Posted in

DIA MENGUSIR ISTRINYA YANG SEDANG HAMIL KARENA BAYI YANG DIKANDUNGNYA PEREMPUAN… TAPI APA YANG TERJADI PADA HARI PERSALINAN?**

DIA MENGUSIR ISTRINYA YANG SEDANG HAMIL KARENA BAYI YANG DIKANDUNGNYA PEREMPUAN… TAPI APA YANG TERJADI PADA HARI PERSALINAN?**

Dia mengusir istrinya karena bayi yang dikandungnya adalah perempuan. Sementara itu, dia menghabiskan banyak uang agar selingkuhannya bisa melahirkan di rumah sakit swasta mewah karena dia yakin bayi itu laki-laki. Namun pada hari persalinan, terjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—sesuatu yang akan mengubah nasibnya untuk selamanya.

Matahari perlahan terbit di Quezon City, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti gedung-gedung dan jalanan kota.

**Liza Santos** berjalan perlahan di dalam kondominium kecil yang dulu ia tempati bersama suaminya.

Satu tangannya memegang perutnya yang besar.

Hari persalinannya sudah sangat dekat.

Setiap langkah terasa berat.

Namun ia tetap tersenyum sambil berbisik kepada bayi dalam kandungannya.

“Sebentar lagi, Nak… kita akan segera bertemu.”

Tetapi suaminya, **Miguel Reyes**, bahkan tidak memberinya satu tatapan pun.

Sejak Liza hamil, pria yang dulu berjanji mencintainya seumur hidup perlahan berubah.

Ia selalu marah.

Selalu mengeluh.

Tentang aroma masakan.

Tentang suara kipas angin.

Bahkan tentang napas Liza yang semakin berat.

Seolah-olah menjadi seorang ibu adalah kesalahan.

Seolah-olah Liza hanyalah bayangan di dalam rumah itu.

Suatu malam, ketika Liza sedang melipat pakaian-pakaian kecil untuk bayi mereka, Miguel berbicara dengan nada dingin.

“Bulan depan kamu pulang saja ke kampungmu di Bicol Region untuk melahirkan.”

Liza terdiam.

“Apa?”

“Lebih murah di sana.”

“Masih ada dukun beranak dan klinik bersalin. Aku tidak akan membuang-buang uang di Manila.”

Hati Liza terasa tertusuk.

“Miguel… aku sudah sembilan bulan hamil.”

“Perjalanannya jauh.”

“Bagaimana kalau aku melahirkan di jalan?”

Miguel hanya mengangkat bahu.

“Itu urusanmu.”

“Setidaknya aku tidak perlu mendengar keluhanmu setiap hari.”

Malam itu, Liza akhirnya memahami kenyataan.

Pria yang ia cintai sudah lama menghilang.

Yang tersisa hanyalah seorang asing yang tidak peduli padanya.

Dua hari kemudian, ia naik bus menuju Naga City.

Ia hanya membawa koper tua dan hati yang hancur.

Di terminal, ibunya, **Aling Carmen**, sudah menunggu.

Saat melihat wajah putrinya yang pucat, ia langsung memeluknya.

“Anakku…”

“Kamu sudah pulang.”

“Jangan khawatir.”

“Ibu akan menjagamu.”

Barulah saat itu Liza menangis sejadi-jadinya.

Sementara itu, di Quezon City…

Miguel langsung menuju apartemen sekretaris mudanya.

**Vanessa Cruz**.

Dan Vanessa juga sedang hamil.

Namun ada satu perbedaan besar.

Berkali-kali Vanessa meyakinkan Miguel bahwa bayi yang dikandungnya adalah laki-laki.

Dan bagi Miguel, hanya itu yang penting.

“Akhirnya!” katanya dengan bangga kepada teman-temannya.

“Aku akan punya pewaris!”

Ia tidak pelit mengeluarkan uang.

Ia memesan kamar VIP di St. Gabriel Medical Center.

Dokter terbaik.

Peralatan terbaik.

Hampir **₱200.000** yang ia keluarkan saat itu juga—setara sekitar **Rp58 juta**.

Tanpa ragu sedikit pun.

Hari persalinan pun tiba.

Miguel datang ke rumah sakit sejak pagi.

Di tangannya ada buket besar bunga tulip impor.

Wajahnya penuh kesombongan.

Dan ketika bayi itu lahir—

ia langsung mengunggah foto ke Facebook.

Mengirimkannya ke semua grup chat.

“ANAKKU!”

“MIRIP SEKALI DENGANKU!”

“AKHIRNYA AKU PUNYA PEWARIS!”

Ucapan selamat berdatangan.

Pujian mengalir tanpa henti.

Saat itu ia merasa menjadi pria paling beruntung di seluruh Filipina.

Namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama.

Seorang perawat menghampirinya.

“Pak Miguel?”

“Bisakah Anda menandatangani beberapa dokumen?”

Miguel tersenyum penuh percaya diri.

“Tentu.”

Dengan langkah angkuh ia mengikuti perawat menuju ruang neonatal.

Pikirannya masih dipenuhi rencana perayaan kelahiran anaknya.

Ia membayangkan bagaimana akan menunjukkan kepada semua orang bahwa dirinya benar.

Bahwa anak laki-laki adalah pewaris sejati.

Bahwa anak perempuan tidak ada nilainya.

Namun ketika pintu ruang bayi terbuka—

senyum di wajahnya langsung menghilang.

Tubuhnya membeku.

Di dalam ruangan itu…

ia melihat sesuatu yang mengguncang seluruh dunianya.

