Posted in

“MENGAPA KALUNG ANAKKU ADA PADA BOCAH GELANDANGAN INI?!” MATA SANG MILIARDER TERBELAK SAAT MELIHAT LIONTIN NAGA EMAS YANG UNIK DI LEHER SEORANG BOCAH PEMULUNG. DI SANALAH IA MENEMUKAN RAHASIA KEJI YANG DISEMBUNYIKAN OLEH ADIK KANDUNGNYA SENDIRI SELAMA TUJUH TAHUN.

“MENGAPA KALUNG ANAKKU ADA PADA BOCAH GELANDANGAN INI?!” MATA SANG MILIARDER TERBELAK SAAT MELIHAT LIONTIN NAGA EMAS YANG UNIK DI LEHER SEORANG BOCAH PEMULUNG. DI SANALAH IA MENEMUKAN RAHASIA KEJI YANG DISEMBUNYIKAN OLEH ADIK KANDUNGNYA SENDIRI SELAMA TUJUH TAHUN.
Kesedihan Seorang Ayah
Aku adalah Don Gabriel Imperial, tiga puluh delapan tahun, CEO yang disegani dari Imperial Global Holdings. Di mata dunia, aku memiliki segalanya—kekayaan Triliunan Rupiah, kekuasaan, dan pengaruh. Namun di dalam batin, aku hanyalah seorang pria mati yang masih bernapas.

Tujuh tahun lalu, duniaku runtuh. Saat aku sedang dalam perjalanan bisnis ke Eropa, putraku yang baru berusia satu tahun, Lucas, diculik dari mansion kami. Beberapa hari kemudian, polisi menemukan pakaian putraku yang bersimbah darah di pinggir sebuah jembatan. Dia dinyatakan tewas. Karena kesedihan dan depresi yang mendalam, istriku mengakhiri hidupnya. Seluruh keluargaku hancur.

Sejak saat itu, satu-satunya orang yang menemaniku adalah adik perempuanku, Beatrice. Beatrice-lah yang mengurusku dan perlahan mengambil tanggung jawab besar di perusahaan sementara aku berkabung selama tujuh tahun. Aku mengira dia adalah satu-satunya sekutu yang aku miliki.

Bocah Pemulung
Suatu sore yang terik, aku mengunjungi sebuah pabrik tua yang baru saja dibeli perusahaan kami untuk dibangun menjadi mall mewah. Aku turun dari mobil Maybach-ku ketika mendengar bentakan keras.

“Pergi dari sini, gembel! Kamu bau sekali, jangan sampai terlihat oleh Chairman kami!” teriak seorang satpam sambil mendorong kasar seorang bocah laki-laki yang membawa karung besar berisi botol bekas dan plastik.

Bocah itu kira-kira berusia delapan tahun. Tanpa alas kaki, pakaiannya compang-camping, dan wajahnya penuh jelaga. Karena dorongan satpam tersebut, bocah itu terjatuh ke aspal yang keras dan botol-botolnya berserakan.

“M-Maaf, Kak… saya cuma memungut botol untuk beli obat ibu angkat saya,” isak bocah itu sambil terburu-buru memunguti barang dagangannya.

Aku merasakan iba yang luar biasa. “Lepaskan anak itu!” perintahku dingin pada satpam tersebut.

Satpam itu panik dan segera memberi hormat. “P-Pak Gabriel! S-Saya cuma mengusir pemulung ini—”

Aku tidak memedulikannya. Aku berjalan mendekat dan perlahan berlutut di jalanan untuk membantu anak itu. Aku mengambil saputangan mahalku dan menyeka kotoran dari wajahnya yang menangis.

“Jangan takut, Nak. Siapa namamu?” tanyaku lembut.

“M-Mateo, Pak,” jawabnya gemetar.

Saat Mateo menunduk untuk mengambil sebuah botol, kerah bajunya yang robek sedikit terbuka. Dan di sana, berkilauan di bawah sinar matahari, sesuatu yang membuat jantungku berhenti berdetak.

Sebuah kalung. Naga emas dengan mata yang terbuat dari zamrud murni.

Mataku terbelalak. Paru-paruku seakan kehabisan udara. Kalung itu! Mustahil aku salah! Aku sendiri yang mendesain dan memesan kalung itu dari pengrajin perhiasan ternama di Swiss untuk ulang tahun pertama putraku, Lucas. Kalung itu hanya ada satu di dunia! Dan anakku memakainya pada malam dia menghilang!

Tanganku mulai gemetar. Aku memegang kalung di leher anak itu.

“D-Dari mana kamu mendapatkan ini?!” tanyaku dengan suara serak dan berbisik, keringat dingin mulai bercucuran di dahiku. “Siapa yang memberikan ini padamu?!”

Mateo ketakutan dan menangis. “K-Kata ibu angkat saya… saya sudah memakai ini sejak dia memungut saya dari dalam kantong sampah hitam di luar gereja tujuh tahun yang lalu!”

