Posted in

SETIAP HARI AKU BERDIRI DI LUAR PAGAR SEBUAH SEKOLAH MEWAH HANYA UNTUK MELIHAT ANAK-ANAK MAKAN. SEORANG GADIS KECIL KAYA SELALU DIAM-DIAM MEMBERIKAN SETENGAH BEKAL MAKANNYA KEPADAKU. SAAT AKU DIADOPSI DAN HARUS PERGI, AKU BERJANJI AKAN KEMBALI UNTUKNYA—JANJI YANG DITERTAWAKAN OLEH SEMUA ORANG. NAMUN DUA PULUH LIMA TAHUN KEMUDIAN, ORANG-ORANG YANG PERNAH MENGHINAKU BERLUTUT DI HADAPANKU.

SETIAP HARI AKU BERDIRI DI LUAR PAGAR SEBUAH SEKOLAH MEWAH HANYA UNTUK MELIHAT ANAK-ANAK MAKAN. SEORANG GADIS KECIL KAYA SELALU DIAM-DIAM MEMBERIKAN SETENGAH BEKAL MAKANNYA KEPADAKU. SAAT AKU DIADOPSI DAN HARUS PERGI, AKU BERJANJI AKAN KEMBALI UNTUKNYA—JANJI YANG DITERTAWAKAN OLEH SEMUA ORANG. NAMUN DUA PULUH LIMA TAHUN KEMUDIAN, ORANG-ORANG YANG PERNAH MENGHINAKU BERLUTUT DI HADAPANKU.

Anak Jalanan dan Malaikat Kecil

Namaku Leo. Dua puluh lima tahun yang lalu, aku hanyalah seorang anak yatim piatu yang hidup di jalanan—kotor, kurus kering, dan kelaparan.

Tempat favoritku adalah di luar pagar besi tinggi St. Catherine International Academy.

Setiap jam makan siang, aku memperhatikan para siswa kaya menikmati makanan lezat—makanan yang hanya bisa kunikmati lewat aroma dan pandangan dari kejauhan.

Suatu hari, aku pingsan di dekat pagar setelah tiga hari tidak makan.

Saat membuka mata, aku melihat sebuah tangan kecil menyodorkan kotak bento mahal melalui celah pagar.

“Makanlah, jangan takut,” ujar sebuah suara lembut.

Dia adalah Clara.

Saat itu usianya tujuh tahun, putri seorang miliarder pengembang properti.

Ia mengenakan seragam putih bersih yang tampak begitu rapi.

Sejak hari itu, kami memiliki ritual rahasia.

Setiap pukul dua belas siang, Clara diam-diam datang ke pagar dan memberiku setengah dari bekal makanannya yang lezat.

Kadang-kadang, ia juga memberiku pakaian bersih dan buku-buku bekas.

“Terima kasih, Clara,” selalu kubisikkan.

“Jangan lupa belajar membaca, ya? Kalau sudah besar nanti, kamu juga bisa jadi bos seperti Papa,” jawabnya sambil tersenyum.

Janji yang Ditertawakan

Suatu hari, aku tidak datang ke pagar.

Keesokan harinya, aku datang lagi, tetapi bukan untuk meminta makanan.

Aku berlari ke arah pagar dan memanggil Clara.

Ketika ia mendekat, aku melihat beberapa teman sekelasnya yang kaya serta sepupunya yang sombong, Troy, berdiri di sampingnya.

“Clara! Aku akan pergi!” seruku sambil menangis bahagia. “Ada pasangan asing yang baik hati mengadopsiku! Aku akan pindah ke Amerika!”

Clara tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan menggenggam tanganku melalui celah pagar.

“Wah! Aku akan merindukanmu, Leo! Belajarlah dengan giat, ya?”

Aku mengeluarkan sesuatu dari sakuku.

Sebuah cincin sederhana yang kubuat sendiri dari anyaman rumput kering.

Aku menyerahkannya kepadanya.

“Aku tidak punya hadiah yang lebih baik,” kataku dengan suara gemetar.

Aku menatap matanya dengan sungguh-sungguh.

“Tapi aku berjanji padamu, Clara… saat aku dewasa dan menjadi kaya, aku akan kembali untukmu. Aku akan memberikan seluruh dunia untukmu.”

Begitu mendengar kata-kataku, Troy langsung tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha! Seorang pengemis mau kembali untuk putri kami?! Anak jalanan ini pasti sudah gila karena kelaparan! Bahkan kalau kamu besar nanti, kamu tetap sampah, bocah!”

Para siswa lainnya ikut tertawa.

Aku menghapus air mataku.

Lalu berbalik dan pergi.

Namun di dalam hatiku, aku bersumpah bahwa suatu hari nanti aku akan menepati janjiku…

Kembalinya Sang Penguasa dari Seberang Samudra

Dua puluh lima tahun berlalu seperti kedipan mata bagi dunia yang bergerak cepat, tetapi bagi hatiku, setiap detiknya adalah bahan bakar untuk menepati sebuah janji.

Di bawah asuhan orang tua angkatku yang merupakan konglomerat perkapalan di Seattle, aku tumbuh menjadi pria yang berbeda. Namaku kini adalah Leonardo King, CEO dari King Horizon Group, salah satu raksasa investasi terbesar di Asia-Pasifik. Namun di balik setelan jas berharga ratusan juta dan tatapan mataku yang dingin, aku tetaplah Leo—anak kecil kurus di balik pagar besi yang merindukan malaikat kecilnya.

