Posted in

DI PERNIKAHAN IBUKU, SUAMI BARUNYA MENGUSIRKU KARENA AKU “HANYA ANAK DARI PERNIKAHAN PERTAMA”—DIA TIDAK TAHU, AKU MEMEGANG 40% SAHAM PERUSAHAAN TEMPAT DIA BEKERJA

**DI PERNIKAHAN IBUKU, SUAMI BARUNYA MENGUSIRKU KARENA AKU “HANYA ANAK DARI PERNIKAHAN PERTAMA”—DIA TIDAK TAHU, AKU MEMEGANG 40% SAHAM PERUSAHAAN TEMPAT DIA BEKERJA**

“Kamu hanya anak dari suami pertama ibumu. Jangan ganggu kehidupan baru kami.”

Di tengah resepsi pernikahan, di depan keluarga dan para tamu, suami baru ibuku menunjukku seolah aku sampah yang harus disingkirkan.

“Pindahlah ke asrama. Mulai sekarang, aku dan ibumu ingin hidup berdua.”

Aku menatap Ibu.

Kupikir dia akan membelaku.

Tapi dia hanya menunduk dan berbisik, “Maya, Nak… turuti saja.”

Malam itu, aku tidak menangis di depan mereka.

Aku hanya tersenyum.

“Baik.”

Lalu aku pergi.

Yang tidak mereka ketahui, perusahaan tempat pria yang mengusirku itu bekerja didirikan oleh ayah kandungku.

Dan tiga hari setelah pernikahan itu, sebuah dokumen jatuh ke tanganku yang akan menghancurkan seluruh kesombongannya.

Empat puluh persen saham San Aurelio Holdings.

Atas namaku.

Ballroom hotel di Taguig malam itu terlalu terang. Cahaya lampu kristal berkilauan seolah berusaha menyembunyikan semua senyum palsu yang memenuhi ruangan.

Ibu mengenakan gaun putih. Dia tampak cantik. Tampak bahagia. Atau mungkin hanya berusaha terlihat bahagia.

Sudah tiga tahun Ayah meninggal.

Ayahku, Gabriel San Aurelio, adalah pria yang dulu dijuluki banyak orang sebagai “raja konstruksi dan logistik Manila.” Namun bagiku, dia hanyalah seorang ayah yang selalu memasakkan bubur cokelat saat aku sakit dan selalu berkata, “Kamu pasti bisa, Nak,” bahkan ketika aku sendiri ketakutan.

Sejak dia meninggal, Ibu berubah.

Dulu kami selalu bersama.

Dulu, jika ada yang menyakitiku, dialah orang pertama yang berdiri membelaku.

Namun sejak mengenal Renato Villanueva, perlahan-lahan dia menjadi orang yang berbeda.

Renato adalah kepala departemen di San Aurelio Holdings. Dia bukan orang kaya, tetapi sangat pandai terlihat terhormat. Kemejanya selalu rapi, suaranya selalu lembut di depan Ibu, dan matanya selalu menilaiku setiap kali kami bertemu.

Aku tahu dia tidak menyukaiku.

Tapi aku tidak pernah menyangka dia akan mempermalukanku di hari pernikahannya sendiri.

Aku duduk di sudut ballroom dengan segelas jus yang bahkan tidak kuminum ketika mereka menghampiri mejaku.

“Maya,” kata Ibu sambil memaksakan senyum. “Kenapa hanya duduk di sini? Bergaullah dengan yang lain.”

Aku tidak menjawab.

Aku lelah berpura-pura bahagia pada hari yang terasa seperti pengganti Ayah benar-benar telah mengambil tempatnya.

Renato yang berbicara.

“Maya, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”

Suasana mendadak berat. Beberapa tante dan sepupu menoleh. Para tamu yang tadinya bercakap-cakap perlahan terdiam, seolah mencium aroma skandal yang akan terjadi.

Renato berdiri lebih tegak, seperti seseorang yang merasa memiliki kekuasaan penuh.

“Sekarang aku dan ibumu sudah menikah, kita harus memulai kehidupan baru dengan benar.”

Aku menatapnya.

“Maksud Anda?”

Dia tersenyum, tetapi senyum itu dingin.

“Kamu sudah SMA. Sudah cukup dewasa. Kamu tidak perlu lagi tinggal di rumah.”

Dia meneguk anggurnya sebelum mengucapkan kalimat yang mengubah segalanya.

“Kamu akan pindah ke asrama.”

Meja itu langsung sunyi.

Bahkan pelayan yang sedang membawa baki berhenti melangkah.

“Asrama?” tanyaku.

