Posted in

Saat libur panjang Hari Buruh, aku pikir akhirnya bisa pulang lebih awal untuk menghabiskan waktu bersama keluargaku.

Saat libur panjang Hari Buruh, aku pikir akhirnya bisa pulang lebih awal untuk menghabiskan waktu bersama keluargaku.

Namun saat masih lembur di kantor, aku melihat unggahan Facebook adikku.

Ia sedang tersenyum di sebuah resort pemandian air panas mewah di Tagaytay.

Bersama Mama dan Papa.

Dan caption-nya terasa seperti tamparan pertama di wajahku:

“Terima kasih, Ma dan Pa! Kamar ₱18.000 per malam, benar-benar pantas buat aku. Untung saja Kak Mara tidak ikut, kalau tidak biaya kami pasti bertambah lagi.”

Tanganku langsung berhenti di atas keyboard.

Beberapa detik kemudian, notifikasi muncul di ponselku.

Family Wallet Payment: ₱18.000 terpotong. Saldo tersisa: ₱237,45.

Rasanya seperti disiram air dingin ke seluruh tubuh.

Namaku Mara Villanueva, tiga puluh satu tahun, Senior Marketing Manager di sebuah perusahaan di Makati. Sejak mulai bekerja, praktis akulah yang menghidupi keluargaku.

Listrik, air, internet, kebutuhan rumah, biaya pengobatan Papa, pemeriksaan kesehatan Mama, uang kuliah dan gaya hidup adik bungsuku Bianca—semuanya berasal dariku.

Setiap kali aku mengatakan bahwa aku lelah, Mama selalu menjawab:

“Nak, kamu yang paling kuat di keluarga ini. Kamu yang paling diberkati. Sudah seharusnya kamu membantu.”

Dan aku selalu mempercayainya.

Pagi itu, sebelum berangkat kerja, Bianca sedang duduk di sofa sambil bermain ponsel.

“Kak,” tanyanya, “hari ini libur. Kamu masih lembur?”

Aku sebenarnya ingin mengatakan bahwa aku ingin beristirahat.

Ingin makan bersama mereka.

Ingin merasakan, walau hanya sehari, bahwa aku adalah anak mereka, bukan mesin ATM.

Namun Mama langsung merangkul bahuku.

“Mara? Ah, dia wanita karier. Tidak seperti kamu yang hobinya jalan-jalan. Benar kan, Nak? Buatmu pekerjaan lebih penting.”

Ia tersenyum padaku.

Senyum yang selama ini selalu berhasil membuatku menurut.

Jadi aku mengangguk.

“Iya, Ma. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Aku tidak mengatakan bahwa alasan aku mau lembur adalah karena aku berencana memberikan sebagian tabunganku untuk membantu mereka membeli rumah yang selama ini mereka impikan.

Aku pikir, jika aku memberi lebih banyak, mungkin mereka akan menganggapku lebih berharga.

Namun ketika melihat unggahan Bianca, aku akhirnya tersadar.

Aku membuka kolom komentar.

Komentar temannya dipasang paling atas:

“Hebat juga Tante berhasil membuat kakakmu tidak ikut. Kalau dia datang, pasti anggaran kalian tidak cukup.”

Dan balasan Bianca:

“Benar. Dia kan selalu sibuk kerja. Sekarang giliran kami menikmati hidup.”

Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Jadi aku melakukan hal paling tenang yang bisa kulakukan.

Aku menyukai komentar itu.

Lalu membuka aplikasi bank.

Aku menghapus akses otomatis keluarga ke rekening bersama.

Seluruh saldo yang tersisa langsung kupindahkan ke rekening pribadiku.

Termasuk uang yang sebenarnya sudah kusiapkan untuk Mama.

Kurang dari satu menit kemudian, telepon dari Mama masuk.

Bahkan sebelum aku sempat berbicara, ia sudah hampir berteriak.