Dan saat itulah mimpi buruk yang tidak akan pernah ia lupakan mulai terjadi…

Di dalam ruang neonatal yang sejuk dan diterangi lampu fluoresen, beberapa bayi yang baru lahir tampak tidur dengan tenang di dalam boks bayi masing-masing. Perawat membimbing Miguel mendekati salah satu boks bayi yang terletak di sudut ruangan, tempat bayi Vanessa diletakkan.

“Ini putra Anda, Pak,” kata perawat dengan senyum ramah.

Miguel menatap bayi itu. Namun, senyum kesombongannya langsung runtuh. Kulit bayi itu… sangat kontras dengan kulit Miguel yang sawo matang khas Filipina. Bayi itu memiliki kulit yang sangat putih, rambut pirang halus, dan saat matanya sedikit terbuka, sepasang mata berwarna biru kelabu menatap ke arahnya.

Bayi itu tidak mirip dengannya sama sekali. Bayi itu adalah seorang bayi kaukasian (bule).

“Maaf… apa tidak ada kesalahan? Apa bayinya tertukar?” suara Miguel bergetar hebat, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

Perawat itu menggelengkan kepala dengan sopan namun tegas. “Tidak mungkin tertukar, Pak. Ini satu-satunya bayi yang lahir dari ruang bersalin VIP Nona Vanessa Cruz pagi ini. Gelang identitasnya sudah disesuaikan sejak di dalam ruang operasi.”

Darah Miguel serasa berhenti mengalir. Otaknya berputar cepat mengingat ekspatriat asing yang sering mengunjungi kantor mereka—bos besar mereka dari Australia, yang sering menghabiskan waktu berdua dengan Vanessa dengan dalih “lembur”. Vanessa telah menjadikannya kambing hitam untuk membiayai persalinan mewahnya dan menutupi aib perselingkuhannya.

Hampir ₱200.000 uang tabungannya habis demi anak pria lain.

Dengan amarah yang memuncak, Miguel berlari kembali ke kamar VIP. Ia mendobrak pintu dan langsung berteriak pada Vanessa yang masih terbaring lemah.

“ANAK SIAPA ITU, VANESSA?! DIA BULE! KAMU MEMBOHONGIKU!”

Vanessa tersentak, wajahnya yang semula merona langsung pucat pasi. Sadar kedoknya telah terbongkar, tatapan bersalah di matanya perlahan berubah menjadi dingin dan sinis.

“Kalau iya, kenapa?” tantang Vanessa, tidak lagi berpura-pura manis. “Lagipula, kamu sendiri yang bodoh dan terlalu terobsesi punya anak laki-laki. Aku butuh uang untuk melahirkan di sini, dan kamu dengan sukarela memberikannya. Sekarang keluar dari kamarku!”

Sebelum Miguel sempat membalas, dua petugas keamanan rumah sakit yang dipanggil oleh perawat segera masuk dan memegangi lengan Miguel. Ia diusir dari rumah sakit mewah itu seperti seorang kriminal, meninggalkan buket bunga tulipnya yang terinjak-injak di lantai koridor.

Miguel berjalan menyusuri jalanan Manila dengan linglung. Ia kehilangan uangnya, harga dirinya hancur, dan ia menyadari betapa bodohnya dirinya. Di tengah keputusasaannya, ia teringat pada Liza. Istri sahnya yang tulus, yang telah ia usir ke Bicol hanya karena mengandung seorang bayi perempuan.

Dengan tangan gemetar, Miguel membuka ponselnya. Ia mencari nomor telepon ibu mertuanya, Aling Carmen. Setelah beberapa kali nada sambung, panggilan itu akhirnya diangkat.

“Halo? Ibu… ini Miguel,” bisiknya dengan suara serak. “Bagaimana keadaan Liza? Apakah dia sudah melahirkan?”

Hening sejenak di seberang telepon, sebelum suara dingin Aling Carmen terdengar. “Liza sudah melahirkan dua jam yang lalu, Miguel. Anak perempuan. Sangat cantik dan sehat.”

Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dada Miguel. “Ibu… aku minta maaf. Aku salah. Aku akan ke Naga City sekarang juga, aku akan menjemput Liza dan putri kami—”

“Tidak perlu, Miguel,” potong Aling Carmen dengan nada tegas tanpa emosi. “Kamu tidak berhak menemui mereka lagi. Dan ada satu hal yang perlu kamu ketahui.”

“Apa?” tanya Miguel berbisik.

“Liza tidak melahirkan di klinik murah atau bantuan dukun seperti yang kamu mau,” kata Aling Carmen. “Setibanya di Naga, kami baru tahu bahwa tiket lotere yang dibeli Liza minggu lalu di Manila memenangkan hadiah utama ₱50 Juta (sekitar Rp14,5 Miliar). Liza melahirkan di rumah sakit terbaik di kota ini, dikelilingi oleh dokter-dokter hebat yang merawatnya dengan sangat baik.”

Kata-kata Aling Carmen bagaikan petir di siang bolong bagi Miguel.

“Dan satu lagi,” lanjut Aling Carmen. “Pengacara Liza akan mengirimkan surat cerai ke kondominiummu besok pagi. Nikmatilah hidupmu yang penuh kesombongan itu sendirian.”

Klik. Sambungan telepon terputus.

Miguel jatuh berlutut di atas trotoar jalanan Quezon City yang ramai. Ponselnya terlepas dari genggaman.

Ia telah membuang berlian demi sebuah batu kerikil yang palsu. Ia mengusir istri setia dan putri kandungnya yang kini menjadi miliarder, demi seorang wanita yang mengkhianatinya dan melahirkan anak pria lain dengan uang hasil jerih payahnya.

Matahari kini sudah tinggi di atas Quezon City, menyinari kota dengan terik. Namun bagi Miguel, dunianya telah runtuh sepenuhnya dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri, menyisakan penyesalan seumur hidup yang tak akan pernah bisa ia perbaiki.