Saya mengira stroller yang dikirim ke rumah itu hanya salah alamat. Sampai kurir itu memanggil saya “Mrs. Mercado yang pertama” dan menyerahkan struk apartemen di BGC. Di situlah saya sadar—ternyata suami saya bukan hanya punya selingkuhan. Dia membangun keluarga lain dengan uang saya.
—
## Bagian 1
Saat bel pintu berbunyi, saya sedang di dapur, memanaskan adobo.
Paolo suka adobo yang agak asin, dagingnya empuk tapi masih sedikit kenyal.
Dulu saya tidak suka masakan seperti itu.
Tapi kalau kamu terlalu lama mencintai seseorang, bahkan selera makanmu pun berubah tanpa kamu sadari.
Begitu pintu saya buka, seorang kurir berdiri di sana. Seragamnya biru, di sampingnya ada sebuah kotak besar.
Di kotak itu tertera gambar stroller bayi berwarna abu-abu.
Saya mengernyit.
“Ini salah alamat.”
Dia melihat layar ponselnya lagi, lalu membaca dengan jelas:
“Condo 27B, Salcedo Village, Makati. Penerima: Mrs. Mercado.”
Saya terdiam.
Saya memang Mrs. Mercado.
Tapi saya tidak pernah memesan stroller bayi.
Dan saya tidak sedang hamil.
Dia menyerahkan ponselnya untuk tanda tangan, lalu tersenyum polos.
“Ma’am, ada catatan kalau ‘Mrs. Mercado pertama’ tidak ada, barang ditinggal saja di satpam.”
Mrs. Mercado pertama.
Seperti ada tangan dingin yang mencengkeram dada saya.
Saya menatapnya.
“Siapa yang menulis itu?”
Kurir itu langsung panik.
“Ah, ma’am… itu catatan dari pemesan.”
Saya tidak menandatangani.
Saya menyuruh dia meninggalkan kotak itu di depan pintu, lalu saya memfoto kode pesanan, nama toko, dan nomor pengirim.
Tiga menit kemudian, ponsel saya bergetar.
Pesan dari bank BDO.
Kartu tambahan berakhir 7712 telah membayar Rp55.920.000 di Little Nest Baby Boutique, BGC.
Saya menatap layar itu.
Kartu tambahan itu milik Paolo.
Dia bilang kartu itu hanya untuk bensin, meeting klien, atau tiket pesawat saat perjalanan bisnis.
Ternyata “meeting klien” itu adalah membeli perlengkapan bayi.
Saya membuka email bank.
Dalam tiga bulan terakhir, selain Little Nest, ada transaksi ke klinik OB di Taguig, toko perhiasan di Makati, resort di Batangas, dan deposit Rp270.000.000 untuk studio unit di BGC.
Kontak sekunder: Kiara Domingo.
Saya tidak menangis.
Saya juga tidak berteriak.
Saya hanya mematikan kompor.
Adobo masih mendidih.
Aroma kecap, cuka, dan daun salam memenuhi udara.
Tiba-tiba saya merasa mual dengan dapur saya sendiri.
Saat itu, sahabat saya Mariel menelepon video call.
Begitu saya angkat, dia langsung berbisik:
“Maya, kamu di rumah?”
“Ada apa?”
Beberapa detik dia diam, lalu mengirim foto.
Di foto itu, Paolo berdiri di baby boutique di BGC.
Lengannya merangkul seorang perempuan muda berbaju putih.
Perempuan itu memegang sepatu bayi kecil.
Paolo menunduk, menatapnya dengan sangat lembut.
Dulu saya pikir hanya saya yang bisa dia lihat seperti itu.
Suara Mariel pelan.
“Aku lihat mereka di BGC. Aku dengar dia dipanggil ‘daddy’.”
Saya menatap foto itu lama.
Di pergelangan tangan Paolo, masih ada jam tangan yang saya belikan dari hasil menjual cincin emas warisan Mama saya.
Dia menangis waktu menerimanya.
Dia memeluk saya dan berkata:
“Maya, aku tidak akan membiarkan kamu tertinggal.”
“Ternyata ‘selamanya’ itu hanya sampai dia menemukan yang lebih muda.”
Saya menutup telepon.
Saya mengambil trash bag besar.
Adobo.
Sinigang.
Mangga matang yang sudah dipotong.
Semua saya buang.
Lalu saya masuk kamar.
