Posted in

Malam Sebelum Pesta Tunangan, Sahabat Masa Kecil Tunanganku Mengurungku di Greenhouse Rooftop—Mereka Tidak Tahu Satu Panggilanku Saja Bisa Meruntuhkan Seluruh Imperium Keluarga de Vera**

Malam Sebelum Pesta Tunangan, Sahabat Masa Kecil Tunanganku Mengurungku di Greenhouse Rooftop—Mereka Tidak Tahu Satu Panggilanku Saja Bisa Meruntuhkan Seluruh Imperium Keluarga de Vera**

Di tengah badai, mereka mengurungku di greenhouse rooftop hotel.

Mereka menyalakan semua sprinkler sementara tubuhku menggigil kedinginan dan aku hampir tidak bisa bernapas.

Di bawah sana, para tamu menontonku seperti sebuah pertunjukan sambil merekam video.

Dan pria yang seharusnya menikah denganku keesokan harinya hanya menatapku lalu berkata,

*”Asal dia jangan sampai mati.”*

Hujan malam itu di Tagaytay terasa sangat dingin.

Bukan gerimis biasa yang turun dari langit gelap. Angin menghantam dinding kaca greenhouse rooftop Hotel Montelago Grand, sementara air sedingin es terus menyembur tanpa henti dari sprinkler di langit-langit.

Gaunku yang basah menempel erat di tubuh.

Jari-jariku gemetar saat berulang kali menarik gagang pintu.

Terkunci dari luar.

Di balik kaca berdiri Bianca Alonzo. Ia memegang payung putih dan sebuah remote control kecil. Rambutnya tetap rapi, riasannya tidak luntur sedikit pun, dan gaun berwarna champagne yang dikenakannya tampak kebal terhadap badai.

Ia tersenyum seolah tidak sedang melakukan sesuatu yang kejam.

“Tenang saja, Alessandra,” katanya. “Ini cuma kejutan kecil untuk calon pengantin.”

Di lantai bawah hotel terdapat veranda ballroom tempat jamuan makan malam penyambutan berlangsung sebelum pesta pertunanganku dengan Rafael de Vera keesokan hari.

Tempat itu penuh sesak oleh tamu.

Pebisnis. Sosialita. Influencer. Teman-teman keluarga. Orang-orang yang pandai tersenyum di depan kamera tetapi sangat menikmati penderitaan orang lain.

Mereka memegang gelas sampanye sambil menatap ke arahku.

Sebagian tertawa.

Sebagian merekam video.

“Astaga, seperti reality show!”

“Katanya ini tantangan dari Bianca.”

“Kita lihat berapa lama gadis kampung itu bertahan sebelum memohon.”

Aku memejamkan mata ketika semburan air yang lebih deras menghantam wajahku.

Mereka tidak tahu bahwa dingin bukanlah satu-satunya musuhku.

Saat berusia delapan tahun, gudang tua di belakang rumah kontrakan kami di Batangas runtuh ketika badai besar melanda. Aku terjebak di dalam saat air naik dengan cepat.

Ibuku kembali untuk menyelamatkanku.

Ia berhasil mendorongku keluar sebelum balok kayu besar jatuh menimpa bangunan itu.

Namun beliau tidak pernah berhasil keluar.

Sejak saat itu aku kesulitan bernapas ketika terjebak di ruang sempit. Aku tidak tahan mendengar suara air mengalir tanpa henti. Saat hujan deras turun pada malam hari, aku sering terbangun dengan tubuh berkeringat dan gemetar.

Hanya ada satu orang yang pernah kupercaya untuk mengetahui rahasia itu.

Rafael.

Kami bersama selama tiga tahun.

Ketika De Vera Holdings hampir bangkrut, akulah yang selalu berada di sisinya. Akulah yang menyusun rencana restrukturisasi. Akulah yang berbicara dengan investor asing. Akulah yang menemukan celah dalam laporan keuangan saat ia dituduh menyalahgunakan dana perusahaan.

