DI HARI ULANG TAHUNKU YANG KE-18, BUKANNYA PESTA YANG MENANTIKU—MELAINKAN SEBUAH KARTU DEBIT DAN AKTA KELAHIRANKU YANG DILEMPARKAN IBU KE DEPANKU SEBELUM MENGUSIRKU DARI RUMAH.**
> “Phoebe, keluarga Pineda tidak punya tempat untuk orang yang tidak berguna. Di kartu itu ada **Rp25.000.000**. Cukup untuk membiayai kuliahmu.”
Nada suara Ibu terdengar dingin.
Ayah menatapku dengan wajah penuh kejengkelan.
> “Data kependudukanmu sudah dipisahkan dari keluarga.”
> “Jangan pulang kalau tidak ada urusan penting. Jangan juga menghubungi kami. Kami malu punya anak sepertimu,” kata Tuan Teodoro.
Kakak laki-lakiku, **Primo**, hanya menatapku tanpa ekspresi.
Aku sempat berharap Kak Selene akan membelaku. Namun ia hanya sibuk menggulir layar iPhone-nya, tersenyum tipis tanpa sekalipun melirik ke arahku.
Aku menunduk, memandang ujung sepatuku beberapa saat, lalu mengambil kartu dan dokumen itu sebelum berbalik pergi.
“Sudah 18 tahun, tapi tetap saja tidak tahu diri,” gumam Primo sambil menyeringai.
Aku berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu membungkuk hormat sembilan puluh derajat kepada mereka berempat.
> “Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu. Terima kasih untuk semuanya.”
### 01
Namaku **Phoebe**, anak bungsu keluarga **Pineda**, salah satu keluarga terkaya di seluruh **Jakarta**.
Aku adalah anak kandung Ayah dan Ibu.
Dalam tradisi keluarga Pineda, setiap anak memiliki peluang lima puluh persen untuk mewarisi **Gift**, kemampuan istimewa turun-temurun.
Kakak laki-lakiku, Primo, sudah menjadi jenius sejak kecil. Ia mampu melihat pola angka dan memprediksi tren pasar saham. Kini di usia 27 tahun, sepulang kuliah dari luar negeri, ia dijuluki **Golden Boy** dunia finansial Jakarta.
Kakak perempuanku, Selene, kini berusia 23 tahun. Sejak usia 14 tahun, ia membangkitkan kemampuan **clairvoyance**, mampu melihat isi batu permata maupun tanaman. Meski hanya bertahan tiga menit dan harus beristirahat sebulan setiap kali digunakan, kemampuan itu cukup menjadikannya **Ratu Perhiasan Jakarta**.
Lalu bagaimana denganku?
Aku, Phoebe…
Sampai usia delapan belas tahun, aku sama sekali tidak memiliki Gift.
Aku kalah pintar dari Primo.
Aku juga tidak secantik Selene.
Di kalangan sosialita Jakarta, aku hanya dikenal sebagai gadis yang **biasa saja dan membosankan**.
Ibu bahkan pernah berkata,
> “Kamu cuma sebatang bambu lapuk di tengah hutan pohon-pohon kokoh.”
Bibi Ising, pengasuhku sejak kecil, pernah berbisik bahwa Ibu diam-diam melakukan tes DNA.
Hasilnya?
Aku memang anak kandung mereka.
Kalau bukan, mungkin aku sudah dibuang sejak lama.
Aku menyeret koper keluar rumah.
Rumah mewah kami di **Menteng** begitu besar, tetapi ternyata tak memiliki sedikit pun ruang untukku.
“Nona Ketiga, Tuan Muda menyuruh saya mengembalikan batu-batu sampah milik Anda.”
Butler melemparkan sebuah kantong berisi batu-batu kecil.
Ia tidak pernah mengerti mengapa aku begitu menyukai batu-batu sungai itu.
Aku memungut semuanya dan menyimpannya kembali di dalam koper, di atas beberapa potong pakaian.
Itulah batu-batu warna-warni murah yang dulu kubeli untuk menghias akuarium.
Dulu Selene sering mengejekku.
