Pemandangan di dalam kamar seketika membuat dada Davi berdenyut kaku oleh rasa kesal yang luar biasa. Di atas ranjang besar mereka, Alisa tidak sedang menangis meratapi kepergian suaminya.
Laptopnya sudah terlipat rapi di atas nakas.
Wanita itu justru tampak sudah tertidur sangat pulas. Tubuhnya bergelung nyaman di balik selimut tebal yang ditarik hingga sebatas dada. Napasnya teratur, seolah-olah dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Davi yang sedang mengamuk di kamar sebelah.
Davi mengepalkan tangannya kuat-kuat di ambang pintu. Rahangnya menegang keras hingga giginya berkerat.
Dia salah besar. Alisa yang malam ini ada di depannya sama sekali tidak berniat mengejar atau mengemis maaf padanya.
Ketidakpedulian yang ditunjukkan istrinya malam ini justru membuat Davi merasa asing, sekaligus menyalakan alarm bahaya di sudut kepalanya yang paling dalam.
Davi merasa takhta kendali yang selama ini dia banggakan di atas hidup Alisa, perlahan-lahan mulai retak dan runtuh tanpa dia ketahui penyebabnya.
Hari berganti hari setelah malam pertengkaran itu. Namun bukannya kembali seperti semula, perubahan kecil dalam diri Alisa justru semakin terasa jelas di mata Davi.
Dan anehnya… perubahan itu mulai mengusik pikirannya perlahan-lahan seperti tetesan air yang terus menghantam batu. Di permukaan, Alisa tetap menjalankan perannya sebagai istri dengan sempurna.
Sangat sempurna.
Dia masih bangun paling pagi untuk menyiapkan sarapan. Kemeja kerja Davi selalu sudah disetrika rapi dan tergantung di lemari. Kopi hitam tanpa gula kesukaan pria itu tetap tersedia hangat setiap pagi di atas meja makan.
“Mas, jangan lupa meeting sama klien Singapura jam sembilan,” ujar Alisa suatu pagi sambil menuangkan kopi ke cangkir.
“Hmm.”
“Dasimu yang abu-abu aku taruh di kursi.”
“Ya.”
Semuanya tetap sama. Namun entah kenapa tetap saja Davi merasa ada sesuatu yang salah. Mungkin karena Alisa sekarang melakukannya seperti rutinitas kosong. Tidak lagi penuh perhatian kecil yang hangat seperti dulu.
Dulu, Alisa selalu cerewet memastikan Davi makan tepat waktu. Selalu bertanya bagaimana pekerjaan suaminya hari itu. Selalu menunggunya pulang dengan mata berbinar seolah Davi adalah pusat semestanya.
Sekarang?
Tidak ada lagi itu semua. Alisa tetap tersenyum. Tetap lembut. Tetap melayani. Namun tanpa rasa. Seolah tubuhnya masih berada di rumah itu, tapi hatinya perlahan sudah pergi entah ke mana.
Hal yang sama juga terjadi pada Ifa.
Alisa masih bersikap baik pada anak itu. Dia tetap membuatkan makanan lucu pada Ifa selama anak itu menginap. Tetap membelikan camilan favoritnya. Tetap menyiapkan susu hangat sebelum tidur.
Namun tidak lagi berlebihan seperti dulu. Tidak ada lagi tatapan penuh harap supaya Ifa dekat dengannya. Tidak ada lagi antusiasme berlebihan demi mencari perhatian anak itu.
Ada sesuatu yang perlahan berubah dari rumah ini. Dan dia mulai tidak menyukainya. Malam demi malam berlalu dengan pola yang sama. Alisa semakin sering sibuk dengan laptopnya.
Kadang sampai larut malam. Kadang sambil mencatat sesuatu di buku kecil. Kadang tersenyum sendiri saat membaca email di layar. Namun setiap kali Davi bertanya, jawabannya selalu santai dan pendek.

“Cuma baca artikel.”
“Atau lihat-lihat aja.”
“Bosen aja.”
Sederhana. Tapi justru jawaban sederhana itu terasa seperti kabut yang tidak bisa disentuh. Hingga suatu malam, saat Davi baru pulang kerja dan memasuki kamar utama, pria itu kembali mendapati Alisa duduk bersandar sambil mengetik di laptopnya.
“Kamu akhir-akhir ini berubah,” ujar Davi tiba-tiba.
Jemari Alisa berhenti sebentar.
“Berubah gimana?”
“Kamu jadi dingin.”
Alisa perlahan menoleh. Tatapannya tenang sekali.
“Aku tetap seperti biasa kok, Mas.”
“Enggak.” Davi menggeleng pelan. “Kamu berbeda.”
Untuk beberapa detik, Alisa hanya diam menatap wajah suaminya lurus-lurus. Lalu perlahan, sudut bibir wanita itu terangkat tipis.
“Mungkin Mas aja yang baru sadar…” lirihnya tenang. “Kalau ternyata aku nggak sesederhana yang Mas kira.”
Satu minggu berlalu dengan cepat, membawa pergi keriuhan singkat di rumah itu. Ifa sudah dijemput dan pulang kembali ke apartemen Winni sejak dua hari yang lalu. Rumah megah itu kembali ke setelan awalnya: sunyi, dingin, dan penuh dengan rahasia yang tak kasat mata.