Berkali-kali ia memelukku sambil berkata,

*”Andra, kalau perusahaan ini bangkit lagi, aku akan menikahimu. Aku tidak akan pernah melupakan semua yang sudah kau lakukan.”*

Aku mempercayainya.

Besok seharusnya pesta pertunangan kami berlangsung.

Tetapi malam ini, ia hanya berdiri di veranda di bawah sana, tetap kering di bawah atap, mengenakan setelan hitam mahal sambil memegang segelas wiski.

“Rafael!” teriakku sambil memukul kaca. “Suruh dia membuka pintu itu!”

Ia menatap ke atas.

Tidak ada keterkejutan di wajahnya.

Tidak ada belas kasihan.

Seolah aku hanyalah seorang karyawan yang sedang membuat keributan di acara perusahaan.

“Bianca hanya sedang bersenang-senang,” jawabnya dingin. “Kamu lebih dewasa darinya. Jangan diladeni.”

Orang-orang di sekelilingnya tertawa.

Bianca mendekati kaca.

“Tahu tidak, Kak Andra,” katanya dengan suara manis yang dibuat-buat, “kami sedang bertaruh. Kalau kamu berlutut dan memohon kepada Rafael untuk menyelamatkanmu, aku kalah.”

Ia mengangkat remote control itu.

“Tapi kalau kamu bisa bertahan tiga puluh menit tanpa mengemis, aku akan memberi masing-masing orang di sini Rp30 juta.”

Para tamu langsung bersorak.

“Ayo, Bianca!”

“Tambah lagi airnya!”

“Katanya dia pemberani, kan?”

Tanganku mulai mati rasa karena dingin.

“Rafael,” kataku dengan suara yang kupaksa tetap stabil. “Ini terakhir kalinya aku bertanya. Apakah kau akan membuka pintu ini?”

Ia hanya menghela napas ringan.

“Andra, jangan membesar-besarkan hal kecil.”

Sesuatu di dalam diriku hancur saat itu juga.

Hal kecil.

Trauma yang pernah kuceritakan sambil menangis di pelukannya—hal kecil.

Ketakutan yang bertahun-tahun kuperangi—hal kecil.

Harga diriku yang sedang mereka jadikan hiburan—hal kecil.

Bianca menekan remote.

Semburan air tiba-tiba menjadi jauh lebih kuat.

Lututku melemas hingga aku jatuh berlutut di lantai.

Orang-orang di bawah berteriak kegirangan.

“Dia menyerah!”

“Rekam yang jelas!”

“Rafael, calon istrimu sepertinya tidak akan bertahan lama!”

Bianca menempelkan telapak tangannya ke kaca.

Senyumnya manis, tetapi matanya dingin.

“Aku tahu kamu takut dengan tempat seperti ini,” bisiknya. “Rafael sendiri yang menceritakannya kepadaku.”

Aku menatapnya.

“Katanya kalau hujan tidak berhenti, kamu tidak bisa tidur. Katanya kalau terjebak di ruangan tertutup, kamu gemetar seperti anak kecil yang tersesat.”

Senyumnya semakin lebar.

“Kamu pikir itu rahasia kalian? Dia menceritakan semuanya kepadaku saat kami bersama.”

Suara badai seakan menghilang.

Aku menatap Rafael di bawah sana.

“Besok pesta pertunangan kita,” kataku. “Apa yang dia katakan itu benar?”

Para tamu saling berpandangan.

Rafael mengernyit sedikit, tetapi tidak mengelak.

“Karena sekarang kamu sudah tahu, aku tidak akan menyembunyikannya lagi,” jawabnya. “Itu hanya pertunangan, bukan pernikahan.”

Dadaku terasa sesak.

“Apa maksudmu?”

“Aku berutang banyak padamu, Andra. Tapi kita harus realistis. Keluarga Bianca adalah sekutu yang tepat untuk De Vera Holdings.”

