SETELAH MARA DIPECAT DAN MENJADI RIDER DELIVERY, DIA MENGANTAR PESANAN PERTAMA KE MANTANNYA YANG SEDANG MELAMAR MANTAN SAHABATNYA—TAPI PESANAN KEDUANYA MEMBUKA RAHASIA YANG LAMA MENGHANCURKANNYA
Pada hari dia dipecat dari pekerjaan, Mama menelponnya dan memaksanya ikut blind date.
Mara tertawa meski ingin menangis.
“Ma, aku sendiri saja sudah tidak bisa hidup, apalagi mikirin laki-laki?”
Ibunya menjawab, “Kalau begitu jadi kurir saja dulu. Katanya lagi banyak lowongan di pinggir jalan.”
Dan dia benar-benar melakukannya.
Dia tidak tahu bahwa pesanan pertamanya akan mengantarkannya pada dua orang yang paling ingin ia lupakan selamanya.
Aku Mara Dizon, 29 tahun, mantan staf administrasi di sebuah perusahaan kecil di Makati. Dua tahun aku bertahan di sana—lembur tanpa dibayar, bos yang suka rapat saat jam pulang, rekan kerja yang tersenyum di depan tapi menusuk dari belakang.
Siang itu aku dipanggil HR.
“Mara, masuk ke ruang konferensi.”
Tidak ada basa-basi. “Restructuring.” “Business decision.” “Tidak ada yang personal.”
Tapi itu sangat personal.
Aku tahu Bianca Montemayor yang menjatuhkanku. Dia duduk di sebelahku dulu di cubicle. Minggu lalu aku mendengar dia berkata di pantry, “Mara lebih mudah dilepas. Dia terlalu diam.”
Diam bukan berarti tidak sakit.
Keluar dari gedung, aku membawa kardus kecil berisi hidupku: tumbler lama, tanaman kecil, charger, dan bingkai foto yang sudah tidak berguna—foto aku dan Gabriel sudah kutanggalkan.
Gabriel Reyes. Mantanku. Tiga tahun bersama. Putus sebulan lalu.
Alasannya: “Aku lelah, Mara. Aku terlalu sibuk untuk hubungan.”
Malam itu, setelah dimarahi Mama dan menghitung sisa uang di GCash, aku mendaftar sebagai kurir di HatidNow. Aku menyewa e-bike tua dari tetangga di Mandaluyong.
Pesanan pertama: Luna de Plata Bistro di Bonifacio Global City.
Pickup: dapur belakang.
Drop-off: VIP Room lantai 3.
Fee: ₱38 (± Rp10.640).
“Ini satu gedung saja?” gumamku.
Chef hanya tersenyum, “Itu proposal, Kak. Hati-hati nanti baper.”
Saat pintu VIP terbuka, aku melihat bunga mawar merah, lilin, musik biola, dan orang-orang merekam dengan ponsel.
Di tengah ruangan, seorang pria berlutut dengan cincin di tangan.
“Will you marry me?”
Aku membeku.
Suara itu… aku mengenalnya.
Gabriel.
Dan perempuan yang berdiri di depannya sambil menangis bahagia?
Sofia Lim. Mantan sahabatku.
Tiga detik kami saling diam.
Gabriel menatapku.
“Mara? Kenapa kamu…”
Aku tidak membiarkannya selesai.
Aku meletakkan steak di meja dan tersenyum.
“Selamat malam, Tuan dan Nyonya. Tenderloin steak, medium well. Lobster dan red wine. Selamat menikmati.”
Lalu aku pergi.
Di lorong, aku baru bisa bersandar ke dinding.
Tidak menangis. Bukan karena kuat—tapi karena sudah terlalu lelah untuk hancur.
Video itu viral malam itu.
“Delivery girl ketemu mantan yang melamar sahabatnya!”
Ratusan ribu views.
Komentar berdatangan:
“Queen behavior!”
“Kalimat ‘selamat menikmati’-nya dingin banget!”
“Gabriel keterlaluan!”
Aku melihatnya sambil berbaring di kamar kecilku, tapi tetap harus menghitung biaya hidup.
