Posted in

SETELAH LARA MENANDATANGANI PEMBATALAN PERNIKAHAN, SUAMINYA LANGSUNG MEMBELI CINCIN MAHAL UNTUK SELINGKUHANNYA—TAPI SAAT KELUARGA ITU PULANG KE MANSION, MEREKA DISAMBUT KUNCI YANG SUDAH BERGANTI, DAN DI SITULAH DIMULAINYA HUKUMAN YANG SUDAH LAMA DIPERSIAPKAN OLEH WANITA YANG MEREKA KIRA SUDAH KALAH

SETELAH LARA MENANDATANGANI PEMBATALAN PERNIKAHAN, SUAMINYA LANGSUNG MEMBELI CINCIN MAHAL UNTUK SELINGKUHANNYA—TAPI SAAT KELUARGA ITU PULANG KE MANSION, MEREKA DISAMBUT KUNCI YANG SUDAH BERGANTI, DAN DI SITULAH DIMULAINYA HUKUMAN YANG SUDAH LAMA DIPERSIAPKAN OLEH WANITA YANG MEREKA KIRA SUDAH KALAH

Setelah Lara Villanueva menandatangani surat annulment, Rafael Sison tertawa seperti orang menang lotre.

Keesokan harinya, dia membeli cincin berlian seharga ₱1.000.000 (± Rp280.000.000) untuk melamar selingkuhannya.

Namun malam itu, saat mereka kembali ke mansion di Forbes Park, kunci Rafael tidak lagi berfungsi.

Dan di gerbang, terpasang papan baru:

“Private Property. Trespassers Will Be Prosecuted.”

Tangan Rafael bergerak cepat saat menandatangani kesepakatan itu. Dia bahkan tidak membaca halaman terakhir dengan benar. Begitu melihat tanda tangan Lara, dia langsung tersenyum sinis.

— Kita sudah selesai — katanya sambil mendorong dokumen ke arah Lara — Mulai sekarang kamu tidak punya hak atas rumah, perusahaan, atau namaku. Dua juta peso saja sudah cukup untukmu (± Rp560.000.000). Itu sudah banyak untuk wanita yang tidak punya kontribusi selain memasak dan membersihkan rumah.

Lara diam menerima dokumen itu.

Usianya 32 tahun, tubuhnya kurus, sederhana, dan selalu tampak lelah. Selama tujuh tahun pernikahan, dia bangun pagi menyiapkan sarapan, menghadapi kemarahan ibu mertua, mengurus rumah, melayani acara makan malam Rafael, dan tersenyum di depan tamu yang diam-diam meremehkannya.

Bagi keluarga Sison, dia tidak bergengsi.

Bagi Rafael, dia penghalang.

Dan bagi Bianca Reyes, selingkuhan yang lebih muda delapan tahun, Lara hanyalah tirai lama yang harus diganti.

— Kamu tidak akan menangis? — tanya Rafael bosan.

Lara menatapnya datar.

— Kenapa aku harus menangis kalau ini pilihanmu?

Rafael mengerutkan dahi lalu tertawa.

— Drama sekali kamu. Pergi sana. Jangan sampai Bianca melihatmu besok. Aku tidak mau mood-nya rusak.

Lara berdiri, mengambil koper kecil yang sudah lama ia siapkan. Sebelum pergi, dia berhenti di pintu.

— Rafael, semoga kamu bahagia dengan keputusanmu.

— Tentu saja — jawab Rafael — Ini keputusan terbaikku.

Begitu pintu tertutup, Rafael hampir berteriak senang. Dia langsung menelepon Bianca.

— Baby, aku sudah bebas! Lara sudah pergi. Malam ini kita rayakan.

Di seberang, Bianca tertawa manja.

— Jadi aku sudah bisa pindah ke mansion?

— Tentu. Kamu ratu baru di sana.

Sore harinya, Rafael pergi ke butik perhiasan terkenal di BGC. Dia tidak lagi peduli harga. Dia memilih cincin paling berkilau di etalase.

— Satu juta peso, Pak — kata pegawai toko.

Rafael tersenyum dan mengeluarkan kartu hitamnya.

— Bungkus yang bagus. Ini cincin lamaran.

