**Aku Baru Keguguran, Tapi Suamiku Tetap Melanjutkan “Summer Business Trip”-nya. Aku Mengikutinya ke Cebu, dan di Sana Aku Melihat Seorang Anak Laki-laki Berlari Memanggilnya: “Papa!”**
### **Bagian 1**
Setiap musim panas, tepat bulan April, Adrian Villanueva meninggalkan Quezon City selama satu bulan penuh.
Alasannya selalu sama.
Katanya ada inspeksi perusahaan real estate tempatnya bekerja di proyek resor di Cebu. Sebagai project manager, dia harus ada di sana. Tidak bisa digantikan. Jadwal tidak bisa diubah.
Selama enam tahun, aku mempercayainya.
Aku mempercayainya sampai aku sendiri yang melipat kemeja, pakaian kerja, dan dokumen perjalanannya setiap musim panas.
Aku mempercayainya sampai bahkan ibu mertuaku mengingatkanku:
—Mariel, kalau laki-laki bertanggung jawab pada pekerjaannya, istri harus mengerti. Hanya sebulan saja. Jangan seperti ditinggalkan selamanya.
Teman dekatnya, Paolo, juga berkata:
—Kalau Adrian tidak pergi, proyek di Cebu akan tertunda. Dia yang menangani inspeksi utama. Jangan membuatnya sulit, kak.
Bahkan rekan kerjanya, Trisha, mengirimkan foto surat perjalanan resmi dari perusahaan.
Semua terlihat benar.
Tiket pesawat.
Jadwal meeting.
Booking hotel.
Foto lokasi proyek.
Video call malam hari yang selalu tergesa-gesa, sekitar pukul sebelas malam, dengan suara angin laut di belakangnya.
Aku tidak curiga.

Sampai musim panas itu.
Aku baru saja keguguran.
Kehamilanku baru sekitar tiga bulan. Aku bahkan belum sempat membeli pakaian bayi pertama. Belum sempat memberi tahu keluarga besar. Belum sempat mendengar detak jantungnya di USG kedua.
Hanya karena satu langkah tergelincir di tangga, semuanya hilang.
Aku terbaring di rumah sakit di Quezon City, tangan dingin, tubuh lemah, sementara Adrian berdiri di sampingku dengan wajah pucat.
Dia menggenggam tanganku erat.
—Mariel, kita masih muda. Kita bisa punya anak lagi.
Aku menatapnya sambil menahan air mata.
Aku tidak butuh kata “lagi”.
Yang aku butuhkan saat itu hanyalah dia tetap di sisiku.
Tapi seminggu kemudian, dia mulai berkemas.
Aku duduk di tempat tidur, masih sakit, melihatnya melipat pakaian.
—Kamu tetap pergi?
Dia berhenti sebentar.
Tidak menatapku.
—Tiket sudah dipesan sejak bulan lalu. Travel order juga sudah disetujui. Aku tidak bisa mengganggu tim hanya karena aku.
Aku tertawa dingin.
—Adrian, aku baru saja keguguran anak kita.
Dia terdiam lama.
Lalu memelukku.
—Hanya sebulan. Aku akan telepon kamu setiap hari. Istirahatlah. Mama akan datang membawakan bubur.
Aku tidak butuh ibunya.
Aku butuh suamiku.
Tapi aku tidak mengatakan itu.
—
Malam sebelum keberangkatannya, aku terbangun karena suara ponselnya.
Dia berdiri di balkon, berbicara pelan.
Cukup jelas untuk kudengar beberapa kata.
—Iya Nak, Papa besok datang…
—Jangan tidur terlalu larut…
—Bilang ke Mommy jangan keluar terlalu pagi…
Aku membeku.
“Nak.”
“Papa.”
“Mommy.”
Lalu satu nama terdengar jelas.
—Nico, bersikap baik ya. Papa akan bawa oleh-oleh.
Nico.
Nama yang dulu ingin kuberikan pada anak kami.
Dulu, di sebuah kafe kecil di Katipunan, kami menulis nama itu di tisu:
Kalau laki-laki: Nico.
Kalau perempuan: Amara.
