Langit Biru di Maluku

Satu tahun kemudian.

Di sebuah desa pesisir di Kepulauan Maluku, riuh rendah suara anak-anak menyambut pagi yang cerah.

Aku melangkah keluar dari klinik darurat dengan mengenakan kaus putih sederhana dan stetoskop yang melingkar di leher. Udara laut yang segar segera memenuhi paru-paruku. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar ini, aku menemukan kembali kedamaian yang sempat hilang.

Di sini, aku bukan lagi Tina yang selalu cemas menunggu telepon tunangannya di tengah malam. Di sini, aku adalah Dokter Tina, penyelamat nyawa yang sangat dihormati oleh warga lokal.

Ponsel lamaku yang sudah lama tidak kugunakan tiba-tiba berdering di dalam laci meja kerja. Aku membukanya karena penasaran. Ada satu pesan masuk dari nomor asing yang rupanya adalah Grace, sahabatku.

Grace mengirimkan sebuah tangkapan layar berita lokal dan pesan singkat:

【Tina, kamu harus lihat ini. Karma itu nyata.】

Aku membuka gambar tersebut. Berita itu mengabarkan tentang kebangkrutan bisnis keluarga Jericho akibat kelalaian manajemen, serta kabar bahwa Dianne telah meninggalkannya demi pria kaya lain setelah tahu Jericho tidak lagi memiliki harta. Di foto itu, Jericho tampak jauh lebih tua, kurus, dan layu, sangat berbeda dengan sosoknya yang dulu selalu angkuh.

Aku menatap foto itu selama beberapa detik.

Anehnya, tidak ada rasa dendam, tidak ada pula rasa puas. Hatiku benar-benar telah mati rasa terhadap apa pun yang berkaitan dengan pria itu.

Aku langsung menghapus pesan tersebut, mematikan ponsel, lalu melangkah keluar menuju dermaga di mana sebuah perahu medis sedang bersiap untuk membawaku ke pulau seberang guna melakukan operasi penyelamatan darurat.

“Dokter Tina, mari berangkat! Pasien sudah menunggu!” teriak salah satu perawat dari atas perahu.

“Ya, aku datang!” jawabku lantang sambil tersenyum lebar ke arah laut lepas.

Jericho meminta membatalkan pernikahan demi merawat masa lalunya, dan aku mengiyakannya—karena aku tahu, keputusanku hari itu bukanlah sebuah kekalahan, melainkan awal dari kebebasan hidupku yang sesungguhnya..

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.