Posted in

DIA MENGUSIR AKU DAN BAYI KAMI DEMI SELINGKUHANNYA YANG ANAK ORANG KAYA. MEREKA MELEMPARKAN GELANG “MURAH” MILIKKU KE LUMPUR—TAPI WAJAH MEREKA LANGSUNG PUCAT SAAT SEORANG BUTLER TURUN DARI HELIKOPTER DAN MEMANGGILKU “PUTRI”.

DIA MENGUSIR AKU DAN BAYI KAMI DEMI SELINGKUHANNYA YANG ANAK ORANG KAYA. MEREKA MELEMPARKAN GELANG “MURAH” MILIKKU KE LUMPUR—TAPI WAJAH MEREKA LANGSUNG PUCAT SAAT SEORANG BUTLER TURUN DARI HELIKOPTER DAN MEMANGGILKU “PUTRI”.

Hujan turun sangat deras malam itu.

Aku basah kuyup dan menggigil kedinginan sambil memeluk erat bayiku yang baru berusia dua bulan.

Alih-alih pelukan dan perhatian, yang menyambutku saat tiba di rumah justru dorongan kasar dari suamiku sendiri.

“Pergi dari sini, Elena! Jangan bawa sialmu ke dalam hidupku lagi!” bentak Paolo.

Wajahnya dipenuhi kemarahan dan jijik.

“Aku membutuhkan Monica, bukan wanita miskin sepertimu! Yang kau berikan padaku selama ini hanya masalah!”

Di belakangnya berdiri Monica.

Selingkuhannya.

Wanita cantik, berpakaian mewah, dan selalu memamerkan kekayaannya.

Konon ayahnya adalah seorang chairman perusahaan besar.

Tubuhnya dibalut merek-merek desainer ternama dan perhiasan mahal yang berkilauan.

Monica menatapku dari ujung kepala hingga kaki dengan senyum meremehkan.

Kemudian pandangannya berhenti pada satu-satunya perhiasan yang masih kupakai.

Sebuah gelang giok hijau yang diwariskan turun-temurun dalam keluargaku.

“Kasihan sekali kamu, Elena,” katanya sinis.

“Bahkan gelangmu terlihat seperti barang murahan dari kaki lima.”

Ia menyeringai.

“Berikan padaku. Siapa tahu masih ada sedikit nilainya untuk membeli susu bayimu.”

Sebelum aku sempat bereaksi, Monica menarik gelang itu dari pergelangan tanganku.

Karena terkejut dan takut menjatuhkan bayiku, aku tidak sempat melawan.

Ia memeriksa gelang itu sebentar lalu mendengus jijik.

Kemudian—

ia melemparkannya ke jalan.

“Ups. Jatuh,” katanya sambil tertawa palsu.

Gelang itu terlempar dan tenggelam ke dalam lumpur.

“Memang cocok berada di sana. Sama seperti pemiliknya.”

Paolo tertawa keras.

Tangannya merangkul pinggang Monica.

“Jangan pernah kembali lagi, Elena!”

“Tandatangani surat cerai yang akan kukirim besok!”

Lalu—

BRAK!

Pintu rumah ditutup tepat di depan wajahku.

Aku berdiri sendirian.

Di tengah hujan.

Di tengah malam.

Di tengah dingin yang menusuk tulang.

Perlahan aku berlutut di jalan.

Satu tangan menopang bayiku yang masih tertidur.

Tangan lainnya meraba-raba lumpur mencari gelang itu.

Beberapa saat kemudian aku menemukannya.

Kotor.

Penuh lumpur.

Namun utuh.

Aku menatap gelang tersebut dan tersenyum pahit.

Karena hanya aku yang tahu arti sebenarnya dari benda itu.

Paolo tidak tahu.

Monica juga tidak tahu.

Bahkan selama tiga tahun pernikahan kami, aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.

Gelang itu bukan sekadar warisan keluarga.

Itu adalah simbol.

Tanda pengenal.

Satu-satunya bukti yang tersisa dari identitasku yang sebenarnya.

Identitas yang sengaja kusembunyikan.

Karena aku pernah percaya bahwa cinta lebih penting daripada kekayaan.

Malam itu aku berdiri dan berjalan menjauh dari rumah yang pernah kuanggap sebagai keluarga.

Aku tidak menangis.

Tidak lagi.

Sebab sesuatu dalam diriku telah mati ketika Paolo memilih wanita lain dibanding anaknya sendiri.

Dua jam kemudian aku tiba di sebuah halte tua di pinggiran kota.

Bayiku mulai menangis karena lapar.

Aku memeluknya erat.

“Tenang, Sayang,” bisikku.

“Mama akan menemukan jalan.”

Saat itulah terdengar suara berputar dari kejauhan.

Awalnya samar.

Lalu semakin keras.