> “Cocok sekali. Sama-sama sampah di pinggir jalan.”
Dulu kata-kata itu sangat menyakitkan.
Namun sekarang aku justru berpikir…

Walaupun keluargaku meninggalkanku, batu-batu ini tidak pernah melakukannya.
Masih ada dua minggu sebelum kuliah dimulai di **Universitas Indonesia**, tetapi aku bahkan belum memiliki tempat tinggal.
Nenek sebenarnya ingin menolongku, tetapi beliau tinggal di panti jompo di **Bogor** dan kondisi jantungnya sudah lemah. Aku tidak tega membuatnya semakin khawatir.
Aku naik bus menuju **Depok**.
Begitu turun, ponselku berbunyi.
Sebuah berita hiburan muncul di layar.
**[FLASH: Keluarga Pineda secara resmi memutus hubungan dengan putri bungsu mereka, Phoebe Pineda.]**
Kakiku langsung lemas.
Aku berpegangan pada tiang halte sementara air mataku terus mengalir membasahi koper.
Aku sempat berpikir…
Setidaknya mereka tidak akan melakukan ini.
Ternyata mereka begitu cepat menghapus keberadaanku.
Bagaimanapun juga, aku memang dianggap tidak berguna.
Aku hanya diterima di Universitas Indonesia, bukan di Harvard seperti Primo.
Bagi mereka, itu adalah aib.
Melihatku menangis hebat, seorang polisi menghampiri.
> “Mbak, kamu baik-baik saja? Baru saja kehilangan barang atau menjadi korban pencurian?”
Aku memaksa tersenyum.
> “Terima kasih, Pak. Saya baik-baik saja. Saya hanya… menangis karena akhirnya bebas.”
Polisi membawaku ke kantor polisi untuk menenangkan diri.
Setelah melihat surat penerimaan kuliah dan berita tentang keluargaku, mereka hanya saling berpandangan.
Tak ada yang berani ikut campur urusan keluarga miliarder.
Salah seorang polisi menyodorkan semangkuk mi instan.
> “Makan dulu ya, Mbak.”
Itu adalah pertama kalinya aku makan mi instan.
Rasanya asin, panas, sederhana…
Tetapi sangat enak.
Mungkin beginilah rasa kehidupan yang sesungguhnya.
Aku akhirnya mendapat pekerjaan di daerah **Depok**, dekat kampus.
Tugasku mengemas suvenir dan alat tulis untuk sebuah toko online.
Upahnya **Rp60.000 per hari**, ditambah tempat tinggal gratis di asrama karyawan.
Selama delapan belas hari, aku berhasil mengumpulkan **Rp1.080.000**.
Itulah uang pertama yang benar-benar kuperoleh dari hasil jerih payahku sendiri.
Suatu hari aku pergi ke bank untuk mengecek kartu debit pemberian Ibu.
Saat melihat saldonya, tubuhku langsung membeku.
Bukan **Rp25.000.000**.
Melainkan hanya **Rp2.500.000**.
Mengapa Ibu masih harus berbohong?
Kalau memang hanya ingin memberiku uang sebanyak itu, mengapa tidak berkata jujur sejak awal?
Aku menarik napas panjang.
Aku mencoba menelepon Ibu.
Aku hanya ingin bertanya…
Apa karena aku tidak memiliki Gift, aku sudah bukan anaknya lagi?
Namun nomor teleponku ternyata sudah diblokir.
Saat itulah aku benar-benar menyerah.
Aku mengambil ponselku dan melakukan satu per satu hal yang harus kulakukan.
Blokir Ayah.
Blokir Ibu.
Blokir Primo.
Blokir Selene.
Keluar dari grup chat keluarga.
Mulai hari ini…
Tidak ada lagi **Phoebe Pineda**.
Yang ada hanya **Phoebe**.
Di asrama, aku memilih kamar termurah, kamar yang dihuni lima orang.
Teman sekamarku, Vivian, berasal dari Surabaya dan mengenakan gelang emas tebal di pergelangan tangannya.
Aku teringat…
Dulu aku juga memiliki banyak perhiasan.