Viral tidak membayar sewa.
Keesokan harinya, aku tetap bekerja.
Pesanan demi pesanan: nasi, milk tea, dan makanan biasa.
Sampai pesanan keempat.
Pickup: Lugawan ni Aling Nena, distrik lama San Juan City.
Drop-off: Unit 3203, Ortigas Center.
Catatan pelanggan:
“Jangan tumpah. KETUK 3 kali. Jangan pakai bel.”
Di lantai 32, suasana sunyi. Aku mengetuk tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Teleponku diangkat.
“Tinggalkan saja,” suara dingin laki-laki.
“Pak, perlu konfirmasi—”
“Taruh.”
Klik.
Saat aku menunduk, pintu terbuka.
Seorang pria tinggi berdiri di sana, wajahnya dingin, pakai kaos hitam.
Matanya jatuh ke tas makananku.
Dan… bocor.
Bubur tumpah ke karpet mahal.
Aku menutup mata.
“Maaf, Pak, saya tidak sengaja—”
“Aku sudah tulis tiga kali,” suaranya tajam. “Kamu tidak bisa baca?”
Nama di aplikasi: Rafael Araneta.
Baru keesokan harinya aku tahu siapa dia.
Rafael “tanpa rem” Araneta—food vlogger dengan 12 juta followers.
Dan pagi berikutnya, aku sudah jadi kontennya.
Foto sendal berlumur bubur.
Caption:
“Sudah diperingatkan 3 kali. Tetap tumpah. Ada kurir yang kerja lebih lembek dari bubur.”
Komentar mulai menghubungkan:
“Ini bukan dia yang viral kemarin?”
“Dia lagi?”
“Tiga hari, dua bencana?”
Dan sebelum aku sempat bernapas lega, ponselku bergetar lagi.
Pesanan baru.

Saat aku membaca catatan pengantaran, tubuhku langsung dingin.
Pickup: Luna de Plata Bistro di Bonifacio Global City.
Drop-off: Unit 3203, Ortigas Center.
Catatan pelanggan:
“Hanya Mara Dizon yang boleh antar. Kita siarkan live. Saatnya Manila tahu kenapa dia ditinggalkan.”
Aku menatap layar ponselku dengan dada yang bergemuruh. Rafael Araneta ingin menjadikanku bahan tontonan jutaan pengikutnya. Dia ingin melakukan siaran langsung untuk mempermalukanku, kurir amatir yang dianggapnya tidak becus.
Namun, saat aku melihat nama menu yang dipesan dari Luna de Plata Bistro, ada sesuatu yang memicu ingatan lama di kepalaku.
“Tenderloin Steak Premium dengan Saus Truffle Hitam Spesial.”
Dua tahun lalu, saat aku masih menjadi staf administrasi di Makati, aku pernah tidak sengaja menemukan berkas pengadaan bahan makanan rahasia milik mantan perusahaanku. Perusahaan tempatku bekerja dulu ternyata adalah penyuplai daging ilegal berkualitas rendah yang dipoles bahan kimia berbahaya untuk restoran-restoran mewah di BGC—termasuk Luna de Plata Bistro. Dan manajer yang menandatangani pemalsuan sertifikat kualitas daging itu adalah Gabriel Reyes, dengan bantuan Bianca Montemayor yang menyembunyikan laporan keuangannya.
Saat itu aku diancam akan dipecat jika bicara, jadi aku memilih diam. Tapi ironisnya, mereka tetap membuangku seminggu yang lalu.
Aku menarik napas dalam-dalam. Jika Rafael Araneta ingin siaran langsung, maka aku akan memberinya pertunjukan yang tidak akan pernah dilupakan oleh seluruh Manila.
Satu jam kemudian, aku berdiri di depan pintu Unit 3203 Ortigas Center. Di tanganku ada sekotak pesanan steak mewah tersebut, dan di kantong blusku, ada sebuah USB yang berisi salinan digital berkas penipuan pangan yang sempat kuselamatkan sebelum komputercu di kantor dikosongkan.
Aku mengetuk pintu tiga kali.
