Aku diusir suamiku dari rumah beberapa hari setelah acara pembaptisan anak kami. Aku menggendong bayi kami sambil berdiri di tengah hujan, ditertawakan seluruh gang.
Suamiku menarik koperku dan melemparkannya kasar ke tangga sebelum berkata dingin:
“Pergi dari sini, Mia. Aku sudah lelah hidup miskin bersamamu. Aku akan menikahi Clarisse — dia perempuan yang bisa mengubah hidupku.”
Di belakangnya berdiri Clarisse, bersedekap dengan senyum sombong. Dia adalah anak seorang pengusaha properti terkenal di daerah itu. Selalu dikelilingi barang mewah dan bodyguard.
Dia melirik tasku yang lusuh lalu tersenyum mengejek.
“Lihat… kamu mau membesarkan anakmu dengan jualan di pasar? Oh iya… kamu masih punya jam tua peninggalan ibumu, kan?”
Genggamanku pada lengan bajuku mengencang.
Di sana tersembunyi jam tangan perak lama milik ibuku — kacanya sudah tergores dan terlihat tidak berharga.
Itu satu-satunya kenangan terakhir darinya untukku.
Tiba-tiba Clarisse mendekat dan merampas jam itu dari tanganku dengan kasar.
“Ini cuma sampah.”
Tanpa ragu, dia melemparkannya ke selokan kotor di pinggir jalan.
“Cocok di situ.”
Dadaku terasa sesak.
Aku langsung berlutut ingin mengambilnya, tapi suamiku menahan bahuku.
“Cukup dramanya, Mia! Jangan pikir aku tidak tahu? Kamu cuma menempel padaku karena tidak punya tempat lain!”
Aku menatap lelaki yang kucintai selama tujuh tahun.
Saat dia terlilit utang, akulah yang menjual kendaraan terakhirku untuk membantunya.
Saat dia kehilangan pekerjaan, akulah yang begadang setiap malam agar ada makanan untuk keluarga kami.
Tapi sekarang…
Hanya karena Clarisse dan janji kehidupan mewah, dia membuang kami seperti sampah.
Bayi di pelukanku tiba-tiba menangis keras.
Clarisse mengerutkan wajahnya kesal.
“Berisik sekali.”
Lalu dia mengeluarkan setumpuk uang tebal dan melemparkannya ke tanah.
“Nih, ambil saja. Anggap saja belas kasihan.”
Uang itu berserakan dan basah oleh hujan.
Satu per satu tetangga mulai keluar menonton.
Tidak ada yang membantu.
Tidak ada yang berbicara.
Mereka hanya menatapku seperti tontonan murah.
Aku diam berjalan ke selokan dan memasukkan tanganku ke air kotor untuk mencari jam itu.
Beberapa detik kemudian, aku menemukannya.
Jam itu sudah lama berhenti.
Tapi saat aku membersihkan lumpurnya, aku menekan tombol kecil di sampingnya.
“ting.”
Sebuah sinyal kecil langsung terkirim.
Tidak ada yang menyadari.
Clarisse masih sibuk memeluk suamiku dengan senyum kemenangan.
“Mulai sekarang, jangan muncul lagi di hadapan kami, wanita miskin.”
Aku berdiri perlahan.
Hujan mengalir di wajahku yang dingin.
Tiga tahun.
Tiga tahun aku hidup sederhana di tempat ini untuk memenuhi syarat terakhir kakekku sebelum mewariskan seluruh kekayaan keluarga.
Dia ingin aku menemukan pria yang mencintaiku bukan karena uang.
Tapi aku salah memilih.
Tepat saat itu—
Deru mesin keras terdengar dari ujung jalan.
“VROOOM!”
Tiga SUV hitam berhenti di depan rumah.
Seluruh gang langsung gempar.
Pintu mobil terbuka bersamaan.
Lebih dari sepuluh bodyguard berpakaian hitam turun dan berdiri di kedua sisi di bawah hujan.
Tak lama kemudian, seorang pria tua bertongkat berjalan perlahan ke arahku.
Begitu melihat jam di tanganku, dia langsung membungkuk dalam-dalam.
