Posted in

Aku Bersembunyi di Bawah Ranjang Sebagai Lelucon di Malam Pernikahanku. Namun Saat Mendengar Percakapan Suami dan Ibu Mertuaku, Aku Baru Sadar Pernikahanku Ternyata Hanyalah Sebuah Jebakan Besar**

Aku Bersembunyi di Bawah Ranjang Sebagai Lelucon di Malam Pernikahanku. Namun Saat Mendengar Percakapan Suami dan Ibu Mertuaku, Aku Baru Sadar Pernikahanku Ternyata Hanyalah Sebuah Jebakan Besar**

Namaku Sofia, berusia dua puluh enam tahun. Aku adalah satu-satunya pewaris keluarga Mendoza, pemilik salah satu perusahaan farmasi terbesar di negeri ini. Sejak kecil, aku selalu dijaga dan dilindungi agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Namun, ketika bertemu Luis, aku yakin telah menemukan cinta sejati.

Luis adalah seorang konsultan keuangan yang tampan, perhatian, dan pekerja keras. Meskipun ia tahu aku berasal dari keluarga yang sangat kaya, ia selalu membuatku merasa bahwa yang ia cintai adalah diriku, bukan hartaku. Karena terlalu percaya pada cinta, aku menerima lamarannya setelah hanya satu tahun menjalin hubungan.

Ibunya, Ny. Elena, juga selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Ia tak pernah lupa mengirim hadiah, selalu tersenyum manis, dan memanggilku “putri keluarga kami”. Sedikit pun aku tidak pernah mencurigai mereka.

Namun, hari yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaan kami justru menjadi hari yang membuka mataku terhadap kenyataan yang sangat kelam.

## LELUCON DI MALAM PERTAMA

Pernikahan kami digelar dengan sangat mewah di sebuah hotel bintang lima. Setelah resepsi selesai, aku dan Luis naik ke Presidential Suite yang telah disiapkan untuk malam pertama kami.

Karena kelelahan setelah seharian menghadiri acara, Luis berkata bahwa ia ingin mandi sebentar sebelum beristirahat.

Sambil menunggunya, aku teringat pada sebuah lelucon yang sering kami lakukan saat masih berpacaran. Aku memutuskan bersembunyi di bawah ranjang besar agar bisa mengejutkannya ketika ia keluar dari kamar mandi.

Aku pun merangkak masuk ke bawah ranjang sambil menahan tawa, membayangkan ekspresi kagetnya nanti.

Namun…

Orang pertama yang membuka pintu ternyata bukan Luis.

Aku mendengar pintu utama suite terbuka.

Dua orang masuk ke dalam kamar.

Dari celah bawah ranjang, aku hanya bisa melihat sepasang sepatu kulit milik Luis dan sepasang sepatu hak tinggi mahal milik ibunya, Ny. Elena.

“Bu? Kenapa Ibu datang ke sini? Bagaimana kalau Sofia keluar dari kamar mandi?” bisik Luis dengan nada gugup dan tergesa-gesa.

“Tenang saja. Tadi aku melihat dia masuk ke kamar mandi. Dia masih lama di dalam,” jawab Ny. Elena.

Namun suara itu bukan lagi suara lembut yang selama ini kukenal.

Nada bicaranya terdengar dingin, keras, dan dipenuhi keserakahan.

Aku mengernyit di bawah ranjang.


**Mengapa ibu mertuaku berada di suite bulan madu kami…?**

“Bagaimana dengan dokumen itu? Apa dia sudah menandatanganinya?” tanya Ny. Elena, suaranya terdengar mendesak dan penuh ambisi.

“Belum, Bu. Tadi di resepsi suasananya terlalu ramai,” jawab Luis, nada suaranya kini berubah total—tidak ada lagi kelembutan yang biasa kudengar, yang ada hanyalah nada dingin yang kalkulatif. “Tapi Ibu tenang saja. Besok, saat kami bersiap untuk bulan madu, aku akan menyelipkan surat kuasa transfer saham itu di antara dokumen visa perjalanan. Dia sangat memercayai-ku. Dia pasti akan menandatanganinya tanpa membaca ulang.”

Mendengar itu, jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan di bawah ranjang yang gelap. Air mata seketika merebak, namun aku memaksakan diri untuk tidak bersuara.

“Bagus,” cibir Ny. Elena, terdengar suara tawa kecil yang sinis. “Wanita bodoh itu benar-benar mengira kamu mencintainya. Dia tidak tahu kalau perusahaan ayahnya hampir jatuh ke tangan kita. Begitu saham mayoritas Mendoza Farmasi beralih atas namamu, kita bisa menyingkirkannya. Satu tahun melelahkan berpura-pura menjadi ibu mertua yang baik akhirnya terbayar juga.”

“Aku juga sudah muak, Bu,” timpal Luis sambil menghela napas panjang. “Setiap hari harus bersikap romantis dan mendengarkan cerita-cerita membosankannya. Untung saja pernikahan ini sah, jadi secara hukum aku punya hak penuh atas aset pribadinya jika terjadi ‘sesuatu’ padanya nanti.”

“Jaga dirimu baik-baik sampai besok. Jangan sampai dia curiga. Setelah semua harta Mendoza runtuh ke tangan kita, kamu bebas menceraikannya dan kembali pada pacar serumahmu yang sebenarnya,” kata Ny. Elena tajam.

Langkah kaki mereka kemudian menjauh, terdengar suara pintu suite yang tertutup rapat saat Ny. Elena keluar dari kamar. Beberapa saat kemudian, suara gemercik air dari kamar mandi berhenti. Luis berjalan mendekati cermin, bersiul kecil seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Di bawah kegelapan ranjang, hancur sudah seluruh duniaku. Cinta sejati yang kubanggakan, suami yang kupikir akan melindungiku, dan ibu mertua yang kuanggap sebagai pengganti ibuku sendiri—semuanya hanyalah sebuah lingkaran ular beludak yang siap memangsa hartaku.

Namun, di tengah rasa sakit yang teramat sangat, kilatan amarah tiba-tiba membakar dadaku. Kesedihanku mendadak menguap, digantikan oleh naluri bertahan hidup seorang Mendoza. Mereka mengira aku adalah mangsa yang naif dan bodoh. Mereka lupa bahwa darah yang mengalir di tubuhku adalah darah seorang pengusaha tangguh.

Kalian menginginkan hartaku? bisikku dalam hati dengan tatapan yang kini berubah menjadi sedingin es. Mari kita lihat siapa yang akan hancur pada akhirnya.

Dengan sangat hati-hati dan tanpa suara, aku merangkak keluar dari sisi ranjang yang berlawanan saat Luis sedang lengah memakai pakaiannya di ruang ganti. Aku menyelinap keluar dari kamar suite mewah itu, membawa ponselku, dan langsung menghubungi kepala hukum keluarga Mendoza serta tim detektif swasta keercayaan ayahku.

Jebakan besar telah dipasang untukku, namun malam ini juga, aku akan membalikkan jebakan itu untuk mengubur Luis dan ibunya hidup-hidup. Permainan baru saja dimulai.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.