Posted in

AKU NAIK PESAWAT BERSAMA SELINGKUHANKU, YAKIN ISTRIKU BERADA JAUH—TAPI DIA MENYAMBUT KAMI MENGENAKAN SERAGAM PRAMUGARI, DAN KATA-KATANYA MEMBUAT JANTUNGKU SEAKAN BERHENTI BERDETAK!**

AKU NAIK PESAWAT BERSAMA SELINGKUHANKU, YAKIN ISTRIKU BERADA JAUH—TAPI DIA MENYAMBUT KAMI MENGENAKAN SERAGAM PRAMUGARI, DAN KATA-KATANYA MEMBUAT JANTUNGKU SEAKAN BERHENTI BERDETAK!**

“Hidup memang luar biasa.”

Itulah yang kupikirkan, **Enrico Velasco**, sambil bersandar santai di kursi kulit mewah First Class dalam penerbangan menuju Paris.

Tanganku menggenggam tangan **Vanessa**, wanita simpananku yang masih muda dan cantik. Dengan wajah penuh kegembiraan, ia sibuk mengambil foto untuk diunggah ke media sosialnya.

Aku tersenyum puas.

Istriku, **Isabel**, mengira aku sedang menghadiri konferensi bisnis penting di Singapura.

Aku meninggalkannya di rumah mewah kami di Jakarta, sibuk mengurus berbagai kegiatan amal yang menurutku membosankan.

Jarak ribuan kilometer membuatku merasa benar-benar aman.

Aku bisa menikmati liburan romantis bersama Vanessa tanpa sedikit pun rasa khawatir.

“Sayang, kok pelayanan mereka lama sekali? Aku sudah ingin minum sampanye,” rengek Vanessa manja sambil membenarkan kalung berlian mahal di lehernya—hadiah yang kubeli menggunakan kartu kredit perusahaan milik istriku.

“Tenang saja, sayang. Kita penumpang VIP. Sebentar lagi pasti datang. Aku pastikan perjalanan kita sempurna,” kataku sambil mencium pipinya.

Aku sama sekali tidak menyadari bahwa surga yang kubayangkan perlahan berubah menjadi mimpi buruk.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah sepatu hak tinggi mendekati kursi kami.

Seorang pramugari keluar dari galley sambil membawa baki perak berisi gelas kristal.

Ia masih membelakangi kami.

Posturnya terasa sangat familiar.

Cara berdirinya begitu anggun.

Rambutnya disanggul rapi tanpa cela.

Lalu…

Ia berbalik.

Saat mata kami bertemu, seluruh darah di tubuhku seolah membeku.

Itu bukan pramugari biasa.

Wanita yang berdiri di hadapanku, mengenakan seragam merah elegan maskapai penerbangan dengan senyum dingin di bibirnya…

adalah istriku sendiri.

**Isabel.**

Jantungku seakan berhenti berdetak.

Aku tidak bisa bernapas.

Mulutku terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar.

Bagaimana mungkin?

Bukankah dia seharusnya berada di Jakarta?

Dan sejak kapan dia bekerja sebagai pramugari maskapai ini?

Sebelum otakku mampu mencerna apa yang sedang terjadi, Isabel meletakkan dua gelas kristal di meja kami dengan tangan yang sama sekali tidak bergetar.

Sampanye mahal itu mengalir memenuhi gelas.

Lalu, dengan senyum yang begitu tenang, ia mengucapkan kalimat yang membuat bulu kudukku berdiri seketika.

III. Selamat Menikmati Penerbangan Terakhir Anda (Akhir Cerita)

“Selamat menikmati penerbangan Anda, Tuan Velasco. Dan oh, selamat datang juga untuk Nona Vanessa,” ucap Isabel. Suaranya terdengar sangat merdu melalui pengeras suara internal, namun bagiku, itu terdengar seperti lonceng kematian.

Vanessa yang tidak tahu apa-apa langsung tersenyum lebar. “Wah, terima kasih! Pelayanan First Class di sini memang luar biasa!”

Aku mencoba menarik tanganku dari genggaman Vanessa dengan panik, namun tubuhku terlalu kaku untuk bergerak. Keringat dingin mulai membasahi kemeja mahalku.

Isabel membungkuk sedikit, merapikan letak gelas sampanye di hadapan kami, lalu menatapku lurus dengan sepasang mata yang sedingin es kutub.

“Kau pasti bingung bagaimana istrimu yang ‘membosankan’ ini bisa ada di sini, Enrico,” bisik Isabel, begitu pelan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya. “Kau lupa ya? Maskapai penerbangan carteran VIP ini adalah anak perusahaan dari holding company milik mendiang ayahku. Dan sebagai pemilik saham mayoritas yang baru saja mengambil alih posisi CEO pagi ini, aku bebas memakai seragam apa saja yang kusukai.”

Isabel menegakkan tubuhnya kembali, merapikan seragam merahnya yang tampak sangat berkuasa, lalu tersenyum manis kepada Vanessa yang mulai menatap kami dengan bingung.

“Nona Vanessa, kalung berlian yang Anda kenakan itu sangat indah. Tapi sayangnya, kartu kredit yang digunakan Enrico untuk membelinya baru saja kublokir sepuluh menit yang lalu sebelum pesawat ini lepas landas. Begitu juga dengan semua fasilitas, rekening bersama, dan akses Enrico ke perusahaan keluarga kami,” ujar Isabel dengan nada santai, seolah sedang membacakan menu makanan.

“A-apa maksudmu?” Vanessa mulai panik, menatapku meminta penjelasan. “Enrico, apa yang dikatakannya?!”

Aku akhirnya berhasil bersuara, meski terdengar parau dan gemetar. “Isabel… tolong, kita bisa bicarakan ini baik-baik…”

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Enrico,” potong Isabel tegas. Ia meraba saku seragamnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berlogo firma hukum ternama, lalu menjatuhkannya tepat di atas pangkuanku.

“Itu surat gugatan cerai dan pencabutan seluruh asetmu. Pengacaraku sudah menunggu di bandara Paris untuk menyambut kedatanganmu dengan surat perintah penyitaan barang-barang mewah yang kau bawa saat ini—termasuk jam tangan emasmu dan semua barang bermerek milik selingkuhanmu.”

Isabel melangkah mundur satu tapak, memberikan penghormatan pramugari yang paling anggun yang pernah kulihat.

“Penerbangan ini akan memakan waktu empat belas jam. Nikmatilah sisa waktu Anda sebagai orang kaya di atas awan ini, Enrico. Karena begitu roda pesawat ini menyentuh aspal Paris, Anda resmi menjadi seorang gelandangan.”

Tanpa menunggu jawabanku, Isabel berbalik dan berjalan pergi menuju kabin depan dengan langkah tenang dan penuh kemenangan, meninggalkan aku yang termangu menatap kehancuran hidupku sendiri di dalam kabin mewah yang mendadak terasa seperti penjara bawah tanah.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.