Posted in

Pada malam pernikahanku, aku terpaksa menyerahkan tempat tidurku kepada ibu mertuaku karena katanya ia “terlalu mabuk” — dan keesokan paginya aku melihat sesuatu di atas selimut yang membuatku membeku…

Pada malam pernikahanku, aku terpaksa menyerahkan tempat tidurku kepada ibu mertuaku karena katanya ia “terlalu mabuk” — dan keesokan paginya aku melihat sesuatu di atas selimut yang membuatku membeku…

Malam pernikahan seharusnya menjadi malam paling membahagiakan dalam hidupku.

Setelah seharian berdiri menyambut tamu, tersenyum sampai pipiku pegal, dan berfoto tanpa henti, aku akhirnya naik ke kamar dengan tubuh yang nyaris kehabisan tenaga.

Aku hanya ingin memeluk suamiku dan tidur dengan tenang.

Namun baru saja aku selesai menghapus riasan, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

“Maaf, ya. Mama terlalu mabuk,” kata suamiku. “Biarkan Mama tidur di sini dulu. Di bawah terlalu berisik.”

Ibu mertuaku masuk dengan langkah sempoyongan.

Ia memeluk bantal erat-erat.

Napasnya berbau alkohol.

Kancing blusnya sedikit terbuka.

Pipinya merah dan matanya tampak setengah tertutup.

Aku sebenarnya ingin membawanya ke ruang tamu atau kamar tamu.

Namun suamiku langsung menghentikanku.

“Biarkan Mama tidur di sini saja. Hanya satu malam.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Malam ini?”

“Iya. Hanya malam ini. Bahkan kalau ini malam pernikahan kita sekalipun.”

Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan menyusup ke dadaku.

Tetapi aku menahan diri.

Aku tidak ingin dicap sebagai menantu yang tidak sopan sejak hari pertama.

Jadi aku mengambil bantal, turun ke ruang tamu, dan tidur di sofa.

Atau setidaknya mencoba tidur.

Sepanjang malam aku terus terbangun.

Beberapa kali aku mendengar langkah kaki di lantai atas.

Kadang terdengar bunyi kayu berderit.

Lalu sunyi.

Aku baru benar-benar tertidur menjelang subuh.

Ketika membuka mata lagi, jam hampir menunjukkan pukul enam pagi.

Aku segera bangun.

Hari itu masih ada banyak keluarga yang akan datang berkunjung.

Aku memutuskan naik ke kamar untuk membangunkan suamiku.

Perlahan aku membuka pintu.

Dan langsung terpaku.

Suamiku membelakangiku, masih tertidur.

Ibu mertuaku berbaring di sampingnya.

Di tempat tidur yang kuserahkan semalam.

Awalnya aku hanya merasa tidak nyaman.

Tetapi ketika aku melangkah mendekat dan melihat selimut putih yang membentang di atas mereka, seluruh tubuhku mendadak dingin.

Di atas kain putih yang bersih itu…

Ada bercak merah.

Kecil.

Namun sangat jelas.

Aku membeku.

Jantungku berdegup begitu keras hingga telingaku berdenging.

Pikiranku langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.

Tanganku gemetar saat aku menatap bercak itu.

Saat itulah ibu mertuaku perlahan membuka mata.

Dan ketika melihat ke arahku…

Wajahnya langsung pucat.

Berikut adalah kelanjutan dan akhir dari cerita tersebut:

Bagian 2 (Tamat) — Rahasia di Balik Selimut Putih, Kebohongan yang Hancur, dan Langkah Kakiku Keluar dari Rumah Sandiwara

Ibu mertuaku langsung terduduk. Selimut putih itu ditariknya dengan panik, mencoba menutupi bercak merah yang sedari tadi membuatku mematung. Namun, gerakan agresifnya justru membuat suamiku, joni, terbangun.

“Ada apa, Ma? Kok ribut-ribut…” Joni mengucek matanya, lalu menatapku yang berdiri kaku di ujung ranjang. Ekspresi wajahnya langsung berubah tegang saat melihat napas yang memburu dan tatapan mataku yang tertuju pada selimut.

“Nadia… ini tidak seperti yang kamu pikirkan!” suara ibu mertuaku mendadak melengking, kehilangan semua wibawanya. Tangannya gemetar hebat.

Aku melangkah mundur satu langkah. Otakku berputar cepat. Bercak merah. Wajah pucat. Ketakutan yang berlebihan dari seorang ibu dan anak di atas ranjang pengantin di pagi hari.

“Apa ini, Joni?” suaraku bergetar, menahan badai emosi yang siap meledak. “Apa yang kalian lakukan di atas tempat tidurku?!”

Joni melompat turun dari ranjang, mencoba memegang pundakku, tapi aku menepisnya dengan kasar. “Nadia, demi Tuhan, dengarkan aku dulu! Ini… ini bukan noda darah seperti yang ada di kepalamu! Ini bukan… kami tidak melakukan hal menjijikkan itu!”