Namun semuanya diambil kembali oleh kepala pelayan sebelum aku meninggalkan rumah.
Akhir pekan itu, aku bekerja paruh waktu di sebuah kedai milk tea dekat kampus.
Saat sedang sibuk menyiapkan pesanan, seorang pria bertubuh tinggi berhenti tepat di depanku.
“Phoebe?”….
Berikut adalah lanjutan cerita dan bab penutup (ending) untuk melengkapi kisah dramatik-fantasi urban Anda:
Momen Kebangkitan yang Tersembunyi
Aku mendongak, menyapu keringat di dahi. Pria itu mengenakan kemeja kasual yang rapi dengan kacamata berbingkai tipis. Wajahnya tegas namun sorot matanya menyimpan ketenangan yang ganjil.
“Mas… Adrian?” bisikku ragu.
Dia adalah Adrian Gunawan, putra tunggal keluarga Gunawan—saingan terbesar bisnis keluarga Pineda di Jakarta. Berbeda dengan keluargaku yang gemar memamerkan kejayaan, keluarga Gunawan terkenal sangat terutup. Adrian adalah kawan lama Primo yang pernah beberapa kali berkunjung ke rumah kami bertahun-tahun lalu.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Adrian pelan, pandangannya beralih ke apron murah yang kupakai dan nama dada plastik bertuliskan Phoebe. “Aku baca beritanya, tapi tak menyangka mereka benar-benar melakukannya.”
Aku tersenyum tipis, menggeleng perlahan. “Aku baik-baik saja, Mas Adrian. Mau pesan milk tea?”
Adrian menatapku intens sebelum mengeluarkan sebuah dompet kulit tebal. “Dua cangkir. Dan kamu harus ikut minum denganku saat jam istirahatmu.”
Di sudut kedai yang sepi, Adrian meletakkan sebuah kantong kain kecil di atas meja. Itu adalah kantong batu-batu sungai warna-warni milikku yang dibuang butler di rumah Menteng.
“Bagaimana…” aku terbelalak.
“Tadi pagi aku ada urusan di Menteng dan melihat kepala pelayanmu berniat membuang kantong ini ke tempat sampah,” kata Adrian datar. “Aku mengenali batu-batu yang selalu kamu kumpulkan sejak kecil, jadi aku memintanya.”
Adrian mengambil salah satu batu warna biru kusam yang biasa dari kantong itu dan meletakkannya di telapak tanganku.
“Phoebe, keluargamu itu buta,” kata Adrian, suaranya dalam dan pelan. “Mereka mengira Selene adalah si clairvoyant genius karena bisa melihat kilau batu permata selama tiga menit. Tapi mereka tidak pernah sadar… kenapa setiap kali kamu memegang batu-batu biasa ini, warna dan strukturnya perlahan berubah?”
Aku membeku. “Maksud… Mas Adrian?”
“Coba alirkan fokusmu ke batu ini. Sekarang. Kamu bukan lagi di bawah tekanan mereka.”
Dengan napas terengah, aku memejamkan mata dan menggenggam batu sungai itu erat-erat. Rasa hangat yang luar biasa tiba-tiba menjalar dari dadaku, mengalir menuju telapak tanganku. Rasa sakit hati, kekecewaan, dan kepedihan dibuang keluarga seolah menjadi bahan bakar energi yang meledak di dalam diriku.
Saat aku membuka mata, batu sungai kusam bernilai beberapa ribu rupiah itu telah berubah total—bertransformasi menjadi Batu Sapphire Biru Murni berkilau sempurna tanpa cacat sedikit pun!
Bukan sekadar melihat. Gift-ku… adalah Transmutasi Materi.
Aku bukan tidak memiliki Gift. Kemampuanku bangkit terlambat di usia 18 tahun, dan skalanya jauh melampaui kemampuan Selene yang hanya bisa menebak isi batu. Aku mampu menciptakan nilai jutaan dolar dari segenggam kerikil jalanan.
