Posted in

PADA HARI AKU AKAN MENERIMA PENGHARGAAN “YOUNG ENTREPRENEUR OF THE YEAR”, TUNANGANKU TIBA-TIBA DATANG MEMBAWA PARA PENYIDIK UNTUK MEMBEKUKAN REKENING PERUSAHAANKU DI DEPAN LEBIH DARI LIMA RATUS TAMU UNDANGAN

PADA HARI AKU AKAN MENERIMA PENGHARGAAN “YOUNG ENTREPRENEUR OF THE YEAR”, TUNANGANKU TIBA-TIBA DATANG MEMBAWA PARA PENYIDIK UNTUK MEMBEKUKAN REKENING PERUSAHAANKU DI DEPAN LEBIH DARI LIMA RATUS TAMU UNDANGAN

Acara penghargaan itu berlangsung di sebuah hotel mewah di kawasan bisnis Jakarta.

Seharusnya itu menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku.

Setelah sepuluh tahun bekerja keras tanpa henti, akhirnya perusahaan makanan yang kubangun berhasil menjadi salah satu bisnis dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.

Dan dua minggu lagi…

Aku akan menikah dengan pria yang telah kucintai selama tiga tahun.

Namanya Gabriel Reyes.

Ia adalah seorang penyidik senior yang terkenal.

Jujur.

Berprinsip.

Dan selalu dipuji media.

Malam itu, ketika pembawa acara sedang membacakan sambutan dan aku hendak naik ke panggung untuk menerima trofi…

Tiba-tiba pintu besar ballroom terbuka.

Lebih dari sepuluh orang berseragam resmi langsung masuk ke dalam ruangan.

Suasana seketika menjadi hening.

Aku belum memahami apa yang sedang terjadi.

Sampai Gabriel berdiri dari meja VIP.

Perlahan ia berjalan menuju panggung.

Bukan sebagai tunanganku.

Melainkan sebagai pemimpin operasi.

“Maria Santos.”

Namaku disebut dengan suara dingin melalui mikrofon.

“Kami memiliki alasan kuat untuk meyakini bahwa perusahaan Anda terlibat dalam operasi pencucian uang senilai lebih dari Rp1 triliun.”

Seolah-olah seluruh ruangan meledak.

Aku membeku.

Wajahku pucat.

Ibuku langsung berdiri dari barisan depan.

“Itu tidak benar!”

“Kalian pasti salah!”

Tetapi tidak ada yang mendengarkan.

Dua penyidik segera mendekat.

Di depan seluruh tamu undangan.

Mereka menyita laptop yang digunakan dalam presentasi perusahaanku.

Dan layar LED besar di belakang panggung langsung mati.

Aku menatap Gabriel.

Pria yang seminggu lalu masih menemaniku memilih dekorasi pernikahan.

Pria yang setiap malam menelepon hanya untuk mengatakan bahwa ia mencintaiku.

Pria yang berlutut di tepi pantai Bali untuk melamarku.

Kini…

dia terasa seperti orang asing.

“Gabriel…”

panggilku pelan.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Dia tidak menjawab.

Sebaliknya, wanita yang berdiri di sampingnya yang berbicara.

Namanya Angela Cruz.

Rekan kerja terdekatnya.

“Maaf, Bu Maria.”

“Ini adalah penyelidikan resmi.”

Aku tertawa.

Tawa pahit.

“Penyelidikan?”

“Kenapa sekarang?”

“Kenapa tepat pada hari penghargaan ini?”

Angela tidak menjawab.

Namun akhirnya Gabriel berbicara.

“Aku hanya menjalankan tugas.”

“Sejak kapan?”

Aku menatapnya lurus.

“Sejak kapan kamu menyelidikiku?”

Ekspresinya tidak berubah sedikit pun.

“Sudah lama.”

Empat kata sederhana.

Namun cukup untuk menghancurkan segalanya.

Aku teringat pertemuan pertama kami.

Kencan pertama.

Hari ketika ia membantu ibuku yang pingsan di pusat perbelanjaan.

Setiap hadiah.

Setiap janji.

Setiap mimpi.

Mungkinkah…

semua itu hanya kebohongan?

“Sejak hari pertama kita bertemu?”

tanyaku dengan berat.

Ballroom menjadi sunyi.

Gabriel tidak menjawab.

Namun aku melihat Angela melirik ke arahnya sesaat.

Hanya sesaat.

Tetapi cukup bagiku untuk memahami semuanya.

Tubuhku terasa dingin.

Aku menatap pria yang telah kucintai sepenuh hati.

“Tiga tahun…”

“Apakah semua itu hanya bagian dari misimu?”

Gabriel mengepalkan tangannya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya sedikit berubah.

Namun hanya sesaat.

“Maria Santos.”

“Bekerja samalah dengan penyelidikan ini.”

