Malam Fiesta, Aku Menelpon Suamiku dan Mendengar Suara Manis Seorang Perempuan: “Kak, Cat Charm-ku Berhasil!”**
### **Bagian 1**
Saat fiesta di kampung ibuku, aku pulang ke Laguna untuk tinggal beberapa hari.
Seperti biasa setiap pesta desa.
Ada bendera-bendera kecil di depan halaman, aroma suman yang baru matang dari dapur belakang, dan para tetangga yang datang berbincang sampai malam.
Suamiku, Rafael—atau Raffy bagi teman-temannya—bilang dia tidak bisa ikut karena sibuk presentasi besar di Makati.
Aku tidak protes.
Sudah tiga tahun kami menikah, dan aku sudah terbiasa bahwa pekerjaannya selalu lebih penting daripada makan malam sederhana bersama keluargaku.
Malam itu, hampir jam sebelas, aku menunggu semua orang tidur sebelum meneleponnya.
Aku hanya ingin bertanya apakah dia sudah makan, apakah obat alerginya sudah diminum, dan mengingatkan agar besok jangan lupa mengambil kotak suman dari Mama.
Begitu panggilan tersambung, bahkan sebelum aku bicara, aku sudah mendengar suara perempuan.
Sangat dekat.
Manja.
Panjang, seperti sengaja didengar.
—Meow… Kak Raffy, cat charm-ku benar-benar berhasil ya?
Aku langsung duduk tegak.
Di seberang, tiba-tiba hening.
Satu detik.
Lalu Rafael tertawa.
Tawanya tenang, seolah bukan istrinya yang mendengar suara itu.
—Kamu belum tidur?
Aku menatap bayanganku di kaca jendela.
—Siapa yang bersamamu?
Dia cepat menjawab.
—Tidak ada. Mungkin kamu salah dengar. Ada anak kucing masuk balkon, dari tadi mengeong terus.
Aku tidak menjawab.
Alergi Rafael terhadap bulu kucing sangat parah.
Bahkan lewat depan cat café saja, matanya langsung merah.
Tapi malam ini, di dalam kondominium kami, ada “kucing” yang bisa berbicara Tagalog.
Bahkan memanggilnya “Kak Raffy”.
Aku tertawa pelan.
—Kalau lucu, peliharalah.
Dia terdiam.
—Lira, jangan berpikir macam-macam.
Aku memutuskan panggilan.
Beberapa detik kemudian, layar ponsel menyala.
Notifikasi dari kamera kondominium.
“Ada gerakan terdeteksi di ruang tamu.”
Aku membuka aplikasi.
Layar sempat membeku dua detik, lalu gambar muncul.
Rafael duduk di sofa.
Di depannya, seorang gadis muda berbaju putih dan rok krem pendek.
Di kepalanya, ada headband telinga kucing yang berkilau.
Aku mengenalnya.
Camille.
Intern baru di tim proyek Rafael.
Dia mendekat ke Rafael sambil tersenyum manis.
—Kak, tadi Ate Lira dengar aku tidak ya?
Rafael menoleh ke kamera.
Wajahnya langsung pucat.
Dia berdiri cepat.
Video bergetar.
Lalu layar menjadi gelap.
Notifikasi muncul.
“Perangkat dimatikan oleh administrator.”
Aku menatap kalimat itu lama.
Dingin.
Seolah bukan hanya kamera yang dimatikan.
Tapi juga sesuatu dalam diriku.
Mama mengetuk pintu pelan.
—Lira, mau makan suman tidak?
Aku menjawab.
—Nanti saja, Ma.
Di meja, masih ada kantong kecil yang Mama siapkan untuk Rafael.
Ada salib kecil, minyak angin, dan beberapa suman.
Mama bilang, kalau suami lembur, harus ada sedikit “rumah” agar hatinya tidak lelah.
Aku menyimpan kantong itu di laci paling dalam.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Rafael.
“Itu cuma gangguan sinyal kamera.”
“Camille hanya antar file. Dia pulang larut, jadi aku tidak tega membiarkannya sendiri.”
Aku menatap pesan itu.
Kantornya di Makati.
Kondominium kami di Pasig.
Tempat tinggal Camille di Quezon City.
“Cuma antar” itu seperti seluruh Metro Manila.
Lalu pesan lain masuk.
“Besok aku jemput kamu di Laguna.”
“Jangan dibesar-besarkan.”
Aku tidak membalas.
Satu menit kemudian, nomor tak dikenal mengirim foto.
Camille duduk di meja makan kami.
Di depannya, ada suman buatan Mama.
Di sampingnya, mug biru milikku bertuliskan “Lira”.
