SETELAH KELUARGAKU MEMAKSAKU MELUNASI UTANG KAKAKKU YANG SUDAH “MENINGGAL”, AKU MEMBUKA PETINYA—DAN MALAM ITU MENJADI AWAL KEHANCURAN MEREKA SEMUA
Pada kehidupan pertamaku, seluruh hidupku habis untuk membayar utang kakakku yang konon sudah lama meninggal.
Anakku meninggal karena aku tidak sempat menjemputnya.
Suamiku meninggal karena tak sanggup lagi menahan luka dan kekecewaan.
Dan sebelum aku melompat dari atap gedung, aku melihat kakakku masih hidup—berpakaian mewah, memeluk pria yang utangnya kubayar selama sepuluh tahun.
“Lama sekali dia melunasinya,” keluh Kak Lianne. “Cuma 3 miliar rupiah, tapi sampai satu dekade.”
Saat aku membuka mata lagi, aku kembali ke hari pemakamannya.
Dan kali ini, aku tidak akan menjadi orang bodoh lagi.
“Lianne! Nak, kenapa kamu meninggalkan kami seperti ini?”
Tangisan Ibu menggema di rumah kecil kami di Tondo. Ia menelungkup di atas peti mati, memukul-mukul dadanya seperti ibu yang benar-benar kehilangan anak.
Ayah duduk di sampingnya dengan mata merah.
“Bagaimana nasib kami sekarang? Kamu bahkan meninggalkan utang sebesar itu…”
Aku berdiri di sudut ruang tamu dengan jari-jari yang terasa dingin.
Aku mengenal adegan ini.
Inilah hari yang dulu menjadi awal nerakaku.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.
Masuklah Ramil Santos, pria bertubuh besar dengan leher tebal, kalung emas, dan bau rokok yang menyengat. Di belakangnya ada enam pria yang jelas bukan tipe orang yang suka berbicara dengan lembut.
Ia melemparkan selembar dokumen ke atas meja.
“Sebelum kalian terus menangis,” katanya, “lebih baik kita bicarakan dulu utang Lianne. Tiga miliar rupiah. Tanda tangannya ada di sini.”
Seluruh rumah langsung sunyi.
Para bibiku yang tadi berbisik-bisik terdiam. Tetangga yang datang untuk mengintip mundur beberapa langkah.
Ibu menangis lebih keras.
“Aku tahu soal utang itu,” isaknya. “Lianne bilang dia meminjam uang untuk modal usaha. Katanya dia ingin mengangkat keluarga kami dari kemiskinan. Kami tidak tahu jumlahnya akan sebesar ini…”
Ayah memegang bahu Ibu, seolah menahan emosi.
“Meskipun anak kami sudah tiada, kami tidak akan lari dari tanggung jawab,” katanya tegas. “Keluarga Reyes memang miskin, tapi kami bukan pencuri.”
Lalu ia menatapku.
Dan aku kembali merasakan hawa dingin yang dulu menghancurkan seluruh hidupku.
“Mika,” katanya dengan suara rendah namun jelas. “Bantu kami. Ini utang kakakmu. Kalau tidak kita bayar, bagaimana dia bisa tenang di alam sana?”
Pada kehidupan pertama, aku mempercayainya.
Aku menyerahkan seluruh tabunganku.
Aku bekerja di pusat layanan pelanggan pada malam hari, mencuci pakaian pada pagi hari, dan berjualan makanan saat siang.
Bahkan setelah keguguran anak keduaku, aku tetap bekerja keesokan harinya karena ada cicilan yang harus dibayar.
Anakku, Ysa, berusia tiga belas tahun saat ia tertabrak kendaraan.
Aku tidak sempat menjemputnya karena harus lembur.
Suamiku, Carlo, bahkan tidak menatapku sebelum meninggal.
“Sepuluh tahun, Mika,” katanya untuk terakhir kalinya. “Sepuluh tahun aku menunggu kamu memilih kami. Tapi yang kamu cintai tetap hantu kakakmu.”
Setelah itu, aku menyelesaikan pembayaran terakhir.
Lalu aku mengakhiri hidupku sendiri.
Namun sekarang, dokumen yang sama kembali ada di hadapanku.
Air mata yang sama.
Jebakan yang sama.
Aku menarik napas panjang.
“Tunggu sebentar,” kataku.
Semua mata langsung tertuju padaku.
Alis Ibu terangkat.
“Apa?”
Aku menatap Ramil, lalu peti mati cokelat kemerahan yang berada di tengah ruang tamu.
“Yang berutang adalah Kak Lianne,” kataku. “Bukan aku.”
Wajah Ayah langsung menegang.
“Mika.”
Aku mengabaikannya.
“Jadi kenapa aku yang harus membayar?”
Seolah sebuah bom meledak di dalam rumah.
