Posted in

Di tengah badai di Quezon City, saya menggendong anak saya yang demam menuju St. Luke’s. Sebuah Alphard hitam tiba-tiba berhenti di depan kami. Pria yang seharusnya akan menikah malam itu turun dari mobil, melihat tanda lahir di belakang telinga anak saya, lalu bertanya: “Siapa yang memberimu hak untuk menyembunyikan anakku selama lima tahun?”

Di tengah badai di Quezon City, saya menggendong anak saya yang demam menuju St. Luke’s. Sebuah Alphard hitam tiba-tiba berhenti di depan kami. Pria yang seharusnya akan menikah malam itu turun dari mobil, melihat tanda lahir di belakang telinga anak saya, lalu bertanya: “Siapa yang memberimu hak untuk menyembunyikan anakku selama lima tahun?”

**Bagian 1**

“Mama… aku kedinginan…”

Suara lemah Yumi hampir tenggelam oleh derasnya hujan.

Saya mempererat pelukan sambil berlari di trotoar Quezon City yang tergenang.

Malam itu, seolah langit menumpahkan seluruh airnya.

Tidak ada Grab yang menerima pesanan.

Jeepney sudah berhenti karena banyak jalan terendam.

Pusat kesehatan barangay sudah tutup, sementara dahi anak saya terasa panas seperti bara.

“Sebentar lagi, Nak,” kataku, meski lututku sudah gemetar. “Kita hampir sampai rumah sakit. Mama akan bawa kamu ke dokter.”

Yumi baru berusia empat tahun delapan bulan.

Kecil.

Lebih kurus dibanding anak seusianya.

Tapi sejak kecil dia sangat pengertian.

Saat aku lembur di laundry shop, dia hanya duduk di belakang meja, memeluk boneka kelinci lusuhnya. Tidak menangis. Tidak mengeluh.

Tapi malam ini, dia terus berbisik:

“Mama… aku mual…”

Saat itulah aku benar-benar takut.

Tetangga bilang ada beberapa kasus demam berdarah di barangay sebelah.

Aku tidak bisa menunggu sampai pagi.

Aku menggendongnya menuju St. Luke’s.

Begitu masuk gerbang rumah sakit, hampir saja kami ditabrak Alphard hitam yang mendadak mengerem.

Suara ban berdecit di aspal basah.

Sopir menurunkan kaca, tampak ingin memaki.

Aku langsung menunduk.

“Maaf! Maaf! Anak saya demam tinggi, saya tidak sengaja!”

Aku tidak sempat melihat siapa di dalam mobil.

Aku hanya ingin masuk ke IGD.

Tapi saat itu juga, terdengar suara pria dari belakang.

“Mara?”

Satu kata saja.

Tapi cukup untuk membuat dadaku mengencang.

Sudah lima tahun.

Kupikir aku sudah melupakannya.

Kupikir setelah bertahun-tahun mencuci seprai di laundry shop, makan malam mie instan di kamar kontrakan kecil, dan menjaga demam Yumi sendirian, suara itu sudah hilang dari ingatanku.

Ternyata tidak.

Meski bercampur hujan, aku masih mengenali suara Gabriel Dizon.

Aku mempererat gendongan, berpura-pura tidak mendengar, dan berjalan lebih cepat.

“Mara Santos!”

Kali ini suaranya tajam.

Tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tanganku.

Aku terpaksa berhenti.

Gabriel berdiri di depanku.

Ia memakai jas hitam, kemeja putih, dan jam mahal di pergelangan tangan. Rambutnya sedikit basah, tapi auranya tetap seperti pria yang tidak pernah menghitung uang di dompetnya.

Sedangkan aku—

kaos lama yang menempel di badan.

jeans basah sampai lutut.

rambut menempel di pipi.

dan di lenganku, seorang anak yang menggigil demam.

Pandangan Gabriel jatuh ke wajah Yumi.

Lalu perlahan ke belakang telinganya.

Ada tanda lahir kecil berbentuk daun.

Pucat.

Tapi hampir semua keluarga Dizon memilikinya.

Matanya menyempit.

“Anak ini…”

“Dia tidak ada hubungannya denganmu.”

Aku menarik tanganku, tapi Yumi tiba-tiba batuk keras.

Tubuh kecilnya kejang.

“Mama… perutku sakit…”

Wajah Gabriel berubah.

Tanpa bertanya lagi, ia mengambil Yumi dari gendonganku.

Aku berteriak:

“Apa yang kamu lakukan? Kembalikan anakku!”

“Kalau mau berdebat, lakukan setelah dia aman.”

Ia langsung membawa Yumi ke IGD.

