Posted in

SAMBIL TERSENYUM DIA MENANDATANGANI SEMUA DOKUMEN UNTUK MENYERAHKAN SELURUH KEKAYAANNYA KEPADA SUAMI YANG BERKHIANAT UNTUK PERCERAIAN — TAPI DIA TIDAK TAHU BAHWA SEMALAM IA BARU SAJA MENERIMA WARISAN SENILAI MILIARAN DOLAR DARI KELUARGA ASLINYA

SAMBIL TERSENYUM DIA MENANDATANGANI SEMUA DOKUMEN UNTUK MENYERAHKAN SELURUH KEKAYAANNYA KEPADA SUAMI YANG BERKHIANAT UNTUK PERCERAIAN — TAPI DIA TIDAK TAHU BAHWA SEMALAM IA BARU SAJA MENERIMA WARISAN SENILAI MILIARAN DOLAR DARI KELUARGA ASLINYA

Aku adalah Aurora. Selama tujuh tahun, aku merendahkan diri dan bertahan demi menjadi istri yang sempurna bagi Troy. Kami membangun perusahaan trading kecil dari nol bersama-sama. Aku yang begadang mengurus dokumen, aku yang bernegosiasi dengan klien, dan aku yang menyusun strategi agar bisnis kami berkembang. Namun seiring perusahaan kami tumbuh, ego suamiku juga ikut membesar.

Dia bertemu Celine, seorang model muda yang hanya menghamburkan uang hasil kerja kerasku. Troy menjadi buta. Ia mengira kesuksesan perusahaan hanya karena “kehebatannya”, sementara aku dianggap istri tidak berguna yang tidak memahami dunia modern.

Sampai akhirnya hari itu tiba, saat ia meminta kebebasannya dariku.

PERJANJIAN YANG MENJERAT DI KANTOR PENGACARA

Kami berada di dalam kantor hukum yang dingin dan sunyi. Troy duduk di hadapanku, mengenakan jas mahal yang sebenarnya kubayari. Di sampingnya, Celine menempel manja sambil memainkan cincin berlian besar yang jelas berasal dari uang kami.

Di atas meja tergeletak dokumen pembatalan pernikahan dan perjanjian pembagian aset.

“Baca baik-baik, Aurora. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,” kata Troy dengan dingin. “Kamu akan menyerahkan seluruh kepemilikan perusahaan kepadaku. Rumah mewah di Ayala Alabang, tiga mobil sport, dan 80% tabungan kita di bank menjadi milikku. Kamu hanya mendapat 20% sisanya dan apartemen lama di provinsi.”

Pengacaraku langsung terkejut.

“Tuan Troy, ini tidak adil! Setengah perusahaan itu dibangun oleh istri Anda! Anda tidak berhak mengambil semuanya!” tegasnya marah.

Celine menyeringai dan menyilangkan tangan.

“Oh, ayolah,” katanya sinis. “Apa yang dia lakukan? Hanya terlihat kusam di rumah? Troy-lah wajah perusahaan ini! Kalau dia tidak mau tanda tangan, kami bisa menyeret ini ke pengadilan bertahun-tahun, dan Troy memastikan dia tidak akan mendapat sepeser pun.”

Troy menatapku tanpa sedikit pun belas kasihan. Pria yang kucintai selama tujuh tahun kini berubah menjadi sosok yang penuh keserakahan.

“Tandatangani saja, Aurora. Terima kenyataan bahwa kamu kalah. Kamu sudah tidak cocok dengan duniaku. Aku butuh istri yang bisa sejajar dengan para elit,” katanya dingin.

Aku menarik napas dalam. Mereka mengira aku akan menangis. Mereka mengira aku akan memohon.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Senyum tenang perlahan muncul di wajahku.

Aku mengambil pena emas di atas meja.

“Baik,” jawabku sambil tersenyum.

Tanpa ragu sedikit pun, aku menandatangani semua halaman dokumen itu. Aku menyerahkan perusahaan. Aku menyerahkan rumah mewah. Aku menyerahkan mobil dan uang.

Troy terkejut. Celine menatapnya bingung. Mereka tidak menyangka aku akan semudah itu melepaskan semua yang “kami bangun”.

“K-kamu benar-benar tanda tangan?” tanya Troy tak percaya.

Aku berdiri dan merapikan pakaianku yang sederhana.

“Semua sudah menjadi milikmu, Troy. Perusahaan, rumah itu, bahkan dia,” kataku sambil menatap Celine sekilas. “Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.”

Lalu aku berbalik dan berjalan keluar dari kantor itu dengan langkah ringan…

Yang mereka tidak tahu: semalam aku baru saja mewarisi kekayaan miliaran dolar AS dari keluarga asliku — setara triliunan rupiah (IDR).

Berikut adalah kelanjutan dan babak penutup dari cerita Aurora:

BABAK BARU: KEJUTAN DI LUAR PINTU KACA

Begitu pintu kaca kantor hukum itu tertutup di belakangku, senyum yang tadinya kutahan kini mengembang sempurna. Beban tujuh tahun yang menyesakkan dada seolah menguap begitu saja.

Di dalam ruangan sana, Troy dan Celine mungkin sedang merayakan “kemenangan” mereka di atas kertas-kertas tak berharga itu. Mereka mengira telah memiskinkanku. Mereka mengira aku keluar dari sana sebagai pecundang yang hancur.