Saya ambil paspor, akta nikah, kontrak condo, buku tabungan lama, dan dokumen usaha bakery online saya “Maya’s Oven” yang saya tutup tiga tahun lalu.
Tiga tahun lalu Paolo berkata:
“Kamu di rumah saja. Aku yang urus semuanya. Kamu cukup jadi istriku.”
Saya percaya.
Saya tutup bakery saya.
Saya tolak tawaran head baker di Cebu.
Saya memasak, mencuci, merawat ibunya saat sakit, dan membantu proposal bisnisnya sampai jam dua pagi.
Bisnis distribusi makanannya berkembang, semua orang bilang Paolo hebat.
Tidak ada yang tahu saya yang membuat logo pertamanya.
Saya yang menyusun menu awal.
Dan tiga klien besar pertamanya datang dari koneksi saya.
Saya mendengar kunci pintu.
Saya berdiri di ruang tamu, memegang dokumen.
Paolo masuk.
Setelan navy rapi, rambut tertata, membawa sekotak ensaymada dari toko favorit saya di Greenbelt.
Dia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Love, aku pulang. Macet banget tadi, jadi aku sempat beli ini.”
Saya melihat kotak ensaymada itu.
Lalu kotak stroller di luar pintu.
Senyum Paolo hilang cepat.
Dia menatap kotak itu.
Lalu saya.
Udara terasa beku.
Saya bertanya:
“Apa maksud ‘Mrs. Mercado pertama’?”
Dia diam.
Saya melempar print transaksi bank ke meja.
“Little Nest Baby Boutique. Klinik OB Taguig. Condo BGC. Kiara Domingo. Mana yang mau kamu jelaskan dulu?”
Dia tidak menjawab.
Lalu dia menarik napas panjang.
“Maya, kalau kamu sudah tahu, kita langsung saja.”
Saya tertawa kecil.
“Silakan.”
Dia duduk.
Suaranya dingin.
“Aku mau ajukan pembatalan pernikahan.”
Saya terdiam.
“Apa?”
“Kiara hamil. Mama mau cucu. Aku juga mau anak.”
Saya menatap pria di depan saya.
Pria yang dulu memeluk kaki saya saat hujan karena takut saya kedinginan.
Pria yang berkata tidak akan meninggalkan saya.
Pria yang melamar saya di San Agustin Church.
Pelan saya bertanya:
“Kamu pakai uang kita untuk dia, beli rumah, semua itu… lalu sekarang aku yang disingkirkan?”
Dia tersenyum sinis.
“Uang kita? Maya, tiga tahun kamu di rumah. Kamu punya penghasilan?”
Dada saya sesak.
Dia melanjutkan:
“Condo ini atas nama Mama. Perusahaan atas nama saya. Rekening investasi juga saya yang pegang. Kalau mau lawan di pengadilan, silakan. Tapi biaya pembatalan pernikahan di sini mahal. Kamu punya uang?”
Saya memegang dokumen erat-erat.
Saat itu pintu terbuka lagi.
Ibu mertua saya, Lourdes, masuk dengan koper, seolah rumah itu miliknya.
Dia menatap saya penuh hina.
“Cukup drama, Maya. Kiara masih muda, baik, dan sudah membawa cucu Mercado. Kamu? Tiga tahun, tidak ada hasil.”
Saya tertawa dingin.
“Jadi kalian sudah tahu dari awal?”
Dia meletakkan folder di meja.
“Tentu. Tanda tangan saja. Kami kasih kamu Rp90.000.000. Anggap saja itu belas kasihan.”
Saya membuka folder itu.
Di halaman terakhir, ada tanda tangan saya.
Padahal saya tidak pernah menandatangani.
Di bawahnya tertulis kalimat yang membuat darah saya dingin:
“Saya, Maya Santos Mercado, dengan ini menyerahkan seluruh hak atas condo Salcedo, rekening bisnis, dan aset pernikahan.”
Saya menatap mereka.
Paolo menghindari pandangan saya.
Lourdes tersenyum tipis.
“Sudah jelas. Tinggal kamu keluar baik-baik.”

Saya menutup folder itu perlahan.
Lalu saya berkata pelan:
“Baik.”
Bagian 2
Lourdes tersenyum kemenangan, melipat lengannya di dada dengan angkuh. Sementara Paolo mengembuskan napas lega, seolah baru saja menyelesaikan tugas administratif yang menjemukan.