Adrian menambahkan:
“Nico Gabriel Villanueva.”
Dia tersenyum:
—Kedengarannya kuat. Seperti anak yang berlari di bawah matahari.
Sejak itu, Nico menjadi nama yang hidup di dalam pikiranku.
Tapi anak itu sudah hilang.
Dan sekarang, ada Nico lain di telepon suamiku.
—
Keesokan harinya, aku mengantar Adrian ke NAIA seperti biasa.
Dia mencium dahiku.
—Jangan pikirkan yang aneh-aneh. Aku akan langsung telepon begitu sampai.
Aku mengangguk.
Tapi setelah dia melewati gate, aku langsung membeli tiket.
Ke Cebu.
Satu jam setelah penerbangannya.
—
Sore hari aku tiba di Mactan-Cebu International Airport.
Aku berdiri di area kedatangan.
Lalu aku melihatnya.
Seorang perempuan berbaju kuning muda, bersama seorang anak laki-laki sekitar lima tahun.
Anak itu memegang mainan dinosaurus.
Lalu matanya tertuju pada tas di tanganku.
Ada gantungan silver jeepney.
Hadiah Adrian.
Simbol “jalan pulang”.
Anak itu menyentuhnya.
—Nico, jangan.
Perempuan itu menariknya.
—Itu punya tante.
Namaku terasa berat di dada.
Nico.
Lalu anak itu berkata:
—Tapi Papa bilang itu milik keluarga kita.
Perempuan itu langsung pucat.
—Jangan bicara seperti itu.
Aku tidak bisa bergerak.
—
Sepuluh menit kemudian, Adrian muncul.
Dia mengenakan polo biru muda yang aku setrika sendiri.
Dia memakai jam tangan hadiah ulang tahunku.
Begitu keluar, anak itu berlari.
—Papa!
Adrian mengangkatnya.
Tertawa.
Tawa yang sudah lama tidak kulihat.
Perempuan itu mendekat, merapikan kerahnya.
—Kamu lebih terlambat hari ini.
Adrian tidak menolak.
Dia bahkan mencium rambutnya.
Anak itu tertawa:
—Papa, belum peluk Mommy!
Aku membeku.
Lalu Adrian menatapku.
Untuk pertama kalinya dia melihatku di sana.
Wajahnya langsung pucat.
Wajahnya yang tadinya cerah penuh tawa langsung berubah pias, seputih kertas. Tangannya yang sedang menggendong Nico perlahan mengendur, menurunkan anak lelaki itu ke lantai bandara yang dingin.
Perempuan berbaju kuning itu menyadari perubahan drastis pada sikap Adrian. Dia menoleh, mengikuti arah pandang Adrian, dan tatapannya jatuh tepat pada wajahku.
Suasana di sekitar area kedatangan yang bising mendadak senyap di telingaku. Hanya ada suara detak jantungku yang berpacu, berbaur dengan rasa perih di perutku—sisa dari operasi keguguran seminggu lalu yang belum sepenuhnya pulih.
— “M-Mariel…” suara Adrian tercekat di tenggorokan. Dia melangkah satu kali ke arahku, tapi kakinya langsung tertahan.
Perempuan di sampingnya mengerutkan kening, menatap Adrian lalu beralih menatapku dengan tatapan curiga yang mulai berubah menjadi kepanikan. — “Ian? Siapa dia?”
Ian. Nama panggilan yang berbeda. Di Quezon City, dia adalah Adrian, suami penyabar yang sibuk bekerja. Di Cebu, dia adalah Ian, seorang “Papa” dan “Suami” dari wanita lain.
Aku melangkah maju. Setiap jengkel langkah terasa amat berat, seolah rahimku yang baru saja kosong ditarik ke bawah. Aku berhenti tepat tiga langkah di depan mereka. Mataku beralih dari Adrian, ke perempuan itu, lalu turun ke arah anak laki-laki bernama Nico.
Anak itu memiliki mata yang persis seperti Adrian. Mata yang sama dengan mata pria yang semalam berbisik di rumah sakit bahwa kami bisa “mencoba lagi nanti”.
