DIA COBA DIBUNUH OLEH SUAMINYA YANG SEORANG MILIARDER AGAR TAK BISA KABUR—TETAPI DI DALAM KAMAR MAYAT, DIA TERBANGUN DAN MENDENGAR PERINTAH: “BAKAR DIA HARI INI JUGA.”**
“Kalau kau benar-benar ingin bercerai, Mariana Dela Cruz, kau akan keluar dari rumah ini… di dalam peti mati.”
Itulah kalimat terakhir yang diucapkan **Arthur Salcedo** di sebuah mansion mewah di Beverly Hills sebelum aku “meninggal.”
Dia tidak berteriak.
Tidak membanting meja.
Tidak pula mengangkat tangan.
Dia duduk dengan tenang di meja makan panjang, memutar gelas bourbon di tangannya, sementara aku menggenggam surat cerai yang kutandatangani hari itu.
Arthur Salcedo adalah seorang miliarder yang membangun kerajaan bisnis properti dan restoran.
Seorang pria yang dikagumi masyarakat.
Namun di dalam rumah kami…
dia bukan seorang suami.
Dia adalah pengendali.
Lima belas tahun aku menjadi istrinya.
Lima belas tahun kemewahan di luar…
dan penjara di dalam.
Semua orang mengatakan aku beruntung.
Tetapi mereka tidak melihat kenyataannya:
Rumah itu bukan tempat tinggal.
Itu adalah penjara dengan jeruji emas.
Pada percobaan pertamaku untuk pergi, dia berhasil melacakku.
Pada percobaan kedua, dia menutup semua rekening bankku.
Pada percobaan ketiga, dia menunjukkan foto tempat persembunyianku.
Saat itulah aku mengerti:
Dia tidak mengancam karena marah.
Dia mengawasi karena dia mampu melakukannya.
Jadi ketika aku mendengarnya berkata di telepon,
“Mariana knows too much.”
aku tahu semuanya sudah berakhir.
Karena itu aku membuat keputusan.
Bukan perceraian.
Melainkan kematian.
Di sebuah rumah sakit kecil di negara bagian Nevada, aku menemukan seorang dokter yang terlilit utang dan takut kepada Arthur.
Dia memberiku obat yang dapat memperlambat detak jantung hingga terlihat seperti orang mati.
“Itu bisa membunuhmu,” katanya.
“Aku akan mati lebih cepat jika tetap bersamanya,” jawabku.
Pada Jumat malam, aku meminum obat itu.
Aku menelepon layanan darurat.
Dan membiarkan pintu terbuka.
Saat paramedis datang, mereka menyatakan aku meninggal karena serangan jantung.
Tubuhku dibawa ke kamar mayat county.
Di sanalah babak baru dimulai.
**Manuel Rivas**, seorang petugas kamar mayat sederhana di East Los Angeles, adalah orang pertama yang menemukanku.
Seorang pria yang lelah menghadapi hidup, tetapi tetap bekerja demi keluarganya.
Saat aku terbangun di atas meja baja yang dingin, dia hampir menjatuhkan barang yang sedang dipegangnya.
“Jangan berteriak,” kataku dengan suara serak.
“Aku belum mati… tetapi aku akan mati jika kau tidak membantuku.”
Lalu aku menjelaskan rencanaku.
Arthur akan datang besok.
Dia akan memastikan tubuhku langsung dikremasi.
Tanpa pertanyaan.
Tanpa penyelidikan.
Manuel terdiam.
“Mengapa aku harus membantumu?” tanyanya.
Aku menunjukkan selembar kertas.
Kode bank.
Nomor rekening.
Detail akses.
“Karena aku bisa membayarmu 200.000 dolar AS,” bisikku.
“Dan karena kau tahu perbedaan antara mayat… dan seorang wanita yang masih berjuang untuk hidup.”
Dan akhirnya dia setuju.
Keesokan harinya, aku kembali berbaring di atas meja dingin itu.
Tubuhku tertutup kain.
Disusun seperti jenazah sungguhan.
Lalu…
pintu terbuka.
Arthur Salcedo masuk bersama **Elias Navarro**.
Dia tidak menangis.
Tidak berduka.
Dia hanya memandangku seperti benda yang harus disingkirkan.
“Itu dia,” katanya dingin.
Kemudian dia menyerahkan sebuah amplop kepada Manuel.