“Mara! Kenapa saldo family wallet tinggal ₱237? Apa yang kamu lakukan?”

Aku menatap dinding kaca kantor. Di luar, lampu kendaraan di jalan raya membentuk antrean panjang yang tampak sama lelahnya denganku.

Aku menjawab dengan tenang.

“Memang itu saldo yang tersisa, Ma. Mama lupa?”

Ia terdiam.

Lalu berkata pelan,

“Bukannya tadi masih ada hampir ₱20.000?”

Aku tersenyum pahit.

“Jadi Mama tahu?”

Tidak ada jawaban.

“Ma, setiap bulan aku memasukkan ₱90.000 ke rekening keluarga. Itu untuk kebutuhan rumah, tagihan, obat-obatan, dan keadaan darurat. Bukan untuk hotel Bianca.”

Terdengar bisikan di belakangnya.

Suara Bianca.

“Aduh, Ma, aku lupa dia dapat notifikasi setiap kali uang itu dipakai.”

Aku ingin tertawa.

Bukan karena lucu.

Tapi karena saat itulah aku tahu mereka tidak sedang khilaf.

Mereka tahu.

Dan mereka sengaja melakukannya.

Nada suara Mama berubah.

Dari panik menjadi marah.

“Memangnya kenapa kalau kami memakai uang itu? Kamu anak kami. Kami membesarkanmu. Apa kami tidak boleh menikmati sedikit kebahagiaan?”

“Sedikit?” tanyaku. “Sudah berapa tahun aku memberi, Ma? Sudah berapa ratus juta rupiah yang keluar dari rekeningku?”

“Kamu menghitung-hitung pengorbanan untuk orang tua sendiri?” bentaknya.

Dulu, setiap kali mendengar kalimat itu, aku selalu yang meminta maaf.

Aku akan membelikan kebutuhan rumah.

Mengirim uang lagi.

Dan berpura-pura bahwa akulah yang salah.

Namun saat itu, ada sesuatu yang akhirnya putus dalam diriku.

“Aku tidak menghitung utang budi,” kataku. “Aku menghitung berapa kali kalian menjadikanku bank keluarga sementara Bianca diperlakukan seperti anak kesayangan.”

Bianca ikut menyela dengan nada santai, seolah aku yang berlebihan.

“Kak, kita ini keluarga. Kami cuma liburan. Kenapa reaksimu seperti ada kejahatan besar?”

“Keluarga?” tanyaku. “Apakah aku termasuk dalam definisi itu?”

Tidak ada yang menjawab.

Jadi aku memutuskan sambungan telepon.

Beberapa pesan suara langsung masuk.

Mama menangis.

“Mara, kami sedang di luar kota. Kami tidak membawa uang tunai cukup. Bagaimana kami makan? Bagaimana kami pulang? Apa kamu ingin kami dipermalukan?”

Lalu suara Bianca.

“Kak, tekanan darah Mama tinggi. Jangan bikin dia stres. Kalau sampai masuk rumah sakit, nanti kamu juga yang bayar.”

Saat itulah aku merasakan beratnya seluruh hidupku.

Lembur.

Berpura-pura bahagia.

Terus menjadi anak baik sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk diriku sendiri.

Sepulang kerja, aku menuju unit kondominium yang kubeli sendiri di Mandaluyong.

Di situlah Mama, Papa, dan Bianca tinggal.

Aku yang membayar uang muka.

Aku yang membayar cicilan.

Aku yang membeli seluruh perabotan.

Namun ketika memasukkan password smart lock, terdengar bunyi error.

Salah.

Aku mencoba lagi.

Masih salah.

Untuk ketiga kalinya.

Lampu merah berkedip.

Saat itulah aku mengerti.

Mereka mengganti password-nya.

Telepon dari Mama masuk bahkan sebelum aku sempat bergerak.

“Tidak bisa masuk, ya?”

Aku menggenggam erat tali tasku.

