Posted in

MANTAN SUAMIKU, BARU TIGA JAM SETELAH PERNIKAHAN KAMI DIBATALKAN, LANGSUNG MENGADAKAN PERAYAAN MEWAH BESAR-BESARAN UNTUK KELUARGANYA. Namun saat tiba waktunya membayar hampir ₱4,8 juta (±Rp1,34 miliar), seorang pelayan mengatakan satu kalimat yang membuat seluruh aula terguncang…

MANTAN SUAMIKU, BARU TIGA JAM SETELAH PERNIKAHAN KAMI DIBATALKAN, LANGSUNG MENGADAKAN PERAYAAN MEWAH BESAR-BESARAN UNTUK KELUARGANYA. Namun saat tiba waktunya membayar hampir ₱4,8 juta (±Rp1,34 miliar), seorang pelayan mengatakan satu kalimat yang membuat seluruh aula terguncang…

Pelayan dari La Estrella Imperial, venue acara paling mewah di Makati, menundukkan kepala sedikit.

Dengan hormat ia mengembalikan kartu platinum kepada Adrian Villanueva.

—Mohon maaf, Tuan Adrian.

Suaranya tidak keras.

Namun seluruh ruangan seolah berhenti.

Semua orang mendengarnya.

—Kartu ini sudah tidak dapat digunakan lagi.

—Apakah Anda memiliki kartu lain atau metode pembayaran lain?

Adrian terdiam.

Gelas wine yang dipegangnya berhenti di udara.

Baru tiga jam berlalu.

Ia baru saja keluar dari pengadilan.

Pernikahannya dengan Samantha Reyes resmi dibatalkan.

Mereka telah bersama tiga tahun.

Tiga tahun ia menganggap istrinya sebagai beban.

Tiga tahun ia percaya bahwa Samantha membawa kesialan.

Dan sekarang, setelah bebas, ia merasa seolah matahari kembali bersinar.

Karena itu saat ibunya, Rosalinda Villanueva, berkata:

—Kita harus merayakannya.

—Akhirnya “kesialan” itu hilang dari keluarga kita.

Ia langsung setuju.

Awalnya hanya 15 meja.

Namun ia menaikkannya menjadi 30 meja.

Paket paling mahal.

₱160.000 per meja (±Rp44,8 juta).

Lobster impor.

Wagyu Jepang.

Kepiting raja Alaska.

Anggur Prancis.

Kuartet musik live.

Total biaya:

Hampir ₱4,8 juta (±Rp1,34 miliar).

Bagi Adrian, itu bukan masalah.

Ia pemilik Villanueva Steel Trading.

Keuntungannya setiap tahun mencapai jutaan.

Dan ia ingin menunjukkan kepada semua orang—

Ia sudah bebas.

Ia akan mendapatkan wanita yang lebih baik.

Lebih kaya.

Lebih elegan.

Lebih pantas.

Adiknya, Clarisse, tertawa kecil.

—Kak, aku yakin setelah ini kamu akan menikah dengan artis.

Rosalinda tersenyum.

—Samantha memang tidak cocok dengan keluarga kita.

—Pendiam.

—Lemah.

—Tidak punya ambisi.

—Sudah tiga tahun menikah tapi belum punya anak.

—Dan dia tidak pernah menggunakan koneksi keluarganya untuk membantu bisnis kita.

Adrian mengangguk.

Benar.

Apa yang pernah Samantha lakukan?

Cantik saja.

Baik.

Diam.

Tapi tidak berguna.

Ia tidak tahu…

Selama tiga tahun itu…

Samantha tidak pernah menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Ia tidak pernah bilang bahwa ayahnya adalah salah satu pengusaha terbesar di Visayas.

Ia tidak pernah bilang bahwa ia pemegang saham di beberapa bank.

Ia tidak pernah bilang bahwa rumah yang mereka tinggali atas namanya.

Ia tidak pernah bilang bahwa credit line perusahaan Adrian dijamin oleh keluarga Reyes.

Ia tidak pernah bilang…

Karena ia mencintai Adrian.

Dan ingin dicintai karena dirinya sendiri.

Bukan karena uang.

Namun sekarang semuanya sudah selesai…

Ia tidak punya alasan untuk diam lagi.

Pelayan kembali mendekat.

Ekspresinya lebih serius.