“Jangan menghindari pertanyaan.”

Aku tertawa keras.

Suara tawaku menggema di seluruh ruangan.

Ada yang kasihan.

Ada yang diam-diam senang.

Karena di dunia bisnis…

kesuksesan selalu mengundang iri hati.

“Aku mengerti sekarang.”

Aku mengangguk perlahan.

“Jadi sejak hari pertama…”

“Akulah targetmu.”

Dia terdiam.

Dan keheningan itu adalah jawabannya.

Aku menarik napas panjang.

Lalu berbalik menghadap semua orang yang hadir.

“Kalian bilang aku terlibat dalam transaksi Rp1 triliun?”

Angela mengeluarkan sebuah map tebal.

“Kami memiliki bukti bahwa uang itu melewati tiga puluh dua rekening berbeda.”

“Dan semuanya terhubung dengan perusahaan Anda.”

Aku tersenyum tipis.

“Benarkah?”

“Ya.”

“Dan jika Anda tidak bisa menjelaskan asal-usul uang itu—”

Aku memotong ucapannya.

“Aku tidak perlu menjelaskannya.”

Ballroom kembali sunyi.

Bahkan Gabriel tampak bingung.

“Aku tahu persis dari mana uang itu berasal.”

kataku tenang.

“Karena akulah yang memindahkannya.”

Angela tersenyum.

Senyum seseorang yang merasa sudah menang.

“Akhirnya Anda mengaku.”

Tetapi aku menggeleng.

“Hanya ada satu masalah.”

“Kalian sedang menyelidiki orang yang salah.”

Angela terkejut.

Gabriel langsung menatapku.

Aku menatap balik tanpa berkedip.

“Kau ingin tahu ke mana sebenarnya Rp1 triliun itu pergi?”

“Kau ingin tahu kenapa aku diam-diam memindahkannya selama tiga tahun?”

Untuk pertama kalinya…

aku melihat keraguan di matanya.

“Aku mendengarkan.”

Perlahan aku membuka tas tanganku.

Lalu mengeluarkan sebuah amplop tua berwarna kuning.

Amplop itu tersegel rapat dengan lilin merah.

Di bagian depan tertulis:

“Hanya boleh dibuka jika nyawa Gabriel Reyes berada dalam bahaya.”

Begitu Gabriel membaca tulisan itu…

warna wajahnya langsung berubah.

Sementara Angela memucat seolah melihat hantu.

Aku mengangkat amplop itu agar semua orang dapat melihatnya.

Lalu tersenyum.

“Kalau kalian ingin mengetahui seluruh kebenaran malam ini…”

“Kita akan membukanya di sini. Sekarang juga. Di depan semua orang.”

Dan tepat saat aku hendak merobek segelnya…

Angela tiba-tiba berlari ke arahku.

Lalu berteriak sekeras mungkin:

— JANGAN BUKA ITU!

Teriakan Angela yang histeris menggema di seluruh penjuru ballroom mewah itu, memecah keheningan yang mencekam. Lebih dari lima ratus tamu undangan menahan napas. Dua penyidik yang berada di dekat panggung secara refleks menahan gerakan Angela yang tampak panik setengah mati.

Gabriel menatap Angela, lalu beralih menatapku dengan mata yang dipenuhi kebingungan dan badai emosi. “Angela… kenapa kamu panik?” tanya Gabriel, suaranya mulai bergetar, kehilangan keangkuhannya sebagai penyidik senior.

Aku melangkah maju, membiarkan gaun malamku menyapu lantai panggung, berdiri tepat di bawah sorotan lampu spotlight.

“Kenapa? Kamu ingin tahu kenapa rekan kerjamu yang paling tepercaya ini ketakutan, Gabriel?” tanyaku dengan nada sedingin es. “Karena jika amplop ini dibuka, bukan aku yang akan mengenakan baju tahanan malam ini. Melainkan dia. Dan seluruh petinggi di dalam institusimu.”

Plot Twist: Sang Pelindung di Balik Layar

Aku tidak merobek amplop itu, melainkan merobek kertas pembungkus laptop di meja presentasi yang belum sempat disita. Aku menyambungkan sebuah flashdisk kecil yang tersembunyi di balik bros gaunku ke sistem proyektor ballroom.

BEEP.

Layar LED raksasa di belakang panggung kembali menyala. Namun, yang muncul bukan lagi logo perusahaanku, melainkan aliran dana terenkripsi, rekaman suara, dan dokumen rahasia negara.

“Tiga tahun lalu, di hari pertama kita bertemu di Bali, itu memang bukan kebetulan, Gabriel. Kamu dikirim oleh divisimu untuk menyelidikiku karena perusahaanku mendadak menerima suntikan dana asing misterius sebesar Rp1 triliun,” ujarku, menatap lurus ke dalam matanya yang kini membelalak.