“Nona… syukurlah akhirnya kami menemukan Anda.”
Suasana langsung hening.
Suamiku membeku.
Wajah Clarisse pucat.
Lelaki tua itu dengan hati-hati menyeka jam itu dengan sapu tangan putih seolah itu benda yang sangat berharga.
“Chairman sudah menunggu kepulangan Anda untuk mengambil alih seluruh grup perusahaan.”
Suamiku tertawa kecil, dipaksakan.
“Apa omong kosong ini? Mia? Dia cuma pedagang miskin!”
Pria tua itu perlahan menoleh padanya.
Tatapannya dingin.
“Kalian sendiri yang mengusir satu-satunya pewaris dari kerajaan perhiasan terbesar di Asia.”
Wajah Clarisse kehilangan warna.
“Tidak… tidak mungkin…”
Sebuah map dikeluarkan dan diserahkan kepadaku.
“Seluruh saham perusahaan keluarga Nona Clarisse… sudah kita beli tadi malam.”
Tangan Clarisse gemetar.
“Itu tidak benar…”
Aku membuka dokumen itu dengan tenang.
Di halaman terakhir, ada cap merah kepemilikan.
Satu tanda tanganku saja…
Dan mereka akan kehilangan segalanya sebelum matahari terbit.
Aku memegang pena perlahan.
Tepat saat itu, ponsel suamiku berdering bertubi-tubi.
Begitu dia mengangkatnya, wajahnya langsung pucat.
“Apa?! Perusahaan bangkrut?!”

Ponselnya jatuh ke tanah basah.
Bersamaan dengan itu, mobil polisi berhenti cepat di ujung gang.
Dan orang yang turun dari mobil itu…
Adalah orang yang paling tidak ingin dilihat Clarisse…
Aku menyebut nama itu di dalam hati, membiarkan setiap suku katanya membakar sisa-sisa kedamaian yang kupelajari di San Isidro.
Aku berjalan menuju terminal bus terdekat, membiarkan tubuhku beradaptasi dengan dunia luar yang bising. Di dalam bus menuju Quezon City, aku membuka tas tangan Althea. Di dalamnya ada dompet usang dengan sisa uang beberapa ratus peso, gantungan kunci rumah, dan ponsel murah dengan layar retak.
Saat aku menghidupkan ponselnya, sebuah pesan masuk.
“Di mana kamu? Jam begini belum pulang? Cepat masak, Ibu dan saudaraku mau datang malam ini. Kalau kamu terlambat lagi, kamu tahu akibatnya.”
Aku tersenyum tipis. Jantungku berdegup kencang, tapi bukan karena takut. Ini adalah adrenalin yang sudah delapan tahun kukekang. Aku membalas pesan itu singkat: “Di jalan pulang.”
Dua jam kemudian, bus berhenti di sebuah kawasan padat di Quezon City. Berbekal alamat dari tanda pengenal di dompet Althea, aku melangkah menyusuri gang sempit menuju sebuah rumah dua lantai yang tampak terabaikan. Dari dalam, terdengar suara tawa keras laki-laki bercampur musik dari televisi, serta bentakan seorang wanita tua.
Aku menarik napas dalam, membetulkan posisi lengan bajuku untuk menutupi memar—yang kini menjadi senjataku—lalu membuka pintu pagar besi yang berderit.
Begitu aku melangkah masuk ke ruang tamu, keheningan sesaat terjadi. Tiga orang duduk di sofa: seorang wanita tua berwajah masam—ibu Rafael—dan seorang pria muda bertato yang merupakan saudaranya. Di dekat meja makan, seorang pria bertubuh tegap dengan kaos dalam berlumuran noda duduk sambil memegang botol bir. Itu Rafael.
Di sudut ruangan, seorang anak kecil perempuan berusia empat tahun duduk meringkuk memeluk boneka lusuh. Luna. Matanya yang bulat menatapku dengan ketakutan yang begitu pekat hingga membuat dadaku sesak.