Topeng yang Hancur
— “Jadi ini proyek real estate yang tidak bisa ditinggalkan itu, Adrian?” kataku, suaraku terdengar sangat tenang, bahkan membuat diriku sendiri ngeri. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan histeris. Hanya ada kehampaan yang teramat dingin.
— “Mariel, dengarkan aku dulu… ini tidak seperti yang kamu lihat,” Adrian mencoba meraih tanganku, namun aku langsung mundur selangkah, menghindari sentuhannya seolah dia adalah wabah penyakit.
Perempuan berbaju kuning itu tampaknya mulai memahami situasi. Wajahnya ikut memucat. Dia menarik Nico kecil ke belakang tubuhnya. — “Kamu… kamu istri pertamanya? Istri yang di Manila?”
Aku menatap perempuan itu. Di matanya, aku tidak melihat kilat kelicikan seorang pelakor. Aku melihat ketakutan murni. Ketakutan seorang ibu yang baru sadar bahwa istana pasir yang dibangunnya selama lima tahun ini ternyata berdiri di atas penderitaan wanita lain.
— “Dia bilang dia sudah bercerai denganmu sebelum pindah tugas ke Cebu lima tahun lalu!” suara perempuan itu bergetar, air mata mulai menggenang di pelupis matanya. “Dia bilang dia hanya mengirim nafkah untuk anak dari pernikahan pertamanya di Manila!”
Aku tertawa. Sebuah tawa pendek yang terasa amat getir di tenggorokan.
— “Anak?” aku menatap Adrian yang kini menunduk, tidak berani menatap mataku sama sekali. “Kami tidak punya anak. Anak kami baru saja meninggal di rahimku seminggu yang lalu, sementara ‘Papa’ yang hebat ini sibuk mengemas kopernya untuk menemui anaknya yang lain di sini.”
Bukan Jalan Pulang
Aku melepas gantungan kunci silver jeepney dari tas tanganku—simbol “jalan pulang” yang selalu kubanggakan kepada teman-temanku sebagai bukti kesetiaan Adrian. Aku menjatuhkannya begitu saja ke atas lantai marmer bandara. Bunyi dentang logamnya terdengar seperti sebuah titik akhir.
Aku melepas cincin kawin dari jari manisku yang kini terasa sedikit longgar karena berat badanku yang turun drastis setelah dari rumah sakit. Aku meraih tangan Nico kecil dengan lembut, meletakkan cincin emas itu di atas mainan dinosaurus yang dipegangnya.
— “Nico,” kataku pelan, menyejajarkan pandanganku dengan anak kecil yang tidak berdosa itu. “Ambil ini. Bilang pada Papamu, dia tidak perlu pulang lagi ke Manila. Rumahnya sudah runtuh.”
Aku bangkit berdiri, menatap Adrian untuk terakhir kalinya. Pria itu tampak begitu kerdil di bawah sorot lampu bandara. Semua kebohongannya, dukungan dari ibunya, dari Paolo, dari Trisha—semuanya kini masuk akal. Mereka semua bersekongkol untuk menjaga “musim panas” Adrian di Cebu tetap hangat, sementara aku sendirian membeku di Manila.
— “Jangan pernah meneleponku lagi. Pengacaraku akan mengirimkan surat pembatalan pernikahan dan gugatan pidana atas perzinaan ke kantor pusatmu besok pagi,” kataku tegas.
Aku berbalik, berjalan memunggungi mereka menuju pintu keluar bandara. Adrian sempat berteriak memanggil namaku, namun langkah kaki perempuan itu dan tangisan Nico kecil yang ketakutan tampaknya menahannya untuk tidak mengejarku.
Udara luar bandara Mactan yang panas langsung menyergapku. Aku menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, dadaku tidak lagi terasa sesak oleh kecurigaan yang kupendam sendiri.
Anakku Nico memang sudah tiada, dan belahan jiwaku yang kukira setia ternyata hanyalah sebuah fatamorgana musim panas. Namun saat aku melangkah masuk ke dalam taksi, aku tahu satu hal: aku pergi bukan sebagai wanita yang kalah, melainkan sebagai wanita yang akhirnya terbebas dari penjara kebohongan.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.