WHUPP…

WHUPP…

WHUPP…

Aku mengangkat kepala.

Lampu sorot muncul di langit malam.

Sebuah helikopter hitam mendekat.

Orang-orang di sekitar halte mulai panik dan menyingkir.

Helikopter itu perlahan mendarat di lapangan kosong tidak jauh dari tempatku berdiri.

Angin dari baling-balingnya menerbangkan air hujan ke segala arah.

Pintu terbuka.

Seorang pria tua turun terlebih dahulu.

Mengenakan jas hitam sempurna.

Rambutnya sudah memutih.

Namun posturnya masih tegak dan berwibawa.

Begitu melihatku, matanya langsung memerah.

Ia berjalan cepat mendekat.

Kemudian—

berlutut di depanku.

“Putri Elena…” suaranya bergetar.

“Akhirnya kami menemukan Anda.”

Aku memejamkan mata.

Setelah bertahun-tahun.

Mereka akhirnya datang.

Orang-orang di sekitar kami terdiam.

Pria tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Yang Mulia sangat sakit,” katanya.

“Beliau meminta kami mencari Anda ke seluruh dunia.”

Aku menatap bayiku.

Lalu menatap gelang giok di tanganku.

“Bagaimana Kakek?”

Air mata mengalir di wajah pria tua itu.

“Beliau menunggu Anda pulang.”

Untuk pertama kalinya malam itu—

aku menangis.

Bukan karena Paolo.

Bukan karena Monica.

Tetapi karena rumah yang telah lama hilang akhirnya menemukanku kembali.

Keesokan paginya.

Sebuah iring-iringan mobil mewah memasuki kompleks tempat tinggal Paolo.

Tetangga-tetangga berkerumun.

Semua ingin tahu siapa tamu penting yang datang.

Paolo baru saja keluar rumah ketika melihat puluhan kendaraan hitam berhenti di depan gerbang.

Wajahnya berubah bingung.

Monica yang sedang memegang kopi juga ikut keluar.

Kemudian mereka melihatku.

Aku turun dari mobil utama.

Menggendong bayiku.

Mengenakan gaun sederhana.

Namun di belakangku berdiri puluhan pengawal dan staf keluarga.

Pria tua yang kemarin berlutut di hadapanku kini berdiri di sampingku dengan sikap hormat.

Monica tertawa mengejek.

“Wah, Elena. Kamu menyewa aktor sekarang?”

Namun tawanya berhenti ketika pria tua itu membuka sebuah map.

Lalu membacakan pengumuman dengan suara keras.

“Atas nama keluarga kerajaan bisnis Hartono International Group, kami dengan hormat mengumumkan kembalinya pewaris tunggal keluarga, Putri Elena Hartono.”

Suasana langsung sunyi.

Wajah Monica memucat.

Cangkir kopinya jatuh ke tanah.

Paolo menatapku seakan baru pertama kali melihatku.

“P-Putri?”

Aku tidak menjawab.

Pria tua itu melanjutkan.

“Selain itu, sesuai wasiat pendiri grup, seluruh aset pribadi senilai lebih dari Rp87 triliun akan dialihkan kepada Putri Elena dan putranya sebagai ahli waris utama.”

Paolo kehilangan keseimbangan.

Monica mundur beberapa langkah.

Lalu aku mengangkat gelang giok yang semalam mereka lempar ke lumpur.

“Gelang ini,” kataku pelan, “sudah berada di keluargaku selama enam generasi.”

Monica gemetar.

“Tidak mungkin…”

“Aneh ya,” lanjutku.

“Kamu bilang benda ini cocok berada di lumpur.”

Aku tersenyum tipis.

“Padahal nilai gelang ini saja lebih mahal daripada seluruh rumah yang sedang kalian tempati.”

Wajah mereka benar-benar kehilangan warna.

Dan itu baru awal dari kehancuran yang menunggu mereka.

1

“Elena… kamu bercanda, kan?” Paolo melangkah maju, suaranya bergetar hebat. Matanya bergerak liar antara diriku, iring-iringan mobil antipeluru, dan barisan pria berjas hitam yang berdiri tegap mengawal kami.

“Paolo, mundurlah!” Butler tua di sampingku, Tuan Raymond, memberikan isyarat tangan yang dingin. Dua pengawal bertubuh besar langsung menghadang Paolo sebelum pria itu sempat mendekatiku satu inci pun.

“Raymond,” panggilku tenang sembari menimang bayiku yang kini tertidur pulas dalam balutan selimut kasmir mewah. “Apakah dokumen akuisisi wilayah ini sudah selesai?”

“Sudah, Putri Elena,” jawab Tuan Raymond dengan membungkuk hormat. Dia membuka map kulit hitam lainnya. “Per jam 08.00 pagi ini, Hartono International telah membeli seluruh area perumahan elite ini, termasuk tanah dan bangunan rumah yang ditempati oleh Tuan Paolo.”

