Posted in

 AKU DIANGGAP SATPAM PALING MISKIN DI PERUSAHAAN, TAPI TIBA-TIBA PEMILIK PERUSAHAAN MENUGASKANKU MENJEMPUT PUTRI SATU-SATUNYA — DAN SAAT DIA MELIHAT KENDARAANKU, EKSPRESINYA LANGSUNG BERUBAH

 AKU DIANGGAP SATPAM PALING MISKIN DI PERUSAHAAN, TAPI TIBA-TIBA PEMILIK PERUSAHAAN MENUGASKANKU MENJEMPUT PUTRI SATU-SATUNYA — DAN SAAT DIA MELIHAT KENDARAANKU, EKSPRESINYA LANGSUNG BERUBAH

Namaku Marco Santos.

Usiaku tiga puluh tahun.

Aku bekerja sebagai satpam malam di sebuah perusahaan properti ternama di ibu kota.

Setiap hari dari pukul enam sore hingga enam pagi, pekerjaanku hanya itu-itu saja.

Berkeliling.

Memeriksa CCTV.

Membukakan gerbang untuk kendaraan.

Dan sesekali membuatkan kopi untuk karyawan yang lembur.

Di mata semua orang, aku hanyalah satpam biasa.

Pendiam.

Selalu mengenakan seragam lama.

Dan datang bekerja dengan sepeda motor yang sudah hampir sepuluh tahun kupakai.

Tidak ada yang tahu bahwa dulu aku pernah menjadi salah satu sosok paling dihormati di dunia keuangan.

Tidak ada yang tahu bahwa aku pernah mencapai puncak sebelum kehilangan segalanya hanya dalam satu malam.

Namun semua itu sudah lama berlalu.

Aku tidak ingin mengingatnya lagi.

Sampai hari itu datang.

Hari yang mengubah hidup tenangku sepenuhnya.

“Marco! Ketua sedang mencarimu!”

Aku terkejut mendengar panggilan dari radio komunikasi.

Aku melihat jam tangan.

Pukul tiga sore.

Bahkan belum waktunya aku mulai bekerja.

Aku datang lebih awal hanya untuk menggantikan rekan yang sedang sakit.

“Ketua?”

ulangku.

Bahkan suara di seberang radio terdengar gugup.

“Iya. Beliau menunggumu di area parkir bawah tanah.”

Aku mengernyit.

Selama dua tahun bekerja di sini, aku hanya pernah melihatnya beberapa kali dari kejauhan.

Mengapa orang seperti dia mencari satpam seperti aku?

Sepuluh menit kemudian.

Aku sudah berada di area parkir pribadi.

Pria yang berdiri di samping sedan hitam mewah itu tidak lain adalah Ketua perusahaan.

Pakaiannya sederhana.

Jika bertemu dengannya di jalan, tak seorang pun akan menyangka bahwa dia adalah salah satu orang terkaya di negara ini.

Dia menatapku beberapa detik sebelum tersenyum.

“Kamu Marco, benar?”

“Ya, Pak.”

“Ada satu bantuan yang ingin kuminta.”

Dia menyerahkan selembar kertas kepadaku.

Di sana tertulis alamat sebuah akademi seni swasta terkenal.

“Tolong jemput putriku.”

Aku mengira salah dengar.

“Putri Anda?”

“Ya.”

“Di mana sopir pribadi Anda?”

“Tidak ada orang lain yang lebih cocok untuk tugas ini.”

Aku tidak mengerti.

Perusahaan sebesar ini mustahil tidak memiliki sopir.

Jadi kenapa harus aku?

Seolah membaca pikiranku, dia tertawa kecil.

“Karena hanya kamu satu-satunya orang di perusahaan ini yang tidak peduli seberapa kaya diriku.”

Aku tetap diam.

Dia melanjutkan.

“Dan aku tahu kamu pandai menyimpan rahasia.”

“Saya hanya seorang satpam.”

“Aku tahu.”

Dia menatapku dengan makna yang sulit dijelaskan.

“Terkadang, penampilan luar tidak menunjukkan siapa seseorang sebenarnya.”

Saat itu.

Aku merasa dia mengetahui sesuatu tentang masa laluku.

Namun dia tidak berkata apa-apa lagi.

Dia hanya menyerahkan kunci mobil.

“Jemput dia dan antar pulang.”

Aku melihat mobil mewah di depanku.

Lalu melihat seragamku sendiri.

Pada akhirnya, aku membuat keputusan.

Aku tidak akan menggunakan mobilnya.

Sebaliknya, aku pergi ke akademi dengan sepeda motor tuaku.

Alasannya sederhana.

Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Dan terlebih lagi, aku tidak ingin putrinya menjadi bahan pembicaraan.

Pukul empat sore.

Kelas sudah selesai.

Mobil-mobil mewah berjejer di depan akademi.

Di tengah semua itu, sepeda motor tuaku terlihat begitu tidak cocok.

