Posted in

SELAMA TIGA HARI, IPARKU BERDIRI DI DALAM TOKO PERHIASANKU SAMBIL MENGGENDONG ANAKNYA DAN MENOLAK PERGI, HANYA UNTUK MEMAKSAKU MENYERAHKAN BISNIS YANG DITINGGALKAN ORANG TUAKU KEPADANYA.

SELAMA TIGA HARI, IPARKU BERDIRI DI DALAM TOKO PERHIASANKU SAMBIL MENGGENDONG ANAKNYA DAN MENOLAK PERGI, HANYA UNTUK MEMAKSAKU MENYERAHKAN BISNIS YANG DITINGGALKAN ORANG TUAKU KEPADANYA.

“Tolonglah, Selena… aku kasihan pada anakku… dia butuh masa depan yang layak…”

Ibu mertuaku membanting buku catatan toko di atas etalase kaca.

“Kamu sudah lama menjadi bagian dari keluarga ini, tapi membantu sedikit saja tidak bisa?!”

Bahkan suamiku, Adrian, menarik lenganku untuk berbicara denganku.

“Sayang, kamu kan bisa membuka cabang lain nanti. Untuk sementara, biarkan Kakak dan Mbak menggunakan toko ini dulu…”

Aku tidak menjawab.

Dengan tenang, aku melepas cincin pernikahanku dan meletakkannya di atas meja kasir.

“Toko ini milikku.”

“Anakku milikku.”

“Dan kamu… mulai hari ini, bukan lagi suamiku.”

01

Sudah tiga hari iparku, Marissa, hampir tinggal di toko itu.

Dia membawa selimut dan tidur di dekat kasir sambil memeluk anaknya. Setiap kali ada pelanggan masuk, dia menangis dan menceritakan kesulitan hidup mereka.

“Bisnis kami bangkrut…”

“Kami terlilit utang…”

“Kalau toko ini tidak membantu kami, kami akan berakhir di jalanan…”

Semua pelanggan memandangku seolah akulah orang jahatnya.

Karyawan-karyawanku hanya diam.

Sementara ibu mertuaku duduk di sudut ruangan sambil berpura-pura menangis.

“Hati perempuan zaman sekarang memang dingin sekali…”

“Kalau keluarga sedang kesulitan, mereka tidak peduli…”

Aku hanya berdiri di belakang meja kasir sambil memeriksa laporan penjualan.

Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Menjelang sore, Adrian datang.

Begitu masuk, dahinya sudah berkerut.

“Sampai kapan kamu mau memperbesar masalah ini?”

Aku menatapnya.

“Aku yang memperbesar masalah?”

Dia menarik napas panjang.

“Aku tahu toko ini warisan dari orang tuamu.”

“Tapi memang benar Kak Marissa sedang kesulitan sekarang. Tidak bisakah kamu membantu mereka dulu?”

“Membantu bagaimana?”

Aku tertawa dingin.

Toko ini adalah seluruh hidup orang tuaku.

Sebelum mereka meninggal, hanya inilah yang mereka tinggalkan untukku.

Dari toko kecil yang bahkan nyaris tidak cukup untuk dua orang berdiri, aku membesarkannya sendirian dengan kerja keras.

Sekarang mereka ingin mengambilnya hanya dengan mengatasnamakan ‘keluarga’.

Saat mereka melihat aku tetap diam, Marissa langsung berlutut di tengah toko sambil membawa anaknya.

“Selena, tolong!”

“Tidakkah kamu ingin keponakanmu punya masa depan yang baik?!”

Anak itu menangis ketakutan saat ibunya memaksanya ikut berlutut.

Orang-orang mulai berbisik-bisik.

Ibu mertuaku tiba-tiba berdiri dan menunjuk ke arahku.

“Dia kaya raya tapi tidak mau membantu keluarga!”

“Perempuan yang hanya mencintai uang pasti akan menerima karmanya!”

Adrian pun mulai kehilangan kesabaran.

“Haruskah kamu setega ini?”

“Kalau Kakak sudah bangkit lagi, mereka pasti akan mengembalikannya.”

Aku menatapnya lama.

Lalu bertanya dengan pelan,

“Benarkah kamu percaya mereka akan mengembalikannya?”

Dia langsung mengalihkan pandangan.

Dan satu detik itu sudah cukup untuk membuatku mengerti segalanya.

Jadi ini bukan soal “meminjam”.

Mereka memang berniat mengambil tokoku.

Seluruh tubuhku terasa dingin.

Tiba-tiba ponsel Marissa berdering.

Dia buru-buru mematikannya.

