DATANG KEKASIH GELAP SUAMIKU MEMAKAI SATU-SATUNYA GAUN DAN KALUNG BERLIAN MILIKKU DI ACARA GALA, LALU MEMPERKENALKAN DIRINYA SEBAGAI “NYONYA CORTEZ”. NAMUN SAAT INVESTOR PALING BERPENGARUH DI BGC DATANG, SATU PERTANYAANNYA SAJA MERUNTUHKAN SEMUA KEBOHONGAN MEREKA.**
Gaun yang dikenakan selingkuhan suamiku adalah gaun yang dibuat khusus hanya untukku.
Kalung berlian di lehernya adalah hadiah pernikahan yang diberikan kepadaku tiga tahun lalu.
Dan sambil bergelayut manja di lengan suamiku, Adrian, wanita itu tersenyum kepada para tamu dan berkata:
*”Perkenalkan, saya Mrs. Cortez.”*
Aku tidak berteriak.
Aku juga tidak menghampiri mereka untuk membuat keributan.
Aku hanya berdiri tenang di sudut ballroom sambil memegang segelas anggur merah, menyaksikan mereka berdua berpura-pura menjadi pasangan yang sah.
Malam itu adalah gala investasi bergengsi yang diadakan di sebuah hotel mewah di kawasan Bonifacio Global City.
Di bawah kilauan lampu kristal raksasa, para pengusaha, artis, investor, dan tokoh terkenal saling berbaur demi satu hal:
Kesempatan mendapatkan kerja sama berikutnya yang bisa mengubah masa depan mereka.
Namun saat Bianca Salazar memasuki ballroom, hampir semua kepala langsung menoleh.
Bukan karena ia terkenal.
Kariernya sebagai aktris masih tergolong baru.
Beberapa peran pendukung.
Beberapa kontrak iklan.
Dan puluhan ribu pengikut di media sosial.
Cantik.
Muda.
Pandai tersenyum kepada orang yang tepat.
Tetapi alasan sebenarnya para tamu tak bisa mengalihkan pandangan adalah apa yang ia kenakan.
Gaun berwarna champagne itu dibuat khusus untukku oleh seorang desainer ternama Filipina.
Aku sendiri yang memilih kain, potongan, dan setiap detail bordirnya.
Hanya ada satu di seluruh dunia.
Sedangkan kalung berlian itu jauh lebih berharga daripada nilai materinya.
Aku menyimpannya selama tiga tahun.
Itu adalah hadiah dari Adrian pada hari pernikahan kami.
Simbol awal kehidupan baru kami sebagai suami istri.
Kini kalung itu tergantung di leher wanita lain.
Dan wanita itu tersenyum seolah semua yang dicurinya memang miliknya sejak awal.
“Kalungmu cantik sekali, Bianca,” puji salah satu penyelenggara acara.
Bianca tersenyum lalu menyentuh liontin berlian itu dengan manja.
“Hadiah dari Adrian,” jawabnya.
“Hadiah anniversary.”
Beberapa orang langsung melirik ke arahku.
Sebagian segera mengalihkan pandangan.
Sebagian lainnya mulai berbisik sambil berpura-pura sibuk dengan gelas mereka.
Mereka tahu siapa diriku.
Aku adalah Elena Villareal-Cortez.
Istri sah Adrian Cortez.
Aku tidak suka tampil di media.
Aku juga tidak suka memamerkan kehidupan pribadi di media sosial.
Selama tiga tahun pernikahan kami, aku memilih tetap berada di belakang layar.
Akulah yang mengatur makan malam bisnis.
Akulah yang meyakinkan para investor yang dulu bahkan tidak mau melirik Adrian.
Akulah yang memperkenalkannya kepada orang-orang berpengaruh yang akhirnya mengubah arah perusahaan miliknya.
Namun semakin besar namanya, semakin cepat pula ia melupakan siapa yang berdiri di sampingnya saat ia belum memiliki apa-apa.
Dari seberang ballroom, Adrian melihatku.
Wajahnya sempat menegang.
Aku bisa melihat kegelisahan singkat di matanya ketika menyadari bahwa aku sedang memperhatikan mereka.
Namun hanya sesaat.
Ia segera memasang senyum tenang.
Mengangkat gelasnya ke arahku seolah aku hanyalah kenalan biasa yang perlu disapa dengan sopan.
Aku tidak membalas.
Aku hanya menatapnya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan kembali kepada Bianca.
