Posted in

Pada Malam Fiesta, Aku Menangkap Suamiku Keluar dari Hotel di Makati Bersama Perempuan Lain

**Pada Malam Fiesta, Aku Menangkap Suamiku Keluar dari Hotel di Makati Bersama Perempuan Lain**

### **Bagian 1**

Aku menangkap Rafael bersama perempuan lain pada suatu sore hujan di Makati.

Baru saja aku selesai rapat dengan klien dekat Ayala Avenue. Hujan turun deras tiba-tiba, jalanan macet, klakson kendaraan bersahut-sahutan di EDSA, sementara aroma barbeque dari pedagang kaki lima bercampur di udara.

Aku berdiri di bawah atap minimarket, menunggu kendaraan online menuju Quezon City, ketika melihat suamiku keluar dari sebuah hotel di seberang jalan.

Ia mengenakan kemeja biru muda yang pagi itu aku sendiri yang menyetrikanya.

Di tangannya ada tas seorang perempuan.

Perempuan itu memakai gaun sutra berwarna krem. Rambutnya sedikit bergelombang, dengan gelang emas tipis di pergelangan tangan. Ia tertawa sambil merapikan kerah Rafael, seperti itu hal yang sudah sangat biasa ia lakukan.

Rafael menunduk menatapnya.

Tatapan yang sudah lama tidak kulihat.

Bukan tatapan pria lelah karena pekerjaan, tagihan, dan kemacetan.

Bukan tatapan ayah yang pulang dan masih harus memeriksa tugas anak.

Itu tatapan pria yang sedang jatuh cinta.

Aku membeku di tengah hujan.

Ponselku bergetar terus. Guru daycare anak bungsuku bertanya siapa yang akan menjemput Mika.

Aku menatap Rafael di seberang jalan.

Lalu menatap layar ponselku.

Ada rasa pahit yang naik ke tenggorokan.

Malam itu aku tidak berteriak.

Aku tidak mengejar.

Aku pulang, memasak sup untuk anak-anak, membantu PR Nico, memandikan Mika, membacakan cerita sampai mereka tidur.

Setelah rumah sunyi, aku masuk kamar mandi, duduk di lantai dingin, dan menangis.

Hanya satu malam.

Aku menangisi 16 tahun pernikahan.

Aku menangisi diriku yang percaya bahwa kesetiaan akan cukup untuk menjaga rumah.

Keesokan harinya, aku bangun, berdandan rapi, dan mencetak semua dokumen: aset rumah, rekening bank, kontrak rumah di Quezon City, hingga bukti pengeluaran anak-anak.

Lalu aku mengirim pesan pada Rafael:

— Kita bertemu siang ini. Kita bicarakan perpisahan secara hukum.

Dia langsung menelepon.

Aku tidak menjawab.

Jam 11.30 kami bertemu di sebuah kafe dekat kantornya di Makati.

Rafael sudah datang lebih dulu. Matanya merah, wajahnya kusut, seperti tidak tidur semalaman.

Dia berkata pelan:

— Liza, maaf.

Aku tidak menjawab.

Dia menggenggam tangannya di meja.

— Aku tahu aku salah. Tapi itu hanya kesalahan. Jangan tinggalkan aku.

Aku tertawa kecil.

“Kesalahan.”

Seolah semuanya bisa dihapus begitu saja.

Aku mengeluarkan amplop cokelat.

— Aku ingin bercerai. Dan setelah itu, aku akan mengajukan pembatalan pernikahan.

Wajahnya langsung pucat.

— Jangan ambil keputusan saat marah. Kita sudah 16 tahun, Liza.

Aku menatapnya.

— Kamu yang merusaknya.

Aku membuka amplop, mengeluarkan foto-foto.

Rafael bersama perempuan itu di depan hotel. Ada yang memegang lengannya. Ada yang mencium keningnya.

Tangannya gemetar.

— Liza, dengarkan aku…

— Aku sudah cukup mendengar.

Aku berbicara tenang.

— Selama 16 tahun, aku yang mengurus rumah, anak, keuangan, semua. Tapi kamu memilih menghancurkan itu untuk perempuan lain.

Aku melepas cincin kawin dari jari.

— Aku tidak mau hidup bersama suami yang baru saja keluar dari pelukan wanita lain.

Rafael panik.

— Aku bisa ganti semuanya. Aku bisa menyerahkan aset, uang, apa pun.

Aku menatapnya dingin.

— Bisa kamu kembalikan waktu?

Dia terdiam.

Dia mencoba menahan.

— Bagaimana dengan anak-anak?

Saat itu tubuhku terasa dingin.

Aku menatapnya lama.

— Saat kamu memeluk dia di hotel, kamu ingat Nico?

Dia diam.

— Saat kamu berbohong lembur, sementara aku membawa Mika ke UGD karena demam tinggi, kamu ingat anakmu?

Wajahnya berubah.

Aku mendorong dokumen lain ke meja.

— Kamu memindahkan ₱95,000 dari rekening bersama ke rekening asing. Katanya untuk mobil. Tapi mobil itu tidak pernah diperbaiki.

Dia tidak menjawab.

Aku tersenyum tipis.