Pintu terbuka. Rafael Araneta berdiri di sana dengan ponsel yang terpasang pada gimbal, mengarahkan kamera langsung ke wajahku. Angka penonton di layar Live miliknya bergerak cepat—200 ribu orang menonton secara langsung.
“Nah, teman-teman, ini dia kurir viral kita,” kata Rafael dengan nada menyindir ke arah kamera. “Hari ini kita akan melihat apakah dia bisa mengantar steak premium seharga lima ribu peso tanpa merusaknya seperti bubur kemarin.”
Aku tidak menunduk. Aku menatap lurus ke kamera ponselnya.
“Pesanan Anda, Tuan Araneta,” kataku dengan suara tenang dan lantang. “Tapi sebelum Anda memotong steak ini di depan dua ratus ribu penonton Anda, saya sarankan Anda tidak memakannya.”
Rafael menghentikan tawa sinisnya. Alisnya bertaut. “Apa maksudmu? Kamu mau membuat drama baru agar tidak dihujat?”
“Steak yang Anda pegang berasal dari Luna de Plata Bistro,” kataku sambil melangkah maju, membuat Rafael tanpa sadar mundur dan membiarkan kamera tetap menyorotku. “Dan apakah Anda tahu dari mana mereka mendapatkan daging ‘premium’ ini? Dari perantara ilegal yang memalsukan stempel karantina hewan di Pelabuhan Manila.”
Layar komentar di Live Rafael langsung meledak. Angka penonton melonjak menjadi 400 ribu dalam hitungan detik.
“Jangan membual, Mara Dizon,” potong Rafael, tapi suaranya mulai goyah. Sebagai food vlogger nomor satu, reputasinya dipertaruhkan jika dia mempromosikan makanan berbahaya.
“Saya tidak membual,” aku mengeluarkan USB dari kantongku dan meletakkannya di atas meja marmernya. “Dua tahun aku bekerja di perusahaan penyuplai itu. Mantan kekasihku, Gabriel Reyes—pria yang melamar sahabatku di video viral kemarin—adalah orang yang memalsukan dokumen distribusinya demi meraup keuntungan jutaan peso bersama selingkuhannya, Bianca.”
Aku menatap tajam ke arah kamera Rafael.
“Mereka memecatku seminggu yang lalu karena aku menolak menandatangani laporan fiktif terbaru. Mereka pikir dengan membuatku menjadi kurir, suaraku tidak akan pernah didengar lagi. Jadi, Tuan Araneta, jika Anda ingin menyiarkan live untuk menunjukkan kenapa aku ditinggalkan… inilah jawabannya. Aku ditinggalkan karena aku menolak menjadi kriminal seperti mereka.”
Suasana di dalam unit apartemen mewah itu mendadak hening sepekat kuburan. Rafael Araneta menatapku dengan pandangan yang benar-benar berubah—tidak ada lagi keangkuhan, yang ada hanya keterkejutan yang luar biasa. Dia melihat ke arah layar ponselnya, di mana netizen Manila berteriak menuntut keadilan dan mendesak Rafael untuk membuka isi USB tersebut saat itu juga.
Sebagai jurnalis kuliner dan vlogger, Rafael tahu ini adalah skandal terbesar tahun ini.
Dia perlahan menurunkan ponselnya, lalu menatapku dengan serius.
“Siaran langsung selesai,” kata Rafael kepada penontonnya sebelum mematikan layar. Dia mengambil USB di atas meja, lalu menatapku. “Jika semua bukti di dalam sini asli, Mara… aku tidak hanya akan membersihkan namamu. Aku akan memastikan mantan kekasihmu dan restoran itu hancur berantakan di depan hukum.”
Aku tersenyum tipis, membetulkan posisi tali tas HatidNow di pundakku.
“Semuanya asli, Tuan Araneta. Selamat menikmati makan malam Anda—jika Anda berani.”
Malam itu, rahasia yang selama dua tahun menghancurkan batin dan harga diriku akhirnya meledak ke permukaan. Bukan sebagai bencana, melainkan sebagai awal dari pembalasan dendam yang paling elegan.