“Ma, berikan password yang baru.”

Ia tertawa pelan, tetapi terdengar tajam.

“Bianca yang menyuruh kami menggantinya. Kami khawatir karena kamu sedang marah, lalu masuk dan merusak barang-barang.”

“Ini rumahku.”

“Rumahmu?” suaranya meninggi. “Kalau bukan karena kami, kamu tidak akan ada di dunia ini. Dan sekarang kamu ingin mengungkit bahwa ini rumahmu?”

“Ma, aku hanya perlu mengambil dokumen penting. Besok ada rapat.”

“Kirim lokasi dokumenmu. Nanti aku panggil kurir untuk mengambilkannya.”

Aku memejamkan mata.

Kurir boleh masuk.

Aku tidak.

“Terakhir kali aku minta, Ma. Password.”

Ia terdiam beberapa saat.

Lalu mengucapkan kalimat paling dingin yang pernah kudengar dari ibuku sendiri.

“Kalau mau masuk, kirim dulu ₱30.000. Anggap saja sebagai kompensasi atas masalah yang kamu buat hari ini. Setelah itu baru aku berikan password-nya.”

Aku mendengar Bianca tertawa di belakang.

“Kak, jumlah itu kecil untukmu. Anggap saja hadiah permintaan maaf.”

Aku menatap pintu apartemen.

Lalu menatap kamera keamanan yang berkedip merah di atasnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menangis.

Aku membuka lemari sepatu di lorong.

Mengambil palu tua yang ditinggalkan petugas perawatan gedung.

Menarik napas panjang.

Lalu mengangkat palu itu setinggi mungkin dan menghantamkannya ke smart lock.

BRAK!

Di ujung telepon, Mama menjerit.

“Mara! Apa yang kamu lakukan?!”

Aku tidak menjawab.

Aku mengangkat palu itu sekali lagi.

Dan pada hantaman kedua, smart lock itu pecah berkeping-keping.

Bagian Akhir: Runtuhnya Istana Parasit

Pintu apartemen itu perlahan terbuka dengan engsel yang berderit. Pecahan sirkuit elektronik dan plastik hitam dari smart lock yang hancur berhamburan di lantai, persis seperti ilusi kekeluargaan yang selama ini kupertahankan.

Di ujung telepon, suara Mama melengking panik, bercampur dengan pekikan ketakutan Bianca. Mereka bisa melihat segalanya secara real-time melalui notifikasi sistem keamanan ponsel mereka.

“Mara! Kamu gila ya?! Kamu merusak fasilitas apartemen!” teriak Bianca, suaranya tidak lagi terdengar santai dan mengejek seperti tadi.

Aku tidak membalas. Aku mematikan sambungan telepon, memasukkan ponsel ke dalam saku, dan melangkah masuk ke dalam rumah yang seluruh sudutnya kubiayai dengan air mata dan waktu tidur yang hilang.

Aku berjalan lurus ke kamar utamaku. Di sana, aku mengambil koper besar dari atas lemari. Tanpa membuang waktu, aku memasukkan seluruh dokumen penting: paspor, akta kelahiran, sertifikat tanah, emas batangan hasil investasi pribadinya, dan draf kepemilikan unit kondominium ini. Aku juga mengambil beberapa potong pakaian kerja terbaikku.

Setelah memastikan semua dokumen krusial aman di dalam koper, aku berjalan ke ruang tamu. Di atas meja kopi, terdapat folder tagihan bulanan dan dokumen cicilan properti. Aku mengambil pulpen, lalu menuliskan satu pesan singkat di atas kertas memo:

“Password baru kalian tidak bisa mengunci pemilik aslinya keluar. Mulai besok, silakan bayar cicilan dan tagihan ini dengan uang kalian sendiri.”

Aku menempelkan memo itu tepat di layar televisi 55 inci yang kubeli sebagai hadiah ulang tahun Papa dua tahun lalu.

