Aku Menggenggam Tangan Seorang Pria Asing untuk Melarikan Diri dari Mantan Suamiku… Tapi Aku Tidak Tahu Bahwa Seluruh Kota Takut Mendengar Namanya
Maricel Reyes menggenggam tangan seorang pria asing karena ketakutan yang luar biasa.
Ia tidak tahu siapa pria itu.
Ia juga tidak tahu bahwa mulai dari para pebisnis, pengacara, hingga orang-orang paling berpengaruh di kota selalu berhati-hati ketika menyebut nama pria tersebut.
Terlebih lagi, ia tidak tahu bahwa tangan yang sedang digenggamnya sekarang adalah milik seseorang yang mampu menghancurkan sebuah keluarga berkuasa hanya dengan satu panggilan telepon.
Yang diketahui Maricel hanyalah…
Mantan suaminya telah melihatnya.
Dan saat ini pria itu sedang berjalan ke arahnya dengan senyum yang sangat dikenalnya—senyum yang selalu menjadi pertanda datangnya mimpi buruk baru.
Malam itu, sebuah gala amal diselenggarakan di salah satu hotel termewah di kota.
Lampu-lampu kristal berkilauan.
Musik lembut mengalun.
Para wanita mengenakan gaun mahal sambil tertawa dan berbincang dengan para pria sukses.
Itu bukan dunia Maricel.
Kalau bukan karena sahabatnya, Jessa Santos, yang memaksanya datang, kemungkinan besar ia sedang berada di rumah sekarang, memakai pakaian santai, makan mi instan, dan menonton film lama.
“Sudah delapan bulan.”
Saat membantu meriasnya, Jessa berkata dengan serius.
“Sudah delapan bulan sejak kalian bercerai. Kamu tidak bisa bersembunyi selamanya.”
Maricel memaksakan senyum.
“Aku tidak bersembunyi.”
“Semua makananmu kamu pesan online. Kamu kerja dari rumah. Kamu menolak semua undangan. Bahkan pergi belanja kebutuhan sehari-hari pun kamu hindari.”
“Itu cuma praktis.”
“Bukan. Itu namanya takut.”
Maricel tidak menjawab.
Karena ia tahu sahabatnya benar.
Nama mantan suaminya adalah Rafael Mendoza.
Di mata orang lain, Rafael tampak sempurna.
Tampan.
Sukses.
Pandai berbicara.
Namun hanya Maricel yang tahu wajah aslinya.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, Rafael menjadikan penghancuran rasa percaya diri Maricel sebagai hiburan.
“Kamu yakin akan menghabiskan semua makanan itu?”
“Nanti baju ini sudah tidak muat lagi buatmu.”
“Aku cuma peduli padamu. Kenapa kamu terlalu sensitif?”
Awalnya hanya kata-kata.
Lalu kontrol terhadap uang.
Kemudian perselingkuhan.
Rekening-rekening rahasia.
Utang yang diam-diam diatasnamakan kepada dirinya.
Bahkan pada hari perceraian mereka, Rafael masih berhasil berpura-pura menjadi korban.
Sebelum mereka menandatangani dokumen terakhir, ia bahkan tersenyum sinis dan berkata:
“Tidak akan ada pria lain yang benar-benar mencintaimu setelah mereka tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Delapan bulan telah berlalu.
Tetapi kata-kata itu belum pernah benar-benar hilang dari pikiran Maricel.
Sampai malam ini.
Ia pikir dirinya sudah bisa melangkah maju.
Namun kemudian ia mendengar tawa yang sangat dikenalnya.
Tubuhnya langsung menegang.
Gelas di tangannya sedikit bergetar.
Saat menoleh…
Ia melihat Rafael berada di seberang ballroom.
Berpakaian rapi.
Percaya diri.
Ditemani seorang wanita yang sangat cantik.
Seolah-olah ia tidak pernah menyakiti siapa pun.
Lalu…
Pandangan mereka bertemu.
Senyum Rafael semakin lebar.
Dan ia mulai berjalan ke arah Maricel.
Detak jantung Maricel semakin cepat.
Seolah napasnya terhenti.
Ia melihat ke sekeliling.
Pintu keluar terlalu jauh.
Jessa tidak terlihat di mana pun.