“Kremasi dia hari ini juga.”
Manuel menerima uang itu tanpa berkata apa-apa.
Arthur berjalan mendekati tubuhku.
Aku hampir bisa merasakan napasnya di telingaku.
“Bahkan setelah mati,” bisiknya,
“kau tetap tidak bisa lepas dariku, Mariana.”
Dan pada saat itu…
aku mengetahui kebenarannya.

Dia tidak datang untuk berduka.
Dia datang untuk memastikan aku benar-benar lenyap.
Dan mungkin…
dia tahu bahwa aku sebenarnya belum mati.
Arthur tidak menyentuh tubuhku. Dia hanya menatap kain putih yang menutupi wajahku selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Ketukan langkah sepatunya yang mahal perlahan menjauh, diikuti oleh suara pintu besi kamar mayat yang tertutup rapat.
Begitu suasana senyap, aku langsung terduduk di atas meja baja. Napas yang sedari tadi kutahan kini keluar dengan memburu. Jantungku berdegup kencang, bukan lagi karena efek obat, melainkan karena horor dari kalimat terakhirnya.
Dia tahu.
“Nyonya, kita tidak punya banyak waktu,” bisik Manuel dengan wajah pucat pasi. Tangannya yang memegang amplop dari Arthur tampak gemetar. “Tuan Salcedo membawa orang-orangnya sendiri di luar. Krematorium keliling milik perusahaannya sudah menunggu di halaman belakang. Dia tidak menggunakan fasilitas rumah sakit ini. Dia membawa oven pembakarannya sendiri.”
Sial. Arthur benar-benar selangkah lebih maju. Dia tidak berniat membiarkan Manuel melakukan tugasnya. Dia membayar Manuel hanya agar petugas kamar mayat ini menutup mata saat anak buah Arthur mengangkut “jenazahku” ke mobil kremasi swasta mereka.
“Manuel, dengarkan aku,” kataku sambil mencengkeram lengan seragamnya. “Oven itu… berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk menyiapkannya?”
“Setidaknya lima belas menit untuk mencapai suhu maksimal,” jawab Manuel, menyeka keringat dingin di dahinya. “Mereka akan memasukkan peti mati tiruan yang sudah disiapkan dari luar untuk mengelabui kamera pengawas rumah sakit. Tapi mereka menginginkan tubuhmu masuk ke dalam sana hidup-hidup atau mati.”
Aku melihat sekeliling kamar mayat yang remang-remang. Mataku tertuju pada sebuah kantong jenazah plastik hitam besar di sudut ruangan dan deretan loker penyimpanan suhu rendah. Otak akuntankupun bekerja cepat. Selama lima belas tahun mendampingi Arthur, aku belajar satu hal tentangnya: dia sangat teliti, tetapi dia selalu memercayakan tugas kotor kepada orang lain karena dia tidak ingin tangannya ternoda.
“Manuel, kita tukar posisinya,” kataku tegas.
“Maksud Anda?”
“Di loker nomor empat, ada jenazah tunawisma yang belum diidentifikasi dan memiliki postur tubuh yang mirip denganku, bukan?” Aku mengetahuinya karena sempat membaca papan pengumuman Manuel semalam. “Bantu aku memindahkannya ke meja ini. Tutup wajahnya dengan kain ini.”
Manuel terbelalak. “Tapi… bagaimana dengan Anda?”
“Aku akan masuk ke dalam kantong jenazah kosong di kompartemen bawah meja dorongmu. Setelah mereka membawa jenazah pengalih itu ke mobil kremasi, kau harus membawaku keluar lewat jalur pembuangan limbah medis.”
Manuel sempat ragu, namun kilatan ketakutan dan bayangan uang 200.000 dolar di rekeningnya membuat pria itu bergerak cepat. Hanya dalam waktu kurang dari tujuh menit, kami berhasil menukar posisi. Aku meringkuk di dalam kantong plastik hitam di bagian bawah kereta dorong, menyisakan sedikit celah ritsleting untuk bernapas.
Tepat saat aku menutup celah, pintu kamar mayat kembali terbuka dengan kasar.
“Lama sekali, Rivas. Bos sudah tidak sabar,” terdengar suara berat Elias Navarro, orang kepercayaan Arthur.