Pesan:
“Kak, kata Kak Raffy kamu tidak suka kue tradisional. Mug ini juga tidak dipakai kan?”
Aku menatap mug itu.
Lalu menyimpan video kamera dengan nama:
“Malam Fiesta”.
—
### **Keesokan harinya**
Mama menaruh bubur panas di depanku.
—Jam berapa Rafael datang?
Aku menjawab pelan.
—Katanya ada urusan dulu.
08.40, Rafael mengirim lokasi.
Dia sudah di depan rumah Mama.
Dua kata:
“Turun.”
Di luar gerbang, dia bersandar di mobil, tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.
—Kamu tidak tidur?
Aku menghindari tangannya.
—Tidak apa-apa.
Dia menjelaskan Camille hanya “kesalahpahaman”.
Aku bertanya satu per satu.
Dia mulai terdiam.
Di mobil, ada bau parfum asing.
Di kursi, ada tote bag putih dengan gantungan telinga kucing.
Dia bilang itu milik Camille.
Aku hanya berkata:
—Aku mengumpulkan sampah.
—
Telepon Rafael berdering.
Camille.
—Kak Raffy, access card dan USB-ku ada di mobil?
Suara Camille lembut:
—Ate Lira ikut juga ya? Maaf soal mug kemarin…
Aku terdiam.
Dalam cincin kawinku ada tulisan kecil:
“Untukmu saja.”
Sekarang semuanya bisa dipakai orang lain.
—
### **Di kantor**
Receptionist menyapaku:
—Selamat pagi, Bu Lira.
Camille keluar dari ruang meeting membawa tumbler milikku.
Di meja konferensi, nama Camille sudah ada di kursi utama.
Namaku diselipkan di bawah dokumen.
Di presentasi, hanya tertulis:
Rafael Reyes
Camille Santos
Tidak ada namaku.
Di halaman akhir:
“Special thanks to Camille…”
Padahal ide itu milikku.
Semua yang mereka pakai adalah hasil kerjaku.
—
Rafael masuk.
—Kenapa tanganmu dingin?
Dia menyentuhku.
Aku menarik tangan.
—Aku tahu kamu marah…
Dia mengeluarkan bros berbentuk kucing.

—Ini untukmu.
Aku tersenyum.
—Ganti saja, ya?
Dia diam.
Camille berkata dari luar:
—Client mencari Kak Rafael.
Rafael pergi.
Aku membuka laptop.
Mengunduh semua versi proyek.
Versi pertama: aku.
Versi akhir: Camille.
Semua log tersimpan.
—
Di ruang meeting, terdengar tepuk tangan.
Client bertanya:
—Kenapa demo awal ditulis atas nama “Lira”?
Aku menatap layar.
Dan di saat itu…
Dan di saat itu, suasana ruang rapat mendadak hening.
Rafael sempat melirik ke arahku dengan raut wajah yang menegang, namun ia dengan cepat menguasai keadaan. Ia berdeham, lalu tersenyum profesional kepada perwakilan klien.
— “Ah, itu nama draf internal kami, Pak. Lira adalah tim riset awal. Tapi seluruh eksekusi, pengembangan sistem, hingga visualisasi akhir diselesaikan sepenuhnya oleh Camille.”
Camille yang duduk di sampingnya langsung mengangguk sopan, memberikan senyuman termanisnya.
— “Benar, Pak. Kami melakukan banyak perombakan karena draf awal dirasa kurang dinamis untuk pasar anak muda sekarang,” tambah Camille dengan nada percaya diri, seolah-olah ia benar-benar begadang semalaman untuk memikirkan konsep itu.
Aku berdiri di dekat pintu, melipat tangan di dada. Aku tidak menyela. Aku hanya memperhatikan bagaimana suamiku, pria yang tiga tahun lalu berjanji di depan altar untuk menjagaku, kini dengan begitu mudah menyerahkan hasil keringatku kepada perempuan lain demi menjaga ego dan “kucing peliharaannya”.
Klien itu mengangguk-angguk, tampak puas. — “Baiklah, kalau begitu kita bisa langsung tanda tangan kontrak kerja sama senilai 5 juta peso ini sekarang.”
Rafael tersenyum lebar. Ia membuka map dokumen di meja. Namun, tepat saat ia menyerahkan pulpen kepada klien, layar proyektor besar di belakang mereka tiba-tiba berkedip.
BZZZT.
Presentasi PowerPoint yang menampilkan nama Rafael dan Camille mendadak hilang. Layar berganti menjadi hitam, lalu menampilkan sebuah pemutar video dengan judul file: “Malam Fiesta”.
Semua Kartu Terbuka
Semua orang di ruangan itu menoleh ke arah layar.