“Lama sekali kamu! Dari mana saja?” bentak ibu Rafael sambil melemparkan bantal sofa ke arahku. “Lihat rumah berantakan begini, menantu tidak berguna!”
Rafael berdiri, melangkah mendekatiku dengan sempoyongan karena mabuk. Matanya merah dan kilat kemarahan yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi Althea terpancar jelas.
“Kamu berani mengabaikan teleponku, hah?” Rafael mencengkeram rahangku dengan kasar. “Mau jadi pembangkang sekarang?”
Di masa lalu, Althea akan menangis, memohon ampun, dan gemetar. Tapi malam ini, pria ini tidak sedang berhadapan dengan Althea.
Aku menatap tepat ke manik matanya. Detak jantungku stabil. Napasku teratur. Delapan tahun latihan fisik dan pengendalian diri di San Isidro membuat tubuhku sekeras baja.
Aku mencengkeram pergelangan tangannya yang ada di rahangku. Dengan satu sentakan cepat menggunakan teknik yang kupelajari dari menundukkan pasien-pasien agresif, aku memutar pergelangan tangannya ke belakang.
KREK.
Suara sendi yang bergeser terdengar nyaring diikuti teriakan histeris Rafael. Dia berlutut di lantai, memegangi tangannya yang lumpuh sebelah.
“Sialan! Apa yang kamu lakukan, pelacur?!” teriak saudaranya sambil berdiri dan langsung menerjang ke arahku.
Aku menghindar dengan seringan angin. Menggunakan momentum larinya, aku menyabet kakinya hingga dia terjatuh dengan wajah menghantam sudut meja kopi kayu hingga hancur. Ibu mereka menjerit histeris, langsung mundur memeluk dinding, kehilangan seluruh keberaniannya melihat dua anak lak-lakinya tumbang dalam hitungan detik.
Rafael mencoba bangkit, wajahnya merah padam oleh sisa alkohol dan rasa hina. Dia meraih botol bir pecah di lantai dan mengarahkannya padaku. “Kamu bukan Althea… Siapa kamu?!”
Aku melangkah maju, sama sekali tidak gentar dengan pecahan kaca di tangannya. Aku menendang dadanya hingga dia telentang di lantai, lalu menginjak tangan yang memegang botol itu hingga kacanya terlepas. Aku berjongkok, menekan lututku di atas dadanya hingga dia kesulitan bernapas.
“Namaku Amihan,” bisikku tepat di telinganya, suaraku begitu dingin hingga membuat bulu kuduknya berdiri. “Aku adalah monster yang kalian kurung delapan tahun lalu. Dan aku datang untuk mengambil kembali apa yang kalian curi dari saudariku.”
Aku mengambil ponselnya dari saku celananya, lalu menoleh ke arah sudut ruangan. Luna menatapku dengan mata berbinar, ketakutannya lenyap, digantikan oleh rasa takjub.
“Luna,” panggilku lembut, mengubah suaraku menjadi sehangat mungkin. “Kemari sayang. Ikut Bibi.”
Anak kecil itu berlari kecil dan langsung memeluk leherku erat. Aku membongkar lemari kerja Rafael, mengambil semua uang tunai hasil sabung ayamnya, akta kelahiran Luna, dan dokumen penting lainnya.
Sebelum keluar dari rumah terkutuk itu, aku menatap Rafael dan keluarganya yang mengerang kesakitan di lantai.
“Jika aku melihat salah satu dari kalian mendekati Althea atau Luna lagi, aku tidak akan hanya mematahkan tanganmu,” ancamku tenang namun mematikan. “Aku tahu cara membuat seseorang lenyap tanpa meninggalkan jejak.”
Malam itu, aku berjalan keluar dari gang Quezon City dengan Luna di dekapanku. Di dalam rumah sakit jiwa San Isidro, saudariku Althea akhirnya bisa tidur dengan aman tanpa takut dipukuli. Dan di luar sini, aku akan memastikan bahwa neraka yang selama ini dialami Althea telah berpindah tangan kepada orang-orang yang merancangnya.
Dunia luar mengira aku gila. Tapi malam ini, kegilaan itulah yang menyelamatkan sebuah kehidupan.