—Tuan Adrian…

—Kartu kedua juga tidak bisa digunakan.

Wajah Adrian memucat.

—Apa?!

—Coba lagi!

—Sudah tiga kali, Tuan.

—Semua akun dibekukan.

Aula menjadi sunyi.

Satu per satu orang mulai menoleh.

Adrian merasakan panas di wajahnya.

Ia keluar.

Menghubungi bank.

Beberapa menit kemudian…

Hampir saja ponselnya terlepas.

—Maksud Anda fasilitas kredit saya disuspensi?!

—Tuan, menurut catatan, jam 5 sore tadi jaminan korporasi perusahaan Anda ditarik.

—Ditarik oleh siapa?!

Hening sejenak.

Lalu jawaban datang.

—Oleh penjamin utama.

—Nona Samantha Reyes.

Dunia Adrian seakan runtuh.

—Mustahil…

—Dia bukan penjamin!

—Dia hanya wanita biasa!

Suara di telepon tetap tenang.

—Tuan…

—Nona Samantha Reyes memegang 32% saham Reyes Financial Holdings.

—Ia yang menyetujui kredit perusahaan Anda tiga tahun lalu.

Seperti tersambar petir, Adrian membeku.

Tiba-tiba ia teringat.

Tiga tahun lalu.

Perusahaannya hampir bangkrut.

Seorang investor tak dikenal menyelamatkannya.

Ia tidak pernah mencari tahu siapa.

Ia pikir itu hanya keberuntungan.

Ternyata…

Samantha.

Semua itu…

Samantha.

Ponselnya kembali berdering.

Manajer keuangan.

Hampir menangis.

—Tuan!

—Ada masalah besar!

—Rekening perusahaan dibekukan!

—Ada pemberitahuan dari otoritas pajak!

—Dan audit dari SEC juga turun!

Tangan Adrian gemetar.

—Apa?!

—Kenapa?!

—Saya tidak tahu, Tuan!

—Tapi ada surat di sini.

—Dari pengacara Nona Samantha Reyes.

Napasnya terhenti.

—Apa isinya?

Suara itu pelan.

—“Mulai hari ini, keluarga Reyes tidak lagi memiliki kewajiban atau dukungan apa pun terhadap Villanueva Steel Trading.”

—“Semoga Anda juga merasakan kebebasan seperti yang Anda rayakan malam ini.”

Adrian jatuh terduduk di sofa lobi.

Wajahnya pucat.

Dan pada saat itu…

Seorang wanita masuk ke pintu utama hotel.

Memakai celana putih.

Blazer elegan.

Tenang.

Cantik.

Dengan senyum dingin.

Samantha.

Ditemani dua pengacara.

Dan seorang pria tua.

Ayahnya.

Ia berjalan perlahan.

Melihat aula yang masih dipenuhi keluarga Villanueva yang masih berpesta.

Lalu menatap Adrian.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun pernikahan…

Ia tersenyum tanpa cinta.

Dan berkata:

—Adrian…

—Malam ini belum selesai.

—Masih ada satu dokumen lagi yang harus kamu tanda tangani.

Ia mengeluarkan map biru tebal.

Saat Adrian gemetar, pengacara membuka halaman pertama.

Dan di sana tertulis judul yang membuat wajahnya sepenuhnya kehilangan warna…

Bab 2: Surat Pengusiran dan Akhir dari Sebuah Dongeng

Judul di halaman pertama map biru tebal itu tercetak dengan huruf kapital hitam yang tegas, seolah siap mencabik-cabik sisa-sisa harga diri Adrian:

“SURAT SITA EKSEKUSI ASET DAN PENGOSONGAN RUMAH ATAS NAMA SAMANTHA REYES.”

Adrian menatap kertas itu dengan mata membelalak, napasnya memburu. “Sa-Samantha… apa maksudnya ini? Rumah? Itu rumah kita! Aku yang mencicilnya setiap bulan!”

Salah satu pengacara di samping Samantha, seorang pria paruh baya berkacamata dengan ekspresi tanpa kompromi, melangkah maju. “Tuan Adrian, Anda keliru. Rumah mewah di Forbes Park yang Anda tinggali selama tiga tahun ini dibeli tunai oleh Nona Samantha sebelum pernikahan kalian. Uang yang Anda sebut sebagai ‘cicilan’ setiap bulan itu sebenarnya hanyalah biaya pemeliharaan properti yang Anda transfer ke rekening pembantu. Hak kepemilikan mutlak ada di tangan klien kami.”

