Malam Natal, Suamiku Menjanjikan Kondominium yang Dibelikan Orang Tuaku untuk Pernikahan Adiknya; Aku Tersenyum, Membalikkan Piring, dan Saat Mereka Membuka Studio Milikku, Malam yang Membuat Seluruh Keluarga Mereka Berlutut Pun Dimulai
Bagian 1 — Di Depan Lechon dan Dua Puluh Kerabat, Mereka Meminjam Rumahku Seolah Hanya Sebuah Piring di Atas Meja
—Ma, jangan khawatir. Kondominium Mara di Makati bagus sekali. Dekat ke mana-mana. Cocok untuk aku dan Carlo tinggali setelah menikah.
Itulah yang kudengar saat masih memegang sendok saji kaldereta.
Malam Natal itu.
Hampir seluruh keluarga besar Villareal berkumpul di rumah mertuaku. Ada lechon di tengah meja, pancit di sampingnya, hamon, queso de bola, salad buah, dan lebih dari dua puluh orang yang berpura-pura bahagia sambil diam-diam saling menilai perhiasan, pekerjaan, gaji, dan aset masing-masing.
Yang berbicara adalah Carlo, adik bungsu suamiku, Enzo.
Ia duduk seolah pemilik seluruh meja makan. Kaki disilangkan, memegang vape, dan memakai jam tangan yang jelas baru dibeli dengan cicilan.
Di sampingnya duduk tunangannya, Bianca Salazar, wanita yang sejak pertama kali bertemu denganku selalu tersenyum seolah sedang menghitung berapa nilai diriku.
Awalnya kukira itu hanya bercanda.
Karena itu aku menoleh ke arah Enzo.
Aku menunggu dia tertawa.
Aku menunggu dia berkata, “Apa yang kamu bicarakan, Carlo? Itu rumah Mara.”
Tetapi dia tidak tertawa.
Dia juga tidak terlihat terkejut.
Dia hanya menyesap minuman ringan, menyeka mulutnya, lalu berkata dengan tenang:
—Benar, Mara. Aku dan Mama sudah membicarakannya. Kondominium itu tidak akan dijual. Hanya akan dipindahkan sementara atas nama Carlo supaya keluarga Bianca menyetujui pernikahan mereka.
Suara di sekelilingku seakan berhenti.
Garpu di tanganku hampir menancap ke telapak tanganku sendiri.
—Apa yang kamu katakan?
Aku bahkan tidak sadar suaraku berubah dingin.
Enzo sedikit mengernyit, seolah aku yang membuat malu karena tidak langsung memahami “rencana sederhana” mereka.
—Jangan berlebihan. Itu cuma rumah. Kita suami istri. Apa yang jadi milikmu juga milikku. Dan apa yang jadi milikku juga milik keluargaku.
Saat itu wajahku terasa panas.
Bukan karena malu.
Karena marah.
Kondominium itu dibeli orang tuaku bahkan sebelum aku menikah. Bukan hasil utang. Bukan cicilan. Tidak ada satu rupiah pun dari keluarga Enzo di dalamnya.
Ayahku bekerja sebagai insinyur di Arab Saudi selama bertahun-tahun. Ibuku dulu berjualan kue tradisional di pasar sebelum akhirnya memiliki usaha kecil sendiri.
Mereka memberikannya kepadaku sebagai perlindungan.
Ibuku pernah berkata:
—Nak, kami tidak tahu apakah dunia akan selalu baik kepadamu. Tapi kamu harus selalu punya pintu yang bisa kamu buka sendiri.
Dan malam ini, di depan hamon dan lechon, keluarga ini ingin mengambil pintu itu dariku.
Aku mengangkat piring kaldereta di depanku.
Kuahnya masih panas.
Sebelum ada yang sempat berbicara, kutuangkan seluruh isi piring itu ke tengah meja.
Minyak dan saus menyiprat ke blus putih mertuaku, Remedios. Saus merah mengalir dari pipinya hingga ke kalung mutiara palsunya.
Seluruh meja berteriak.
—Mara!
Remedios berdiri dengan tubuh gemetar karena marah.
—Perempuan macam apa kamu ini? Malam Natal malah membuat keributan?
Aku menatapnya.
—Keributan? Keributan yang sebenarnya adalah rencana kalian mencuri kondominiumnya orang lain sambil makan makanan yang kubayar sendiri.
Mereka terkejut.
Ya.
Aku yang membayarnya.
Lechon yang mereka banggakan kepada tetangga, uangnya dariku.
Hamon juga dariku.
Hadiah untuk para keponakan, aku juga yang membelinya.
