PADA HARI PERTAMAKU SEBAGAI MAHASISWI BARU DI JAKARTA, TEMAN SEKAMARKU LANGSUNG MENCURI KARTU HITAM YANG DIBERIKAN AYAHKU.
Dia tidak tahu bahwa itu adalah kartu tambahan atas namaku.
Dan dia juga tidak tahu, hanya dengan satu pesan kepada kakakku, uang “tanpa batas” yang dia pamerkan ke seluruh angkatan bisa berubah menjadi hanya Rp100.000.
Yang lebih lucu?
Dia bahkan memaksa semua orang memotong label barang-barang desainer sebelum membayar.
Orientasi mahasiswa baru di Universitas San Lorenzo baru saja selesai ketika Bianca Soriano tiba-tiba bertepuk tangan di depan kelas.
“Guys, aku lagi happy hari ini,” katanya sambil mengangkat dagu seperti bintang sinetron. “Ayo ke Plaza Indonesia. Tas, baju, sepatu, aksesori—apa pun yang kalian mau, aku yang bayar.”
Ruangan langsung hening.
Mia, ketua kelas kami, menjadi orang pertama yang berteriak.
“Bianca, serius? Itu Plaza Indonesia! Syal saja di sana harganya bisa setengah uang bulanan orang!”
Bianca tersenyum.
Dari tas tangan merah mudanya, dia perlahan mengeluarkan sebuah kartu hitam.
Saat melihat sisi kartu itu, perutku langsung terasa dingin.
Itu kartuku.
Baru tadi malam Ayah memberikannya kepadaku di dalam mobil.
“Lia,” katanya waktu itu, “sekarang kamu sudah jadi mahasiswi. Jangan terlalu menghemat diri sendiri. PIN-nya tanggal lahirmu. Untuk transaksi besar, OTP akan masuk ke ponselmu. Kalau jumlahnya sangat besar, perlu verifikasi wajah dan tanda tanganmu.”
Aku bahkan belum sempat menggunakannya.
Karena malas memindahkan dompet, aku hanya menyelipkannya ke kompartemen kecil tas kanvasku.
Pagi tadi Bianca meminjam formulir registrasiku. Dia sendiri yang mengaduk isi tasku dengan alasan mencari berkas.
Dan sekarang kartu itu ada di tangannya.
Di depan seluruh kelas, dia mengaku itu miliknya.
“Hadiah dari Daddy,” katanya manis. “Katanya karena aku berhasil masuk San Lorenzo. Tinggal swipe sesuka hati.”
Tatapan semua orang langsung berubah.
“Gila, Bianca!”
“Ternyata kamu bukan cuma kaya, tapi super elite!”
“Adopsi aku dong!”
Ada yang memberinya air minum.
Ada yang membawakan tasnya.
Bahkan ada yang membantu merapikan rok yang dikenakannya.
Dia duduk di kursi dosen seperti seorang ratu.
Lalu dia menatapku.
“Lia,” panggilnya lembut tetapi tajam. “Ikutlah. Kita kan teman sekamar. Nanti orang-orang mengira aku mengucilkanmu.”
Aku membuka tasku.
Kompartemen kecil itu kosong.
Kartunya sudah hilang.
Aku menatap Bianca.
“Aku tidak ikut.”
Mia langsung tertawa.
“Kenapa? Takut masuk toko barang mewah? Atau takut ketahuan tasmu palsu?”
Beberapa orang ikut tertawa.
Mia meraih tas kanvasku dan memeriksa jahitannya.
“Lia, ada bedanya sederhana dan miskin. Baju yang kamu pakai sekarang harganya sampai Rp500.000 tidak?”
Bianca berpura-pura menegurnya.
“Mia, jangan begitu. Mungkin Lia memang hemat.”
“Hemat?” cibir Mia. “Hemat itu kalau punya uang tapi tidak suka menghamburkan. Kalau tidak punya pilihan, namanya beda.”
Tawa semakin keras.
Aku mengambil kembali tasku.
“Aku tidak ikut.”
Senyum Bianca sedikit membeku.
“Yakin? Jangan menyesal.”
Dia kembali mengangkat kartu hitam itu.
