“Pak… saya masih perawan. Saya belum pernah memiliki hubungan dengan pria mana pun…” ucap Erica sambil menangis di dalam kamar hotel milik pria yang telah dipilihnya untuk dicintai. Namun yang lebih mengejutkan adalah apa yang terjadi lima menit setelah ia mengucapkan kalimat itu…
Erica Mendoza tumbuh sebagai perempuan yang hati-hati, pendiam, dan mudah terluka.
Tipe perempuan yang bahkan jika seseorang sedikit meninggikan suara, ia akan menghabiskan semalaman memikirkan apakah dirinya telah melakukan kesalahan.
Karena itu, ketika akhirnya ia memilih seseorang untuk dicintai—
Adrian Villareal, seorang arsitek tampan dan sukses dari Jakarta yang telah mendekatinya selama berbulan-bulan—
ia mengira telah menemukan seseorang yang akan memberinya rasa aman.
Malam itu sebenarnya tidak seharusnya menjadi dramatis.
Mereka hanya pergi ke sebuah hotel di Jakarta untuk berbicara dengan tenang dan pribadi mengenai masa depan mereka.
Mereka sama-sama lelah.
Erica lelah dengan keluarganya yang terlalu mengekang.
Sementara Adrian lelah dengan ibunya yang bahkan ingin mengatur kehidupan cintanya.
Kamar hotel itu sunyi.
Yang terdengar hanya suara lembut pendingin ruangan dan hiruk-pikuk lalu lintas dari luar.
Erica duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam erat tali tasnya.
Sedangkan Adrian berdiri di dekat jendela dengan wajah serius.
Setelah beberapa menit terdiam—
perlahan ia mendekati Erica.
Ia menggenggam tangan wanita itu.
“Erica…” katanya pelan. “Menurutku kita sudah siap melangkah ke tahap berikutnya.”
Dunia Erica seakan berhenti berputar.
Tangannya menjadi dingin.
Dadanya terasa sesak.
Dan sebelum sempat menahan diri—
air matanya jatuh begitu saja.
“Pak…” katanya dengan suara gemetar sambil menangis, “…saya masih perawan. Saya belum pernah memiliki hubungan dengan pria mana pun.”
Adrian langsung terdiam.
Seluruh ruangan terasa sunyi.
Matanya membesar saat menatap Erica.
Dan Erica—
justru semakin panik.
Ia mengira Adrian akan marah.
Atau kecewa.
Mungkin menganggapnya terlalu polos.
Atau bahkan meninggalkannya.
“Maaf…” bisiknya sambil menangis. “Saya tidak terbiasa dengan hal seperti ini… Saya takut…”
Erica tidak berani menatapnya saat menghapus air mata dengan tangan yang gemetar.
Namun lima menit setelah ia mengucapkan kata-kata itu—
sesuatu terjadi yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Adrian berjalan menjauh dari tempat tidur.
Ia mengambil ponselnya.
Dan tepat di depan Erica—
ia langsung menelepon ibunya.
“Mom,” katanya dingin ketika panggilan tersambung. “Batalkan pertemuan pertunangan besok.”
Mata Erica langsung membelalak.
“A-Adrian…?”
Namun pria itu tidak menghentikan ucapannya.
“Aku tidak akan membiarkan kalian merendahkan Erica seperti yang kalian rencanakan,” katanya tegas. “Aku mendengar semua pembicaraan Mom dengan Tante Celeste tadi siang.”
Erica merasa napasnya tercekat.
Karena Tante Celeste—
bibinya sendiri—
adalah orang yang selama ini berulang kali mengatakan bahwa dirinya “mudah didapatkan” hanya karena wajahnya cantik dan cara berpakaiannya modern.
Erica memegangi dadanya erat-erat.
Sementara wajah Adrian perlahan memerah karena amarah.
“Dan satu hal lagi…” lanjutnya dingin sambil menatap langsung ke arah Erica, “kalau aku mencintai seorang wanita, aku tidak membutuhkan bukti apa pun untuk menghormatinya.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

Erica merasakan bahwa mungkin ada seorang pria yang siap melindunginya, bukan menghakiminya.
Namun ia belum tahu—
bahwa di ujung telepon sana, tersimpan sebuah rahasia keluarga yang telah lama disembunyikan.
Dan rahasia itulah yang akan menghancurkan semua hal yang selama ini ia yakini tentang dirinya sendiri…
Ibunda Adrian di ujung telepon terdengar berteriak histeris, suaranya yang melengking bahkan bisa terdengar samar oleh Erica dari jarak beberapa langkah.
“Adrian! Apa kamu sudah gila?!” jerit ibunya. “Kamu membatalkan perjodohan dengan keluarga Tante Celeste hanya karena perempuan itu? Kamu tidak tahu siapa dia sebenarnya! Celeste menceritakan semuanya karena dia ingin menyelamatkan keluarga kita dari aib!”
Adrian tidak memutus sambungan. Dia menyalakan fitur speakerphone, membiarkan Erica mendengar setiap kalimat yang terucap. Wajah Adrian mengeras, matanya menatap Erica dengan pancaran emosi yang campur aduk—antara amarah besar dan rasa bersalah yang mendalam.
“Katakan, Mom. Aib apa?” tanya Adrian, suaranya setajam pisau.