Ia menoleh kepada Bianca lalu kembali menatapku.

“Aku masih membutuhkan bantuanmu sampai pendanaan proyek baru disetujui. Setelah itu kita bisa membicarakan perpisahan secara baik-baik.”

Suasana menjadi sunyi.

Tidak ada lagi yang tertawa.

Mungkin karena bahkan bagi mereka, kenyataan itu terlalu kejam.

Ternyata aku hanyalah perempuan yang akan digunakan sampai ia mendapatkan uang yang dibutuhkannya.

Aku yang menyelamatkan perusahaan.

Dan Bianca yang akan dinikahinya.

Perlahan aku berdiri.

Di sudut greenhouse terdapat lemari darurat berisi kapak pemecah kaca.

Aku mengayunkannya ke arah kaca.

Sekali.

Dua kali.

Pada hantaman ketiga, sebagian kaca pecah berkeping-keping. Serpihan kecil melukai pipiku, tetapi aku bahkan tidak merasakan sakitnya.

Aku keluar dari greenhouse sementara darah mengalir di wajahku.

Senyum Bianca langsung menghilang.

“Kamu gila?!” teriaknya.

Aku tidak menjawab.

Basah kuyup dan menggigil, aku berjalan menuruni tangga menuju veranda.

Orang-orang otomatis menyingkir saat aku lewat.

Ketika tiba di hadapan Rafael, aku mengusap darah di pipiku dengan punggung tangan.

Lalu aku mengeluarkan ponsel dari kantong tahan air yang kusimpan di dalam gaunku.

Aku menelepon pengacaraku.

“Pengacara Salcedo,” kataku. “Jalankan klausul kontingensi itu sekarang.”

Mata Rafael membelalak.

“Klausul kontingensi apa?”

Aku mengabaikannya.

“Tarik persetujuan investasi. Bekukan pencairan dana proyek. Kirim pemberitahuan kepada dewan direksi sebelum pukul delapan pagi.”

Aku berhenti sejenak dan menatap Bianca.

“Dan simpan semua video malam ini. Masukkan ke dalam laporan polisi sebagai bukti penahanan ilegal, penganiayaan fisik, dan pelanggaran privasi.”

Wajah Rafael langsung pucat.

“Andra, kamu tidak tahu apa yang sedang kamu katakan.”

“Oh, aku sangat tahu.”

Tiba-tiba seseorang berbicara dari belakangku.

“Alessandra, kamu tidak bisa melakukan itu.”

Aku berbalik.

Di pintu ballroom berdiri ayah Rafael—Don Emilio de Vera.

Namun untuk pertama kalinya, wajah pengusaha berkuasa itu tidak menunjukkan kemarahan.

Yang terlihat adalah ketakutan.

Karena ia tahu bahwa jika panggilan telepon itu benar-benar dilanjutkan, saat matahari terbit keesokan pagi, keluarga mereka akan kehilangan segalanya.

Don Emilio melangkah maju dengan tergesa-gesa, mengabaikan tatapan bingung para tamu. “Alessandra, mari kita bicarakan ini di dalam. Ini hanya kesalahpahaman anak muda. Bianca hanya bercanda, dan Rafael—”

“Bercanda?” Aku memotong kalimatnya dengan tawa hambar yang terdengar dingin di tengah deru badai. “Don Emilio, putra Anda tahu persis apa yang terjadi pada ibuku di dalam ruangan runtuh yang dipenuhi air. Dia tahu trauma itu bisa membunuhku. Dan dia membiarkan wanita ini menjadikannya tontonan demi uang 30 juta rupiah?”

Aku melirik Bianca yang kini mulai gelisah, lalu kembali menatap Don Emilio.