“Hari ini apa pun gratis. Asal jangan membawa energi orang yang iri.”
Aku berdiri dan keluar dari kelas.
Di ujung koridor, aku menelepon kakakku.
Belum lama berdering, dia langsung mengangkat.
“Lia? Hari pertama kuliah sudah ada masalah?”
“Kak Rafi,” kataku. “Batasi transaksi kartu tambahanku. Sisakan Rp100.000 saja. Jangan matikan OTP.”
Dia terdiam sesaat.
“Kartunya hilang?”
“Ada di tangan orang lain.”
“Siapa?”
“Teman sekamarku. Baru kenal kemarin.”
Aku mendengar tawanya yang pendek dan dingin.
“Berani juga.”
“Dia mau mentraktir satu angkatan di Plaza Indonesia.”
“Bagus,” kata Kak Rafi. “Biarkan saja. Tunggu sampai semua label dipotong.”
Aku menoleh ke arah kelas.
Semua orang sudah mengelilingi Bianca seperti ratu baru.
“Kak.”
“Hm?”
“Bilang ke Ayah.”
“Dia sudah tahu.”
Aku memejamkan mata.
Aku hanya ingin menjadi mahasiswa biasa.
Tenang.
Tidak mencolok.
Tanpa orang-orang yang mendekat karena nama keluarga atau uang.
Tapi ada orang yang tidak puas hanya dengan mencuri.
Mereka harus mempermalukan korbannya agar terlihat seperti pemilik yang sebenarnya.
Baiklah.
Kalau Bianca menginginkan panggung, aku akan memberinya sorotan paling terang.
Satu jam kemudian mereka sudah berada di Plaza Indonesia.
Aku tidak datang bersama rombongan.
Aku masuk dari pintu lain.
Di depan butik mewah terkenal, Tante Elena, manajer toko yang merupakan sahabat Mama, menyambutku.
“Lia,” katanya pelan. “Mereka sudah di dalam. Yang pakai gaun merah muda itu?”
Aku mengangguk.
Di dalam, Bianca duduk di sofa krem di tengah butik.
Di sampingnya, Mia memegang tas putih mewah sambil hampir menangis bahagia.
Para mahasiswa laki-laki mencoba berbagai dompet dan ikat pinggang.
Beberapa bahkan sedang siaran langsung untuk lingkaran pertemanan mereka.
Carla, teman sekamarku yang pendiam, hanya berdiri di sudut sambil merekam semuanya.
Dia mengirim pesan kepadaku.
“Lia, Bianca menyuruh semua orang memotong label barang. Katanya kalau tidak dipotong berarti tidak percaya padanya.”
Aku membalas singkat.
“Rekam terus.”
Dari dalam butik terdengar suara Mia.
“Bianca, tas ini benar-benar boleh? Harganya Rp98 juta.”
Bianca tertawa.
“Rp98 juta saja? Tolonglah. Jangan perlakukan aku seperti orang yang baru pertama kali lihat label harga.”
Seseorang berteriak,
“Bianca, kamu kaya banget!”
Yang lain menambahkan,
“Sayang Lia tidak ikut.”
Mia menyeringai di depan cermin.
“Tidak sayang. Tempat ini tidak cocok untuk dia.”
Bianca mengangkat alis.
“Biarkan saja. Mungkin dia memang terbiasa belanja di pasar grosir.”
Semua tertawa.
Beberapa menit kemudian seorang staf membawa baki kecil berisi tagihan.
“Nona, ini total batch pertama.”
Bianca melirik angka di struk tanpa kehilangan senyum.
“Swipe.”
Dia menyerahkan kartu hitamku.
Ponselku langsung bergetar.
**Transaksi berhasil: Rp100.000.**
Dia membeli sebuah jepit rambut untuk menguji kartu itu.
Karena transaksi berhasil, dia menjadi semakin percaya diri.
“Lihat?” katanya keras-keras. “Aku bilang juga. Daddy tidak pernah memberiku kartu yang ditolak.”
Setelah itu semuanya menjadi lebih liar.
Label tas dipotong.
Sepatu dipakai.
Kemasan syal dibuka.
Parfum impor disemprotkan ke pakaian.