Selama bertahun-tahun, aku diam-diam memantau keluarga Clara. Tragisnya, dunia berputar terlalu kejam untuknya. Sepuluh tahun lalu, ayah Clara dikhianati oleh tangan kanannya sendiri, membuat perusahaan properti mereka bangkrut. Ayahnya wafat karena serangan jantung, meninggalkan Clara yang kini harus berjuang sendirian di tengah jeratan utang, sementara kerabat-kerabat kayanya—termasuk Troy—berbalik memunggunginya setelah merebut sisa-sisa aset keluarganya.

Hari ini, di ruang rapat utama lantai teratas gedung pencakar langit di pusat bisnis Jakarta, sebuah agenda besar sedang berlangsung. King Horizon Group sedang bersiap mengakuisisi proyek mega-properti yang sedang sekarat milik keluarga Troy.

Pertemuan di Ruang Rapat

Troy, yang kini telah menjelma menjadi pengusaha sombong namun serakah, duduk di ujung meja panjang dengan cemas. Di sampingnya, duduk seorang wanita dengan kemeja kerja sederhana yang sudah agak pudar warnanya.

Clara.

Ia bekerja sebagai staf administrasi biasa di perusahaan Troy, dipaksa bekerja bagai budak hanya untuk melunasi sisa utang mendiang ayahnya. Guratan lelah terlihat di wajah cantiknya, namun matanya tetap memancarkan ketulusan yang sama seperti dua puluh lima tahun lalu.

Pintu jati besar terbuka. Aku melangkah masuk dikawal oleh delapan pengawal berjas hitam. Seluruh jajaran direksi langsung berdiri dan membungkuk hormat.

“Selamat siang, Mr. King,” sapa Troy dengan nada menjilat yang memuakkan. Ia langsung menyodorkan berkas proposalnya. “Kami sangat terhormat Anda bersedia meninjau proyek kami. Tolong bantu perusahaan kami, Sir. Kami bersedia menyetujui semua syarat Anda.”

Aku tidak menyahut. Aku duduk di kursi utama, menatap Troy dengan pandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Kemudian, pandanganku beralih pada Clara yang tertunduk di sebelah Troy, memegang tumpukan berkas.

“Siapa wanita di sebelahmu, Troy?” tanyaku dengan suara berat.

Troy terkejut karena aku mengetahui namanya, lalu menjawab dengan nada meremehkan, “Ah, dia hanya staf rendahan, Mr. King. Dia sepupu saya, Clara. Dia hanya bertugas membawa berkas. Tolong abaikan saja dia.”

Aku tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang sarat akan bahaya.

Janji Rumput Kering yang Menjadi Nyata

“Abaikan?” ujarku sambil bersandar. “Bagaimana mungkin aku mengabaikan satu-satunya alasan mengapa aku membeli perusahaan sampahmu ini?”

Troy tertegun. Clara mendongak, matanya yang lelah mendadak melebar saat menatap wajahku lebih dekat. Sesuatu di dalam ingatannya mulai bergejolak.

Aku membuka laci meja, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang sangat mewah. Namun, saat kubuka, di dalamnya bukan berisi berlian berkarat-karat. Di dalamnya ada sebuah anyaman rumput kering yang sudah menguning, namun dirawat dengan sangat rapi di dalam lapisan kaca pelindung.

“Kau… Leo?” bisik Clara, suaranya bergetar hebat. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.

“Ya, Clara. Ini aku. Anak jalanan di balik pagar besi dua puluh lima tahun lalu,” kataku lembut, mengabaikan seluruh ruangan yang kini tercengang.

Troy mendadak pucat pasi. Tubuhnya gemetar seolah seluruh darahnya tersedot keluar. “T-tidak mungkin… Pengemis itu…”

“Pengemis yang kau tertawakan dua puluh lima tahun lalu kini memegang seluruh nasib hidup dan matimu, Troy,” potongku dingin. Aku melemparkan dokumen akuisisi ke depan wajahnya.

“Hari ini, King Horizon Group resmi membeli seluruh aset dan utang perusahaanmu. Dan aturan pertama sebagai pemilik baru: Troy, kau dipecat secara tidak hormat. Seluruh aset pribadimu akan disita untuk membayar penipuan pajak yang kaulakukan. Berlutut dan mintalah maaf pada Clara, atau aku akan memastikan kau membusuk di penjara sebelum matahari terbenam!”

Tanpa berpikir dua kali, Troy yang sombong itu langsung luruh ke lantai. Pria yang dulu tertawa terbahak-bahak di depan pagar sekolah kini berlutut, bersujud di depan kakiku dan kaki Clara sambil menangis histeris memohon ampunan.

Aku berdiri, melangkah melewati Troy yang menjerit ketakutan, lalu berhenti tepat di depan Clara. Aku berlutut dengan satu kaki di hadapannya—bukan sebagai seorang miliarder, melainkan sebagai bocah jalanan yang akhirnya pulang.

“Aku butuh waktu dua puluh lima tahun, Clara,” kataku sambil menggenggam tangannya yang gemetar. “Tapi aku di sini sekarang. Seperti janjiku dulu… biarkan aku memberikan dunia ini untukmu.”