Aku mengejarnya, panik dan marah, tapi dokter sudah mengambil alih.

Baru saat itu aku melihat perempuan di dalam Alphard.

Ia turun sambil memegang payung hitam dari sopir.

Gaun putih ketat.

Kalung berlian berkilau di cahaya rumah sakit.

Make-up sempurna, tapi tatapannya dingin dan merendahkan.

Bianca Reyes.

Putri keluarga Reyes, partner bisnis besar Dizon Group.

Dan perempuan yang seharusnya diperkenalkan Gabriel sebagai tunangannya malam itu.

“Aku dengar tamu sudah menunggu di Manila Peninsula. Orang tua kita sudah di sana,” katanya pelan.

Gabriel tidak menoleh.

“Batalkan pesta itu.”

Bianca membeku.

“Apa?”

“Aku bilang batalkan.”

Gabriel meletakkan Yumi di ranjang IGD.

“Tolong panggil kepala pediatri. Tes dengue, CBC, elektrolit. Siapkan kamar terbaik.”

Aku berdiri kaku.

“Tidak perlu kamar terbaik. Kamar biasa saja.”

Perawat menatap kami.

“Ma’am, anak ini harus rawat inap. Kamar reguler penuh malam ini.”

Tanganku membuka dompet kain tua.

Hanya ada 1.200 peso (± Rp 340.000), kartu PhilHealth Yumi, dan tisu.

Aku belum menerima gaji minggu ini.

“Bisa tanda tangan promissory note? Besok saya bayar—”

Gabriel meletakkan kartu hitam di meja.

“Gunakan kartuku.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak butuh uangmu.”

Tatapannya dingin.

“Bukan untukmu. Untuk anak itu.”

Tak lama dokter keluar.

“Gejala dengue. Trombosit turun. Harus observasi minimal tiga hari. Untung cepat dibawa.”

Kata “untung” membuat lututku lemas.

Bagaimana kalau terlambat?

Yumi dipindahkan ke kamar privat.

Saat dia tertidur, aku duduk di sampingnya, masih gemetar.

Gabriel berdiri di pintu.

Bianca juga ada di sana.

Udara di antara kami terasa lebih dingin dari hujan di luar.

“Umurnya berapa?” tanya Gabriel.

Aku tidak menjawab.

“Mara.”

Aku membenarkan selimut Yumi.

“Untuk apa? Supaya kamu bisa hitung berapa nominal ceknya?”

Rahangnya mengeras.

“Lima tahun lalu kamu menghilang tanpa kabar. Ibuku bilang kamu menerima uang, pulang ke Iloilo, dan memutus kontak.”

Aku tertawa pahit.

“Ibumu bilang begitu? Dia juga bilang aku menandatangani surat untuk menggugurkan anak ini?”

Gabriel terdiam.

“Surat apa?”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kali dalam lima tahun, aku melihat keterkejutan di wajah Gabriel Dizon.

Belum sempat aku menjawab, pintu terbuka.

Perawat masuk, wajah serius.

“Ma’am, Sir, anak ini baru saja muntah sedikit darah. Kami perlu tahu riwayat keluarga segera. Siapa ayah biologisnya?”

Ruangan menjadi hening.

Aku berdiri.

Bianca pucat.

Dan Gabriel menatapku langsung.

“Mara, katakan yang sebenarnya. Apa Yumi anakku?”

Berikut adalah kelanjutan sekaligus penyelesaian dari cerita tersebut:

Bagian 2 (Selesai)

Pertanyaan dokter membuat ruangan itu serasa kehilangan udaranya.

Saya menatap Yumi yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus menancap di tangan kecilnya. Ego dan rasa sakit hati saya selama lima tahun terakhir runtuh seketika demi keselamatan anak saya.

“Iya,” suara saya bergetar, tetapi terdengar jelas di seisi ruangan. “Dia anakmu, Gabriel. Golongan darahnya O positif, sama sepertimu.”

Bianca tersentak mundur, sementara Gabriel terpaku. Matanya beralih dari saya ke arah Yumi, memancarkan gelombang penyesalan dan amarah yang bercampur aduk.

“Dokter, lakukan apa pun untuk menyelamatkannya. Ambil darahku, ambil apa saja yang dia butuhkan,” kata Gabriel, suaranya mendalam dan penuh kepastian.

Dokter segera mengangguk. “Baik, Sir. Kami akan segera memproses transfusi trombosit dan memantau pendarahan internalnya. Mohon Ibu ikut saya untuk menandatangani dokumen persetujuan.”