Ada yang berfoto sambil memegang dompet kulit dengan caption:
**Terima kasih, Ratu Bianca!**
Hampir dua jam kemudian, semua barang akhirnya ditumpuk di kasir.
Tante Elena mendekatiku di ruang VIP.
“Lia,” katanya pelan. “Total mereka Rp1.386.450.000.”
Aku menarik napas panjang.
Di luar, Bianca mengangkat kartu itu.
“Silakan,” katanya kepada kasir. “Bayar semuanya.”
Kartu itu digesek.
Mesin berbunyi.
Satu bunyi dingin yang membuat seluruh butik membeku.
Lalu muncul tulisan di layar:
**TRANSAKSI DITOLAK. VERIFIKASI PEMEGANG KARTU DIPERLUKAN.**
Senyum Bianca lenyap.
Dan tepat pada saat itu, ponselku berbunyi.
OTP dari bank.
Aku berdiri dari ruang VIP, membuka pintu, dan berjalan keluar.

Semua mata langsung tertuju kepadaku.
Aku mengangkat ponselku.
Aku berjalan dengan langkah tenang mendekati meja kasir. Keheningan di dalam butik terasa begitu pekat, sampai-sampai suara ketukan sepatuku di atas lantai marmer terdengar menggema.
Wajah Bianca berubah dari pucat menjadi merah padam saat melihatku. “Lia? Ngapain kamu di sini? Sengaja mau nonton ya?” serunya, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara melengking. “Mbak kasir, mesinnya rusak ya? Coba gesek lagi. Kartu Daddy-ku mana mungkin ditolak!”
Tante Elena, yang berdiri di samping kasir, hanya memberikan senyum profesional yang dingin. “Maaf, Nona. Mesin kami bekerja dengan sangat baik. Sistem bank Anda yang meminta verifikasi langsung dari pemilik kartu asli.”
Mia langsung menyela dengan nada ketus, “Halah, paling jaringannya aja yang jelek. Bianca, pakai kartu lain aja dulu. Malu-malu ituh dilihat si miskin ini,” katanya sambil menunjukku dengan dagunya.
“Dia tidak punya kartu lain, Mia,” kataku pelan, memotong kalimatnya.
Bianca melotot. “Maksudmu apa, Lia?! Jangan sok tahu ya! Ini kartuku!”
Aku tidak menjawabnya dengan kata-kata. Aku hanya mengangkat ponselku tinggi-tinggi, memutar layarnya ke arah Bianca dan seluruh anak angkatan yang ada di sana. Di layar itu, terpampang jelas notifikasi aplikasi perbankan premium yang terus berkedip:
PERINGATAN KEAMANAN: Upaya transaksi sebesar Rp1.386.450.000 di BUTIK VALENTINO PLAZA INDONESIA memerlukan verifikasi wajah pemilik kartu utama: AURELIA ADITYA.
Ruangan itu seketika seperti kehabisan oksigen.
Mia melangkah maju, matanya membelalak membaca nama yang tertera di ponselku. “Au… Aurelia Aditya? Nama belakangmu… Aditya? Pemilik Aditya Group?”
“Enggak! Itu bohong! Dia pasti pakai aplikasi palsu!” teriak Bianca histeris. Dia mencoba merebut ponselku, tetapi dengan sigap petugas keamanan butik langsung menghadangnya.
Aku menatap Bianca dengan tatapan datar. “Bianca, kemarin malam waktu kamu pura-pura cari berkas di tasku, kamu mengambil kartu hitam ini, kan? Kamu pikir karena namaku tertulis kecil di pojok bawah, kamu bisa mengakuinya sebagai milikmu?”
“Lia… aku… aku cuma pinjam…” suara Bianca tiba-tiba mencicit. Keberaniannya menguap entah ke mana.
“Pinjam?” Aku beralih menatap tumpukan barang di meja kasir. “Kamu meminjam kartuku untuk mentraktir satu angkatan sebesar 1,3 miliar rupiah? Dan menggunakannya untuk menghinaku di depan semua orang?”