Video mulai berputar. Itu adalah rekaman kamera keamanan (CCTV) ruang tamu kondominium kami dua malam yang lalu. Kualitasnya sangat jernih.
Di dalam video, Rafael sedang duduk di sofa, sementara Camille—masih mengenakan headband telinga kucing—sedang bergelayut manja di lengannya. Suara di video itu menggema keras melalui speaker ruang rapat:
“Kak Raffy, cat charm-ku benar-benar berhasil ya? Ate Lira dengar aku tidak ya?”
Lalu video terpotong, beralih menampilkan log aktivitas digital dari laptop kantor milik Rafael. Di sana tertera dengan sangat jelas riwayat penghapusan nama “Lira Reyes” dari hak cipta proyek, yang digantikan dengan nama “Camille Santos” tepat pada pukul 02.00 dini hari. Semuanya tercatat berdasarkan alamat IP dan akun administrator milik Rafael.
Suasana ruang rapat langsung berubah sekaku es.
Senyum di wajah klien langsung lenyap. Mereka menatap Rafael dan Camille dengan pandangan jijik. Di dunia korporat Makati, pelanggaran hak cipta dan skandal etika adalah hal yang paling dihindari.
— “Apa-apaan ini, Señor Reyes?” tanya perwakilan klien dengan suara berat sambil meletakkan pulpennya kembali ke meja. “Anda mencoba menjual proyek yang kepemilikan intelektualnya sedang dalam sengketa domestik?”
Wajah Rafael memucat, seketika berubah menjadi abu-abu. Ia menoleh ke arahku dengan mata membelalak penuh kemarahan dan ketakutan.
— “Lira! Apa yang kamu lakukan?! Matikan itu sekarang!” bentaknya, kehilangan kendali di depan klien pentingnya.
Camille sendiri sudah mulai terisak, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di balik tote bag putih bertelinga kucing miliknya.
Penutupan Akun
Aku berjalan perlahan mendekati meja konferensi. Langkah kakiku terdengar tegas di atas lantai marmer. Aku menaruh sebuah amplop cokelat besar tepat di atas dokumen kontrak yang gagal ditandatangani itu.
— “Itu adalah dokumen orisinal proyek, lengkap dengan sertifikat hak paten atas namaku yang sudah terdaftar sejak enam bulan lalu,” kataku dengan suara tenang, tanpa emosi, menatap langsung ke arah klien. “Jika Anda tertarik dengan proyek ini, Anda bisa berbisnis langsung dengan agensiku. Tanpa Rafael, dan tentu saja, tanpa intern-nya.”
Klien itu mengambil amplop tersebut, memeriksanya sebentar, lalu berdiri. — “Kami akan menghubungi pengacaramu, Doktora Lira. Terima kasih atas kejujuran Anda.”
Mereka berjalan keluar dari ruang rapat, meninggalkan kami bertiga dalam keheningan yang mencekik.
Begitu pintu tertutup, Rafael memukul meja dengan keras. — “Kamu gila, Lira! Kamu menghancurkan karierku! Kamu menghancurkan pernikahan kita hanya karena cemburu pada hal sepele?!”
Aku menatapnya, lalu melepaskan cincin kawin emas di jari manisku. Aku menjatuhkannya tepat ke dalam tumbler milikku yang sejak tadi dipegang oleh Camille. Bunyi dentingan logamnya terdengar begitu final.
— “Aku tidak menghancurkan apa pun, Raffy. Kamu sendiri yang membawa ‘kucing’ ke dalam rumah, dan kamu sendiri yang mematikan kameranya,” kataku datar. “Pernikahan kita sudah selesai malam itu. Di malam fiesta, saat kamu membiarkan perempuan lain memakan suman buatan ibuku dan meminum dari gelasku.”
Aku membalikkan badan, mengambil tas kerjaku, dan berjalan menuju pintu keluar. Aku sempat berhenti di samping Camille yang masih gemetar.
— “Oh ya, Camille,” kataku sambil tersenyum tipis. “Mug biru di kondominium itu sekarang milikmu. Begitu juga dengan pria itu. Ambil saja semuanya, karena aku tidak pernah suka menyimpan sampah di rumahku.”
Aku melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rafael yang berteriak memanggil namaku dan Camille yang menangis histeris. Di luar gedung kantor Makati, langit tampak cerah. Angin berembus segar, menghapus sisa-sisa bau parfum asing yang sempat menyesakkan dadaku.
Aku mengeluarkan ponsel, memesan tiket bus untuk kembali ke Laguna. Malam ini, aku akan pulang ke rumah Mama, memakan suman yang hangat, dan memulai kembali hidupku sendiri—tanpa ada gangguan dari “kucing” mana pun.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.