Aku menunggu dengan tenang.

Sepuluh menit kemudian.

Aku melihatnya.

Dia mengenakan gaun berwarna krem.

Rambut panjangnya diikat sebagian ke belakang.

Wajahnya sangat cantik.

Namun yang paling mencolok adalah matanya.

Mata yang penuh percaya diri, tetapi menyimpan kesedihan yang sulit dijelaskan.

Aku mendekat.

“Sofia?”

Dia menatapku.

“Siapa kamu?”

“Ayahmu memintaku menjemputmu.”

Dia langsung melihat ke sekeliling.

Jelas sedang mencari sebuah mobil.

Tetapi dia tidak menemukannya.

Sebaliknya, pandangannya jatuh pada sepeda motor tua di sampingku.

Beberapa detik dia terdiam.

Lalu tersenyum tipis.

“Jadi Papa benar.”

“Hah?”

“Awalnya kupikir beliau hanya bercanda.”

Dia mengamatiku dari kepala hingga kaki.

“Orang paling pendiam di perusahaan…”

“Benar-benar kamu rupanya.”

Aku berkedip bingung.

Namun aku lebih terkejut dengan tindakan berikutnya.

Alih-alih kesal.

Atau mengeluh.

Dia menarik koper kecilnya.

Lalu meletakkannya di belakang motor.

“Ayo berangkat.”

“Kamu tidak melihat kalau motor ini agak…”

“Tua?”

Dia tersenyum.

“Kalau firasatku benar, kamu juga bukan satpam biasa.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya.

Tatapan bercandanya menghilang.

Digantikan oleh sorot mata yang tajam.

Seolah dia mampu melihat rahasia yang kusimpan selama bertahun-tahun.

Tiba-tiba.

Ponselku bergetar.

Ada pesan baru dari nomor tak dikenal.

Hanya satu kalimat yang tertulis.

“Jangan biarkan dia pulang malam ini. Ada orang yang menunggunya untuk menyakitinya.”

Aku bahkan belum sempat membaca ulang pesan itu.

Sebuah SUV hitam melaju kencang dari ujung jalan.

Pintunya terbuka.

Empat pria berpakaian hitam keluar.

Mata mereka tidak lepas dari Sofia.

Dan Sofia…

Saat melihat mereka, wajahnya langsung pucat.

Dia mencengkeram lenganku erat-erat.

Untuk pertama kalinya.

Aku melihat ketakutan di matanya.

“Marco…”

Suaranya bergetar.

“Mereka menemukanku…”

“Mereka menemukanku…”

Suara Sofia yang bergetar hebat di lenganku langsung memicu sesuatu yang sudah lama kukubur dalam-dalam. Sesuatu dari masa lalu ketika aku bukan sekadar pria berseragam satpam, melainkan seorang ahli strategi yang terbiasa berpikir di bawah tekanan maut.

SUV hitam itu mengerem mendadak, bannya berdecit keras di atas aspal. Empat pria berbadan tegap melompat turun, tatapan mereka dingin dan terarah lurus pada Sofia. Orang-orang di sekitar akademi mulai berteriak panik dan berlarian.

“Naik,” kataku. Suaraku mendadak berubah—bukan lagi suara satpam ramah yang biasa menyapa karyawan, melainkan suara dingin yang penuh otoritas.

“Tapi motor ini—”

Naik, Sofia! Sekarang!

Mendengar ketegasan dalam suaraku, Sofia tidak membantah. Dia langsung melompat ke jok belakang dan mencengkeram jaket tuaku erat-erat.

Salah satu pria berbaju hitam merangsek maju, tangannya terjulur untuk menarik gaun krem Sofia. Tanpa turun dari motor, aku memutar tubuh, menangkap pergelangan tangannya, lalu memelintirnya dengan satu gerakan cepat yang terlatih. Bunyi krek pelatuk sendi terdengar, disusul teriakan kesakitan pria itu saat dia terjatuh ke aspal.

Sebelum tiga pria lainnya sempat mengepung, aku langsung menendang tuas transmisi, menarik gas sedalam-dalamnya, dan melepas kopling. Sepeda motor tua yang sering diejek rekan-rekan kerjaku sebagai “rongsokan” itu mendadak menderu keras. Mesinnya yang sudah kuoprek sendiri dengan spesifikasi balap rahasia melesat bak anak panah, meninggalkan kepulan asap dan kepanikan para penyerang.

Pengejaran di Tengah Kota

“Kita tidak bisa pulang ke rumah Papamu!” teriakku di balik helm, mataku terus memantau kaca spion. SUV hitam itu sudah berbalik arah dan mengejar kami dengan kecepatan gila.

“Kenapa?! Papa punya pengawal di rumah!” teraruh Sofia, angin malam menerpa wajahnya yang pucat.

“Pesan di ponselku bilang ada pengkhianat di dalam. Rumah Papamu adalah jebakan malam ini!” jawabku sambil meliuk-liuk tajam di antara himpitan mobil di jalan protokol.