Wanita itu juga melihatku.
Ia justru semakin erat memeluk lengan Adrian.
Senyumnya semakin lebar.
Ia tidak perlu mengucapkan apa pun.
Pesan itu sudah terlihat jelas di wajahnya.
**Dia memilihku.**
**Aku yang menjadi Mrs. Cortez sekarang.**
Adrian membisikkan sesuatu kepadanya.
Mungkin menyuruhnya menjauh agar tidak menimbulkan skandal.
Tetapi Bianca malah meninggikan suaranya.
“Pak Lim,” panggilnya kepada seorang produser.
“Kata Adrian, aku akan menjadi pemeran utama proyek film terbaru perusahaan. Mungkin kita perlu segera membahas jadwal syuting.”
Orang-orang di sekitar langsung menoleh.
Nada bicaranya menunjukkan bahwa ia tidak hanya membanggakan pekerjaannya.
Ia sedang menunjukkan bahwa ia bisa mendapatkan apa pun yang diinginkannya karena ia memiliki perhatian suamiku.
Aku menyesap sedikit anggur merah.
Rasanya pahit.
Namun tidak sepahit tiga tahun yang kuhabiskan untuk mendukung seorang pria yang ternyata begitu mudah melupakan masa lalunya setelah meraih kesuksesan.
Seorang sahabat keluarga mendekat kepadaku.
“Elena,” katanya pelan.
“Kau ingin pulang saja?”
Aku menggeleng.
“Belum.”
“Malam ini belum selesai.”
Sebelum ia sempat bertanya lagi, pintu besar ballroom terbuka.
Perlahan seluruh ruangan menjadi sunyi.
Bahkan alunan musik kuartet gesek ikut mengecil.
Masuklah Ramon de Vera.
Pria berusia lebih dari lima puluh tahun itu tidak perlu berbicara keras untuk menarik perhatian.
Ia dikenal sebagai salah satu investor paling berpengaruh di negara itu.
Jika ia berinvestasi dalam sebuah proyek, para pebisnis lain akan ikut masuk.
Jika ia menarik diri, seluruh ruang rapat bisa gemetar.
Ia adalah tuan rumah malam itu.
Dan yang lebih penting lagi…
Perusahaannya akan mengucurkan dana hampir **Rp180 miliar** untuk proyek ekspansi Adrian.
Adrian langsung melepaskan tangan Bianca.
Ia buru-buru menghampiri Ramon dengan senyum penuh hormat.
“Chairman De Vera, terima kasih atas undangannya. Saya sudah lama menantikan kesempatan membahas perjanjian final bersama Anda.”
Namun Ramon sama sekali tidak memandangnya.
Tatapannya tertuju pada Bianca.
Lebih tepatnya…
Pada kalung berlian yang melingkar di leher wanita itu.
Semua suara di ballroom menghilang.
Bahkan Bianca tampak gugup.
Ramon melangkah mendekat.
Rahangnya mengeras saat menatap gaun dan kalung yang dikenakan wanita itu.
Lalu perlahan ia mengalihkan pandangan kepada Adrian.
“Adrian Cortez.”
Suaranya dingin.
“Ya, Chairman?”
Ramon mengangkat tangannya dan menunjuk Bianca.
Nada suaranya tidak keras.

Namun setiap kata terasa seperti palu yang menghantam lantai ballroom.
**”Barang-barang milik putriku…”**
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya semakin tajam.
“Mengapa bisa dipakai oleh wanita lain di acaraku?!”
Suara Ramon de Vera tidak menggelegar, namun gema dari kalimat itu sanggup membekukan seluruh isi ballroom.
Wajah Adrian instan berubah seputih kertas. Senyum angkuh yang sedari tadi terpasang di bibir Bianca Salazar mendadak lenyap, berganti dengan tatapan kosong penuh kepanikan.
“Ch-Chairman De Vera…” lidah Adrian mendadak kelu. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. “Ada… ada kesalahpahaman di sini. Ini Bianca, dia—”
“Aku tidak peduli siapa wanita ini,” potong Ramon, suaranya sedingin es yang retak. “Aku bertanya kepatutanmu, Adrian. Gaun itu dirancang khusus oleh sahabatku untuk ulang tahun putriku yang ke-25. Dan kalung berlian itu…”
Ramon melangkah satu babak lebih dekat, membuat Adrian terpaksa mundur ketakutan.
