*KETIKA KAMI TERBANGUN SETELAH MALAM PERTAMA SEBAGAI SUAMI ISTRI, CARDO MEMELUKKU. TIBA-TIBA IA BERBISIK, DAN SUARANYA TERDENGAR BERBEDA—LEBIH BERAT DAN ASING.**
“Ada satu hal yang harus kukatakan padamu.”
“Secara hukum, aku sudah punya istri.”
“Aku tidak bisa menemanimu besok untuk mendaftarkan pernikahan kita. Tapi selain selembar surat itu, aku akan memberimu apa pun yang kau inginkan.”
Ucapan itu bagaikan sambaran petir yang menghantam kepalaku. Untuk sesaat, aku seperti kehilangan pendengaran.
“Kau sudah punya istri? Kenapa selama bertahun-tahun kau tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku?”
Ia melepaskan pelukannya lalu bangkit untuk mengenakan pakaian.
Di lehernya masih tampak bekas ciuman yang kutinggalkan beberapa saat sebelumnya—merah menyala, menusuk mataku seperti luka.
“Yenna, kaulah wanita yang paling kucintai. Kita sudah bersama selama sepuluh tahun.”
“Dia adalah pilihan keluargaku sejak dulu. Aku hanya harus bertanggung jawab karena aku telah menerimanya sebagai istriku.”
Aku terduduk di atas ranjang yang masih berantakan.
Tubuhku masih menyimpan kehangatan malam tadi, tetapi dalam sekejap semuanya berubah menjadi sedingin es, seolah-olah seseorang baru saja menyiramkan air dingin ke dalam hatiku.
Hiasan karakter **’Pernikahan Bahagia’ (囍)** berwarna merah yang menempel di dinding kini terasa begitu menyakitkan untuk dipandang.
Warnanya terlalu merah.
Seolah-olah menjadi tamparan keras tepat di wajahku.

Mungkin karena melihat wajahku yang pucat dan kehilangan semangat, Cardo menghela napas pelan lalu menggenggam tanganku.
Ia mengenakan sepasang cincin ke jari manis kami, berdampingan, dengan gerakan lembut seolah sedang menenangkanku.
“Yenna, lihatlah… sebenarnya tidak ada bedanya sama sekali.”…
Babak 1: Logika di Balik Air Mata
“Tidak ada bedanya?” suaraku keluar seperti bisikan, namun tajam. Aku menatap dua cincin emas putih yang melingkar di jari kami.
Cardo tersenyum lega, mengira ketenanganku adalah tanda kepasrahan. “Benar, Sayang. Rumah mewah ini, fasilitas, semua aset yang kubangun selama sepuluh tahun ini bersamamu… semuanya akan tetap menjadi milikmu. Pernikahanku di sana hanya formalitas bisnis keluarga.”
Aku menarik tanganku perlahan, memaksakan sebuah senyuman tipis yang menyembunyikan badai di dalam dadaku. Karakter ‘囍’ (Pernikahan Bahagia) di dinding tidak lagi membuatku ingin menangis; warna merahnya kini menyalakan kemarahan yang dingin dan terukur.
Selama sepuluh tahun, aku bukan hanya mendampinginya sebagai kekasih, tetapi aku adalah otak di balik strategi pemasaran perusahaan logistiknya yang kini bernilai miliaran rupiah. Dia lupa bahwa aku tahu setiap seluk-beluk keuangannya.
“Baiklah, Cardo,” kataku tenang, menatap matanya dalam-dalam. “Jika memang tidak ada bedanya, aku ingin kau membuktikannya. Balik nama seluruh saham anak perusahaan yang kita rintis bersama atas namaku. Sebagai jaminan masa depanku.”
Tanpa rasa curiga dan demi menjagaku agar tetap diam, Cardo menyetujuinya hari itu juga.
Babak 2: Aliansi yang Tak Terduga
Dua bulan kemudian, setelah seluruh dokumen kepemilikan aset dan saham anak perusahaan resmi berpindah ke tanganku, aku melangkah ke sebuah restoran hotel bintang lima. Aku tidak datang untuk menemui Cardo, melainkan wanita bernama Clara Wijaya—istri sah yang sah secara hukum negara.
Clara adalah putri seorang taipan yang mendanai modal awal perusahaan utama Cardo. Ketika kami bertatapan, tidak ada jambak-jambakan atau makian. Aku menyodorkan seluruh bukti perselingkuhan sepuluh tahun ini, foto pernikahan adat kami, dan yang paling penting: bukti bahwa Cardo secara diam-diam mengalirkan dana dari perusahaan mertuanya untuk membangun aset pribadi yang baru saja dia balik nama atas namaku.
Clara menatap berkas-berkas itu dengan mata menyipit, lalu menatapku. “Kau tahu, jika aku menggugatnya, kau juga bisa terseret sebagai penadah?”
“Aku tahu,” jawabku mantap. “Itu sebabnya aku di sini. Aku bersedia mengembalikan seluruh aset curian itu kepada keluargamu, dan menjadi saksi kunci untuk menjebloskannya ke penjara. Aku hanya ingin satu hal: hancurkan Cardo sampai dia tidak punya apa-apa lagi.”
Clara tersenyum dingin, menyambut jabat tanganku. “Kesepakatan yang bagus, Yenna.”
Babak 3: Kehancuran Sang Manipulator
Hari penghakiman tiba di ruang rapat utama Cardo Logistics. Cardo mengumpulkan para investor untuk merayakan akuisisi mega-proyek yang dia yakini akan melambungkan namanya. Dia berdiri di ujung meja dengan angkuh.
Namun, pintu ruang rapat terbuka. Aku masuk bersama Clara dan tim pengacara dari keluarga Wijaya, diikuti oleh dua petugas kepolisian.
Wajah Cardo langsung pucat pasi. “Clara? Yenna? Apa yang kalian lakukan di sini? Yenna, kenapa kau membawa istriku ke sini?!”
Aku berjalan ke ujung meja, menatap pria yang pernah kukira adalah duniaku.
“Cardo, hari ini dewan direksi telah menyetujui pencabutan seluruh modal dari keluarga Wijaya. Dan karena seluruh anak perusahaan yang memegang lisensi operasionalmu sudah dialihkan atas namaku, aku baru saja menjualnya ke kompetitormu,” ucapku dengan nada sedatar es.
“Kau… kau mengkhianatiku, Yenna?! Sepuluh tahun kita bersama!” teriak Cardo, matanya membelalak tak percaya, urat-urat di lehernya menonjol.
“Kau yang mengkhianatiku sejak hari pertama, Cardo,” balasku sengit. “Kau bilang selembar kertas itu tidak ada bedanya. Sekarang lihatlah, tanpa selembar kertas pernikahan denganku, kau tidak punya hak atas asetku. Dan karena selembar kertas pernikahan dengan Clara, kau resmi ditangkap atas penggelapan dana keluarga mereka.”
Polisi maju dan langsung memborgol kedua tangan Cardo di depan para investornya. Pria yang selalu tampil rapi dan berwibawa itu kini memohon-mohon, menangis, dan tersungkur di lantai, kehilangan seluruh harta, martabat, dan masa depannya dalam sekejap.
Aku berbalik dan melangkah keluar dari gedung itu tanpa menoleh lagi. Di luar, langit tampak begitu cerah. Sepuluh tahunku mungkin telah hilang, tetapi sisa hidupku baru saja dimulai dengan kebebasan yang sepenuhnya milikku.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.