“Anda pikir saya datang ke keluarga De Vera sebagai pengemis yang butuh dinikahi? Selama tiga tahun ini, Anda mengira investor asing yang menyelamatkan De Vera Holdings datang karena karisma Rafael?” Aku tersenyum tipis, menatap ponselku yang masih menyala. “Mereka bergerak di bawah perintah Vanguard Capital. Dan pemilik hak veto tunggal di Vanguard… adalah aku.”

Kata-kata itu bagai petir yang menghantam veranda.

Wajah Rafael berubah dari pucat menjadi seputih kertas. “V-Vanguard? Tidak mungkin… Kamu hanya gadis dari Batangas, Andra! Kamu tidak punya apa-apa!”

“Aku kehilangan ibuku di Batangas, Rafael. Tapi aku tidak kehilangan warisannya,” kataku dengan suara yang sangat tenang namun menusuk. “Kakek dari pihak ibuku adalah pendiri konsorsium yang mendanai separuh proyek infrastruktur di negara ini. Aku menyembunyikan identitasku karena aku ingin tahu apakah kamu mencintaiku atau uangku. Dan malam ini, aku mendapatkan jawabannya.”

Ponsel di saku jas Don Emilio tiba-tiba bergetar hebat. Bukan hanya miliknya, ponsel beberapa direktur De Vera Holdings yang hadir di sana juga mulai berdering serentak.

Don Emilio mengangkat teleponnya dengan tangan gemetar. “…Apa? Pembekuan darurat? Tapi saham kita—jangan jual! Tahan! JANGAN JUAL!” Suara Don Emilio melengking panik sebelum ia jatuh terduduk di sofa veranda, memegangi dadanya.

“Andra! Tolong, jangan lakukan ini!” Rafael tiba-tiba maju, mencoba meraih tanganku, namun aku melangkah mundur dengan jijik. “Aku minta maaf! Aku salah! Aku dipengaruhi Bianca, dia yang merencanakan semua ini! Aku mencintaimu, Andra. Pesta pertunangan besok… kita tetap melaksanakannya!”

Di sampingnya, Bianca terperangah. “Rafael! Apa yang kamu katakan?! Kamu bilang kamu memilihku!”

“Diam kamu, jalang!” bentak Rafael kepada Bianca tanpa memedulikan citranya lagi. “Gara-gara permainan bodohmu, keluargaku hancur!”

Melihat pria yang dulu kupuja kini merangkak di lantai berlumuran air hujan, memohon seperti anjing yang kelaparan, tidak membuatku merasa kasihan. Hanya ada rasa hambar.

“Sudah terlambat, Rafael,” kataku sambil menatapnya dari atas. “Malam ini, kamu tidak hanya kehilangan tunanganmu. Kamu kehilangan De Vera Holdings. Besok pagi, tidak akan ada pesta pertunangan. Yang ada hanyalah pengumuman kebangkrutan dan surat panggilan dari kepolisian untukmu dan Bianca.”

Aku berbalik, berjalan menembus kerumunan tamu yang kini menatapku dengan pandangan ngeri. Tidak ada lagi jepretan kamera. Tidak ada lagi tawa ejekan. Keangkuhan para sosialita itu menguap, digantikan ketakutan bahwa satu lirikan mataku bisa menghancurkan bisnis mereka juga.

Asisten pribadi dan beberapa pengawal berbadan tegap yang selama ini bersiaga di luar hotel tiba-tiba muncul di ujung koridor, segera menyelubungiku dengan jubah hangat yang kering.

“Nona Alessandra, mobil Anda sudah siap,” ucap kepala pengawal dengan hormat.

Sebelum melangkah keluar dari Hotel Montelago, aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di bawah siraman lampu mewah ballroom, keluarga De Vera dan Bianca Alonzo tampak seperti tikus yang terjebak di dalam kapal yang karam.

Imperium yang mereka banggakan runtuh dalam satu malam. Dan persis seperti kata Rafael sebelumnya, aku tidak akan membesar-besarkan hal kecil—aku hanya akan membumihanguskan mereka sampai tak tersisa.