Di sinilah sepeda motor tuaku menunjukkan taringnya. SUV besar itu kesulitan bermanuver di tengah kemacetan kota Jakarta, sementara aku memanfaatkan setiap celah sempit dengan akurasi sentimeter. Namun, mereka nekat. SUV itu menabrak beberapa mobil lain demi terus menempel di belakang kami.

Aku mengambil belokan tajam ke arah kawasan pelabuhan tua—sebuah area labirin gudang terbengkalai yang sangat kuhafal. SUV itu ikut berbelok, bannya selip, namun mereka berhasil menutup jarak.

BRAK!

Bumper SUV itu menyenggol bagian belakang motorku. Guncangannya hebat, namun aku berhasil menstabilkan kemudi. Sofia menjerit, pelukannya di pinggangku semakin kencang.

“Pegang yang kuat!”

Aku mengarahkan motor menuju sebuah gang sempit yang diujungnya terhalang oleh tiang-tiang beton pembatas jalan—jalan tikus yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Pengemudi SUV itu terlambat menyadari. Saat motorku lolos melewati celah beton dengan mulus, SUV hitam di belakang kami menghantam pembatas jalan itu dengan kecepatan tinggi.

BOOM!

Bagian depan SUV itu ringsek total, asap mengepul dari kap mesinnya. Pengejaran berakhir.

Identitas yang Terbongkar

Setengah jam kemudian, aku membawa Sofia ke sebuah apartemen tua di pinggiran kota. Ini adalah tempat persembunyianku, aset terakhir yang tidak disita saat aku jatuh bangkrut bertahun-tahun lalu.

Sofia duduk di sofa usang, tubuhnya masih sedikit gemetar. Dia menatapku yang sedang mengunci pintu dengan tiga gembok berbeda, lalu meletakkan ponselku di atas meja.

“Kamu… siapa sebenarnya?” tanya Sofia, matanya yang tajam kini dipenuhi rasa ingin tahu yang besar. “Satpam miskin tidak punya refleks bertarung seperti itu. Dan motor tua itu… mesinnya bukan mesin biasa, kan?”

Aku menghela napas, melepaskan jaket satpamku, dan duduk di hadapannya. “Namaku Marco Santos. Enam tahun lalu, aku adalah kepala keamanan siber dan mantan anggota intelijen taktis yang mengelola sistem proteksi aset Papamu. Sebelum akhirnya aku dikambinghitamkan oleh musuh bisnis Papamu dan kehilangan segalanya.”

Sofia terperangah. “Jadi… Papa sengaja menempatkanmu sebagai satpam? Untuk menjagaku jika hari seperti ini tiba?”

“Ya. Papamu tahu, di saat seluruh perusahaan dipenuhi orang-orang bermuka dua yang mengincar hartanya, hanya ‘satpam paling miskin’ ini yang bisa dia percayai dengan nyawa putrinya.”

Langkah Balasan

Tiba-tiba, ponsel Sofia berdering. Layarnya menunjukkan panggilan video dari Papanya. Sofia segera mengangkatnya.

Layar terhubung, menampilkan wajah Ketua yang tampak berada di dalam ruang kerja yang gelap, namun senyumnya terlihat lega saat melihat wajah putrinya aman.

“Sofia… kamu aman bersama Marco?” tanya Ketua, suaranya terdengar berat namun penuh wibawa.

“Iya, Pa. Marco menyelamatkanku. Tapi ada orang yang mengejar kami,” jawab Sofia cepat.

Ketua mengangguk, lalu pandangannya beralih ke arahku yang berdiri di belakang Sofia.

“Marco… terima kasih. Tebakanku tidak pernah salah tentangmu. Pengkhianat di dalam rumahku sudah diringkus. Mereka mengincar Sofia untuk memaksaku menandatangani pengalihan saham malam ini.”

Ketua menghela napas panjang, lalu mengucapkan kalimat yang membuat ekspresi Sofia—dan seluruh takdirku—berubah seketika.

“Waktu persembunyianmu sudah selesai, Marco. Seragam satpam itu tidak cocok lagi untukmu. Mulai besok pagi, aku mengembalikan seluruh asetmu yang hilang, dan aku mengangkatmu menjadi Wakil Direktur Utama sekaligus Kepala Keamanan Global Grup. Lindungi putriku, dan bantu aku membersihkan sisa-sisa tikus di perusahaan ini.”

Sofia menoleh ke arahku, matanya membelalak tidak percaya. Pria yang selama ini dianggap sebagai karyawan paling bawah dan paling miskin di perusahaan ayahnya, kini dalam satu malam, baru saja berubah menjadi orang paling berkuasa kedua di seluruh imperium bisnis mereka.

Aku menatap seragam satpamku yang tergeletak di kursi, lalu tersenyum tipis ke arah layar ponsel.

“Diterima, Pak Ketua. Tugas malam saya sebagai satpam… resmi berakhir.”