“Ya.” Suaranya mengeras. “Kamu anak dari suami pertama ibumu. Kamu pasti mengerti bahwa kami juga butuh kehidupan kami sendiri. Kamu tidak bisa terus berada di tengah-tengah kami.”

Rasanya seperti ada tangan dingin yang mencengkeram dadaku.

Anak dari suami pertama.

Seolah aku bukan anak Ibu.

Seolah aku bukan darah dagingnya.

Seolah aku hanya beban.

Ibu buru-buru menarik lengan Renato.

“Renato, sudah. Banyak yang mendengar.”

Tapi dia tidak berhenti.

“Itu juga lebih baik untuk sekolahnya,” lanjutnya dengan suara lebih keras. “Di asrama dia bisa lebih fokus. Bukankah itu juga demi dirinya?”

Beberapa kerabat mengalihkan pandangan.

Sebagian mulai berbisik.

Aku mendengar seorang wanita berkata dari meja lain.

“Kasihan anak itu.”

Yang lain menjawab pelan.

“Tapi mereka kan baru menikah…”

Aku menarik napas panjang.

Lalu menatap Ibu.

Sepanjang hidupku, hanya dengan sekali melihatku, dia selalu tahu kapan aku terluka.

Namun malam itu, dia menghindari tatapanku.

“Ibu,” kataku pelan.

Dia mengangkat kepala sesaat.

Dan sebelum dia berbicara, aku sudah tahu jawabannya.

Dia takut.

Takut kehilangan Renato.

Takut sendirian lagi.

Karena itu dia memilih kehilangan aku.

“Maya,” katanya hampir berbisik. “Turuti saja dulu. Ini juga demi kebaikanmu.”

Ada sesuatu yang hancur di dalam diriku.

Tidak keras.

Tidak dramatis.

Hanya sunyi.

Tapi aku tahu itu tidak akan pernah utuh lagi.

Aku teringat malam terakhir Ayah di rumah sakit. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, tetapi genggamannya di tanganku tetap kuat.

“Nak,” katanya waktu itu, “jaga ibumu. Tapi jangan pernah lupa menjaga dirimu sendiri.”

Dulu aku tidak memahami kalimat terakhirnya.

Sekarang aku mengerti.

Aku berdiri.

Mengambil tas kecilku.

Renato menatapku, jelas menunggu tangisan, kemarahan, atau permohonan.

Dia tidak mendapatkan apa pun.

Aku hanya tersenyum tipis.

“Baik.”

Dia terlihat terkejut.

“Apa?”

“Anda ingin saya pindah, bukan? Baik.”

“Maya…” suara Ibu bergetar.

Tapi aku tidak menoleh lagi.

Aku berjalan keluar dari ballroom sementara bisikan para tamu mengikutiku seperti ombak.

Aku tidak menangis di lift.

Aku tidak menangis di lobi.

Aku tidak menangis saat menunggu taksi di depan hotel.

Namun ketika aku masuk ke kamar hotel kecil yang kubayar menggunakan kartu lama peninggalan Ayah, aku akhirnya terduduk di lantai dan semua rasa sakit itu tumpah begitu saja.

Bukan karena kata-kata Renato.

Melainkan karena diamnya Ibu.

Keesokan harinya, dia menelepon.

“Maya, kamu di mana? Kamu mempermalukan kami semalam. Banyak orang bilang kamu tidak sopan.”

Aku menghapus air mataku.

“Ibu bahkan tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.”

Beberapa detik hening.

Lalu suaranya kembali keras.

“Pulang sekarang. Minta maaf pada Renato. Jangan membesar-besarkan masalah kecil.”

Masalah kecil.

Ternyata diusir dari pernikahan ibumu sendiri hanyalah masalah kecil.

“Ibu,” kataku tenang, “mulai sekarang, jangan khawatirkan aku lagi.”

“Maya—”

“Selamat menikmati kehidupan baru Ibu.”

Aku menutup telepon.

Dan untuk pertama kalinya, aku memblokir nomor ibuku sendiri.

Kupikir semuanya berakhir di sana.

Namun tiga hari setelah pernikahan itu, seseorang mengetuk pintu kamar hotelku.

Ketika kubuka, seorang pria berjas hitam berdiri di depan pintu sambil membawa map kulit tebal.

Aku mengenalnya.

Pengacara Rafael Mercado.

Pengacara pribadi Ayah.

“Nona Maya San Aurelio?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Dia membungkuk hormat.

“Ayah Anda meninggalkan sesuatu untuk Anda. Dan sesuai isi surat wasiatnya, hari ini adalah hari pertama dokumen ini boleh diberikan.”

Tanganku langsung terasa dingin.

Dia membuka map itu dan meletakkan dokumen pertama di atas meja.

“Mulai hari ini, Anda adalah pemilik sah 40% saham San Aurelio Holdings.”