Di dalam pikirannya, hidup barunya sudah sempurna. Dia CEO Sison Prime Development, proyek properti mewahnya di Taguig sedang naik.

Bianca cocok dengannya—cantik, modern, aktif di media sosial, selalu terlihat glamor.

Bukan seperti Lara.

Sunyi. Sederhana. Selalu menunduk.

Malamnya mereka makan di restoran mewah di BGC. Rafael bersama Bianca, ibunya Doña Corazon, ayahnya Arturo, dan adiknya Denise.

Mereka bersulang seperti merayakan kemenangan.

— Akhirnya kamu bebas, Nak — kata Doña Corazon — Dari dulu aku bilang, Lara tidak pantas untukmu. Dia seperti pembantu di rumah sendiri.

Denise tertawa.

— Iya, Ma. Dia selalu terlihat seperti baru selesai mengepel.

Bianca tersenyum sambil bersandar di bahu Rafael.

— Kasihan sih dia. Tapi memang tidak semua wanita bisa bersaing.

Rafael mengeluarkan kotak cincin.

Bianca terkejut.

— Oh Tuhan, Raffy…

Dia berlutut di restoran, melamar selingkuhannya di depan semua orang.

— Bianca, kamu wanita pilihanku. Maukah kamu menikah denganku setelah semuanya selesai?

— Mau! Tentu mau!

Tepuk tangan terdengar di sekeliling mereka. Foto diambil. Video direkam. Mereka bangga, seolah tidak pernah menyakiti siapa pun.

Malam itu Bianca berkata:

— Sayang, ayo kita ke mansion. Aku mau lihat walk-in closet-nya. Pasti aku ubah semua desainnya. Selera Lara itu membosankan.

— Lakukan saja apa yang kamu mau — kata Rafael — Sekarang itu milik kita.

Pukul 11 malam, tiga mobil berhenti di depan mansion Forbes Park.

Tapi Rafael langsung merasa ada yang tidak beres.

Lampu jalan masuk mati.

Tidak ada penjaga.

Dan gerbang besi besar itu sudah diganti sistem kuncinya.

Dia turun, mencoba membuka dengan kunci lama.

Tidak bisa.

Sekali lagi.

Tetap tidak bisa.

— Mungkin rusak — kata Bianca, tapi suaranya tidak yakin.

Rafael mencoba menelepon caretaker lama. Tidak diangkat.

Denise mendekat dan mundur perlahan.

— Kak… ini apa?

Di gerbang tergantung pemberitahuan resmi:

“Properti ini berada dalam kepemilikan hukum Villanueva Holdings. Masuk tanpa izin akan dianggap pelanggaran hukum.”

Rafael membeku.

— Tidak mungkin… ini rumahku.

Tiba-tiba layar interkom menyala.

Wajah Lara muncul di monitor.

Dia tidak lagi terlihat lelah. Rambutnya rapi, memakai blazer putih, tatapannya dingin.

— Selamat malam, Rafael.

Bianca mundur.

Doña Corazon memegang dadanya.

Dan Rafael mulai pucat saat mendengar suara Lara berikutnya.

— Lara! Apa-apaan ini?! — teriak Rafael ke arah interkom, urat-urat di lehernya menegang. — Buka gerbangnya! Ini rumahku! Aku yang membayar cicilannya!

Lara di balik layar hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang belum pernah mereka lihat selama tujuh tahun ini.

— Rumahmu, Rafael? — suara Lara terdengar begitu jernih dan tenang melalui pelantang suara. — Coba ingat-ingat lagi. Tanah tempat mansion ini berdiri adalah warisan dari mendiang kakekku. Dan sertifikat bangunannya? Atas nama perusahaan holding keluargaku. Kamu hanya membayar cicilan interiornya dengan uang yang… seingatku, sebagian besar berasal dari suntikan dana investor rahasia Sison Prime.

Rafael mendengus, jantungnya mulai berdegup kencang. — Investor rahasia? Apa hubungannya denganmu?!

— Hubungannya adalah… — Lara memiringkan kepalanya sedikit, — investor rahasia yang menyelamatkan perusahaanmu dari kebangkrutan tiga tahun lalu, yang memegang 60% saham Sison Prime Development melalui proxy company, adalah aku. Villanueva Holdings.