“Celeste tahu Erica masih perawan, Adrian! Dan justru karena itulah situasi ini berbahaya!” suara ibunda Adrian bergetar, bukan karena marah, melainkan ketakutan yang nyata. “Erica bukan anak kandung dari adik Celeste! Dua puluh dua tahun lalu, ayahmu… ayahmu memiliki hubungan gelap dengan seorang wanita miskin di kampung halaman Celeste. Wanita itu hamil, melahirkan Erica, lalu meninggal dunia. Celeste dan adiknya menyembunyikan bayi itu, mengadopsinya, dan memeras ayahmu selama puluhan tahun dengan mengancam akan menghancurkan nama baik keluarga Villareal!”
Dunia Erica runtuh seketika.
Tangannya yang menggenggam tali tas langsung lemas. Kata-kata itu menghantam dadanya lebih keras daripada hinaan apa pun yang pernah ia terima. Ibu yang membesarkannya dengan penuh kekangan, bibi Celeste yang selalu merendahkannya… mereka semua bukan keluarga kandungnya. Mereka adalah komplotan pemeras.
“Jadi…” Adrian berbisik, suaranya mendadak tercekat. “Erica adalah… adik satu ayah denganku?”
“Bukan!” potong ibunya cepat, napasnya memburu. “Bukan, Adrian. Ayahmu mandul. Kamu adalah anak hasil adopsi rahasia yang Mom lakukan dari panti asuhan di awal pernikahan kami agar ayahmu tidak menceraikan Mom. Ayahmu tidak pernah tahu dia mandul, makanya dia percaya saat wanita selingkuhannya mengaku hamil anaknya. Erica adalah anak kandung ayahmu dengan wanita itu. Kamu tidak memiliki hubungan darah sedikit pun dengan Erica… tapi jika kamu menikahinya, seluruh sandiwara Mom dan rahasia menjijikkan keluarga Mendoza akan terbongkar ke publik!”
Klik. Adrian langsung mematikan ponselnya.
Keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar hotel. Rahasia besar yang selama dua dekade terkubur rapat kini meledak dalam waktu kurang dari lima menit.
Erica duduk membeku, air matanya mengalir deras tanpa suara. Selama ini ia mengira dirinya tidak berharga karena didikan keluarganya yang kejam. Ternyata, ia sengaja dijaga, dikurung, dan ditekan agar tetap menjadi “aset” berharga yang murni, yang sewaktu-waktu bisa digunakan keluarga Mendoza untuk memeras dinasti Villareal.
Adrian perlahan berjalan mendekat. Dia berlutut di lantai, tepat di depan tempat duduk Erica. Dipandangnya wajah wanita yang rapuh itu dengan tatapan yang kini sepenuhnya dipenuhi kelembutan dan tekad yang bulat.
Dia menggenggam kedua tangan Erica yang sedingin es.
“Erica… tatap aku,” pinta Adrian lembut.
Erica mengangkat wajahnya yang sembap dengan ragu.
“Selama hidupku, aku selalu mendengarkan kata ibuku karena mengira aku berutang budi atas darah yang mengalir di tubuhku. Sekarang aku tahu, aku hanyalah pion dalam permainan gengsi mereka. Dan kamu… kamu adalah korban dari keserakahan mereka,” kata Adrian, suaranya bergetar menahan emosi.
“Adrian… aku… aku tidak tahu harus berbuat apa lagi,” tangis Erica pecah. “Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Rumah itu… mereka semua palsu.”
“Kamu punya aku,” tegas Adrian. Pria itu berdiri, lalu menarik Erica ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh. “Kita berdua bebas sekarang. Kita tidak berutang apa pun pada nama Villareal maupun Mendoza.”
Keesokan paginya, ruang pertemuan sebuah restoran mewah di Jakarta Selatan telah dipenuhi oleh keluarga besar Mendoza dan ibu Adrian. Tante Celeste duduk dengan senyum kemenangan, bersiap menyambut transaksi bisnis berkedok pertunangan yang akan mengamankan aliran uang mereka untuk selamanya.
Namun, pintu ruang pertemuan terbuka bukan oleh kedatangan pasangan kekasih, melainkan oleh langkah tegap dua orang pengacara yang diutus oleh Adrian.
Mereka meletakkan dua buah map tebal di atas meja. Satu map berisi dokumen pengunduran diri Adrian dari seluruh perusahaan keluarga Villareal beserta pengembalian seluruh aset. Map kedua berisi berkas laporan kepolisian atas tindakan pemerasan, penipuan, dan eksploitasi anak yang diarahkan langsung kepada Celeste Mendoza dan ibunda Adrian, lengkap dengan rekaman percakapan telepon malam sebelumnya.
Di saat yang sama, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta…
Adrian dan Erica berjalan berdampingan menuju gerbang keberangkatan. Mereka hanya membawa koper-koper kecil, meninggalkan gemerlapnya Jakarta, harta warisan yang penuh kebohongan, dan orang-orang toxic yang selama ini memenjarakan hidup mereka.
Erica menoleh ke arah Adrian, dan untuk pertama kalinya, tidak ada lagi ketakutan di matanya. Hanya ada kedamaian. Di sinilah, di awal lembaran yang sepenuhnya baru, dia tidak perlu lagi membuktikan apa pun kepada dunia. Dia telah melangkah keluar dari penjara masa lalunya, siap membangun masa depan yang nyata bersama pria yang memilih untuk melindunginya.