“…adalah kalung warisan mendiang istriku, yang kuberikan sebagai hadiah pernikahan untuk putri tunggalku, Elena Villareal de Vera.”
Bisik-bisik yang tadinya tertahan kini meledak di seluruh penjuru ruangan seperti bom waktu.
“Elena adalah putri Ramon de Vera?!” “Astaga, jadi selama ini Adrian bisa sukses karena dia menantu keluarga De Vera?” “Bagaimana bisa selingkuhannya berani memakai barang milik anak seorang konglomerat di depan ayahnya sendiri?”
Bianca yang mulai gemetar melirik Adrian, mencari perlindungan. Namun Adrian bahkan tidak berani menatap balik selingkuhannya. Pria itu tahu, dalam hitungan detik, seluruh kerajaan bisnis yang ia bangun di BGC berada di ujung tanduk.
Di sudut ruangan, aku meletakkan gelas anggur merahku di atas meja pelayan. Dengan langkah anggun yang tenang, aku berjalan membelah kerumunan tamu yang dengan sukarela memberiku jalan.
“Papa,” panggilku lembut saat berdiri di samping pria paruh baya itu.
Ramon menatapku, tatapan matanya yang tadi sekeras baja langsung melunak penuh kasih sayang. Ia merangkul pundakku. “Elena. Mengapa kau membiarkan tikus-tikus ini mempermainkan harga dirimu?”
Aku tersenyum tipis, lalu menatap Adrian dan Bianca bergantian. Bianca tampak ingin menangis, tangannya refleks memegang kalung di lehernya, seolah sadar bahwa benda itu adalah tali gantungan yang mengikat lehernya sendiri malam ini.
“Aku hanya ingin melihat, seberapa jauh mereka bisa bermimpi, Pa,” jawabku jernih, cukup keras untuk didengar oleh para investor di sekitar kami.
“Elena… tolong, kita bisa bicarakan ini di rumah,” bisik Adrian memelas, matanya memancarkan keputusasaan yang teramat sangat. “Aku khilaf. Aku… aku dipengaruhi olehnya.”
Mendengar itu, Bianca langsung menoleh kaget, tidak percaya pria yang berjanji akan menjadikannya “Nyonya Cortez” itu melemparkannya ke dalam bus begitu saja demi menyelamatkan diri.
“Rumah? Rumah yang mana, Adrian?” tanyaku dengan nada santai. “Rumah yang sertifikatnya atas nama ibuku? Atau kantor yang modalnya seratus persen dari perusahaan papaku?”
Adrian terbungkam. Seluruh topeng pria sukses, muda, dan mandiri yang selama ini ia pamerkan di kawasan elit ini hancur tak bersisa. Ia hanyalah pria biasa yang beruntung menikahi putri seorang konglomerat, lalu menjadi buta karena sedikit kesuksesan.
Ramon de Vera tidak memberikan kesempatan lagi. Ia menatap asisten pribadinya yang berdiri di dekat pintu.
“Batalkan seluruh komitmen investasi dengan Cortez Group. Tarik semua dana yang sudah masuk, dan pastikan tidak ada satu pun bank di negara ini yang memberikan pinjaman kepadanya mulai besok pagi,” perintah Ramon tanpa emosi. “Dan untuk wanita itu…”
Tatapannya beralih ke Bianca yang sudah menangis terisak.
“…lepaskan kalung dan gaun itu sekarang juga. Sebelum pihak keamananku menyeretmu keluar dengan tuduhan pencurian properti keluarga De Vera.”
“Pak Adrian… tolong aku…” tangis Bianca pecah saat dua petugas keamanan berbadan tegap maju mendekatinya. Namun Adrian hanya berdiri mematung, memandang lantai dengan tubuh gemetar, menyadari bahwa karier, kekayaan, dan status sosialnya di BGC telah lenyap malam ini.
Sebelum petugas membawa mereka keluar lewat pintu belakang demi menjaga kesopanan acara, aku melangkah mendekati Adrian.
“Surat cerai akan dikirim ke kantormu besok pagi, Adrian. Nikmatilah sisa malammu sebagai ‘Tuan Cortez’ yang sesungguhnya—pria yang tidak memiliki apa-apa,” bisikku pelan di telinganya.
Aku berbalik, menggandeng lengan papaku, dan berjalan kembali ke tengah ballroom. Alunan musik kuartet gesek kembali mengalun, menyambut babak baru kehidupanku yang bebas dari pria tak tahu diri.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.