“Lalu apa?!” teriakku, air mata yang sejak semalam kutahan akhirnya tumpah. “Ibu mertuaku merebut kamar pengantin dengan alasan mabuk, suamiku bersikeras tidur di kamar yang sama, dan pagi ini ada bercak merah di selimut? Kalian pikir aku bodoh?!”

Mendengar keributan yang semakin menjadi, pintu kamar yang setengah terbuka diketuk dari luar. Ayah mertuaku dan beberapa bibi yang menginap karena acara keluarga bergegas masuk.

“Ada apa ini pagi-pagi sudah teriak-teriak?” tanya Ayah mertua dengan kening berkerut.

“Lihat kelakuan istri dan anakmu, Yah!” aku menunjuk ke arah ranjang dengan tangan yang masih gemetar.

Ibu mertuaku langsung menangis histeris, menutupi wajahnya. Tapi Joni, yang menyadari situasi sudah tidak bisa dikendalikan dan harga diri keluarganya di ambang kehancuran di depan kerabat, akhirnya jatuh terduduk di lantai. Ia memegangi kepalanya, tampak frustrasi.

“Bukan, Nadia… itu darahku,” bisik Joni pelan, suaranya parau.

Aku tertegun. “Apa maksudmu?”

Joni perlahan mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca karena malu dan tertekan. “Itu darah dari lenganku. Semalam… semalam penyakitku kambuh. Aku memakai jarum suntik lagi di kamar ini setelah kamu turun ke bawah.”

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Ayah mertuaku mendesah berat, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan, seolah rahasia terbesar yang mereka sembunyikan rapat-rapat akhirnya robek di depan mata.

Hari itu, di depan para kerabat yang termangu, kebenaran yang mengerikan itu terungkap. Joni adalah seorang mantan pecandu yang baru saja keluar dari pusat rehabilitasi enam bulan sebelum kami menikah. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah diceritakan kepadaku maupun keluargaku.

Semalam, karena stres menghadapi tekanan pesta pernikahan, Joni mengalami sakau berat dan hampir overdosis di dalam kamar. Ibu mertuaku tidak mabuk. Alasan “mabuk” dan mengusirku ke lantai bawah hanyalah skenario panik agar aku tidak melihat Joni yang sedang gemetar, menggunakan kembali barang haram itu di malam pertama kami. Ibu mertuaku begadang semalam suntuk di samping anaknya, memegangi tubuh Joni yang kejang, hingga tanpa sengaja darah dari bekas suntikan Joni menetes dan menembus ke atas selimut putih kami.

Aku menatap Joni, lalu menatap ibu mertuaku yang kini bersujud di dekat kakiku.

“Nadia, tolong Mama… Mama mohon jangan laporkan Joni ke polisi, jangan tinggalkan dia,” tangis ibu mertuaku pecah. “Mama hanya ingin menyelamatkan anak Mama. Mama sengaja mengusirmu semalam karena Mama takut kamu akan membatalkan pernikahan ini jika tahu Joni kambuh…”

Aku menatap mereka semua dengan rasa hampa yang luar biasa.

Mereka tidak melakukan skandal moral seperti yang awalnya kutakutkan, tetapi apa yang mereka lakukan jauh lebih merusak. Mereka menjebakku. Mereka menikahiku di atas fondasi kebohongan yang sangat besar. Mereka mengorbankan malam pertamaku, membiarkanku tidur di sofa dingin, hanya untuk melindungi rahasia gelap anak lelaki kesayangan mereka.

“Kalian egois,” kataku dengan suara yang sangat pelan namun tajam. “Kalian menyelamatkan anak kalian dengan cara menghancurkan hidupku.”

Aku berjalan ke arah lemari, mengambil tas pakaian yang bahkan belum sempat kubongkar sejak kemarin. Aku memasukkan beberapa barang pribadiku dengan tangan yang kini sudah tidak lagi gemetar. Kesedihanku berubah menjadi kemarahan yang dingin dan tegas.

“Nadia, jangan pergi! Kita bisa obati Joni bersama-sama!” Joni mencoba mengejarku hingga ke pintu.

Aku berbalik, menatap pria yang kemarin baru saja mengucapkan janji suci di depan penghulu.

“Obati dia sendiri, Joni. Tugas itu milik ibumu yang sangat menyayangimu hingga rela menipu orang lain,” kataku dingin. “Pernikahan ini selesai bahkan sebelum sempat dimulai. Pengacaraku akan mengirimkan surat pembatalan nikah besok pagi.”

Aku melangkah keluar dari kamar itu, menuruni tangga, dan melewati ruang tamu yang berantakan sisa pesta semalam. Ketika aku membuka pintu depan dan membiarkan cahaya matahari pagi menyengat wajahku, aku menarik napas dalam-dalam.

Langkah kakiku terasa ringan. Aku bersyukur melihat bercak merah itu di atas selimut, karena jika tidak, aku mungkin akan menghabiskan sisa hidupku tertidur di samping sebuah kebohongan besar.