“Tapi yang tidak pernah kamu ketahui… dana Rp1 triliun itu ditransfer oleh sindikat mafia terbesar di negeri ini melalui akun cangkang yang dibuat oleh Angela Cruz.”

Ruangan kembali riuh. Angela menggelengkan kepala dengan histeris. “Dia bohong! Dia memanipulasi bukti! Gabriel, jangan percaya dia!”

“Aku tidak bohong, Gabriel,” kataku tenang, sambil menekan tombol play pada rekaman suara di layar.

“Gabriel Reyes terlalu bersih. Dia tidak bisa disuap. Kita gunakan Maria Santos. Alirkan uang haram itu ke perusahaannya, buat skenario seolah Maria yang bersalah, lalu biarkan Gabriel yang menangkap tunangannya sendiri. Setelah Gabriel hancur secara psikologis, kita singkirkan dia selamanya.”

Itu adalah suara Angela, berbicara jelas dengan seorang gembong narkoba internasional yang selama ini diburu oleh Gabriel.

Kebenaran yang Menghancurkan

Air mata akhirnya menetes di pipi Gabriel. Pria yang selama tiga tahun ini mengira sedang menjalankan misi suci demi negara, baru saja menyadari bahwa dia hanyalah pion yang digunakan untuk menghancurkan dirinya sendiri—dan wanita yang dicintainya.

“Jadi… selama ini…” Gabriel menatap Angela dengan pandangan tidak percaya. “Kamu menjebakku? Kamu menjebak Maria?”

“Selama tiga tahun ini, aku tahu aku menjadi targetmu, Gabriel,” sambungku, suaraku melunak namun tetap tegas. “Aku tahu setiap gerak-gerikmu. Aku sengaja memindahkan uang Rp1 triliun itu ke tiga puluh dua rekening berbeda bukan untuk mencucinya, melainkan untuk membekukannya agar tidak bisa ditarik kembali oleh sindikat Angela, sekaligus menggunakannya sebagai umpan untuk memancing siapa saja pengkhianat di dalam institusimu.”

Aku mengangkat amplop kuning bersayap lilin merah itu.

“Amplop ini berisi kunci dekripsi dari seluruh rekening tersebut, yang secara otomatis akan mendonasikan seluruh uang itu ke kas negara jika terjadi sesuatu pada nyawaku… atau nyawamu. Aku membangun benteng ini untuk melindungimu, Gabriel. Karena aku tahu, hari di mana mereka menyuruhmu menangkapku, adalah hari di mana mereka berencana melenyapkanmu.”

Kejatuhan Sang Pengkhianat

Angela mundur selangkah, mencoba meraih senjata di pinggangnya, namun Gabriel bergerak lebih cepat. Dengan gerakan taktis, Gabriel memutar lengan Angela dan menguncinya di atas lantai panggung.

“Angela Cruz, Anda ditahan atas tuduhan pengkhianatan terhadap negara, konspirasi pembunuhan, dan pencucian uang,” bisik Gabriel di telinga Angela, suaranya sarat dengan kekecewaan dan kemarahan yang mendalam.

Dua penyidik lain yang menyadari situasi segera maju dan memborgol Angela, menyeret wanita itu keluar dari ballroom diiringi oleh sorakan menghina dari lima ratus tamu undangan yang kini berbalik memujaku.

Penghargaan yang Sesungguhnya

Suasana ballroom berangsur kondusif. Para petinggi kepolisian yang hadir di acara itu segera meminta maaf dan membersihkan nama perusahaanku malam itu juga.

Pembawa acara kembali naik ke panggung dengan tangan gemetar, lalu memanggil namaku sekali lagi untuk menerima trofi “Young Entrepreneur of the Year”.

Aku menerima piala emas itu di atas panggung, di bawah tepuk tangan meriah yang bergemuruh. Namun, mataku tetap tertuju pada Gabriel yang berdiri di ujung ruangan. Ia tidak pergi. Ia menatapku dengan mata merah, penuh rasa bersalah yang teramat sangat karena telah meragukan wanita yang mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya.

Setelah acara selesai, di dalam ballroom yang sudah sepi, Gabriel berjalan mendekatiku. Ia berlutut di hadapanku, bukan untuk melamar seperti di Bali, melainkan untuk memohon ampun.

“Maria… maafkan aku. Aku begitu buta oleh tugasku sampai hampir menghancurkanmu,” bisiknya lirih.

Aku tersenyum tipis, menyentuh pipinya yang basah, lalu membantunya berdiri.

“Tugasmu sudah selesai, Penyidik Gabriel,” kataku sambil menyelipkan cincin pertunangan kami yang sempat ia sita kembali ke jarinya. “Sekarang, mari kita selesaikan pernikahan kita.”