Di permukaan, Alisa bersikap biasa saja. Sangat biasa, seolah-olah ketegangan di malam kedatangan Ifa seminggu lalu tidak pernah terjadi. Setiap pagi, dia tetap bangun lebih awal, mengenakan daster rumahan yang rapi, lalu sibuk di dapur.
Aroma nasi goreng yang gurih tetap menguar, dan secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan Davi selalu sudah tersedia di atas meja makan tepat saat pria itu turun dengan pakaian kerjanya.
“Kopinya, Mas,” ujar Alisa lembut pagi itu, meletakkan cangkir porselen putih dengan gerakan anggun, lengkap dengan senyuman tipis yang manis.
“Terima kasih,” sahut Davi, mencoba mencairkan kecanggungan yang sebenarnya hanya dirasakan oleh dirinya sendiri.
Alisa hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, lalu melanjutkan kegiatannya dengan tenang.
Sikap “biasa saja” dari Alisa ini alih-alih membuat Davi tenang, justru malah menyiksa batinnya. Selama seminggu terakhir, Davi merasa seperti sedang berjalan di atas lapisan es tipis. Dia terus menunggu Alisa membahas kembali soal “periksa kesuburan” atau menangis karena test pack yang negatif.
Namun Alisa tidak pernah menyinggungnya lagi. Sama sekali tidak.
Setiap malam, pemandangan masih saja sama dan selalu terulang. Begitu jarum jam menyentuh angka sepuluh malam, Alisa akan langsung mengakhiri tugas rumah tangganya. Dia naik ke atas kasur, mengambil laptopnya, lalu tenggelam dalam dunianya sendiri hingga larut malam.
Malam ini pun tidak ada bedanya.
Davi baru saja selesai mandi dan keluar dengan handuk yang tersampir di bahu. Di atas ranjang, Alisa duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Cahaya layar laptop kebiruan kembali memantul di wajahnya yang tampak serius. Jemarinya bergerak lincah, mengetik sesuatu di atas touchpad dengan ritme yang konstan.
Klik. Klik. Klik.
Suara ketukan halus itu entah kenapa terdengar seperti bom waktu di telinga Davi. Davi berjalan mendekat, lalu merebahkan diri di sisi kasur yang kosong. Ia melirik sekilas, mencoba mengintip apa yang sedang dibaca atau dikerjakan istrinya sejak seminggu ini. Namun posisi laptop Alisa sengaja agak dimiringkan, membuat Davi hanya bisa melihat pantulan dokumen yang tidak jelas.
“Kamu akhir-akhir ini semakin sibuk di depan laptop, Sayang,” ujar Davi, mencoba menahan nada suaranya agar tidak terdengar seperti sedang menginterogasi. “Sebenarnya apa sih yang kamu lihat setiap malam sampai larut begini terus? Rasanya tidak mungkin jika hanya melihat-lihat atau menghilangkan kebosanan.”
Jemari Alisa berhenti bergerak. Dia tidak langsung menoleh. Wanita itu menarik napas pendek, lalu mengulas senyum tipis yang sangat tenang sebelum akhirnya memalingkan wajah menatap Davi.
“Bukan apa-apa, Mas. Cuma lagi merapikan beberapa dokumen lama aja,” jawab Alisa santai tanpa beban.
“Bukannya semua dokumen lama kamu ada di lemari bawah?” pancing Davi dengan nada meremehkan yang tersamarkan.
Bagi Davi, Alisa hanyalah seorang wanita rumahan yang sudah terlalu lama hidup di dalam rumah tanpa pengalaman apa-apa. Kenyataan bahwa Alisa sebenarnya adalah lulusan S2 dari universitas ternama terkunci rapat sebagai rahasia antara dirinya dan Dewa.
Alisa terkekeh kecil. Sebuah tawa renyah yang terdengar sangat alami, namun entah kenapa membuat bulu kuduk Davi meremang.
“Ya… kurang lebih seperti itu, Mas. Cuma baca-baca artikel biar otaknya nggak tumpul,” sahut Alisa misterius.
Davi terdiam. Rasa superioritasnya sebagai suami membuatnya tetap merasa aman. Dia yakin Alisa tidak akan pernah punya keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyamannya.
Sebelum Davi sempat menimpali, Alisa sudah kembali melipat layar laptopnya dengan gerakan pelan, mematikan dayanya, lalu meletakkannya di atas nakas.
“Sudah malam, Mas. Ayo tidur. Besok kamu harus kerja, kan?” ujar Alisa manis, lalu merebahkan tubuhnya membelakangi Davi setelah menarik selimut.
Di dalam kegelapan kamar, Davi menatap punggung istrinya dengan mata terbuka lebar. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Di satu sisi, egonya merasa menang karena mengira Alisa adalah wanita lemah yang bergantung sepenuhnya pada nafkahnya.
Namun Davi tidak pernah tahu bahwa di balik layar laptop yang menyala setiap malam itu, Alisa sedang menyusun strategi matang bersama Dewa. Paket kilat berisi ijazah S2-nya sudah tiba dua hari lalu dan disimpan di tempat yang tak akan mungkin terjangkau oleh Davi.
Melalui jaringan lama kampusnya dan bantuan sang abang, Alisa secara diam-diam melamar pekerjaan di sebuah perusahaan multinasional raksasa yang kebetulan merupakan salah satu mitra bisnis utama tempat Davi bekerja.