“Bagus kalau kamu paham posisi dirimu, Maya. Ambil 90 juta itu, pulanglah ke daerah asalmu,” ujar Lourdes ketus.
“Aku akan keluar dari condo ini malam ini juga,” kata saya, suara saya sangat tenang, bahkan terlalu tenang hingga membuat Paolo sedikit mengernyitkan dahi. “Tapi sebelum itu, ada satu hal yang lupa kalian periksa.”
Saya membuka tas kerja tua saya, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam yang selama tiga tahun ini tersimpan rapat di dasar lemari baju musim dingin. Saya meletakkannya di atas meja, tepat di atas surat pembatalan pernikahan palsu mereka.
“Paolo, kamu bilang tiga tahun ini aku tidak punya penghasilan?” Saya menatapnya lurus. “Kamu pikir dari mana uang modal awal sebesar Rp1,5 miliar untuk mendirikan Mercado Food Distribution tiga tahun lalu?”
Paolo mendengus. “Itu pinjaman dari investor malaikat (angel investor) yang kudapatkan lewat presentasi proposal di BGC. Kamu tidak ada hubungannya dengan itu.”
“Nama perusahaan investasi itu adalah Velasco Holdings,” potong saya cepat.
Wajah Paolo mendadak kaku.
“Dan pemilik tunggal sekaligus komisaris utama Velasco Holdings adalah Nicholas Velasco—paman kandung saya dari pihak Ibu,” lanjut saya sambil membuka map hitam tersebut. Di dalamnya ada akta pendirian Mercado Food Distribution.
“Aku tidak pernah menutup ‘Maya’s Oven’ karena bangkrut, Paolo. Aku menggabungkannya ke dalam lini bisnis kuliner paman saya, dan sebagai gantinya, paman saya mendanai perusahaanmu atas permintaan saya. Di dalam klausul kontrak investasi Velasco Holdings halaman empat belas…” Saya membalik halaman dengan jari saya yang stabil, “…tertulis jelas bahwa jika terjadi pelanggaran moral atau hukum oleh direktur utama—termasuk pemalsuan dokumen dokumen pernikahan—maka Velasco Holdings berhak menarik seluruh modal, menyita aset operasional, dan mengambil alih 85% saham perusahaan secara mutlak.”
“M-Maya… apa-apaan ini?” Paolo berdiri, menyambar dokumen itu dengan tangan gemetar. Matanya membaca baris demi baris, dan seketika itu juga, ponsel di sakunya berdering keras.
Itu dari kepala keuangan perusahaannya. Paolo mengangkatnya dengan panik. Suara dari seberang telepon sangat nyaring hingga terdengar di ruang tamu yang sunyi.
“Sir! Seluruh rekening operasional kita di bank dibekukan oleh Velasco Holdings! Vendor-vendor dari kargo logistik membatalkan pengiriman sore ini karena ada surat penarikan jaminan aset! Kita bisa bangkrut dalam 24 jam, Sir!”
Telepon terputus. Paolo menatap saya dengan tatapan kosong, seolah baru saja melihat hantu.
Lourdes yang menyadari situasi berbalik langsung berteriak panic, “Paolo! Apa yang terjadi? Condo ini aman, kan? Ini atas namaku!”
“Condo Salcedo ini dibeli dengan sistem cicilan menggunakan rekening koran perusahaan, Ibu Lourdes,” kata saya dingin, berdiri dari kursi. “Mulai besok, Velasco Holdings akan menghentikan pembayarannya. Bank akan menyita tempat ini dalam waktu tiga puluh hari.”
Saya mengambil koper kecil saya yang sudah siap di dekat pintu. Saya menatap Paolo yang kini berlutut di lantai, memandangi lembaran kontrak yang baru saja menghancurkan seluruh hidupnya, sementara ibunya mulai menangis histeris.
“Kalian menginginkan ‘Mrs. Mercado yang kedua’ yang muda dan membawa cucu?” Saya tersenyum, membuka pintu condo. “Silakan ambil dia. Bawa dia ke studio unit kecil di BGC itu, karena hanya itu aset yang tersisa atas namamu, Paolo. Nikmati hidup barumu dari nol, tanpa uang saya, tanpa koneksi saya, dan tanpa belas kasihan dari saya.”
Saya melangkah keluar, menutup pintu kayu ek itu dengan dentuman keras, meninggalkan masa lalu saya membusuk di dalam sana bersama adobo yang mulai mendingin.