Posted in

AKU MULAI MERASA CANGGUNG DENGAN ISTRIKU SENDIRI SETIAP KALI KAMI BERBARING BERDAMPINGAN DI TEMPAT TIDUR… DAN ITU LEBIH MENAKUTKAN DARIPADA GODAAN APA PUN**

AKU MULAI MERASA CANGGUNG DENGAN ISTRIKU SENDIRI SETIAP KALI KAMI BERBARING BERDAMPINGAN DI TEMPAT TIDUR… DAN ITU LEBIH MENAKUTKAN DARIPADA GODAAN APA PUN**

Namaku Miguel Santos, 38 tahun, dan aku tinggal bersama istriku di sebuah kawasan perumahan yang tenang di Quezon City, Metro Manila.

Dari luar, semua orang pasti mengira aku adalah pria yang beruntung.

Aku memiliki pekerjaan yang stabil, rumah yang nyaman, dan seorang istri bernama Angela yang mencintai keluarganya dengan sepenuh hati.

Selama lebih dari sepuluh tahun pernikahan kami, dia tidak pernah meninggalkanku dalam keadaan apa pun. Saat aku kehilangan pekerjaan beberapa tahun lalu, dialah yang bekerja lembur di sebuah firma akuntansi di Ortigas demi memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Saat aku sakit dan harus dirawat di rumah sakit, dia hampir tidak tidur demi merawatku.

Sejujurnya, jika bukan karena Angela, mungkin aku tidak akan berada di posisi seperti sekarang.

Dan mungkin itulah alasan mengapa sangat sulit bagiku untuk mengakui apa yang akan kuceritakan berikut ini.

Semuanya tidak terjadi dalam semalam.

Perasaan itu datang perlahan-lahan.

Sangat perlahan hingga aku hampir tidak menyadarinya.

Awalnya hanya kesulitan tidur.

Lalu aku mulai sering begadang meskipun harus bekerja keesokan harinya.

Sampai akhirnya aku sadar bahwa aku tidak lagi bersemangat untuk kembali ke kamar kami.

Aku tidak membenci Angela.

Di satu sisi, aku masih mencintainya.

Namun setiap kali kami berbaring berdampingan dalam gelap, ada perasaan aneh yang menyelimutiku—perasaan yang tidak bisa kujelaskan.

Dengungan pelan kipas angin.

Suara kendaraan yang melintas jauh di jalan EDSA.

Napasnya yang tenang dan teratur.

Semuanya begitu akrab.

Terlalu akrab.

Dan mungkin karena itulah aku mulai merasa sesak.

Banyak malam kuhabiskan hanya menatap langit-langit kamar.

Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepalaku.

Apakah aku masih benar-benar bahagia?

Ataukah aku hanya menjalani hidup karena tanggung jawab?

Apakah cinta kami telah berubah?

Atau justru akulah yang berubah?

Aku berusaha mengusir semua pertanyaan itu.

Berkali-kali aku mengingatkan diriku sendiri tentang semua yang telah Angela lakukan untukku.

Aku teringat kamar kontrakan kecil kami dulu di Pasig.

Aku teringat masa-masa ketika kami hanya makan ikan asin dan nasi, tetapi tetap merasa bahagia.

Aku teringat hari ketika aku kehilangan pekerjaan.

Diam-diam dia menggadaikan gelang kesayangannya yang diwariskan ibunya hanya agar kami tetap bisa bertahan.

Aku mengingat semuanya.

Dan semakin banyak yang kuingat, semakin besar rasa malu yang kurasakan.

Karena ketika dia terus mencintaiku dengan sepenuh hati, aku justru mulai memperhatikan perempuan lain.

Bukan karena aku mencintai mereka.

Bukan karena aku ingin berselingkuh.

Melainkan karena aku ingin tahu apakah bagian dari hatiku yang telah lama tertidur masih hidup.

Dan itulah yang menakutkan.

Dulu aku termasuk orang yang sangat keras mengutuk perselingkuhan.