Tetapi di rumah itu, aku selalu diperkenalkan hanya sebagai “istri Enzo yang bekerja di kantor desain kecil.”
Aku membiarkannya.
Karena aku tidak ingin mempermalukan Enzo.
Karena dulu aku mencintainya.
Dan karena aku terlalu percaya bahwa diam terkadang berarti menghormati.
Sekarang aku tahu.
Di tangan orang yang salah, diam adalah seperti kunci.
Begitu kau berikan, mereka akan membuka semua lemarimu, mengambil seluruh isinya, lalu tetap menyebutmu pelit karena masih menyisakan sesuatu untuk dirimu sendiri.
—Mara, minta maaf kepada Mama.
Enzo berdiri.
Telinganya memerah. Suaranya rendah namun penuh ancaman.
—Sekarang juga.
Aku tersenyum.
—Tidak.
Seorang bibi di ujung meja langsung berseru:
—Keterlaluan. Tidak punya rasa hormat.
Bibi lain ikut menyela sambil mengelap saus dari taplak meja.
—Mara, kamu bahkan belum memberi cucu untuk keluarga ini, tapi tingkahmu begini. Seharusnya kamu lebih banyak berkorban untuk keluarga suamimu.
Aku tertawa.
Tidak keras.
Tidak histeris.
Hanya tawa dingin yang membuat mereka semakin diam.
—Jadi begitu. Kondominium ditukar dengan anak?
Wajah Enzo langsung menegang.
Sementara Remedios memegangi dadanya, meskipun aku tidak tertipu. Bertahun-tahun aku hafal sandiwaranya. Kalau urusan uang, jantungnya lemah. Kalau ada yang membelikannya peralatan rumah tangga baru, tiba-tiba kesehatannya pulih.
—Tidak ada yang bilang ditukar! —teriaknya.— Tapi apa gunanya kondominium besar kalau cuma kalian berdua yang tinggal? Kalian bahkan tidak punya anak. Carlo akan membangun keluarga. Dia yang lebih membutuhkannya.
Bianca berdiri.
Suaranya lembut, tetapi matanya tajam.
—Kak Mara, jangan terlalu defensif. Itu hanya syarat dari orang tuaku. Mereka tidak ingin aku menikah dengan pria yang tidak bisa menunjukkan aset apa pun. Ini hanya sementara. Untuk memperbaiki citra saja.
Citra.
Jadi begitu nama baru untuk pencurian jika dilakukan sambil memakai rok dan lip tint.
Aku meletakkan sendok saji.
—Aku bukan kakakmu. Dan pemindahan sertifikat properti tidak pernah bersifat sementara. Setelah nama itu berpindah ke Carlo, aku tidak punya kewajiban untuk mempercayai janji seorang pria yang bahkan tidak mampu membeli cincin sendiri tanpa meminjam uang dari kakaknya.
Wajah Carlo memerah.
—Kejam sekali, Sis. Sombong sekali untuk wanita yang gajinya cuma cukup buat belanja bulanan.
Aku mengangkat alis.
—Benarkah?
Dia menyeringai.
—Ya. Jangan bertingkah seperti pebisnis sukses. Aku dan Kak Enzo tahu kok. Kamu cuma kerja di perusahaan kecil, gambar-gambar desain saja. Kalau bukan karena suamimu, kamu tidak akan pernah masuk ke keluarga seperti ini.
Keluarga seperti ini.
Aku memandang langit-langit yang retak.
Sofa yang kubayar saat sofa lama rusak.
Kulkas yang dibeli dengan kartu kreditku.
Tagihan rumah sakit mertuaku yang berkali-kali kulunasi.
Adik iparku yang duduk seperti pangeran padahal belum pernah berhasil mengumpulkan uang muka untuk hidupnya sendiri.
Dan dia berani mengatakan itu.
“Keluarga seperti ini.”
Perlahan aku mengambil tasku.
—Baiklah. Kalau keluarga kalian memang sehebat itu, kalian tidak membutuhkan kondominiumnya aku.
Enzo menghalangi jalanku.
—Jangan pergi. Pembicaraan ini belum selesai.
—Sudah selesai.
—Mara.
Dia memegang lenganku.
Tidak cukup keras untuk menyakitiku.
Tetapi cukup untuk mengingatkanku bahwa dia masih merasa berhak atas tubuhku setiap kali aku tidak menuruti keinginannya.
Aku menatap tangannya.
—Lepaskan.
Dia tidak melepaskannya.
Aku mendekat dan berbisik:
—Enzo, kalau dalam tiga detik kamu tidak melepaskanku, bukan hanya kondominium yang akan hilang darimu. Namamu di perusahaanmu juga.
