Posted in

Aku Mengira Semuanya Sudah Berakhir Setelah Perceraian, Tetapi Tiga Tahun Kemudian Aku Bertemu Mantan Ibu Mertuaku yang Sedang Meminta-minta Makanan. Aku Lebih Terkejut Lagi Setelah Diam-diam Mengikutinya. Apa yang Sebenarnya Ia Sembunyikan?**

Aku Mengira Semuanya Sudah Berakhir Setelah Perceraian, Tetapi Tiga Tahun Kemudian Aku Bertemu Mantan Ibu Mertuaku yang Sedang Meminta-minta Makanan. Aku Lebih Terkejut Lagi Setelah Diam-diam Mengikutinya. Apa yang Sebenarnya Ia Sembunyikan?**

Tiga tahun setelah perceraian, aku pikir hidupku akhirnya kembali normal.

Bukan kebahagiaan yang penuh cahaya dan tawa, melainkan kehidupan yang tenang dan cukup damai, di mana setiap pagi saat bangun tidur, dadaku tidak lagi terasa diremas oleh rasa sakit.

Aku tinggal di sebuah apartemen kecil dekat kantor.

Siang hari aku bekerja sebagai akuntan. Malam hari aku memasak untuk diriku sendiri. Saat akhir pekan, aku membersihkan rumah lalu tidur lebih awal.

Beberapa kali teman-temanku mencoba menjodohkanku dengan pria lain, tetapi aku selalu menolak.

Setelah pernikahanku dengan Rodrigo berakhir, aku merasa sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk memulai hubungan baru.

Ada luka yang dari luar terlihat telah sembuh.

Namun jika seseorang tanpa sengaja menyentuhnya, rasa sakitnya masih terasa sampai ke tulang.

Suatu pagi, seperti pagi-pagi lainnya, aku pergi ke pasar karena kulkasku hanya berisi beberapa butir telur.

Pasar sangat ramai.

Suara para pedagang yang tawar-menawar, deru sepeda motor yang berdesakan, dan bunyi pisau yang menghantam talenan bercampur menjadi suara khas yang hanya bisa ditemukan di pasar tradisional.

Saat sedang memilih sayuran, aku mendengar suara seorang wanita tua di belakangku.

“Bisakah saya meminta sedikit uang untuk membeli bubur?”

Tanganku langsung terhenti.

Aku tidak tahu mengapa, tetapi satu kalimat sederhana itu membuat bulu kudukku meremang.

Suara itu terasa sangat familiar.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Perlahan aku menoleh.

Beberapa meter dariku, seorang wanita tua duduk di lantai semen di dekat lapak ikan.

Rambut putihnya berantakan.

Jaket yang dikenakannya kusut dan warnanya sudah pudar.

Sandalnya yang putus diikat rapi menggunakan tali plastik.

Di depannya terletak sebuah topi tua.

Di dalamnya hanya ada beberapa lembar uang lusuh.

Namun bukan penampilannya yang menyedihkan yang membuatku terpaku.

Melainkan wajahnya.

Aku terdiam seolah kakiku tertancap ke tanah.

“Ibu…” kata itu keluar begitu saja dari bibirku.

Wanita tua itu terkejut dan mengangkat wajahnya.

Dan aku langsung tahu.

Itu benar-benar dia.

Corazon.

Mantan ibu mertuaku.

Wanita yang dulu selalu duduk dengan angkuh di ruang tamu rumahnya, menunjuk wajahku sambil menghina.

“Kau tidak tahu cara merawat keluarga.”

“Kau tidak pantas berada di keluarga ini.”

Tiga tahun yang lalu, dialah orang yang memaksaku menandatangani surat perceraian.

Saat aku baru kehilangan anakku dan bahkan belum genap satu bulan berlalu.

Dia juga yang hanya berdiri dengan tangan terlipat di dada saat melihatku menyeret koper keluar rumah di tengah hujan deras.

Tidak sekali pun dia mengatakan sesuatu untuk menghentikanku.

Dan sekarang…

Wanita yang dulu lebih menghargai gengsi daripada nyawanya sendiri itu duduk mengemis di pasar.

Corazon menatapku tidak lebih dari dua detik.

Lalu wajahnya berubah.

Dia segera menundukkan kepala.

Tangannya yang kurus dan gemetar buru-buru menarik topi tua itu untuk menutupi sebagian wajahnya.

Seolah-olah takut dikenali.

Anehnya, saat itu aku tidak merasakan kepuasan sedikit pun.

Tidak ada rasa kemenangan.

Tidak ada kebahagiaan melihat orang yang pernah menyakitiku jatuh miskin.

Yang kurasakan hanyalah beban aneh di dalam dada.

Seolah-olah aku sedang melihat bagian dari masa laluku yang perlahan hancur tepat di depan mataku.

Aku melangkah mendekat.

“Ibu… bagaimana bisa keadaan Ibu menjadi seperti ini?”

Corazon tetap menunduk.

Suaranya bergetar saat menjawab.

“Maaf… Anda salah orang.”

