Posted in

SAAT KAMI SEDANG BERTENGKAR, PACARKU YANG MERUPAKAN TEAM LEADER MENGUNGGAH FOTO BERSAMA CINTA PERTAMANYA DI JARINGAN INTERNAL PERUSAHAAN

SAAT KAMI SEDANG BERTENGKAR, PACARKU YANG MERUPAKAN TEAM LEADER MENGUNGGAH FOTO BERSAMA CINTA PERTAMANYA DI JARINGAN INTERNAL PERUSAHAAN

Aku tidak bertanya.

Aku tidak mengirim pesan.

Dan aku juga tidak marah.

Aku hanya diam-diam menandatangani formulir mutasi departemen… lalu perlahan menghilang dari rencana masa depannya.

Hingga malam pesta akhir tahun perusahaan, dia masih berpikir bahwa begitu menoleh, dia akan melihatku menunggunya di tempat yang sama seperti biasanya.

Aula acara begitu ramai.

Penuh dengan tawa dan candaan.

Beberapa rekan kerja sengaja menggodaku.

— Mia, sampai kapan kamu mau mendiamkan Kian?

— Hati-hati, katanya akhir-akhir ini dia selalu bersama Alyssa.

— Jangan sampai pacarmu direbut orang saat semuanya sudah terlambat.

Mereka tertawa bersama.

Aku hanya menunduk sambil memutar gelas di tanganku.

Aku tersenyum tipis tanpa menjawab apa pun.

Suasana mendadak menjadi canggung.

Pria yang duduk di tengah meja akhirnya angkat bicara.

— Sudahlah.

— Jangan membahas urusan pribadi.

Suaranya tenang.

Seperti seseorang yang yakin masih mengendalikan segalanya.

Aku menatap wajah yang begitu familiar itu.

Dan hatiku justru semakin dingin.

Tiga tahun lalu kami bertemu dalam program pelatihan kepemimpinan perusahaan.

Dia adalah supervisor termuda yang promosi dengan sangat cepat.

Sedangkan aku adalah satu-satunya peserta pelatihan yang terus mendapatkan nilai performa tertinggi.

Kami sering lembur bersama.

Begadang bersama demi proyek-proyek penting.

Menghadapi masa-masa tersulit bersama.

Saat aku jatuh sakit karena terlalu banyak bekerja, dialah yang menjagaku semalaman.

Dan ketika dia gagal dalam sebuah proyek besar, akulah orang pertama yang memberinya semangat.

Bahkan suatu malam, dia menggenggam tanganku saat kami memandangi gemerlap lampu kota.

Dengan suara pelan dia berkata:

— Suatu hari nanti, kamu akan menjadi direktur terbaik di perusahaan ini.

— Dan aku akan selalu berada di sisimu.

Saat itu aku mempercayainya.

Aku percaya kami akan menghadapi masa depan bersama.

Sampai wanita itu kembali.

Alyssa.

Cinta pertamanya.

Setelah bekerja bertahun-tahun di luar negeri, dia kembali dan menjadi konsultan perusahaan.

Dan sejak saat itu, semuanya perlahan berubah.

Dia selalu mengantar Alyssa setelah rapat.

Dalam setiap perdebatan, dia selalu membelanya.

Bahkan gelang edisi terbatas yang sudah lama ingin kubeli…

Aku baru tahu ternyata dia membeli dua.

Satu untukku.

Dan satu lagi untuk Alyssa.

Aku melihatnya dalam foto yang dia unggah.

Aku tidak pernah bisa melupakan caption itu.

**”Terkadang kamu harus menjauh untuk mengetahui siapa yang benar-benar memahami dirimu.”**

Hari itu aku menatap layar cukup lama.

Tapi aku tidak menangis.

Aku tidak membuat keributan.

Dan aku juga tidak bertanya.

Aku hanya diam-diam membuka sistem HR.

Lalu mengajukan diri untuk sebuah proyek strategis khusus.

Sebuah proyek di departemen lain.

Tempat di mana…

Jadwal kami tidak akan pernah bertemu lagi.

Hari sudah hampir tengah malam saat pesta berakhir.

Satu per satu orang mulai pulang.

Ketika aku keluar menuju area parkir, terdengar langkah kaki dari belakang.

Kian.

Angin malam bertiup cukup kencang.

Dia berhenti tepat di depanku.

— Kamu masih marah karena itu?

Aku menatapnya.

— Menurutmu aku marah?

Dia tampak sedikit terkejut.