Semua orang sibuk dengan percakapan masing-masing.
Tidak ada yang menyadari ketakutannya.
Tidak ada yang melihat kedua kakinya yang gemetar.
Lalu ia melihat pria itu.
Berdiri sendirian di dekat jendela kaca besar.
Lebih tinggi daripada kebanyakan orang.
Mengenakan setelan hitam.
Tidak memegang minuman.
Tidak berbicara dengan siapa pun.
Namun ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang-orang secara naluriah menjaga jarak.
Maricel tidak berpikir panjang.
Ia segera berjalan menghampirinya.
Dan menggenggam tangannya.
Pria itu langsung berhenti.
Perlahan menoleh.
Maricel mendongak.
Dan pada saat itu, ia seolah lupa cara bernapas.
Matanya gelap dan tajam.
Ada bekas luka tipis di alisnya.
Rahangnya tegas.
Ekspresinya sangat tenang.
Ia tidak terlihat seperti pebisnis biasa.
Bahkan tidak seperti orang biasa.
Ia terlihat seperti seseorang yang telah melewati begitu banyak badai kehidupan hingga tidak ada lagi yang mampu mengejutkannya.
Maricel menelan ludah.
“Maaf…”
Suaranya bergetar.
“Aku tahu ini aneh… tapi mantan suamiku sedang berjalan ke arah sini. Bisakah Anda berpura-pura menjadi seseorang yang kukenal? Hanya satu menit saja.”
Pria itu menatapnya cukup lama.
Mengamati wajahnya yang pucat.
Bibirnya yang gemetar.
Dan tangan yang masih menggenggamnya erat seolah pria itu adalah harapan terakhir yang tersisa.
Ia tidak terlihat kesal.
Ia juga tidak tertawa.
Hanya diam.
Keheningan yang justru membuat Maricel semakin gugup.
Beberapa saat kemudian, pria itu bertanya:
“Siapa mantan suamimu?”
Dengan suara pelan, Maricel menjawab:
“Rafael Mendoza.”
Pria itu sedikit terdiam.
Sangat singkat.
Namun Maricel merasakannya.
Atmosfer di sekitarnya berubah.
Lebih berat.
Lebih dingin.
“Rafael Mendoza…”
Pria itu mengulangi nama tersebut perlahan.
Seolah pernah mendengarnya sebelumnya.
Lalu ia melangkah mendekat.
Dan tanpa peringatan, melingkarkan satu tangan di pinggang Maricel.
Menariknya lebih dekat.
Maricel terkejut dan menarik napas.
Ia bahkan hampir bisa mendengar detak jantung pria itu.
“Lihat aku.”
kata pria itu pelan.
“Apa?”
“Jangan menoleh.”
Maricel membeku.
Karena tepat pada saat itu…
Ia mendengar suara Rafael dari belakangnya.
“Tidak mungkin…”
Lalu datang keheningan yang mengerikan.
Keheningan yang membuat beberapa tamu menoleh.
Maricel belum memahami apa yang sedang terjadi ketika pria itu sedikit mempererat pelukannya.
Tatapannya lurus ke depan.
Ekspresinya dingin.
Dan dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Maricel, ia berkata:
“Sepertinya dia mengenaliku.”
Tubuh Maricel terasa dingin.
Karena untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai…
Ia melihat mantan suaminya memucat karena ketakutan.

Dan pada saat itulah, pria asing itu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ballroom seolah berhenti bernapas.
“Kalau begitu… sudah waktunya aku menagih utang lamanya kepadaku.”
…Dan sejak saat itu, segalanya mulai berubah.
Babak Akhir: Sang Penguasa Bayangan
Rafael Mendoza, pria yang selama tiga tahun menjadi mimpi buruk Maricel, kini berdiri mematung. Senyum sinis yang biasa ia pamerkan runtuh seketika, digantikan oleh wajah pucat pasi seolah seluruh darah telah tersedot dari tubuhnya. Wanita cantik di sampingnya bahkan langsung melepaskan gandengan tangannya, mundur beberapa langkah demi menyelamatkan diri.
“T-Tuan… Tuan Julian Vance…” suara Rafael bergetar hebat, nyaris tidak keluar dari tenggorokannya.