Berikut adalah kelanjutan dan akhir (ending) dari cerita Anda dalam bahasa Indonesia yang menyentuh, penuh plot twist, dan emosional:

Aku tahu dia berbohong. Suara serak itu tidak mungkin salah. Namun, sebelum aku sempat membalas, Corazon tiba-tiba berdiri dengan tergesa-gesa. Tubuhnya yang ringkih limbung sejenak, tetapi dia memaksakan diri untuk berjalan cepat, bahkan setengah berlari, meninggalkan pasar melalui gang sempit di samping lapak ikan.

Rasa penasaran dan firasat buruk mengalahkan logika logisku. Aku memutuskan untuk mengikutinya dari jarak jauh.

Corazon berjalan menyusuri gang-gang kumuh yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Setelah sekitar lima belas menit berjalan, dia berhenti di depan sebuah rumah petak setengah bata yang tampak hampir roboh. Atap sengnya berkarat, dan dindingnya dipenuhi lumut.

Dia mengetuk pintu kayu yang lapuk itu dengan ritme khusus. Ketika pintu terbuka, jantungku rasanya berhenti berdetak.

“Ibu? Apakah Ibu mendapatkan makanan?”

Suara itu… suara laki-laki yang sangat kukenal. Itu Rodrigo. Mantan suamiku.

Namun, kondisinya membuatku terengah-engah menahan jeritan. Rodrigo tidak lagi memakai setelan jas mahalnya. Dia duduk di sebuah kursi roda tua. Kedua kakinya dibalut kain kasa tebal yang tampak kusam, dan tubuhnya jauh lebih kurus dari yang kuingat.

Aku bersembunyi di balik dinding gang, air mataku tiba-tiba luruh tanpa bisa dibendung. Aku menajamkan pendengaranku saat Corazon masuk dan menutup pintu yang sengaja diganjal sedikit agar udara bisa masuk.

“Hanya ada ini, Rodrigo. Ibu hanya bisa membeli sebungkus bubur,” ucap Corazon dengan suara yang melembut, sangat berbeda dengan nada ketus yang biasa dia gunakan dulu.

“Maafkan aku, Bu…” Rodrigo terisak. “Gara-gara biaya pengobatanku dan utang-utang perusahaan yang bangkrut, Ibu harus mengemis seperti ini. Seharusnya aku tidak menuruti egoku dulu.”

“Sudahlah, Nak. Ini hukuman untuk kita,” Corazon mengusap kepala anaknya. “Tiga tahun lalu, saat perusahaanmu mulai hancur dan rentenir mengancam akan membakar rumah kita, kita sengaja mengusir istrimu. Kita membiarkannya pergi agar dia aman dari kejaran orang-orang jahat itu. Ibu sengaja bersikap kejam agar dia membenci kita dan tidak pernah menoleh ke belakang lagi. Dia wanita yang baik, dia tidak pantas ikut menderita di lubang neraka ini…”

Deg.

Duniaku serasa berputar balik. Jadi… pengusiran kejam itu, surat perceraian yang dipaksakan saat aku sedang berduka atas keguguran bayiku… semuanya adalah skenario untuk melindungiku? Mereka sengaja menjadi “penjahat” agar aku bisa pergi dan menata hidupku kembali tanpa terseret dalam kehancuran finansial dan bahaya yang mengintai mereka.

Aku melangkah keluar dari tempat persembunyianku. Dengan tangan bergetar, aku mendorong pintu rumah petak itu hingga terbuka lebar.

Kedua orang di dalam ruangan itu menoleh serentak. Wajah Corazon memucat, sementara Rodrigo menatapku dengan mata yang membelalak tidak percaya.

“K-Kau…” bisik Rodrigo, suaranya tercekat di tenggorokan.

Aku berjalan mendekat, menatap kedua orang yang selama tiga tahun ini kukira adalah monster dalam hidupku. Rasa benci yang kupelihara selama bertahun-tahun luruh seketika, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa.

Aku berlutut di depan kursi roda Rodrigo, lalu meraih tangan mantan ibu mertuaku yang kasar dan penuh kapalan.

“Mengapa… mengapa kalian tidak mengatakannya sejujur duku?” tanyaku dengan suara serak, air mata mengalir deras di pipiku.

Corazon menangis tersedu-sedu, egonya yang dulu setinggi langit kini runtuh sepenuhnya. Dia memeluk kepalaku dengan hangat—pelukan yang belum pernah kurasakan darinya selama kami menjadi keluarga.

“Maafkan Ibu, Nak… Ibu hanya ingin kau selamat,” bisiknya di sela tangis.

Hari itu, aku menyadari bahwa akhir dari sebuah perceraian tidak selalu berarti akhir dari rasa kepedulian. Masa lalu kami memang penuh dengan luka dan kesalahpahaman yang tragis. Namun, melihat mereka yang tak lagi memiliki apa-apa selain satu sama lain, aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku tidak akan kembali menjadi istri Rodrigo, karena kisah kami sebagai pasangan telah selesai. Namun, sebagai sesama manusia yang pernah berbagi ruang dalam hidup, aku tidak akan membiarkan mereka kelaparan lagi. Pagi itu, di dalam rumah petak yang sempit, aku akhirnya menemukan kedamaian yang sesungguhnya: kedamaian untuk memaafkan, merelakan, dan membantu mereka bangkit kembali.

Disclaimer: This story is a work of fiction created for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.