Mungkin karena dia tidak terbiasa melihatku setenang ini.

Dulu, akulah yang selalu meminta maaf lebih dulu setiap kali kami bertengkar.

Dia melangkah mendekat.

Nada suaranya melembut.

— Kamu terlalu banyak berpikir.

— Alyssa baru saja kembali. Aku hanya membantunya beradaptasi.

Aku tetap menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Lalu aku mengeluarkan kartu identitas karyawan baruku dari dalam tas.

Warnanya berbeda dari departemen tempatku sekarang.

Ekspresinya langsung berubah.

— Apa itu?

— Surat mutasi.

Seolah angin di sekitar kami berhenti berembus.

— Kamu pindah departemen?

— Ya.

— Sejak kapan?

— Seminggu yang lalu.

Tepat pada hari saat kamu mengunggah foto kalian berdua.

Tangannya mengepal erat.

— Kenapa kamu tidak memberitahuku?

Aku tertawa pelan.

— Apa kamu pernah memberiku kesempatan untuk berbicara?

Dia langsung terdiam.

Aku hendak berbalik pergi ketika tiba-tiba dia menggenggam pergelangan tanganku.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Aku mendengar ketakutan dalam suaranya.

— Kalau kamu pergi…

— Apa yang akan terjadi pada kita?

Perlahan aku melepaskan tangannya.

— Kita sudah lama berjalan ke arah yang berbeda.

Wajahnya langsung pucat.

Dan tepat saat itu, ponselku berdering.

Panggilan dari kantor eksekutif perusahaan.

Aku segera menjawabnya.

— Nona Mia, ada pembaruan darurat mengenai proyek strategis tersebut.

— Dewan direksi memutuskan untuk membentuk satuan tugas khusus untuk proyek terpenting tahun ini.

Aku menjawab dengan tenang.

— Baik, saya mengerti.

Namun beberapa detik kemudian, orang di seberang telepon menambahkan sesuatu.

Dan dalam sekejap…

Seluruh warna wajah Kian menghilang.

— Ada satu hal lagi.

— Direktur proyek utama yang akan bekerja langsung dengan Anda…

— Adalah eksekutif baru yang baru saja datang dari kantor pusat.

— Dia juga pria yang dulu hampir menikahi Alyssa sebelum pertunangan mereka dibatalkan tiga bulan lalu.

Aku bahkan belum sempat menjawab ketika terdengar suara mobil mendekat.

Sebuah sedan hitam mewah berhenti perlahan di depan kami.

Pintunya terbuka.

Seorang pria tinggi dan elegan turun dari mobil.

Dia langsung menatapku.

Lalu tersenyum tipis.

— Akhirnya…

— Kita bertemu lagi.

Saat Kian melihat wajah pria itu…

Dia seakan membeku di dunianya sendiri.

Dan tepat di sanalah…

Malam yang akan mengubah segalanya berakhir.

Pria itu melangkah maju di bawah temaram lampu area parkir. Pakaiannya rapi, setelan jas dari penjahit terbaik, dan auranya memancarkan otoritas mutlak yang membuat Kian tampak seperti anak magang yang sedang tersesat.

Namanya adalah Adrian Vance.

Eksekutif puncak yang baru saja dipindahkan dari kantor pusat London untuk memimpin proyek strategis bernilai triliunan rupiah yang baru saja kuambil. Dan seperti yang dikatakan oleh pihak HR di telepon, dia adalah mantan tunangan Alyssa.

“Adrian…” suara Kian tercekat di tenggorokan, terdengar seperti bisikan hantu. Tangannya yang sempat mencoba meraihku kini jatuh terkulai di samping tubuhnya.

Adrian tidak melirik Kian sama sekali. Tatapannya tertuju lurus kepadaku, penuh dengan binar apresiasi profesional—dan sesuatu yang lain, yang jauh lebih dalam.

“Nona Mia,” Adrian mengulurkan tangannya yang hangat, menjabat tanganku dengan tegas. “Saya sudah membaca seluruh portofolio dan analisis performamu yang diajukan ke dewan direksi. Kamu adalah otak di balik kesuksesan tiga proyek terbesar departemen Kian selama dua tahun terakhir, bukan?”

“Benar, Pak Adrian. Terima kasih atas kesempatannya,” jawabku tenang, tanpa nada gemetar sedikit pun.

Kian melangkah maju, wajahnya yang pucat kini berganti dengan kepanikan yang tak bisa disembunyikan. “Pak Adrian, maaf, tapi Mia adalah anggota tim saya. Mutasi ini… mutasi ini belum disetujui oleh saya sebagai Team Leader-nya!”