“Maaf, Tuan. Saya harus menandatangani manifes keluar terlebih dahulu,” jawab Manuel, suaranya terdengar luar biasa tenang untuk seseorang yang sedang mempertaruhkan nyawanya.
Aku mendengar suara gesekan roda kereta dorong, disusul suara hantaman kain saat tubuh di atas meja dipindahkan ke tandu milik orang-orang Arthur. Jantungku serasa berhenti berdetak saat salah satu anak buah Elias tidak sengaja menendang roda kereta dorong tempatku bersembunyi.
“Ayo cepat, bawa ke belakang. Pastikan apinya menyala maksimal,” perintah Elias.
Suara langkah-langkah kaki berat itu perlahan menjauh menuju halaman belakang. Beberapa menit kemudian, sayup-sayup terdengar suara dengung mesin diesel generator dari mobil kremasi yang mulai beroperasi di luar. Di dalam kegelapan kantong plastik, aku mengepalkan tanganku hingga kuku-kukuku memutih. Arthur baru saja membakar sebuah jasad yang dikiranya adalah aku. Dia akan pulang ke Beverly Hills dengan keyakinan penuh bahwa ancamannya telah terpenuhi: aku keluar dari hidupnya dalam wujud abu.
“Kau salah, Arthur,” bisikku dalam hati. “Kau baru saja memberiku kebebasan mutlak.”
Manuel tidak ingkar janji. Begitu situasi dirasa aman, dia mendorong keretaku melewati koridor sepi menuju dermaga pembuangan limbah medis. Dia membuka ritsleting kantong hitam itu dan membantuku keluar. Di luar, sebuah mobil sedan tua milik Manuel sudah menunggu dengan mesin yang menyala.
“Ini kunci mobil saya, Nyonya. Pergilah ke perbatasan Arizona. Di sana lebih aman,” kata Manuel sambil menyerahkan tas kecil berisi pakaian ganti yang sudah dia siapkan.
“Terima kasih, Manuel. Periksa rekeningmu dalam satu jam. Uang itu sudah menjadi milikmu,” kataku sebelum masuk ke dalam mobil.
Satu bulan kemudian.
Arthur Salcedo sedang mengadakan pesta amal besar di hotel miliknya di pusat kota Los Angeles. Dia tampil sebagai duda yang berduka namun tegar, menerima pelukan hangat dan simpati dari para elite politik dan pebisnis.
Namun, di tengah-tengah pidatonya di atas panggung, layar proyektor besar di belakangnya yang seharusnya menampilkan video profil yayasan amalnya tiba-tiba berkedip dan berubah menjadi hitam.
Detik berikutnya, sebuah rekaman audio berputar dengan volume maksimal, menggema ke seluruh penjuru ballroom.
“Kalau kau benar-benar ingin bercerai, Mariana Dela Cruz, kau akan keluar dari rumah ini… di dalam peti mati.”
Suara Arthur terdengar sangat jelas. Tidak hanya itu, layar proyektor mulai menampilkan ratusan dokumen digital: laporan penggelapan pajak miliaran dolar, bukti suap proyek properti pemerintah, hingga manifes kremasi ilegal yang ditandatanganinya di Nevada sebulan lalu. Semua data rahasia yang selama lima belas tahun ini kukumpulkan dari brankas pribadinya kini terpampang nyata di depan publik dan pers.
Kepanikan massal melanda ballroom. Arthur berdiri membeku di atas panggung, wajahnya yang semula penuh kesombongan mendadak pucat pasi bagai mayat yang sesungguhnya. Ponsel para agen FBI yang menyamar di pesta itu mulai berdering, menerima perintah penangkapan seketika.
Di seberang jalan, di dalam sebuah kafe kecil yang gelap, aku duduk sambil menyesap kopi hangat. Aku telah memotong rambutku pendek dan mewarnainya menjadi pirang, mengenakan kacamata hitam, dan menggunakan paspor baru dengan nama yang berbeda.
Aku menatap ke arah hotel melalui jendela, melihat lampu-lampu merah-biru mobil polisi yang mulai mengepung tempat pesta Arthur. Aku tersenyum tipis.
Arthur mengira dia bisa menguburku dalam abu. Dia lupa bahwa beberapa hal yang dibakar tidak selamanya lenyap—beberapa di antaranya justru bangkit kembali sebagai badai yang menghancurkan.