Tetapi aku sempat melihat tulisan di layar.

“Debt Collector — 27 panggilan tak terjawab.”

Aku langsung mengernyit.

“Berapa sebenarnya utang kalian?”

Seluruh toko mendadak sunyi.

Marissa menundukkan kepala.

Ibu mertuaku cepat-cepat menyela.

“Kamu tidak perlu tahu!”

Namun aku melihat Adrian mengepalkan tangannya erat.

Dia tahu.

Dia tahu semuanya.

Aku menatapnya lurus.

“Katakan yang sebenarnya.”

“Berapa utang mereka?”

Keringat mulai mengalir di dahinya.

Beberapa detik kemudian, dia berbicara dengan suara pelan.

“…hampir Rp2,7 miliar.”

Aku merasa sesak napas.

Dua koma tujuh miliar rupiah.

Bahkan jika tokoku dijual, mungkin masih belum cukup untuk melunasinya.

Dan mereka ingin menyeretku ikut tenggelam bersama mereka.

Aku belum sempat mencerna semuanya ketika terdengar suara rem yang sangat keras dari luar.

SKRIIIIIT—!

Sesaat kemudian, pintu toko terbuka dengan kasar.

Sekelompok pria berwajah garang masuk ke dalam.

Pemimpinnya melemparkan setumpuk dokumen ke atas meja kasir.

“Akhirnya kami menemukan kalian.”

“Sampai kapan kalian mau bersembunyi?”

Wajah Marissa langsung pucat.

Ibu mertuaku hampir jatuh dari kursinya.

Adrian buru-buru berdiri di depanku seolah ingin melindungiku.

Tetapi pria itu hanya menyeringai dan mengeluarkan dokumen lain.

“Hentikan sandiwara kalian.”

“Toko ini sudah dijaminkan minggu lalu.”

Rasanya seperti ada ledakan di kepalaku.

Aku langsung merebut dokumen itu dari tangannya.

Dan saat melihat tanda tangan di bagian bawah…

Duniaku seakan berhenti berputar.

Itu adalah tanda tangan suamiku.

Tanganku gemetar ketika menatap Adrian.

“Kamu menggadaikan tokoku?”

Wajahnya langsung memucat.

“Sayang… dengarkan aku dulu…”

Namun sebelum dia sempat menjelaskan, pria itu tertawa dingin.

“Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.”

“Dokumen pengalihan palsu itu juga sudah selesai.”

“Dua hari lagi… toko ini akan menjadi milik kami.

Mendengar ucapan pria bertubuh kekar itu, seluruh tenagaku rasanya menguap. Kertas di tanganku bergetar hebat. Di sana tertulis jelas nama toko perhiasanku, sertifikat kepemilikannya, dan tanda tangan Adrian di atas meterai, lengkap dengan cap jempolnya.

Dia tidak hanya membiarkan keluarganya mengemis di tokoku. Dia merampokku dari belakang.

“Adrian… kamu memalsukan tanda tanganku?” suaraku nyaris tak terdengar, tertahan di tenggorokan yang terasa mencekat.

“Sayang, maafkan aku… aku terdesak!” Adrian langsung berlutut di depanku, mencoba meraih tanganku, namun aku melangkah mundur dengan rasa muak yang teramat sangat. “Kak Marissa diancam akan dibunuh oleh rentenir lain jika tidak membayar uang muka minggu lalu. Aku hanya berniat meminjam sertifikat itu sebentar. Aku bersumpah akan menebusnya setelah bisnis Kakak jalan lagi!”

“Bohong!” desisku. Aku menatapnya seolah dia adalah orang asing yang paling menjijikkan di muka bumi. “Bisnis apa yang bisa menghasilkan dua koma tujuh miliar dalam waktu singkat? Kalian semua memang sengaja ingin menumbalkanku!”

Marissa dan ibu mertuaku yang tadinya menangis bombastis, kini mendadak diam. Mereka perlahan bangkit berdiri, menyembunyikan diri di belakang punggung Adrian, tidak berani menatap mataku.

Pemimpin pria berwajah garang itu mengetukkan jarinya ke atas etalase kaca, memecah drama domestik di depan matanya.

“Heh, kami tidak peduli siapa yang menipu siapa,” katanya dengan nada meremehkan. “Yang kami tahu, tanda tangan di sertifikat ini sah secara hukum karena ada dokumen kuasa. Dua hari lagi, kami akan datang membawa aparat untuk mengosongkan tempat ini. Bersiap-siap saja.”

Saat kelompok pria itu berbalik dan bersiap melangkah keluar, sebuah suara yang dingin dan tenang keluar dari mulutku.