Kata-kata itu seperti hantaman gada godam yang tak terlihat.

Doña Corazon langsung berteriak, — Bohong! Kamu hanya anak perempuan yatim piatu yang tidak punya apa-apa saat dinikahi anakku! Jangan membual, Lara!

— Aku sengaja membiarkan kalian berpikir begitu, Ibu Mertua, — sahut Lara, menekankan kata ‘Ibu Mertua’ dengan nada sarkasme yang kental. — Karena jika kalian tahu siapa aku sebenarnya, kalian akan berpura-pura baik demi uangku. Aku butuh tujuh tahun untuk melihat wajah asli keluarga kalian. Dan hari ini, masa uji coba kalian sudah habis.

Lara mengangkat selembar dokumen ke depan kamera interkom. Itu adalah halaman terakhir dari surat annulment (pembatalan pernikahan) yang ditandatangani Rafael tadi siang.

— Rafael, kamu bilang kamu tidak membaca halaman terakhir dengan benar karena terlalu bernafsu membuangku, kan? — Lara membalik halaman tersebut, memperlihatkan klausul tambahan berkode hukum. — Di sini tertulis: Dengan ditandatanganinya pembatalan ini, pihak kedua (Rafael Sison) setuju untuk mengembalikan seluruh aset yang dijaminkan atas nama Villanueva Holdings, termasuk pelepasan jabatan CEO Sison Prime jika terjadi pelanggaran moralitas atau manipulasi dana.

— Kamu menjebakku! — raung Rafael, tangannya memukul gerbang besi.

— Tidak, aku hanya membiarkanmu berjalan menuju jurangmu sendiri, — jawab Lara tenang. — Kemarin malam, tim auditku telah menyerahkan bukti manipulasi dana proyek Taguig yang kamu lakukan demi membelikan pacar barumu apartemen dan cincin satu juta peso itu ke Biro Pajak dan Dewan Direksi. Efektif per jam sembilan malam ini, posisimu sebagai CEO telah dicabut. Kartu hitammu? Sudah dibekukan setengah jam yang lalu.

Mendengar hal itu, Bianca refleks melihat ke arah tas mewahnya, tempat cincin satu juta peso itu disimpan. Wajahnya mendadak pias. Pengusaha kaya yang ia bayangkan akan menghidupinya dalam kemewahan, kini mendadak runtuh di depan matanya.

— Rafael… ini tidak benar, kan? — bisik Bianca, mundur satu langkah dari Rafael.

— Lara! Kamu tidak bisa melakukan ini! Aku suamimu! — teriak Rafael frustrasi.

— Mantan suami, — ralat Lara datar. — Oh, satu lagi. Koper-koper berisi pakaian kalian sudah aku kirimkan ke rumah lama kalian di pinggiran kota. Rumah kecil yang kata Denise dulu ‘bau apek’. Kurasa tempat itu sangat cocok untuk kalian sekarang.

— Lara, tolong, Nak… kita bisa bicarakan ini baik-baik, — Doña Corazon tiba-tiba mengubah suaranya menjadi memelas, air mata kecemasan mulai mengalir di pipinya yang berkerut.

Namun, layar interkom itu langsung mati. Gelap.

Detik berikutnya, seluruh lampu halaman dalam mansion padam, menyisakan lima orang itu berdiri di bawah rintik gerimis malam Forbes Park.

Sonsong angin malam terasa begitu dingin. Rafael jatuh terduduk di aspal, menatap gerbang tinggi yang kini mengurungnya di luar. Di sampingnya, Bianca diam-diam mulai mengetik pesan di ponselnya, mencari pria lain yang bisa menyelamatkannya, sementara Doña Corazon dan Denise mulai berteriak histeris saling menyalahkan.

Dari balik jendela lantai dua mansion, Lara Villanueva berdiri tegak, menyesap teh hangatnya dalam keheningan yang damai. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dia tidak perlu bangun subuh untuk memasak bagi orang-orang yang tidak tahu terima kasih.

Hukumannya baru saja dimulai, dan Lara akan memastikan bahwa kejatuhan keluarga Sison akan berlangsung sangat lambat, dan sangat menyakitkan.