Aku kehilangan kata-kata.

Lalu dia mengeluarkan dokumen lain.

“Dan rumah yang saat ini ditempati ibu Anda serta Tuan Renato Villanueva juga telah resmi menjadi milik Anda.”

Dadaku terasa sesak.

Di tengah semua kehilangan, rasanya seolah Ayah kembali meletakkan tangannya di pundakku.

Pengacara Mercado menatapku.

“Ada pesan terakhir dari ayah Anda.”

Aku menelan ludah.

“Ayah Anda berkata: ‘Anakku tidak boleh memohon untuk diperlakukan dengan layak.’”

Aku menggenggam dokumen itu erat-erat.

Di bagian bawah halaman, aku melihat nama Renato.

Kepala Departemen.

San Aurelio Holdings.

Senyum dingin muncul di wajahku.

“Pak Pengacara,” kataku. “Kapan rapat dewan direksi berikutnya?”

Dia langsung berdiri tegak.

“Sore ini, Nona Maya.”

Aku mengambil map itu.

“Kalau begitu,” bisikku, “sudah waktunya mereka mengenalku pada perusahaan yang dibangun ayahku.”

Dan sore itu, aku membuka pintu ruang rapat tempat Renato duduk dengan wajah penuh kesombongan, sama sekali tidak menyadari bahwa gadis yang dia usir kini adalah salah satu pemegang saham terbesar perusahaan yang membayar gajinya.

Semua orang terdiam saat aku masuk.

Dan wajah Renato langsung pucat ketika melihat map di tanganku.

“Mengapa kamu ada di sini?” bentaknya.

Aku tersenyum.

Aku berjalan santai menyusuri karpet merah ruang rapat eksekutif San Aurelio Holdings. Di sekeliling meja oval berbahan kayu jati mewah itu, duduk belasan pria dan wanita paruh baya berjas rapi—para direktur dan pemegang saham.

Di ujung tengah, Renato berdiri dengan wajah memerah karena amarah yang ditahan. Di sampingnya, Ibu duduk dengan gelisah. Rupanya Renato sengaja membawanya hari ini untuk memamerkan “posisi baru” ibuku sebagai istri dari seorang kepala departemen yang merasa akan segera naik jabatan.

“Maya?! Kenapa kamu lancang sekali masuk ke sini?” suara Renato meninggi, mencoba mempertahankan wibawanya di depan dewan direksi. “Ini ruang rapat rahasia! Satpam! Bagaimana bisa anak kecil ini masuk?!”

Ibu ikut berdiri, wajahnya pucat dan tampak panik. “Maya, Nak… tolong jangan bikin malu Ibu lagi. Pulanglah. Ini tempat kerja Renato, bukan tempat bermainmu.”

Aku tidak mundur selangkah pun. Aku menatap Ibu, lalu beralih pada Renato yang menatapku penuh kebencian—tatapan yang sama seperti di malam pernikahan itu.

“Tuan Renato,” kataku tenang, suaraku menggema di ruangan yang mendadak sunyi. “Anda bertanya kenapa saya ada di sini?”

Aku menoleh ke arah Pengacara Mercado yang berjalan di belakangku. Pria tua itu melangkah maju dengan tegas, meletakkan map kulit tebal di atas meja rapat, tepat di hadapan CEO dan jajaran direksi utama.

“Perkenalkan,” ujar Pengacara Mercado dengan suara berat yang berwibawa. “Ini adalah Nona Maya San Aurelio. Putri tunggal dari mendiang pendiri perusahaan ini, Tuan Gabriel San Aurelio.”

Renato mendengus meremehkan. “Lalu kenapa? Gabriel sudah mati! Kontrol perusahaan ini ada di tangan dewan direksi, bukan di tangan anak ingusan yang bahkan belum lulus sekolah!”

Pemegang Saham Terbesar

Pengacara Mercado tidak membalas makian itu dengan emosi. Beliau hanya membuka halaman pertama dokumen otentik berstempel hukum negara dan membacakannya dengan lantang.

“Berdasarkan surat wasiat mutlak yang sah demi hukum, per hari ini, seluruh hak perwalian saham milik mendiang Tuan Gabriel dialihkan sepenuhnya kepada ahli waris tunggalnya yang telah mencapai usia yang ditentukan dalam klausul khusus.”

Pengacara Mercado menatap Renato dengan senyum tipis yang mematikan.

“Nona Maya San Aurelio secara resmi memegang empat puluh persen saham San Aurelio Holdings. Menjadikannya pemilik saham individu terbesar di perusahaan ini.”

Suasana ruang rapat langsung pecah. Beberapa direktur senior langsung berdiri dan membungkuk hormat ke arahku.