“Kurang ajar!” teriak Ibu. “Kakak macam apa kamu ini?”
Ia menghampiriku dengan tubuh gemetar karena marah.
“Tubuh kakakmu bahkan belum dingin, tapi yang kamu pikirkan cuma uang?”
“Bukan uang yang kupikirkan,” jawabku. “Melainkan kebenaran.”
“Kebenaran?” jerit Ibu. “Kebenarannya adalah kami membesarkanmu! Menyekolahkanmu! Memberimu tempat tinggal! Lianne selalu berkorban untukmu!”
Aku tersenyum pahit.
Tempat tinggal?
Rumah yang sebenarnya atas namaku, tetapi ditempati Lianne?
Sekolah?
Biaya pendidikan yang kubayar sendiri lewat beasiswa dan pekerjaan paruh waktu?
Pengorbanan?
Mobil yang kubeli dengan susah payah lalu dipinjamnya selama seminggu dan tidak pernah dikembalikan?
Ramil tertawa dingin.
“Kalau kalian tidak mau membayar,” katanya sambil mendekati peti mati, “aku bisa menagih langsung kepada orang yang sudah mati. Mari kita buka petinya. Kita lihat berapa lama dia bisa bernapas karena malu.”
Ayah langsung menerjang ke arahnya.
“Jangan!”
Ia mencengkeram lengan Ramil dan hampir berlutut.
“Jangan hina jenazah anakku!”
Dan pada saat itulah aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.
Di bagian belakang peti mati terdapat lubang kecil untuk sirkulasi udara.
Dan dari sana, kain putih di dalam peti bergerak sangat pelan.
Hidup.
Lianne benar-benar masih hidup.
Sudut bibirku bergerak.
Namun sebelum aku sempat berbicara, Ibu menampar wajahku.
Keras.
“Dasar tidak tahu malu!” teriaknya. “Kalau bukan karena kamu, kakakmu pasti masih hidup!”
Telingaku berdenging.
Ibu mengambil ponselnya, menekan beberapa tombol, lalu mentransfer uang kepada Ramil di depan semua orang.
“Tujuh ratus juta rupiah dulu,” katanya. “Kami akan melunasi semuanya. Meski anakku yang satu ini tidak punya hati.”
Ponselku berbunyi.
Sebuah notifikasi masuk.
Saldo: Rp0
Aku menatap layar.
Tujuh ratus juta rupiah.
Itu seluruh tabunganku.
Minggu lalu, Ibu memaksaku menghubungkan rekening bankku ke ponselnya karena katanya ia tidak mengerti cara menggunakan pembayaran online.
Dan sekarang, ia memanfaatkannya.
“Itu uangku,” kataku lirih.
Ayah tertawa seolah tidak percaya.
“Uangmu? Transfernya dilakukan dari ponsel ibumu. Itu uang kami!”
Ia menarik lenganku dan mendorongku menjauh.
Keningku menghantam sisi peti mati.
Sakit.
Namun yang lebih menyakitkan adalah apa yang kudengar sesudahnya.
Dari dalam peti mati, terdengar tawa yang sangat pelan.
Tawa Lianne.
Dan saat itulah aku melihat gelang di pergelangan tangan Ayah.
Manik-manik hijau dengan huruf L.R. terukir di atasnya.
Persis seperti gelang milik Ramil.
Pada kehidupan pertamaku, Ramil pernah berkata saat mabuk:
“Itu hadiah dariku untuk mertuaku.”
Mertua.
Jadi selama ini bukan hanya Ibu dan Ayah yang tahu.
Mereka adalah bagian dari rencana itu.
Darahku mulai mendidih.
Semuanya.
Orang tuaku yang menangis demi menipu.
Kakakku yang berpura-pura mati.
Pria yang berpura-pura menjadi penagih utang.
Mereka semua hidup dari darah keluargaku.

Aku mengusap darah di keningku, berdiri tegak, lalu tersenyum.
Kemudian, di depan semua orang, aku mengeluarkan ponselku dan menekan tombol rekam.
“Kalau kalian ingin membayar utang orang mati,” kataku dengan suara jelas, “mari kita pastikan dulu bahwa dia benar-benar mati.”
Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian cerita (ending) dari kisah Mika:
4
Sebelum ada yang sempat menghentikanku, aku menerjang maju dan menghantamkan tubuhku ke penutup peti mati.
Brak!
Engsel besi murah itu patah. Penutup peti terbuka lebar, menampung cahaya lampu ruang tamu yang temaram.
Seluruh ruangan mendadak mati kutu. Beberapa bibi berteriak ketakutan, sementara para tetangga di luar pintu melongokkan kepala demi melihat “jenazah” Lianne.
Namun, tidak ada mayat yang pucat di sana.