Mendengar nama itu, bisik-bisik langsung menjalar di seluruh ballroom seperti api menyiram bensin. Para pebisnis sukses dan pejabat yang tadinya tertawa keras tiba-tiba membungkam mulut mereka sendiri. Julian Vance. Pria yang memegang kendali atas rantai pasokan utama kota, pria yang hukumannya lebih ditakuti daripada putusan pengadilan tertinggi.
Julian tidak melepaskan tangannya dari pinggang Maricel. Ia justru menatap Rafael dengan tatapan dingin, seolah sedang melihat seonggok sampah yang mengotori lantai marmer hotel mewah tersebut.
“Mendoza,” suara berat Julian menggema rendah, namun sanggup mengintimidasi seluruh ruangan. “Aku tidak tahu kamu punya nyali untuk menampakkan wajah di kotaku setelah semua dana gelap yang kamu gelapkan dari anak perusahaanku.”
“Tuan Vance, ini… ini kesalahpahaman. Aku bisa menjelaskan—”
“Dan aku juga baru tahu,” potong Julian, suaranya naik satu oktav, membuat Rafael tersentak mundur, “bahwa wanita yang kamu tipu, kamu bebani utang, dan kamu hancurkan harga dirinya… adalah wanita yang malam ini berada di pelukanku.”
Maricel tertegun. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena takut pada Rafael, melainkan karena aura luar biasa dari pria asing—Julian Vance—yang sedang mendekapnya. Julian tahu segalanya tentang dirinya, bahkan dalam hitungan menit sejak mereka bersentuhan.
“Mulai detik ini,” Julian berkata sambil menatap tajam ke arah Rafael, lalu beralih ke para tamu undangan, “siapa pun yang berbisnis dengan Rafael Mendoza, atau mencoba membantunya, akan berhadapan langsung denganku. Dan untukmu, Rafael… pengacaraku akan memastikan kamu mengembalikan setiap peser uang yang kamu curi dari Maricel. Termasuk nama baiknya.”
Hanya butuh satu jentikan jari dari asisten Julian yang tiba-tiba muncul di belakang mereka, dua petugas keamanan hotel langsung menyeret Rafael keluar dari ballroom. Pria itu berteriak memohon, kehilangan seluruh harga diri dan kesombongannya di depan publik yang selama ini ia agung-agungkan.
Awal yang Baru
Keheningan malam itu perlahan mencair setelah Rafael pergi, namun tidak ada satu orang pun yang berani mendekati Julian dan Maricel. Mereka memberikan jalan yang lapang saat Julian menuntun Maricel keluar menuju area parkir VIP, tempat sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu.
Di bawah rintik hujan tipis kota, Julian melepaskan pelukannya dengan sangat sopan. Dinginnya malam langsung terasa, membuat Maricel tersadar dari keterpakuannya.
“Tuan Vance…” Maricel bersuara, merasa canggung sekaligus sangat berutang budi. “Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Anda. Tapi… kenapa Anda membantuku sejauh ini?”
Julian membuka pintu mobil untuk Maricel, lalu berbalik menatapnya. Sisi wajahnya yang tegas melunak, dan seulas senyum tipis—yang sangat langka—muncul di bibirnya.
“Aku tidak suka melihat orang yang berutang padaku merasa di atas angin,” ucap Julian tenang. “Lagipula, kamu yang menggenggam tanganku duluan, Maricel. Di duniaku, sekali kamu menggenggam tangan Julian Vance, aku tidak akan membiarkanmu melepaskannya begitu saja sampai kamu merasa aman.”
Maricel menatap tangan kanan Julian, tangan yang beberapa menit lalu ia genggam dengan keputusasaan. Kini, ketakutan yang merantai dirinya selama delapan bulan terakhir luruh sepenuhnya.
Mantan suaminya mungkin telah mencoba meyakinkannya bahwa tidak akan ada pria yang mencintainya lagi. Namun malam itu, di dalam mobil yang melaju membelah gemerlap kota, Maricel tahu bahwa ia tidak perlu bersembunyi lagi. Ia telah melarikan diri dari sebuah mimpi buruk, dan masuk ke dalam perlindungan seorang pria yang ditakuti seluruh kota—pria yang kini berjanji akan menjadi pelindungnya.