Penyesalan yang Terlambat
Empat tahun berlalu…
Di balai lelang termewah di kawasan SCBD Jakarta, sebuah batu Red Diamond yang sangat langka dan belum pernah ada dalam sejarah Indonesia dipamerkan. Nilai lelangnya dibuka pada angka Rp150 Miliar.
Keluarga Pineda hadir lengkap. Primo tampak lebih kurus dengan raut wajah penuh tekanan—bisnis investasinya baru saja merugi besar akibat prediksi angka saham yang meleset. Selene duduk di samping ibunya, wajahnya pucat karena batas kemampuan clairvoyance-nya terus menurun hingga membuatnya sering pingsan.
“Siapa pemilik batu ini?” bisik Tuan Teodoro Pineda cemas kepada pelayan lelang. “Kita harus membeli batu ini untuk menyelamatkan aset keluarga Pineda!”
Tiba-tiba, lampu aula utama meredup dan menyorot ke arah panggung utama.
Presiden Direktur dari Phoebe Gemstone & Co.—perusahaan perhiasan terbesar dan tersukses di Asia Tenggara yang baru saja mengakuisisi saham mayoritas keluarga Pineda—melangkah naik ke panggung.
Ia mengenakan gaun malam berwarna navy blue yang anggun, dilindungi oleh Adrian Gunawan yang kini menjadi mitra bisnis sekaligus tunangannya.
Aula gempar.
Ibu Pineda menutupi mulutnya dengan tangan yang gemetar. Primo berdiri dari kursinya dengan mata terbelalak. Selene terperanjat hingga menjatuhkan cangkir tehnya.
“P-Phoebe?!” jerit Ibu Pineda tertahan, suaranya melengking penuh ketidakpercayaan.
Aku berdiri tegak di balik podium. Wajah polos dan membosankan empat tahun lalu telah berganti menjadi sosok wanita karir berwibawa, anggun, dan tak tersentuh.
“Selamat malam, para tamu undangan yang terhormat,” suaraku bergema melalui mikrofon, tenang dan dingin. “Terima kasih telah menghadiri lelang mahakarya terbaru saya.”
Seusai acara lelang, keluarga Pineda menerobos barisan pengawal dan menghadang langkahku di lorong VIP.
“Phoebe!” panggil Ayahku dengan suara bergetar. “Anakku… ini benar-benar kamu? Kenapa kamu tidak pernah menghubungi kami?! Kami… kami mencarimu!”
“Mencariku?” aku memiringkan kepala, tersenyum tipis. “Mencari anak yang kalian sebut ‘bambu lapuk’? Anak yang cuma diberi uang Rp2.500.000 lalu diputus hubungan kependudukannya dalam berita flash?”
“Phoebe, maafkan Ibu…” tangis Ibu Pineda pecah, mencoba meraih tanganku. “Ibu salah… Ibu tidak tahu kalau kamu—”
“Ibu tidak tahu karena Ibu hanya memandang manusia dari kegunaannya,” potongku tenang tanpa kemarahan. “Empat tahun lalu, kalian membuangku karena mengira aku tidak memiliki nilai. Hari ini, aku berdiri di sini bukan untuk balas dendam, tetapi untuk menunjukkan… bahwa aku tidak pernah membutuhkan nama keluarga Pineda untuk bersinar.”
Primo melangkah maju, wajahnya memerah karena malu dan penyesalan. “Phoebe… perusahaan kita sedang krisis. Tolong bantu Kakak…”
Aku menatap Primo, Selene, dan kedua orang tuaku satu per satu. Tidak ada lagi rasa benci atau sakit hati di dadaku. Yang tersisa hanyalah jarak yang tak terjemput.
Aku mengambil selembar cek bernilai Rp25.000.000 dari dalam tas kecilku dan meletakkannya di telapak tangan Ibu.
“Ini uang yang Ibu berikan padaku dulu, ditambah bunganya. Kita sudah impas,” kataku lembut.
Aku berbalik, menggandeng lengan Adrian, dan melangkah pergi meninggalkan mereka yang melipat tubuh dalam penyesalan yang terlambat. Di luar gedung, malam Jakarta terasa begitu hangat dan indah—karena mulai malam ini, aku adalah penentu takdirku sendiri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.