Dipungut dari kantong sampah?! Tujuh tahun yang lalu?!

Aku menatap wajah Mateo dengan saksama. Aku membersihkan seluruh kotoran di pipinya. Matanya, bentuk hidungnya, bibirnya… Dia sangat mirip dengan mendiang istriku!

“Tuhanku…” aku terisak hebat, memeluk anak itu dengan erat. “Kamu anakku… Kamu adalah Lucas!”..

Kebahagiaan yang luar biasa itu seketika berubah menjadi amarah yang menghitam saat sebuah ingatan menghantamku. Malam di mana Lucas menghilang, hanya ada tiga orang yang memiliki akses ke kamar bayi: aku, mendiang istriku, dan Beatrice.

Aku tidak membuang waktu. Dengan Mateo dalam dekapanku, aku membawanya masuk ke dalam Maybach. “Kita pulang, Lucas. Kita pulang ke rumah yang seharusnya menjadi milikmu,” bisikku sambil mencium kuncir rambutnya yang kusam.

Konfrontasi di Mansion

Aku tiba di mansion bersamaan dengan Beatrice yang baru saja pulang dari kantor. Ia tampak elegan dengan setelan high-fashion, sangat kontras dengan bocah dekil yang kugandeng erat di sisiku.

“Gabriel? Siapa bocah kotor ini? Mengapa kau membawanya masuk ke rumah?” tanya Beatrice dengan nada jijik yang tidak ditutup-tupi.

Aku tidak menjawab. Aku hanya melepaskan tangan Mateo dan membiarkan kalung naga emas itu menggantung jelas di dadanya.

Wajah Beatrice yang tadinya angkuh seketika berubah menjadi pucat pasi. Tas branded-nya jatuh ke lantai. Matanya bergerak gelisah antara kalung itu dan wajah Mateo yang merupakan cerminan diriku.

“L-liontin itu… Itu hanya imitasi, kan? Kau pasti ditipu oleh gelandangan ini, Kak!” suara Beatrice melengking tinggi, penuh kepanikan.

“Aku yang mendesainnya sendiri, Beatrice. Tidak ada imitasi untuk cinta seorang ayah,” kataku dengan suara serendah geraman serigala. “Mateo ditemukan di kantong sampah tujuh tahun lalu. Di luar gereja tempat kau bilang kau pergi berdoa di malam penculikan itu. Katakan padaku… mengapa kau membuang keponakanmu sendiri seperti sampah?”

Kebenaran yang Berdarah

“Aku melakukannya untukmu!” teriak Beatrice tiba-tiba, pecah menjadi histeris. “Kau selalu memuja istri dan anakmu! Kau mengabaikan aku! Aku yang membangun perusahaan ini bersamamu, tapi kau ingin memberikan semuanya pada bayi kecil ini? Aku tidak ingin dia mati, Gabriel! Aku hanya ingin dia hilang agar kau melihatku sebagai satu-satunya keluargamu!”

“Dan kau membiarkan kakak iparmu bunuh diri karena kehilangan anaknya?!” raungku sambil melangkah maju. “Kau membiarkan darah dagingmu sendiri memulung di jalanan sementara kau tidur di atas sutra?!”

Beatrice jatuh terduduk, menangis tersedu-sedu, namun bukan karena penyesalan, melainkan karena ia tahu kekuasaannya telah berakhir.

Fajar yang Baru

Aku segera memanggil tim medis dan pengacara terbaik. Hasil tes DNA yang keluar keesokan harinya hanya mengonfirmasi apa yang sudah diteriakkan oleh jantungku: 99,9% Mateo adalah Lucas Imperial.

Satu minggu kemudian, Beatrice digiring keluar dari mansion dengan borgol di tangannya. Ia didakwa atas penculikan, penelantaran anak, dan pemalsuan bukti kematian. Harta yang selama ini ia incar kini terkunci rapat di bawah perwalian Lucas.

Sore itu, aku duduk di taman bersama Lucas—yang kini harum dan mengenakan pakaian terbaik. Kami baru saja selesai mengunjungi makam ibunya untuk memberikan kabar bahagia.

“Ayah,” panggilnya malu-malu, kata yang masih terasa asing namun sangat indah di telingaku. “Apakah aku harus mengembalikan kalung ini? Ini sangat mahal.”

Aku memeluk bahu kecilnya, merasakan detak jantung yang dulu kukira sudah berhenti selamanya.

“Tidak, Nak. Simpan itu,” bisikku sambil menatap matahari terbenam. “Kalung itu adalah kompas yang membawamu pulang. Dan mulai sekarang, tidak akan ada lagi kantong sampah, tidak ada lagi kelaparan. Ayah akan memastikan seluruh dunia berlutut padamu sebagai pewaris tunggal Imperial.”

Sang Naga telah kembali ke sarangnya, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun memadamkan apinya.