“Tunggu.”

Semua orang di dalam toko menoleh ke arahku. Adrian menatapku dengan binar harapan, mengira aku akan memohon atau menawarkan penebusan.

Aku menarik napas dalam-dalam, menekan seluruh kepanikan dan amarahku ke titik terdalam. Aku membuka laci kasir, mengambil stempel resmi toko, ponselku, dan beberapa berkas penting yang selalu kusimpan di sana.

Dengan gerakan lambat namun tegas, aku melepaskan cincin pernikahan emas putih yang melingkar di jari manisku, lalu menjatuhkannya di atas etalase kaca tepat di depan wajah Adrian.

TING. Suara denting logamnya terdengar begitu nyaring di keheningan toko.

“Toko ini memang peninggalan orang tuaku. Tapi kalian lupa satu hal,” aku menatap Adrian, Marissa, dan ibu mertuaku satu per satu dengan tatapan kosong. “Nilai tertinggi dari toko perhiasan ini bukan pada bangunannya, bukan pula pada nama di sertifikatnya.”

Aku berjalan ke arah brankas utama di belakang kasir, memasukkan kode kombinasi, dan membukanya. Di dalamnya kosong, kecuali beberapa kotak beludru kosong.

“Seluruh stok berlian, emas murni, dan perhiasan rancanganku yang bernilai lebih dari tiga miliar rupiah sudah kupindahkan ke brankas bank atas nama pribadiku kemarin sore, tepat setelah aku curiga melihat Marissa membawa selimut ke sini,” ujarku dengan senyum pahit namun puas.

Wajah Adrian dan Marissa seketika berubah dari pucat menjadi abu-abu.

“Sertifikat yang kamu palsukan itu hanya mengikat bangunan fisik toko ini. Ambil saja bangunannya. Berikan pada debt collector itu,” lanjutku, menatap pria penagih utang yang kini mulai mengernyitkan dahi. “Tapi tanpa stok perhiasan dan tanpa aku sebagai desainer utamanya, bangunan ini hanyalah ruangan kosong tak berharga yang nilainya bahkan tidak sampai delapan ratus juta rupiah.”

“Apa?!” Marissa menjerit histeris. Dia menerobos maju dan memeriksa brankas yang terbuka. “Selena! Kamu tidak bisa melakukan ini! Di mana semua perhiasannya?! Kami butuh uang itu untuk melunasi utang!”

Ibu mertuaku juga ikut berteriak, kehilangan seluruh urat malunya. “Kamu menantu durhaka! Kamu sengaja ingin melihat kami hancur?! Adrian, lihat kelakuan istrimu ini!”

“Dia bukan suamiku lagi,” potongku dengan suara lantang yang membungkam seluruh ruangan.

Aku menatap Adrian yang kini menatapku dengan pandangan hancur. “Gugatan cerai akan sampai ke tanganmu besok pagi. Dan bersamaan dengan itu, pengacaraku akan melaporkanmu ke kepolisian atas pasal pemalsuan dokumen, penipuan, dan penggelapan aset.”

Aku menoleh ke arah pemimpin debt collector yang kini menatap Adrian dan keluarganya dengan tatapan haus darah. Pria itu menyadari bahwa dia telah ditipu dengan jaminan bangunan kosong yang nilainya jauh dari kata cukup.

“Pak,” kataku pada pria itu dengan sopan. “Silakan selesaikan urusan Anda dengan mereka. Tanda tangan di sana adalah milik Adrian, bukan milikku. Dan urusan penipuan sertifikat ini, biar polisi yang menyelesaikannya dengan dia.”

Aku menyandang tasku, berjalan melewati Adrian yang terus memanggil namaku sambil menangis meminta ampun. Aku bahkan tidak menoleh sedikit pun saat Marissa berteriak frustrasi karena para penagih utang mulai mengepung mereka di dalam toko, menuntut sisa uang dua miliar yang tidak akan pernah bisa mereka bayar.

Saat aku melangkah keluar dari toko, angin sore menerpa wajahku. Air mata akhirnya menetes, bukan karena sedih kehilangan bangunan itu, melainkan karena kelegaan yang luar biasa.

Orang tuaku meninggalkanku toko itu agar aku bisa mandiri dan kuat. Dan hari ini, dengan menyelamatkan seluruh isi toko dan melepaskan benalu yang selama ini mengikatku, aku tahu aku telah membuat mereka bangga. Badai besar akan menghantam keluarga Adrian dalam dua hari ke depan, dan aku akan menonton kehancuran mereka dari kejauhan dengan kepala tegak.