“Loh bagus. Ini rumahku, kita cer ai. Ang kat kaki kalian dari sini.” Aku tersenyum menang.
Suami dan Mertua yang semula ang kuh, langsung mengkerut. Dia lupa kalau rumah ini milik keluargaku.
“Mbak yakin, Sabrina akan terima?” Bule Vita berbicara dengan suara pelan.
“Yakinlah … Sabrina itu sudah kecintaan bangat sama anakku. Kalau tidak terima siap-siap saja dia di cerai sama Wira!” Ucap Ibu mertua tegas.
Deg!
Jantung langsung berdegup nyeuri, tubu hku tiba-tiba kaku mendengar ucapan mertua.
Aku yang sedang membawa nampan makanan menghentikan langkah, lalu berbalik badan sebelum mereka melihat keberadaanku.
Acara arisan keluarga besar suami, kali ini ada di rumahku. Satu persatu semua anggota keluarga datang memenuhi ruangan rumah. Semua tampak bahagia, menikmati hidangan yang sudah aku persiapkan sejak pagi.
Entah mengapa, kali ini perasaanku tak nyaman. Apalagi setelah mendengar bisik-bisik tadi. Rasanya hatiku sangat tidak karuan. Tatap mata mertua dan kerabat yang lain begitu dingin dan menyebalkan di mataku.
“Sabrina, kesini sebentar.” Panggil Oma, Neneknya Mas Wira. Meski sudah memasuki usia 70 tahun, Oma Laras terlihat masih bugar dan cantik.
“Iya, Oma.” Aku yang sejak tadi diam di antara mereka, akhirnya mendekati wanita yang paling di segani keluarga suami.
“Jadi gimana?” Ujar Oma datar, sambil merapihkan sanggulnya. Make-up riasan khas keraton menempel cantik di wajahnya.
“Apanya?” Alisku menaut. Aku menoleh kearah Mas Wira, dia terlihat gugup dan memalingkan wajah.
Aneh!
Hawa dingin tiba-tiba menyelusup di tengkuk leher. Firasat mengatakan ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.
“Sudah tujuh tahun kalian menikah. Tapi Sabrina, belum juga menunjukan tanda kehamilan.”
Aku tertegun melihat sorot mata itu menatap dengan tatapan mengintimidasi.
“Kami sedang berusaha.” Sahutku seperti biasa.
Ya … rasanya muak sekali mendapat pertanyaan seperti itu. Para pejuang garis dua, pasti tahu rasanya!
“Harus menunggu berapa lama lagi?” Tanyanya dengan tatapan lekat.
Aku meneguk saliva, meski tak nyaman aku mencoba untuk tenang. Karna sepertinya …
Keluarga suamiku kompak ingin menyudutkanku.
“Menunggu rambut kalian memutih?” Cecarnya dengan wajah angkuh.
“Masalah anak itu hak mutlak, Tuhan. Kenapa tidak bertanya langsung saja pada-Nya.” Jawabku datar, namun jantungku bergenderang.
Suara ricuh mulai terdengar, ada yang nyinyir ada pula yang melempar tatapan sinis padaku.
“Sudah di putuskan.” Oma menarik napas. “Wira Santoso akan menikah dengan Agnes.” Sambungnya tegas.
Napasku berhenti sesaat, terasa nyelekit di hati. Namun aku berusaha menarik napas pelan-pelan, mencoba menormalkan detak jantung yang bertalu kencang.
Aku menoleh kearah, Mas Wira. Di sampingnya ada Ibu mertua juga Agnes, anak angkat Tante Vita. Kami sempat bertatapan, lalu dia menundukkan wajahnya.

“Oh … be-gitu.” Suaraku terdengar serak bergetar. Aku mendengkus, menyadari rumah tanggaku selama ini menjadi bahan gosip hangat keluarga suami.
“Bagaimana menurutmu, Mas?” Aku menatap lekat Mas Wira yang masih membeku di tempatnya.
“Ka-lau aku … Aku terserah Ibu dan Oma saja.” Sahutnya dengan wajah tak nyaman lalu menundukkan kepala.
Cihhh dasar pengeecuuttt!
Tak punya pendirian. Dulu dia bilang tak masalah jika di Dunia ini kita hanya hidup berdua.
Tapi, nyatanya….
“Kalau ternyata kamu yang man-dul, gimana?” Ucapku lantang membuat Mas Wira melebarkan mata. Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, seolah perkataanku adalah sebuah lelucon.
“Keluarga kami tidak punya riwayat susah memiliki keturunan. Tentu saja, Wira sehat lahir dan batin.” Kali ini Ibu mertua bersuara.