Pengacara itu membalik halaman dokumen, menyodorkan sebuah pulpen mahal ke depan wajah Adrian yang kaku.

“Karena pernikahan Anda telah resmi dibatalkan tiga jam lalu, status Anda di rumah tersebut kini ilegal. Nona Samantha memberikan waktu tepat dua puluh empat jam bagi Anda dan keluarga Anda untuk mengemas barang-barang pribadi. Lewat dari itu, tim keamanan kami akan membuangnya ke tempat sampah.”

“Tidak! Ini tidak mungkin!”

Sebuah teriakan melengking memecah ketegangan di lobi. Rosalinda dan Clarisse berlari keluar dari dalam aula setelah menyadari ada yang tidak beres dengan pembayaran mereka. Wajah Rosalinda yang tadinya penuh senyum kemenangan, kini berubah pias saat melihat mantan menantunya berdiri dengan keanggunan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

“Samantha! Apa-apaan ini?!” bentak Rosalinda, mencoba mempertahankan keangkuhannya yang palsu. “Kamu sengaja datang ke sini untuk mengacaukan pesta kami? Beraninya kamu memblokir kartu Adrian! Kami sedang merayakan kebebasan putraku dari wanita pembawa sial seperti kamu!”

Samantha tidak mundur selangkah pun. Ia menatap mantan ibu mertuanya itu flat, tanpa ada kemarahan, hanya ada rasa jijik yang mendalam.

“Nyonya Rosalinda,” suara Samantha terdengar begitu jernih dan berwibawa di lobi hotel. “Tiga tahun lalu, saat Villanueva Steel Trading diambang kehancuran, kalian datang ke rumahku, memohon agar aku menerima lamaran Adrian karena peramal keluarga kalian bilang aku membawa keberuntungan. Aku menerima Adrian bukan karena ramalan konyol itu, tapi karena aku bodoh… aku mengira putra Anda tulus mencintaiku.”

Samantha berjalan satu langkah lebih dekat ke arah Rosalinda, membuat wanita tua itu reflex mundur.

“Selama tiga tahun, aku diam saat Anda menghinaku sebagai wanita mandul yang tidak berguna. Aku diam saat Clarisse meminta uang saku bulanan dariku dan menyebutnya sebagai ‘pajak’ karena aku menumpang di keluarga kalian. Aku diam karena aku ingin menjadi istri yang baik. Tapi malam ini, saat kalian merayakan pembatalan pernikahan kita dengan menggunakan uang dari fasilitas kredit yang aku jamin… kurasa batas kesabaranku sudah habis.”

Bab 3: Tagihan yang Nyata

Don Tomas Reyes, pria tua yang berdiri di samping Samantha, akhirnya angkat bicara. Suaranya berat dan berwibawa, mencerminkan posisinya sebagai salah satu taipan paling ditakuti di wilayah Visayas.

“Adrian Villanueva,” panggil Don Tomas, menatap Adrian seolah pria itu tak lebih dari sebutir debu. “Putriku mungkin terlalu baik hingga menyembunyikan identitasnya demi cinta buta. Tapi aku tidak. Aku sudah menghitung setiap peso yang dikeluarkan Reyes Financial Holdings untuk menopang perusahaan bajaj-mu itu selama tiga tahun terakhir. Totalnya mencapai $₱142$ juta peso.”

Don Tomas memberi isyarat kepada pengacara kedua, yang langsung menyerahkan satu bundel dokumen lagi kepada Adrian.

“Itu adalah surat tuntutan pengembalian dana darurat. Karena jaminan perusahaan telah ditarik, bank akan menyita seluruh sisa aset Villanueva Steel Trading besok pagi jam sembilan. Kamu bukan lagi seorang pengusaha sukses, Adrian. Kamu resmi bangkrut malam ini.”

Tubuh Adrian lemas. Dokumen-dokumen di tangannya merosot, berserakan di atas lantai marmer lobi La Estrella Imperial. Ia menoleh ke arah aula pesta, di mana tiga puluh meja bundar masih penuh dengan makanan mewah yang belum habis—lobster, wagyu, kepiting raja—semuanya kini terasa seperti racun yang siap mencekiknya.