— Itu uang untuk dia, kan?

Sunyi.

Aku mengeluarkan perjanjian hukum.

— Rumah kita akan dibagi untuk anak-anak. Tabungan untuk biaya mereka aku pegang. Kamu dapat mobil dan gajimu.

Dia terkejut.

— Kamu mau ambil semuanya?

— Aku hanya mengambil yang kamu salah gunakan.

Dia ragu.

— Kalau aku tidak tanda tangan?

Aku mengeluarkan ponsel.

— Kita akan bertemu di pengadilan keluarga. Dan aku akan kirim semua bukti ke HR kantormu.

Rafael langsung tegang.

Posisinya sebagai kepala departemen tidak akan selamat dari skandal seperti ini.

Saat itu smartwatch-nya menyala.

Pesan masuk.

“Sayang, sudah tanda tangan? Aku tunggu di condo baru kita.”

Rafael membeku.

Aku membaca pesan itu.

Lalu menatapnya.

— Jadi ini yang kamu sebut “kesempatan kedua”?

— Jadi ini yang kamu sebut “kesempatan kedua”?

Rafael buru-buru membalikkan tangannya, mencoba menyembunyikan layar smartwatch yang masih menyala redup itu di bawah meja. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kebohongannya runtuh berantakan, menyisakan kepanikan murni di wajahnya.

— “Liza, itu… itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa jelaskan,” suaranya bergetar hebat, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. “Aku hanya… aku terikat kontrak sewa, aku belum bisa memutuskannya begitu saja—”

Aku mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar dia diam. Aku tidak ingin mendengar satu patah kata pun lagi. Rasa perih yang semalam mencabik-cabik dadaku di lantai kamar mandi kini telah mengkristal menjadi tekad yang dingin dan tak tergoyahkan.

Aku menarik pulpen hitam dari dalam tas, lalu meletakkannya tepat di atas dokumen perjanjian pembagian aset dan hak asuh anak.

— “Tanda tangan sekarang, Rafael,” kataku, suaraku begitu tenang hingga membuat atmosfer di sudut kafe itu terasa mencekam. “Atau draf email berisi seluruh foto dan bukti transfer bank ini akan terkirim ke Direktur Utama dan HR kantormu dalam tiga puluh detik.”

Aku mengarahkan layar ponselku ke depan wajahnya. Jariku sudah berada tepat di atas tombol send.

Rafael menatapku dengan tatapan tak percaya. Pria yang selama 16 tahun ini mengenalku sebagai istri yang penyabar, penurut, dan selalu mengalah, kini harus berhadapan dengan wanita asing yang siap menghancurkan seluruh hidupnya jika ia berani melangkah satu senti pun di luar garis.

Matanya beralih ke dokumen, lalu ke ponselku. Ia tahu posisinya sebagai kepala departemen di perusahaan multinasional di Makati adalah satu-satunya harga diri yang tersisa. Jika skandal ini pecah, reputasinya tamat.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meraih pulpen itu.

Setiap goresan tintanya di atas kertas perjanjian terasa seperti detak jam yang menghitung mundur akhir dari 16 tahun pernikahan kami. Satu tanda tangan untuk hak asuh penuh Nico dan Mika. Satu tanda tangan untuk kepemilikan rumah di Quezon City. Dan satu tanda tangan terakhir untuk melepaskan segala haknya atas tabungan masa depan anak-anak kami.

Begitu lembar terakhir selesai ditandatangani, ia menjatuhkan pulpen itu ke meja. Ia tampak seperti pria yang baru saja kehilangan jiwanya.

— “Kamu puas sekarang, Liza?” bisiknya parau, menatapku dengan mata merah. “Kamu mengambil semua yang kupunya. Kamu membiarkan aku pergi tanpa apa-apa.”

Aku merapikan kembali lembar demi lembar dokumen tersebut, memasukkannya ke dalam amplop cokelat dengan rapi. Aku berdiri, menyampirkan tas di bahu, lalu menatapnya untuk terakhir kali.

— “Aku tidak mengambil apa pun yang bukan hak anak-anakku, Rafael. Dan kamu tidak pergi tanpa apa-apa,” kataku datar. “Kamu pergi membawa mobilmu, gajimu, dan wanita yang menunggumu di kondominium baru itu. Nikmatilah hidup barumu dengan sisa uang sembilan puluh lima ribu peso yang kamu curi dari tabungan anakmu sendiri.”

Aku berbalik dan melangkah keluar dari kafe.

Begitu pintu kaca terbuka, udara siang kota Makati yang hangat langsung menyambutku. Hujan deras yang mengguyur sejak pagi kini telah sepenuhnya reda, menyisakan genangan air di aspal yang memantulkan cahaya matahari.

Ponselku kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan dari Nico: “Ibu, aku sudah selesai mengerjakan PR. Kapan Ibu pulang?”

Aku tersenyum tipis, air mata yang sempat menggenang di sudut mataku menguap begitu saja. Aku mempercepat langkah menuju stasiun terdekat. Perjalanan 16 tahun ini memang telah hancur, namun hidupku—dan masa depan anak-anakku—baru saja dimulai kembali.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.