“Oh ya. Kenapa begitu yakin?” Aku menatap lekat perempuan yang biasa aku hormati itu.
“Karna—“
Mas Wira menepuk pelan lengan Ibunya.
“Kita berdua belum pernah periksa ke Dokter. Mas Wira selalu menolak ketika di ajak cek kesehatan. Kenapa selalu aku yang di sebut man-“
“Ya karna aku memang baik-baik saja.” Pot ong Mas Wira. “Aku sehat walafiat, dan bisa memiliki keturunan. Tapi bukan dari rahimmu.” Lanjutnya lantang sambil menoleh ke arah Agnes. Aku tersenyum sinis melihat Agnes yang mengusap perutnya.
“Jadi dia sudah ha- mil?” Tanyaku getir, napasku tersendat-sendat mata mulai memanas.
“Maaf, Sabrina. Tapi aku juga rindu suara a nak kecil.” Sahutnya pelan, namun mampu meluluh lantakan hatiku.
Aku membeku di tempat merasakan nyeuri yang menjalar di sanubari. Rasa sesak perlahan menghampiri, air mata merembes perlahan.
“Jadi … Kau mau di cer ai, atau di ma-du.” Lembut suara Oma, namun mampu membuat hatiku berdenyut sa kit.
Mataku terpejam erat, kurasakan hawa panas menjalar di tub uhku.
“Yah … jika memang sudah terjadi. Aku bisa apa?” Sahutku pasrah sambil mengusap air mata. Aku tegapkan badan, tak ingin terlihat menyedihkan di mata mereka semua.
“Aku janji akan berlaku adil padamu, Sabrina.” Ucap Mas Wira dengan wajah sumringah. Di sampingnya terlihat mertua yang tersenyum miring, dia seolah puas melihatku nelangsa.
“Aku tak su di di ma- du!” Sahutku tegas. Membuat mata Mas Wira melotot seketika.
“Pergilah. Kemasi semua barang-barangmu. Kau tak lupa bahwa rumah ini milik keluargaku-kan?”
Mas Wira terperangah dia bahkan terlihat kesusahan menelan salivanya.
“Sabrina, apa kamu sudah gi-la, hah! Kau tak takut jadi jan- da. Tidak akan ada Laki-laki yang mau sama perempuan ru sak sepertimu!” Ucapnya mengir is hati.
“Iya betul itu. Mana ada Laki-laki yang mau sama perempuan man-dul.” Sahut Tante Vita dengan tatapan meremehkan. Ingin sekali aku menyumpal mulut menornya, tapi ya sudahlah ….
“Jika sudah tidak ada yang perlu di katakan. Silahkan kalian semua angkat kaki dari rumahku.” Ucapku datar.
“Maksudnya?”
“Anda bisa pergi sekarang!” Sahutku dengan tatapan lurus kearah Oma dan Tante Vita bergantian.
“Kamu mengusir, Oma?” Mata tua itu menatap tak percaya.
Aku tersenyum kecil lalu menganggukkan kepala. “Aku tak perlu mengulang kalimatku-kan?” Sahutku dingin.
Perempuan tua itu melebarkan mata, dengan susah payah dia bangkit dari tempatnya.
Aku rasa tak perlu menghormati orang yang tak bisa menjaga perasaanku.
“Sabrina! Kamu bicara apa sih. Dimana sopan santunmu pada Oma!” Sembur Mas Wira.
Aku tersenyum miring lalu mengibaskan tangan di depan wajah.
“Bik Imah!” Teriakku lantang, sorotku ta jam kearah suamiku.
“Iya, Non?” Bik Imah menegakkan badan bersiap menerima perintah.
“Kemasi semua baju orang ini!” Aku menunjuk lurus wajah Mas Wira.
“Baik, Non.”
“Jangan gi- la kamu, Rina! Aku masih suamimu. Mau jadi istri dur haka rupanya!” Hadrik Mas Wira begitu murk anya.
“Oh iya. Jangan lupa taruh kunci mobil dan kartu kre ditmu. Itu semua milikku, kau tak lupa kan saat masuk kerumah ini. Kau tak membawa apapun selain baju dan koper bututmu!” Ucapku dengan tatapan merem ehkan.
Ibu mertua yang semula ang kuh nampak panik dan ke bingungan. Dia menoleh kearahku dengan tatapan cemas.
Aku sambut tatapan cemas itu dengan senyum miring, agar mereka sadar dengan siapa mereka berhadapan.
Aku Sabrina Kusuma, aku wanita terpelajar dan pekerja keras. Aku bukan wanita lemah yang menerima saja ketika har ga dirinya di inj ak-in jak.
*Ofd
Wihh seruu… yuk baca selengkapnya hanya di Kbm App ya.