Saat Suamiku Sedang Tidak di Rumah, Ibu Mertuaku Meminta Tidur Sekamar Denganku—Namun Pada Malam Kedua, Aku Terbangun dan Menyaksikan Sebuah Pemandangan Mengerikan…
Suamiku, Marco, berangkat ke Surabaya untuk perjalanan dinas selama tiga hari. Sebelum pergi, ia berulang kali berpesan,
“Selama aku pergi, tinggallah di rumah bersama Mama supaya kamu tidak sendirian. Jangan lupa selalu kunci pintu setiap malam.”
Aku hanya mengangguk. Sejujurnya, ada sedikit rasa lega.
Namun tinggal serumah dengan ibu mertuaku, Bu Teresa, memang tidak pernah mudah.
Bukannya beliau galak, tetapi cara beliau menunjukkan perhatian terkadang terasa terlalu berlebihan. Setiap kali aku turun ke dapur untuk memasak, tiba-tiba saja beliau sudah berdiri di belakangku.
“Apa yang mau kamu masak hari ini? Akhir-akhir ini kamu sering chatting dengan siapa?”
Aku hanya bisa tersenyum canggung, tidak tahu harus menjawab apa.
Malam itu hujan turun sangat deras. Angin menderu melewati celah-celah jendela. Saat aku hendak naik ke kamar, Bu Teresa tiba-tiba memanggilku.
“Liza… bolehkah malam ini aku tidur di kamarmu?”
Aku langsung berhenti melangkah.
“Hah? Kenapa, Bu?”
Beliau duduk di sofa sambil memeluk kedua lututnya seperti anak kecil.
“Aku takut. Rumah ini terlalu besar… sejak Papa meninggal, kita hanya tinggal berdua. Aku selalu merasa kedinginan kalau sendirian.”
Aku menatapnya. Hatiku sedikit luluh. Aku juga pernah kehilangan ayah, jadi aku tahu bagaimana rasanya kesepian. Namun tetap saja… tidur sekamar dengan ibu mertua terasa sangat canggung.
Aku berkata pelan,
“Tapi Ibu kan punya kamar sendiri…”
Beliau menjawab lirih,
“Tadi aku dengar suara aneh di luar. Bagaimana kalau ada pencuri? Salah satu dari kita menemani yang lain saja sudah cukup.”
Saat itu aku tidak tega menolak.
“Baiklah, Bu. Tidurlah di kamar saya malam ini.”
Bu Teresa masuk ke kamarku, menutup rapat tirai jendela, lalu mengambil selimut tebal dari lemari.
Beliau berbaring membelakangiku.
Sementara aku merapat ke sisi ranjang, berusaha menjaga jarak.
Namun semakin larut malam, aku justru semakin sulit memejamkan mata.
Bukan karena suara hujan.
Melainkan karena perasaan seolah-olah ada seseorang yang terus memperhatikanku.
Saat aku menoleh…
Bu Teresa ternyata masih terjaga.

Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar.
“Ibu belum tidur?” tanyaku.
Beliau sedikit terkejut, lalu memaksakan senyum.
“Ah… sudah tua, jadi memang susah tidur.”
Aku baru saja hendak kembali berbaring ketika beliau tiba-tiba bertanya dengan suara pelan—sebuah pertanyaan yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Liza… apa kamu benar-benar yakin Marco mencintaimu?”
Aku langsung terduduk.
Jantungku berdegup sangat kencang.
“Kenapa Ibu bertanya begitu?”
Beliau tidak menjawab.
Beliau hanya menghela napas panjang, lalu menarik selimut hingga menutupi dagunya.
Malam itu aku hanya bisa berbaring sambil menggenggam erat ponselku.
Untuk pertama kalinya, aku merasa…
ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di dalam rumah ini.
Malam Kedua
Keesokan harinya berjalan dengan ketegangan yang kasat mata. Bu Teresa bersikap seolah pertanyaan aneh semalam tidak pernah terjadi, namun ia terus menempeliku. Ketika aku mencoba menelepon Marco untuk menceritakan keanehan ini, ponselnya selalu berada di luar jangkauan.
Malam kedua pun tiba. Hujan kembali mengguyur, kali ini disertai petir yang menyambar-nyambar. Belum sempat aku melangkah ke tangga, Bu Teresa sudah berdiri di depan kamarku membawa bantalnya sendiri. Tatapannya kosong, namun senyumnya terkunci rapat.