Monica, yang sedari tadi tertegun, mencoba meraih lengan Paolo dengan tangan yang gemetar. “Paolo… ini tidak mungkin. Hartono International itu… itu pemilik saham terbesar di perusahaan ayahku! Ayahku hanya seorang direktur regional di bawah mereka!”

Aku berjalan perlahan mendekati mereka, mengabaikan tatapan syok dari para tetangga yang kini berkumpul di sepanjang jalan. Sepatu hak tinggiku berketukan pelan di atas aspal, tepat di sebelah genangan lumpur tempat Monica membuang gelang giokku semalam.

“Monica,” panggilku, menatapnya dengan tatapan kosong. “Ayahmu memimpin cabang Hartono Group di Makati, bukan? Tuan Arthur Cruz?”

Monica menelan ludah, wajahnya yang penuh riasan mahal kini tampak sekering kertas. “B-bagaimana kamu tahu?”

“Karena satu jam yang lalu, aku baru saja menandatangani surat pemecatan dan tuntutan audit forensik atas dugaan korupsi terhadap ayahmu,” kataku datar. “Seluruh fasilitas, rumah dinas, dan rekening bank keluargamu akan dibekukan mulai siang ini. Kamu ingin tahu rasanya menjadi miskin dan tidak punya tempat tinggal, kan? Selamat menikmati.”

2

“Elena! Tolong dengarkan aku!” Paolo tiba-tiba menjatuhkan lututnya ke atas aspal yang basah. Pria yang semalam mendorongku ke tengah badai itu kini bersujud, mencoba menggapai ujung gaunku dengan air mata yang mulai mengalir deras.

“Aku dijebak, Elena! Monica yang menggodaku! Aku tidak pernah berniat mengusirmu dan anak kita! Dia darah dagingku, Elena… tolong beri aku kesempatan!” tangisnya meratap, kehilangan seluruh harga dirinya di depan umum.

Monica yang melihat itu berteriak histeris, “Paolo! Kamu pria tidak tahu malu! Kamu yang bilang wanita ini beban dan pembawa sial!”

Aku menatap Paolo yang bersujud di bawah kakiku. Tidak ada rasa benci, tidak ada rasa dendam. Yang tersisa di dadaku hanyalah kehampaan yang teramat sangat untuk pria ini.

“Darah dagingmu?” aku tersenyum sinis, menatapnya dari atas. “Semalam, saat anakmu kedinginan di bawah hujan, kamu menutup pintu tepat di depan wajahnya. Kamu bahkan menawar harga susu formulanya bulan lalu.”

Aku berbalik, memberikan kode kepada Tuan Raymond.

“Tuan Raymond, serahkan surat cerai ini pada pengacaranya. Pastikan dia tidak mendapatkan hak asuh, tidak mendapatkan sepeser pun harta gono-gini, dan tuntut dia atas penelantaran anak dan istri.”

“Baik, Putri,” Tuan Raymond memberi tanda kepada petugas keamanan setempat. “Dan untuk rumah ini, kosongkan dalam waktu tiga puluh menit. Barang-barang mereka yang tersisa boleh dilemparkan ke jalanan.”

3

Satu bulan kemudian.

Aku berdiri di balkon sebuah mansion megah di puncak bukit, memandang matahari terbit yang menyinari kota. Di pergelangan tanganku, gelang giok hijau itu berkilau indah, telah dibersihkan hingga tak ada lagi bekas lumpur yang tersisa sedikit pun.

Bayiku terbangun di dalam kereta dorongnya, mengeluarkan suara tawa kecil yang menggemaskan. Aku menggendongnya, mencium pipinya yang tembam dengan penuh kasih sayang.

Melalui laporan yang dikirimkan Tuan Raymond pagi ini, aku tahu bahwa ayah Monica kini menghadapi hukuman belasan tahun penjara atas kasus penggelapan dana. Monica sendiri kehilangan seluruh kemewahannya dan kini terjerat utang kartu kredit yang menumpuk. Sementara Paolo? Dia dipecat dari pekerjaannya, namanya di-blacklist dari seluruh industri, dan kini hidup luntang-lantung di pinggiran kota, dihantui oleh penyesalan seumur hidupnya karena telah membuang berlian demi sebongkah batu kali.

Pintu balkon terbuka, dan Tuan Raymond membungkuk hormat. “Putri Elena, helikopter medis telah siap. Yang Mulia Kakek Anda sudah sadar dari masa kritisnya dan sangat ingin bertemu dengan cicit pertamanya.”

Aku menatap bayiku, lalu tersenyum lepas. Badai telah berlalu, dan langit kami kini jauh lebih cerah.

“Mari kita pergi, Raymond. Sudah waktunya putraku melihat dunia yang sebenarnya.”