Tante Elena kemudian melangkah maju, suaranya terdengar tegas di seluruh penjuru butik. “Nona Bianca Soriano, karena transaksi Anda ditolak dan Anda terbukti bukan pemilik sah dari kartu ini, kami harus meminta Anda membayar total belanjaan sebesar Rp1.386.450.000 dengan metode pembayaran lain. Sekarang.”
Bianca gemetar hebat. “Aku… aku tidak punya uang sebanyak itu di rekeningku…”
“Kalau begitu, silakan kembalikan barang-barangnya,” kata Tante Elena datar.
“Tinggal kembalikan saja, kan? Repot amat!” cetus Mia, mulai panik dan mencoba meletakkan tas 98 juta yang dipegangnya kembali ke meja.
“Maaf, Nona-nona dan Tuan-tuan,” Tante Elena tersenyum, namun matanya sedingin es. “Sesuai dengan instruksi Nona Bianca tadi, seluruh label harga dan segel barang-barang ini sudah dipotong dan dirusak. Barang yang labelnya sudah dilepas tidak bisa dikembalikan dan dianggap sudah dibeli. Jika tidak bisa membayar, kami terpaksa melaporkan hal ini ke pihak kepolisian atas tuduhan penipuan dan perusakan barang mewah.”
Mendengar kata ‘polisi’, seluruh mahasiswa di dalam butik langsung panik. Mereka yang tadi memuja Bianca seperti ratu, kini berbalik menatapnya dengan pandangan penuh amarah dan ketakutan.
“Bianca! Gila ya kamu! Kamu bilang ini kartumu!” jerit Mia, wajahnya pias. “Aku gak mau ikut dipenjara ya! Potong label itu kan perintah kamu!”
“Iya! Kamu yang tanggung jawab, Bianca! Jangan seret-seret kami!” sahut mahasiswa yang lain, buru-buru meletakkan dompet dan ikat pinggang yang sudah mereka pakai ke atas meja seolah benda itu adalah api yang membakar tangan mereka.
Bianca menangis tersedu-sedu, terduduk di lantai sofa krem yang mewah itu. “Lia… tolong aku… tolong verifikasi transaksinya, Lia… Kita kan teman sekamar… Aku mohon…”
Aku menatapnya dari atas, lalu berjalan mendekati kasir. Aku mengambil kembali kartu hitamku dari atas baki, menyekanya sedikit dengan tisu, lalu memasukkannya ke dalam saku celana jinsku yang sederhana.
“Aku sudah meminta kakakku membatasi limitnya menjadi seratus ribu rupiah sejak satu jam yang lalu, Bianca. Jadi, jepit rambut yang kamu beli di awal tadi adalah satu-satunya barang yang berhasil kamu bayar dengan uangku. Anggap saja itu hadiah perpisahan dariku sebagai teman sekamar,” kataku tenang.
Aku berbalik, menatap Mia dan teman-teman seangkatan yang kini menundukkan kepala, tidak berani menatap mataku karena malu dan takut.
“Carla,” panggilku pada teman sekamarku yang sejak tadi merekam di sudut ruangan.
“I-iya, Lia?” tanya Carla gugup.
“Kirim video rekamannya ke grup angkatan dan pihak dewan etik kampus. Biar universitas tahu kualitas mahasiswa baru mereka tahun ini.”
“Baik, Lia.”
Aku berjalan menuju pintu keluar butik, namun sebelum melangkah keluar, aku menoleh sekali lagi ke arah Bianca yang masih menangis histeris di lantai, dikerumuni oleh teman-temannya yang kini menuntut pertanggungjawaban.
“Oh ya, Bianca,” kataku dengan senyum tipis. “Sore ini juga aku akan pindah dari kamar asrama kita. Ruangan itu terlalu sempit untuk menampung drama dan barang-barang mewahmu yang belum dibayar. Selamat menyelesaikan tagihanmu.”
Aku melangkah keluar dari butik dengan perasaan lega. Jakarta sore itu terasa sangat cerah. Aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi orang lain untuk mencari teman yang tulus. Hari pertamaku sebagai mahasiswi mungkin tidak berjalan tenang seperti yang kuinginkan, tetapi setidaknya, semua orang sekarang tahu bahwa kesederhanaan bukanlah sebuah kelemahan yang bisa mereka injak-injak.
Menatap Bianca.