Adrian perlahan menorehkan pandangannya ke arah Kian. Sepasang matanya yang tajam menatap Kian dari atas ke bawah dengan dingin.

“Kian Ardiansyah,” ucap Adrian, suaranya berat dan berwibawa. “Sebagai Team Leader, kamu baru saja kehilangan aset paling berharga di timmu karena kamu terlalu sibuk mengurusi ‘adaptasi’ seorang konsultan baru. Surat mutasi Mia tidak membutuhkan persetujuanmu. Surat itu ditandatangani langsung oleh saya dan Direktur Utama seminggu yang lalu.”

Adrian beralih kembali kepadaku, senyum tipisnya kembali terkembang. “Mobil sudah siap, Mia. Tim inti sudah menunggu di ruang rapat eksekutif untuk pengarahan pertama. Kita tidak punya waktu untuk disia-siakan dengan masa lalu.”

“Baik, Pak,” kataku.

Aku berbalik, melangkah menuju sedan hitam mewah milik Adrian tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

“Mia! Tolong dengarkan aku dulu! Mia!” Kian berteriak, mencoba mengejarku. Langkahnya gontai, dipenuhi keputusasaan pria yang baru sadar bahwa ia telah menukar berlian asli dengan kerikil jalanan.

Namun, sebelum Kian bisa mendekati mobil, Adrian berbalik dan menghalangi jalannya.

“Satu hal lagi, Kian,” kata Adrian, suaranya pelan namun sarat akan ancaman yang mematikan. “Sampaikan salamku pada Alyssa. Katakan padanya, terima kasih karena telah membatalkan pertunangan kami tiga bulan lalu. Karena jika dia tidak pergi, aku tidak akan pernah datang ke kota ini, dan aku tidak akan pernah bertemu dengan wanita sehebat Mia.”

Adrian masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan bunyi klik yang solid, mengunci Kian di luar bersama angin malam yang dingin dan penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidup.

Babak Baru di Lantai Eksekutif

Keesokan paginya, suasana di kantor pusat berubah total. Berita tentang mutasiku dan penunjukanku sebagai Wakil Direktur Proyek Strategis di bawah Adrian Vance menyebar seperti api di jaringan internal perusahaan.

Saat aku berjalan melewati koridor lantai utama, rekan-rekan kerja yang semalam menggodaku di pesta akhir tahun mendadak terdiam. Mereka berdiri dari kubikel mereka, membungkuk hormat dengan wajah canggung dan penuh rasa sungkan.

Di ujung koridor, aku melihat Kian dan Alyssa sedang berdiri di depan mesin kopi.

Alyssa tidak lagi tampak anggun seperti biasanya. Wajahnya tegang, dan matanya memerah. Tampaknya dia baru saja mengetahui bahwa mantan tunangannya—pria kaya raya yang ia campakkan demi mengejar Kian—kini memegang kendali atas nasib karier mereka berdua.

Ketika aku berjalan melewati mereka dengan memegang iPad kerja baruku, Kian mencoba menghentikan langkahku lagi. “Mia… kita perlu bicara. Soal foto itu, aku sudah menghapusnya. Aku bersumpah—”

“Simpan suaramu untuk rapat evaluasi kuartal depan, Kian,” potongku tanpa menghentikan langkah. Aku menatapnya dan Alyssa dengan pandangan yang benar-benar kosong, seolah-olah mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan berdiri di koridorku.

“Mulai hari ini, laporan performa departemenmu akan langsung diperiksa oleh mejaku. Pastikan konsultan barumu bekerja dengan benar, karena di departemen strategis yang kupimpin, kami tidak membayar orang yang hanya tahu cara berfoto dan memakai gelang kembaran.”

Rahang Alyssa mengeras, namun ia tidak berani mengeluarkan satu patah kata pun. Ia tahu, satu kesalahan kecil dari mulutnya bisa membuat Adrian membatalkan kontrak konsultansinya dan menghancurkan reputasinya di industri ini.

Aku melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif, membiarkan pintu kaca berdenting menutup, memisahkan duniaku yang baru dengan dunia mereka yang perlahan mulai runtuh.

Tiga tahun lalu, Kian berjanji akan selalu berada di sisiku saat aku menjadi direktur terbaik di perusahaan ini. Dia benar soal satu hal: aku memang akan menjadi yang terbaik. Dia hanya salah mengira bahwa aku membutuhkan dirinya untuk sampai di sini.