Wajahnya berubah.
Karena dia tahu.
Setidaknya sebagian, dia tahu.
Dia tahu berapa kali aku menyelamatkan bisnisnya yang hampir bangkrut. Dia tahu berapa malam aku diam-diam mentransfer uang agar sewa kantornya bisa dibayar. Dia tahu bahwa “kesuksesan hasil usahanya sendiri” yang selalu dia banggakan sebenarnya berdiri di atas uang yang tidak pernah dia akui berasal dariku.
Dia melepaskanku.
Aku keluar dari rumah mereka sementara teriakan masih terdengar dari belakang.
—Pergi saja! Kalau keluar sekarang, jangan pernah kembali!
Aku berhenti di depan pintu.
Lalu menoleh.
—Tenang saja. Aku tidak akan kembali untuk berdamai.
Aku tersenyum.
—Aku akan kembali untuk menagih.
Saat masuk ke mobil, ponselku bergetar.
Pesan dari Enzo.
“Tidurlah di rumah temanmu malam ini. Besok pagi taruh sertifikat kondominium di atas meja kopi. Kalau tidak, aku pastikan kamu tidak mendapat apa pun saat kita bercerai.”
Aku menatap pesan itu.
Lalu langsung memblokir nomornya.
Kupikir itu sudah tindakan paling keterlaluan yang bisa mereka lakukan.
Sampai keesokan harinya, saat aku kembali ke kondominiumnya untuk mengambil kontrak asli proyek terbesar tahun itu.
Begitu tiba di depan pintu, kunci digitalnya sudah tidak ada.
Mereka menggantinya dengan gembok murah.

Dan dari dalam rumahku sendiri, aku mendengar suara Bianca tertawa.
—Carlo, cepat sedikit. Buang saja lukisan-lukisan itu. Jelek sekali. Dinding ini lebih cocok dijadikan latar belakang foto pernikahan.
Berikut adalah kelanjutan dari kisah Anda, membawa ketegangan ke puncak sebelum pembalasan yang sesungguhnya dimulai:
Bagian 2 — Kunci yang Diganti dan Rahasia di Balik Studio Lukis
Tanganku gemetar di depan pintu kayu kondominiumku sendiri.
Bukan karena takut, melainkan karena amarah yang begitu pekat hingga membuat dadaku sesak. Mereka benar-benar melakukannya. Belum genap dua puluh empat jam sejak malam Natal yang kacau itu, keluarga Villareal sudah bertindak seolah properti ini adalah rampasan perang yang sah.
KRETEK.
Suara robekan kertas terdengar dari dalam, disusul tawa renyah Bianca.
— Lihat ini, Carlo. Sketsa-sketsa ini aneh sekali. Lebih baik kita buang semuanya ke tempat sampah di bawah. Ruangan ini luas, sangat pas untuk dijadikan lemari tas-tas branded-ku nanti.
Sketsa-sketsa itu.
Itu adalah portofolio pameran tunggalku yang akan datang. Gambar-gambar yang kuhasilkan dengan darah, keringat, dan begadang berbulan-bulan di bawah lampu meja. Di mata mereka, itu hanya coretan tak berguna dari “istri yang bekerja di kantor desain kecil.”
Aku tidak menggedor pintu. Aku tidak berteriak seperti wanita kesurupan. Dengan tenang, aku mengambil ponsel, membuka aplikasi manajemen properti gedung, dan langsung menghubungi kepala keamanan kondominium, Pak Rey, yang sudah mengenalku sejak bangunan ini pertama kali didirikan.
— Pak Rey, ini Mara dari Unit 14B. Ada beberapa penyusup yang merusak kunci digital saya dan masuk tanpa izin. Tolong bawa tiga petugas ke atas sekarang juga. Dan tolong bawa tang pemotong besi.
Lima menit kemudian, Pak Rey dan tiga pria berseragam hitam berdiri di belakangku. Wajah Pak Rey tampak tegang saat melihat gembok murah yang terpasang di pintu unit mewah ini.
— Ibu Mara, Anda yakin ada orang di dalam? — tanya Pak Rey berbisik.
— Sangat yakin, Pak. Silakan potong gemboknya.
KLANG!
Gembok besi itu terpotong dalam sekali tekan. Salah satu petugas mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Pemandangan di dalam membuat mataku menyipit. Ruang tamuku yang rapi kini penuh dengan tas belanjaan, baju-baju Bianca yang berserakan, dan koper-koper besar milik Carlo. Di tengah ruangan, Bianca sedang memegang salah satu kanvas lukisanku, bersiap untuk merobeknya dengan gunting.