“Malam ini lagi ya, Liza. Di luar sangat menyeramkan,” bisiknya tanpa menunggu persetujuanku.
Kami kembali berbaring di ranjang yang sama. Karena kelelahan mental, aku akhirnya tertidur pulas. Namun, sekitar jam dua pagi, hawa dingin yang menusuk tulang membuatku terbangun. Kamar itu gelap gulita karena listrik padam.
Saat itulah aku menyaksikan sebuah pemandangan mengerikan.
Di ujung ranjang, dalam remang kilatan petir dari celah tirai yang sedikit terbuka, Bu Teresa tidak sedang tidur. Beliau sedang berlutut di lantai, menghadap ke arahku. Di tangannya, sebilah pisau dapur panjang berkilat memantulkan cahaya petir.
Namun, bukan itu yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
Bu Teresa sedang menangis histeris tanpa suara, air matanya bercucuran, sementara tangannya yang memegang pisau tampak bergetar hebat—bukan karena ingin membunuhku, melainkan karena ia sedang menahan sesuatu. Mulutnya berkomat-kamit, mencoba membisikkan sesuatu yang sedari tadi teredam oleh gemuruh badai.
Aku menahan napas, berpura-pura masih memejamkan mata sambil mengintip sedikit. Saat petir menyambar lebih terang, aku berhasil membaca gerak bibirnya yang gemetar ketakutan:
“Lari, Liza… Dia bukan di Surabaya… Dia ada di loteng… Lari…”
Kebenaran yang Kelam
Seketika itu juga, terdengar suara langkah kaki berat di atas plafon kamar kami. Suara derit kayu yang berjalan perlahan dari arah loteng menuju ke bawah.
Otakku langsung berputar cepat merangkai kepingan teka-teki. Pesan Marco yang berulang kali memintaku mengunci pintu setiap malam, bukan untuk melindungiku dari orang luar. Marco ingin memastikanku terkurung di dalam. Dan Bu Teresa meminta tidur sekamar denganku bukan karena beliau membenciku atau gila—beliau sedang berusaha melindungiku dengan tubuh rentanya dari putranya sendiri.
Pertanyaan semalam—“Apa kamu benar-benar yakin Marco mencintaimu?”—adalah peringatan terakhir yang bisa beliau berikan di bawah pengawasan Marco. Ibu mertuaku tahu bahwa Marco memiliki gangguan jiwa yang parah, sama seperti mendiang suaminya dulu, dan perjalanan dinas ke Surabaya hanyalah alibi untuk menghabisiku demi klaim asuransi yang baru saja kami tanda tangani bulan lalu.
KRETEK…
Pintu kamar perlahan terbuka dari luar. Sesosok bayangan tinggi besar berdiri di ambang pintu, memegang seutas tali tambang. Itu Marco. Ia tidak pernah pergi ke Surabaya.
“Mama… kenapa Mama ada di kamarnya? Bukankah sudah kubilang jangan ikut campur?” suara Marco terdengar dingin, sangat berbeda dari suami lembut yang kukenal.
Dalam hitungan detik, Bu Teresa tiba-tiba berteriak histeris, “LIZA, LARI SEKARANG!” Beliau langsung menerjang kaki Marco, mencoba menahannya dengan sisa-sisa tenaganya.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sambil menangis ketakutan, aku melompat dari ranjang, menyambar ponselku, dan berlari menerobos kegelapan rumah. Di belakangku, terdengar suara benturan keras dan jeritan Bu Teresa yang meremukkan hatiku.
Aku berhasil membuka pintu depan yang terkunci, berlari menembus hujan deras, dan terus berteriak meminta tolong ke arah rumah tetangga.
Akhir Cerita
Tiga minggu telah berlalu sejak malam jahanam itu.
Marco kini mendekam di rumah sakit jiwa dengan pengamanan ketat kepolisian setelah terbukti merencanakan pembunuhan berencana terhadapku dan bertanggung jawab atas kematian misterius ayahnya beberapa tahun lalu.
Aku duduk di kursi roda rumah sakit, menatap Bu Teresa yang terbaring lemah di bangsal perawatan akibat luka-luka malam itu. Beliau perlahan membuka matanya dan melihatku. Aku segera menggenggam tangan senjanya yang gemetar. Tidak ada lagi rasa canggung. Hanya ada rasa hormat dan terima kasih yang mendalam.
Ibu mertua yang kukira aneh dan berlebihan, ternyata adalah malaikat pelindung yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkanku dari putranya sendiri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.