“Tuan Adrian…” pelayan hotel yang tadi memegang kartu kredit kembali mendekat, kali ini ditemani oleh manajer keamanan hotel. “Kami mohon maaf yang sebesar-sebesar, tapi jika biaya sebesar $₱4,8$ juta ini tidak bisa dilunasi dalam waktu tiga puluh menit, kami terpaksa harus melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian Makati atas tuduhan penipuan dan kegagalan pembayaran layanan mewah.”

“Polisi?!” Clarisse berteriak histeris, wajahnya pucat pasi. “Kak! Lakukan sesuatu! Aku tidak mau dipenjara! Ibu, katakan sesuatu!”

Rosalinda memegang dadanya, napasnya tersengal-sengal. Ia menatap Samantha dengan mata memohon. “Samantha… nak… tolong. Bagaimanapun juga, kita pernah menjadi keluarga. Adrian hanya khilaf. Tolong bayar dulu tagihan malam ini… kami akan mencicilnya nanti…”

Samantha menatap mantan ibu mertuanya dengan senyuman dingin yang menusuk hingga ke tulang.

“Bukankah Anda yang bilang tadi? ‘Akhirnya kesialan itu hilang dari keluarga kita’?” Samantha mengutip kata-kata Rosalinda dengan sempurna. “Jika aku adalah kesialan, maka uangku juga adalah kesialan. Silakan nikmati kebebasan kalian tanpa sepeser pun uang dari ‘wanita pembawa sial’ ini.”

Bab 4: Runtuhnya Istana Pasir

Adrian merangkak di lantai, meraih ujung celana putih Samantha. Air mata penyesalan dan ketakutan kini membasahi wajahnya yang tadi begitu jemawa.

“Samantha… maafkan aku… aku mohon. Aku tidak tahu… aku benar-benar tidak tahu kalau itu semua karena kamu. Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Pembatalan pernikahan itu… kita bisa menikah lagi! Aku mencintaimu, Samantha!” ratap Adrian, suaranya menggema putus asa di lobi.

Samantha melihat mantan suaminya yang bersujud di kakinya, namun tidak ada lagi getaran cinta di hatinya. Yang ada hanyalah rasa hambar. Ia menarik kakinya mundur dengan perlahan namun tegas.

“Kamu tidak mencintaiku, Adrian. Kamu mencintai fasilitas kreditku. Kamu mencintai keamanan yang kuberikan tanpa kamu sadari,” kata Samantha tenang. “Tiga jam lalu di pengadilan, saat hakim mengetuk palu pembatalan pernikahan kita, kamu tersenyum begitu lebar seolah baru saja memenangkan lotre. Sekarang, jalani pilihanmu.”

Samantha berbalik, berjalan berdampingan dengan ayahnya menuju pintu keluar hotel. Langkah kakinya terdengar begitu mantap, berirama, menandakan kembalinya sang putri mahkota ke tempat yang seharusnya.

“Samantha!! Jangan tinggalkan aku!!” teriak Adrian histreris, namun dua petugas keamanan hotel langsung menahannya di lantai.

Di dalam aula, para tamu undangan yang terdiri dari kerabat dan rekan bisnis Villanueva mulai berbisik-bisik, menyadari bahwa sang tuan rumah tidak mampu membayar pesta yang mereka makan. Beberapa dari mereka diam-diam mulai menyelinap keluar lewat pintu belakang agar tidak ikut terseret dalam bencana finansial tersebut.

Sambil melangkah keluar ke arah mobil limosin yang sudah menunggu, Samantha mendengar keributan di belakangnya—suara Clarisse yang menangis, Rosalinda yang menjerit histeris karena serangan panik, dan sirene mobil polisi Makati yang mulai terdengar mendekat di kejauhan.

Malam yang awalnya dirancang sebagai perayaan kemerdekaan bagi keluarga Villanueva, dalam sekejap berubah menjadi malam penangkapan dan kehancuran total mereka. Adrian telah mendapatkan kebebasan yang sangat ia dambakan—kebebasan mutlak dari uang, rumah, perusahaan, dan wanita yang selama ini diam-diam menjadi pelindung nyawanya.

Disclaimer: This story is a work of fiction created for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.