Aku selalu mengatakan bahwa perselingkuhan bukanlah kecelakaan, melainkan sebuah keputusan.

Namun sekarang, perlahan-lahan aku mulai memahami mengapa ada orang yang tersesat ke jalan yang salah.

Bukan karena mereka berhenti mencintai.

Tetapi karena mereka tersesat dalam perasaan mereka sendiri.

Suatu Jumat malam, perusahaan mengadakan acara gathering di sebuah restoran di Bonifacio Global City.

Awalnya aku tidak ingin datang.

Namun rekan-rekanku terus membujuk hingga akhirnya aku ikut.

Dan di sanalah semuanya mulai berubah.

Malam itu aku diperkenalkan kepada karyawan baru di kantor.

Namanya Sophia Reyes.

Usianya hampir sepuluh tahun lebih muda dariku.

Dia ceria.

Ramah.

Dan memiliki senyum yang mampu membuat siapa pun merasa nyaman.

Kami hanya berbincang beberapa menit.

Tidak ada yang istimewa.

Atau setidaknya itulah yang kupikirkan.

Namun ketika aku pulang ke rumah, aku tidak bisa menghapus wajahnya dari pikiranku.

Aku memarahi diriku sendiri.

Aku berkata bahwa itu hal yang normal.

Tetapi seiring berjalannya waktu, aku mulai menantikan kehadirannya di kantor.

Setiap kali dia mengirim pesan tentang pekerjaan, aku tidak mengerti mengapa jantungku berdetak lebih cepat.

Aku membenci perasaan itu.

Aku membenci diriku sendiri.

Namun aku tidak bisa menyangkal bahwa perasaan itu ada.

Sementara itu, Angela…

Dia sama sekali tidak mengetahui pergulatan yang terjadi di dalam diriku.

Setiap pagi, dia masih menyiapkan sarapan untukku.

Setiap malam, dia masih bertanya apakah aku lelah setelah bekerja.

Kadang-kadang dia bahkan membeli roti favoritku di toko roti langganan kami.

Kebaikannya bagaikan cermin.

Semakin jelas aku melihatnya, semakin jelas pula aku melihat kekuranganku sendiri.

Lalu tibalah malam yang tidak akan pernah kulupakan.

Hampir pukul dua belas malam.

Aku duduk sendirian di balkon rumah kami.

Angela sudah tertidur pulas.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Pesan dari Sophia.

Awalnya hanya membahas pekerjaan.

Lalu berlanjut menjadi percakapan ringan.

Hingga tanpa sadar waktu terus berlalu.

Ketika aku melihat jam, ternyata sudah pukul dua dini hari.

Dan saat itulah aku benar-benar terdiam.

Sebuah pesan baru masuk dari Sophia.

Pesan yang kutahu bisa mengubah segalanya.

Pesan yang bisa menghancurkan lebih dari sepuluh tahun pernikahanku.

Seluruh tubuhku terasa dingin.

Genggamanku pada ponsel semakin erat.

Jantungku berdetak sangat cepat.

Di dalam kamar, Angela masih tertidur lelap, tidak menyadari bahwa hanya beberapa meter darinya aku sedang berdiri di persimpangan paling berbahaya dalam hidupku.

Dan di layar ponselku, tertulis jelas pesan dari Sophia:

*”Miguel… kalau kamu tidak menikah, menurutmu apakah ada kemungkinan kita bisa menjadi seseorang yang spesial bagi satu sama lain?”*

Aku hanya menatap pesan itu.

Jariku berhenti tepat di atas layar.

Aku tidak tahu apakah harus membalasnya atau tidak.

Dan tepat pada saat itu…

Aku mendengar suara pelan dari dalam kamar.

Seolah ada seseorang yang baru saja terbangun.

Perlahan aku menoleh ke arah pintu.

Dan kulihat pintu itu mulai terbuka sedikit demi sedikit…

Pintu itu terbuka, memperlihatkan Angela yang berdiri di sana dengan mata yang masih setengah terpejam. Dia menggosok matanya pelan, lalu menatapku dengan tatapan penuh kekhawatiran yang sudah sangat kuhafal.