Mereka sama sekali tidak tahu tentang telepon darurat yang kuterima tadi malam.

Telepon dari firma hukum terbesar di Zurich yang mengonfirmasi bahwa aku, Aurora Vance—yang selama ini mengira diriku anak yatim piatu—adalah satu-satunya pewaris takhta keluarga Sterling, konglomerat perbankan dan berlian global yang berbasis di Swiss. Nilai warisanku? 3,4 miliar dolar AS. Perusahaan trading kecil milik Troy yang mereka perebutkan bagaikan remahan roti di ujung sepatuku.

“Nona Aurora?”

Suara berat dan penuh wibawa menyambutku di lobi. Seorang pria paruh baya berjas rapi, dikelilingi oleh empat pengawal berbadan tegap, membungkuk hormat padaku. Dia adalah Tuan Raymond, kepala pengacara keluarga Sterling yang sengaja terbang dengan jet pribadi demi menjemputku.

“Semua dokumen pemulihan identitas dan pengalihan aset gelombang pertama sebesar lima ratus juta dolar sudah masuk ke rekening pribadi Anda, Nona,” bisik Raymond formal. “Kendaraan Anda sudah siap di depan.”

“Terima kasih, Raymond. Mari kita selesaikan satu hal kecil sebelum kita pergi,” jawabku tenang.

CARA ELEGAN MEMBALAS DENDAM

Baru saja aku melangkah ke arah pintu keluar, pintu lift di lobi terbuka. Troy dan Celine keluar sambil tertawa lepas, bersiap menuju parkiran untuk memamerkan mobil sport baru mereka.

Langkah Troy terhenti saat melihatku berdiri di tengah lobi, tidak lagi terlihat seperti istri rumahan yang kusam. Di sekelilingku ada para pria berjas mewah yang memancarkan aura otoritas tinggi.

“Aurora? Apa lagi yang kamu lakukan di sini? Menyesal?” Troy tertawa meremehkan, memeluk pinggang Celine lebih erat. “Sudah terlambat. Dokumen sudah sah. Kamu bukan siapa-siapa lagi sekarang.”

Celine ikut menimpali sambil memutar bola matanya, “Astaga, Troy, lihat dia. Apa dia sedang menyewa aktor untuk membuatmu cemburu? Menyedihkan sekali.”

Tuan Raymond maju satu langkah, menatap Troy dengan pandangan sedingin es. Ia mengeluarkan sebuah dokumen bermaterai internasional dari tas kulitnya.

“Tuan Troy,” suara Raymond menggema di lobi yang sepi. “Saya adalah perwakilan hukum dari Sterling Group. Kami di sini untuk menyampaikan pemberitahuan resmi bahwa seluruh kontrak kerja sama, pendanaan, dan jalur suplai utama yang menopang perusahaan trading Anda telah diputus per detik ini.”

Wajah Troy langsung memucat. “Apa? Apa maksudmu? Sterling Group adalah investor utama dan nyawa dari bisnisku! Siapa kamu berani memutusnya?!”

“Saya berani karena pemilik baru sekaligus pemegang saham pengendali tunggal dari Sterling Group adalah wanita yang baru saja Anda ceraikan,” jawab Raymond tegas.

JATUH DARI PUNCAK KEBOHONGAN

“A-apa…?” Suara Celine mencicit, pegangannya pada lengan Troy melonggar.

Troy menatapku dengan mata membelalak, napasnya memburu. “Tidak mungkin… Aurora, kamu hanya anak yatim piatu dari desa! Ini lelucon macam apa?!”

Aku melangkah maju, menatap langsung ke dalam manik mata pria yang pernah kuhargai itu. Senyumku kali ini terasa begitu dingin.

“Aku sengaja memberikan semua aset itu padamu, Troy. Rumah di Ayala Alabang, mobil sport, dan perusahaan trading itu… anggap saja itu upah karena kamu sudah menampungku selama tujuh tahun,” kataku dengan nada santai.

“Tapi asal kamu tahu, tanpa jalur distribusi dari keluargaku, perusahaan yang kamu banggakan itu akan bangkrut dalam waktu kurang dari tiga puluh hari. Tagihan utang bank atas nama perusahaan akan segera datang. Nikmatilah semua kemewahan yang kupinjamkan itu… selagi kamu bisa.”

Troy menggelengkan kepalanya panik. Ponsel di sakunya tiba-tiba berdering histeris—pasti dari manajer keuangannya yang mulai melihat kehancuran saham mereka. Ia mencoba meraih tanganku, “Aurora… tunggu! Kita bisa bicarakan ini! Aku… aku hanya khilaf!”

Namun, dua pengawal berbadan tegap langsung menghadangnya dengan barikade tubuh yang kokoh. Celine yang menyadari situasi telah berbalik, perlahan melangkah mundur, mulai menjauh dari Troy yang kini tampak menyedihkan.

Aku tidak membuang waktu lagi untuk menoleh ke belakang.

Tuan Raymond membukakan pintu sebuah Rolls-Royce hitam yang telah menunggu di lobi penjemputan. Aku masuk ke dalam, menduduki kursi kulit yang nyaman, dan membiarkan kaca mobil yang gelap tertutup, memutus total pandanganku dari masa lalu yang berdebu.

Aku, Aurora, kini telah pulang ke duniaku yang sebenarnya. Dunia di mana aku tidak perlu lagi merendahkan diri untuk siapa pun.