Tepat saat aku menarik koperku menuju pintu keluar, ponselku kembali berdering. Kali ini bukan panggilan biasa, melainkan panggilan video dari Mama. Aku menggeser layar untuk menerimanya.

Layar ponsel menampilkan wajah Mama yang merah padam karena marah, dengan latar belakang kamar hotel mewah di Tagaytay. Di sampingnya, Bianca tampak memeluk lengannya sambil cemberut.

“Mara! Kamu harus bayar ganti rugi kunci itu sekarang juga! Dan apa-apaan pesan yang kamu kirim ke grup keluarga? Kamu mau memutus aliran dana untuk obat Papamu?!” bentak Mama, mencoba menggunakan kondisi kesehatan Papa sebagai senjata pamungkasnya—seperti yang selalu ia lakukan selama sepuluh tahun ini.

Aku menghentikan langkahku di ambang pintu yang rusak, menatap wajah mereka bergantian melalui layar.

“Obat Papa untuk tiga bulan ke depan sudah aku tebus dan ada di lemari obat, Ma. Aku tidak sekejam itu,” kataku, suaraku sangat tenang hingga membuat Mama tertegun. “Tapi untuk uang jajan Bianca, biaya perawatan kecantikan Mama, dan cicilan apartemen ini… aku selesai.”

“Kak! Jangan keterlaluan ya! Kalau Kakak stop uangnya, kami mau tinggal di mana? Cicilan tempat ini mahal!” potong Bianca dengan nada menuntut.

“Itu bukan urusanku lagi, Bianca. Kamu sudah dewasa, punya gelar sarjana yang kubayari sampai lulus. Silakan cari kerja dan bantu Mama,” jawabku datar. “Oh, dan satu hal lagi. Kondominium ini atas namaku. Besok pagi, agen properti akan datang untuk menilai aset ini karena aku memutuskan untuk menjualnya.”

“Mara!!” Mama berteriak histeris. “Kamu mau mengusir orang tuamu sendiri?! Kamu anak durhaka! Kamu akan dikutuk!”

“Aku tidak mengusir kalian, Ma. Aku hanya mengembalikan kalian ke realitas. Selama ini kalian hidup mewah di atas penderitaanku, bahkan mengunciku keluar dari rumah yang kubayar sendiri,” aku menatap mereka lurus-lurus melalui kamera. “Kalian punya waktu satu bulan untuk mengemas barang-barang sebelum unit ini berpindah tangan ke pemilik baru. Gunakan sisa uang di family wallet yang ₱237 itu untuk membayar kurir.”

Sebelum Mama sempat memaki lebih jauh, aku memutus panggilan video tersebut. Aku memblokir nomor Mama, Papa, dan Bianca dari ponselku. Aku juga keluar dari grup obrolan keluarga yang selama ini hanya berisi tautan tagihan dan permintaan uang.

Aku melangkah keluar dari lorong apartemen, menarik koperku dengan anggun. Ketika melewati meja resepsionis di lobi bawah, petugas keamanan menatap koparku dengan bingung.

“Ms. Villanueva, ada masalah di atas?” tanyanya sopan.

Aku tersenyum—sebuah senyuman lepas yang sudah bertahun-tahun tidak pernah singgah di wajahku. Beban berat yang selama ini menekan pundakku mendadak menguap, digantikan oleh rasa bebas yang luar biasa.

“Tidak ada masalah, Kuya. Saya hanya baru saja melepaskan sesuatu yang bukan tanggung jawab saya,” kataku ramah. “Tolong panggilkan taksi untuk saya. Saya mau memesan kamar hotel terbaik di kota malam ini—hanya untuk saya sendiri.”

Malam itu, di bawah guyuran hujan kota Makati, aku akhirnya pulang. Bukan ke rumah penuh parasit yang menguras hidupku, melainkan pulang menuju diriku sendiri yang telah lama hilang.