Begitu dokter dan perawat keluar, Bianca langsung melangkah maju, mencengkeram lengan Gabriel. “Gabriel! Kamu gila? Kamu memercayai wanita ini? Dia sengaja muncul malam ini untuk merusak aliansi keluarga kita! Pesta pertunangan kita di Manila Peninsula—”

“Diam, Bianca!” bentak Gabriel, melepaskan cengkeraman wanita itu dengan kasar. “Anakku sedang bertaruh nyawa di dalam sana, dan kamu masih memikirkan reputasi bisnismu?”

“Anakmu?!” Bianca tertawa sinis. “Bagaimana kamu tahu dia tidak berbohong? Lima tahun lalu ibumu sendiri yang mengusirnya karena dia terbukti menerima uang lima juta peso!”

Saya berjalan mendekati Bianca, menatapnya tepat di manik matanya. “Lima juta peso? Bahkan untuk membeli susu formula Yumi di tahun pertama, saya harus bekerja delapan belas jam sehari di tempat laundry. Ibu Gabriel tidak pernah memberi saya uang. Dia memberi saya pilihan: menandatangani surat aborsi atau melihat keluarga saya di Iloilo dihancurkan.”

Gabriel menoleh cepat ke arah saya. “Apa maksudmu, Mara?”

“Ibumu memalsukan tanda tangan saya, Gabriel,” kata saya, air mata akhirnya menetes bebas. “Dia menyuruh orang membuang saya ke pelabuhan, lalu memberi tahu kamu bahwa saya menggugurkan kandungan ini demi uang. Saya bertahan hidup sendirian di Manila hanya agar Yumi bisa lahir!”

Mendengar hal itu, ponsel Gabriel di atas meja berdering. Nama ibunya, Madam Eleanor Dizon, berkedip di layar. Gabriel mengangkatnya dan langsung menyalakan pengeras suara.

“Gabriel! Di mana kamu? Keluarga Reyes sudah menunggu! Bianca juga tidak bisa dihubungi!” suara wanita tua itu terdengar panik dari seberang telepon.

“Aku di St. Luke’s, Ibu,” jawab Gabriel, suaranya sangat dingin, sedingin badai di luar sana. “Bersama Mara. Dan bersama cucu kandungmu yang sedang sekarat karena kelalaian yang Ibu lakukan lima tahun lalu.”

Keheningan panjang langsung terjadi di seberang telepon. Madam Eleanor terperanjat, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Pesta pertunangan malam ini batal. Dan besok, aku akan menarik seluruh saham Dizon Group dari proyek Reyes,” lanjut Gabriel tegas.

“Gabriel, kamu tidak bisa melakukan ini!” Bianca menjerit histris, tetapi Gabriel mengabaikannya dan langsung menutup telepon. Dia menatap Bianca dengan tatapan mengusir. “Keluar dari sini, Bianca. Sebelum aku menyuruh keamanan menyeretmu.”

Dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah, Bianca menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan kamar rawat, membiarkan pintu tertutup keras.

Ruangan itu kembali hening, hanya menyisakan suara mesin monitor jantung Yumi.

Gabriel melangkah mendekati saya. Pria yang selama lima tahun ini saya benci, kini berlutut di depan kursi saya. Matanya berkaca-kaca saat dia menggenggam tangan saya yang kasar dan penuh kapalan akibat kerja keras.

“Maafkan aku, Mara… Demi Tuhan, maafkan aku,” bisiknya dengan suara pecah. “Aku begitu bodoh karena memercayai sandiwara ibuku. Aku membiarkanmu dan anak kita menderita di saat aku hidup dalam kemewahan.”

Saya menarik napas dalam-dalam, melihat Yumi yang mulai tampak lebih tenang setelah mendapatkan penanganan medis gelombang pertama.

“Aku tidak butuh maafmu sekarang, Gabriel,” kata saya jujur. “Yang aku butuhkan adalah ayah yang bisa memastikan anak ini tidak pernah lagi kedinginan, tidak pernah lagi kelaparan, dan tidak perlu melihat ibunya menangis karena tidak punya uang untuk membelikan obat.”

Gabriel mengecup tangan saya dengan lembut, lalu berdiri dan memandangi wajah mungil Yumi yang sangat mirip dengannya.

“Aku bersumpah dengan nyawaku, Mara,” ujar Gabriel sambil mengusap air mata di pipi saya. “Mulai malam ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuh atau menyakiti kalian lagi. Badai untukmu sudah selesai.”

Di luar, hujan di Quezon City perlahan mulai mereda, menyisakan kehangatan baru di dalam kamar rumah sakit yang akan mengubah takdir kami selamanya.