Lianne Reyes sedang berbaring telentang dengan menyilangkan kaki, memegang sebuah kipas angin portabel kecil di satu tangan dan ponsel pintar model terbaru di tangan lainnya. Ia bahkan belum sempat menghapus riasan wajahnya yang tebal.
“Lianne?!” teriak salah satu bibiku kaget.
Lianne tersentak, matanya membelalak panik saat menyadari rahasianya terbongkar di depan puluhan pasang mata. Kamera ponselku terus membidik wajahnya tanpa putus, menyiarkannya secara langsung melalui akun media sosialku.
“Mika! Hentikan rekamannya!” Ayah berteriak, wajahnya berubah dari merah kemarahan menjadi pucat pasi seketika.
Ibu mencoba menerkamku untuk merebut ponsel, tetapi aku dengan cepat menghindar ke balik tubuh Ramil Santos.
“Ramil! Selesaikan istrimu!” bentak Ibu, panik luar biasa.
Mendengar kata ‘istrimu’, bisik-bisik di luar rumah langsung meledak.
“Istri?” Aku tertawa, suaraku menggema dingin. “Ah, jadi tebakanku benar. Kak Lianne tidak berutang 3 miliar pada rentenir. Dia berpura-pura mati agar kalian bisa memeras seluruh tabunganku untuk dijadikan modal pernikahan mewah mereka, bukan?”
5
Ramil Santos maju selangkah, wajahnya mengeras. Enam anak buahnya mulai mengepungku. “Nona, kamu sudah tahu terlalu banyak. Serahkan ponselmu, atau kami buat kamu benar-benar menyusul kakakmu ke liang lahat.”
Aku tidak mundur selangkah pun. Aku menatap lurus ke arah kamera ponselku.
“Kalian terlambat,” kataku dengan senyum sinis. “Video ini sudah ditonton oleh lebih dari sepuluh ribu orang secara live. Dan tebak siapa salah satu penonton setianya?”
Pintu depan tiba-tiba didobrak dari luar.
Brak!
Sekelompok pria berseragam polisi bersenjata lengkap merangsek masuk, dipimpin oleh seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan seragam dinas berencana tinggi. Dia adalah Inspektur Ramos, kepala kepolisian distrik yang selama ini memburu Ramil atas kasus sindikat penipuan dan pencucian uang.
“Jangan bergerak! Angkat tangan kalian!” teriak para petugas.
Ramil dan anak buahnya langsung membeku. Lianne yang berada di dalam peti mati menjerit ketakutan, mencoba merangkak keluar namun malah tersangkut kain kafan buatannya sendiri hingga jatuh terjungkal ke lantai.
“Mika… tolong Ibu, Nak… ini semua ide kakakmu…” Ibu mendadak bersimpuh di kakiku, menangis histeris dengan air mata buaya yang sama seperti dua puluh menit lalu.
“Ibu,” aku menarik kakiku dengan jijik. “Tujuh ratus juta rupiah yang Ibu transfer tadi masuk ke rekening Ramil, kan? Rekening yang sudah dibekukan oleh kepolisian sejak tiga hari lalu atas laporan pencucian uang yang kukirimkan. Uang itu akan disita negara sebagai barang bukti, dan kalian tidak akan mendapatkan sepeser pun.”
Ayah terduduk lemas di lantai, menyadari bahwa seluruh sandiwara mereka yang dirancang berbulan-bulan hancur dalam hitungan menit.
6
Satu dekade yang lalu di kehidupan pertamaku, aku kehilangan segalanya untuk hantu seorang kakak perempuan dan keserakahan orang tua yang kejam. Namun di kehidupan kali ini, aku berjalan keluar dari rumah Tondo itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Di luar, hujan mulai turun, membasahi jalanan Manila yang berdebu.
Aku masuk ke dalam taksi yang sudah menungguku. Ponselku bergetar, menampilkan pesan dari Carlo—suamiku di kehidupan lalu, yang saat ini masih berstatus sebagai kekasihku di kampus.
“Mika, aku sudah membelikan sup hangat untukmu. Cepat pulang, ya. Aku dan Ysa menunggumu.”
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah, namun kali ini bukan air mata kepedihan. Melainkan air mata kebebasan. Ysa, putri kecilku, bahkan belum lahir di dunia ini, tetapi aku berjanji akan menjaganya dengan seluruh hidupku kali ini.
Melalui jendela taksi, aku melihat Ibu, Ayah, Lianne, dan Ramil digiring masuk ke dalam mobil tahanan dengan tangan diborgol, disoraki oleh seluruh tetangga yang merasa tertipu.
Mereka ingin aku membayar utang orang mati.
Maka hari ini, aku memastikan mereka membayar seluruh utang kehidupan mereka di balik jeruji besi. Neraka mereka baru saja dimulai, sementara hidupku yang sebenarnya baru saja kembali.