— Apa yang kalian lakukan di rumahku? — suaraku memecah keheningan.
Bianca dan Carlo tersentak serentak. Gunting di tangan Bianca terjatuh ke atas karpet.
— Kak Mara?! — Carlo berdiri, wajahnya langsung merona merah karena terkejut, namun dengan cepat berubah menjadi angkuh saat melihat para petugas keamanan. — Apa-apaan ini? Kenapa membawa satpam? Enzo yang menyuruh kami pindah ke sini! Dia bilang ini rumahnya juga!
— Enzo tidak punya hak sepeser pun atas dinding tempatmu bersandar, Carlo, — jawabku datar. — Pak Rey, dua orang ini adalah penyusup. Mereka merusak fasilitas properti dan melakukan perusakan barang pribadi saya. Tolong giring mereka keluar sekarang. Jika mereka melawan, langsung hubungi kepolisian Makati.
— Hei! Kamu tidak bisa melakukan ini! — teriak Bianca, suaranya melengking tinggi, kehilangan citra anggunnya. — Aku ini calon adik iparmu! Kain lap ini… maksudku lukisan-lukisan jelek ini tidak ada harganya dibandingkan dengan nama baik keluarga Villareal!
— Nama baik? — aku berjalan mendekat, merebut kanvas di dekat Bianca dengan kasar. — Keluarga yang meminjam sertifikat rumah orang lain demi gengsi pernikahan tidak punya nama baik untuk dipertahankan. Pak Rey, bawa mereka keluar.
Carlo mencoba merangsek maju, namun dua petugas keamanan yang berbadan tegap langsung mengunci pergerakannya.
— Mara! Kamu akan menyesal! Enzo akan menceraikanmu dan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa! — ancam Carlo sambil diseret keluar lorong. Bianca mengikuti di belakangnya sambil menangis histeris, memunguti baju-bajunya yang tercecer di lantai.
Setelah pintu ditutup kembali dan Pak Rey berjanji akan memasang kunci digital baru dalam satu jam, aku duduk di sofa. Ponselku bergetar hebat. Nama “Enzo” berkedip di layar. Aku membuka blokirnya hanya untuk mendengar apa yang ingin dia katakan.
Begitu kuangkat, makian langsung terdengar.
— MARA! Kamu sudah gila?! Kamu mengusir adikku seperti anjing di depan satpam?! Mama sampai pingsan mendengar laporan Carlo! Kamu benar-benar tidak punya hati!
— Aku hanya membuang sampah, Enzo. Dan asal kamu tahu, gembok murah yang dipasang adikmu sudah dihancurkan.
— Cukup! — suara Enzo bergetar karena amarah yang memuncak. — Pernikahan kita selesai. Besok pagi, pengacaraku akan mengirimkan surat cerai. Tapi jangan harap kamu bisa hidup tenang. Aku akan menuntut setengah dari nilai kondominium itu sebagai harta gono-gini, dan aku akan memastikan studio desain tempatmu bekerja memecatmu karena membuat skandal!
Aku tersenyum, menyandarkan tubuhku ke sofa.
— Menuntut kondominiumku? Dan membuatku dipecat dari studio?
— Ya! Aku punya koneksi dengan pemilik firma tempatmu bekerja. Satu kataku, dan kamu akan jadi gelandangan di Manila!
Aku tertawa kecil, tawa yang membuat Enzo terdiam di seberang telepon.
— Enzo, ada satu hal yang lupa diceritakan oleh ibumu atau adikmu tentang ‘kantor desain kecil’ tempatku bekerja selama ini.
— Apa maksudmu?
— Datanglah ke acara peresmian pameran seni dan firma arsitektur ‘Aethelgard Design’ malam ini jam tujuh di pusat kota. Bawa seluruh keluargamu. Bawa ibumu yang suka pingsan, bawa Carlo, dan jangan lupa bawa Bianca serta orang tuanya yang mendewakan aset itu.
Aku menarik napas dalam, memantapkan suaraku.
— Di sana, aku akan menunjukkan kepadamu siapa pemilik asli dari tempat yang kamu sebut ‘kantor kecil’ itu. Dan di sana pula, aku akan menerima surat ceraimu dengan senang hati.
Tanpa menunggu jawabannya, aku mematikan telepon. Malam ini, di bawah lampu kristal dan di depan ratusan investor serta media, sandiwara keluarga Villareal sebagai “keluarga terpandang” akan berakhir. Malam yang membuat mereka semua berlutut, baru saja dimulai.