“Miguel? Kenapa belum tidur? Ini sudah jam dua pagi, besok kamu harus bangun cepat,” suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun nadanya begitu lembut.

Detik itu juga, duniaku seperti dihantam kenyataan yang luar biasa keras. Aku menundukkan kepala, tangan kanan kubawa ke saku celana, menyembunyikan layar ponsel yang masih menyala dengan pesan dari Sophia. Jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya menyakitkan, bukan karena gairah, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sangat.

“Ah… iya, Yang. Tadi cuma mengecek beberapa pekerjaan kantor yang tanggung,” jawabku, suaraku bergetar, untungnya kegelapan malam menyembunyikan wajahku yang pias.

Angela mendekat, tidak curiga sedikit pun. Dia meraih tanganku—tangan yang baru saja tergoda untuk membalas pesan perempuan lain—dan menggenggamnya erat. Tangannya terasa hangat di tengah dinginnya angin malam Quezon City.

“Ayo masuk. Udara di luar dingin, nanti kamu sakit lagi,” ucapnya sambil menuntun langkahku kembali ke dalam kamar.

Kami kembali berbaring berdampingan di tempat tidur. Kamar kembali sunyi, hanya menyisakan dengungan kipas angin yang sama. Namun malam ini, kecanggangan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan. Sesuatu yang mencekik leherku.

Aku berbaring memunggungi Angela, diam-diam mengeluarkan ponselku di bawah selimut. Aku menatap pesan Sophia sekali lagi.

“Miguel… kalau kamu tidak menikah, menurutmu apakah ada kemungkinan kita bisa menjadi seseorang yang spesial bagi satu sama lain?”

Godaan itu ada di sana, nyata dan berkilau, menawarkan rasa penasaran yang selama ini kurindukan. Namun di sampingku, ada detak jantung wanita yang telah mengorbankan masa mudanya, gelangnya, dan seluruh hidupnya demi pria pecundang sepertiku.

Aku menyadari satu hal yang sangat krusial: rasa canggung dan bosan yang kurasakan pada Angela bukanlah tanda bahwa cinta kami sudah mati. Itu adalah tanda bahwa aku malas. Aku malas memupuk kembali apa yang sudah lama tertanam, dan memilih mencari tanah baru yang tampak lebih mudah untuk digali.

Dengan tangan yang gemetar, aku mengetik balasan untuk Sophia.

“Sophia, terima kasih atas pertanyaannya. Tapi kenyataannya aku sudah menikah, dan aku sangat menghargai istriku. Mari kita batasi komunikasi kita hanya untuk urusan pekerjaan mulai besok. Selamat malam.”

Aku menekan tombol kirim. Setelah itu, tanpa ragu, aku memblokir nomor pribadinya.

Aku menarik napas panjang, mematikan ponsel, dan meletakkannya jauh di atas meja rias. Aku kembali ke tempat tidur, membalikkan badanku menghadap Angela. Di bawah temaram lampu tidur, aku menatap wajahnya yang polos saat terlelap.

Rasa canggung itu tidak langsung hilang. Perasaan sesak itu masih ada di sana, menuntut waktu untuk disembuhkan. Menatapnya masih terasa menakutkan, karena kebaikannya terus menghakimiku tanpa bersuara.

Namun malam ini, aku mengambil keputusan. Aku tidak akan membiarkan diriku tersesat dalam egoku sendiri. Perselingkuhan memang sebuah keputusan, dan malam ini, aku memilih untuk memutuskan tetap tinggal.

Aku menggeser tubuhku mendekat, lalu dengan perlahan, aku melingkarkan lenganku di pinggangnya, memeluknya dari belakang. Angela bergerak sedikit, mencari kenyamanan dalam pelukanku, lalu mendesah pelan dalam tidurnya.

Aku memejamkan mata, berbisik lirih di dalam hati yang mulai damai: Maafkan aku, Angela. Mari kita mulai lagi dari awal.