Posted in

Hari Pembatalan Pernikahanku Resmi Selesai, Keluargaku Mengira Aku Pulang Tanpa Uang dan Menyuruhku Tidur di Gudang; Mereka Tidak Tahu Bahwa di Ponsel yang Kuterima Diam-Diam, Ada Dana yang Cukup untuk Membeli Seluruh Harga Diri yang Mereka Injak**

Hari Pembatalan Pernikahanku Resmi Selesai, Keluargaku Mengira Aku Pulang Tanpa Uang dan Menyuruhku Tidur di Gudang; Mereka Tidak Tahu Bahwa di Ponsel yang Kuterima Diam-Diam, Ada Dana yang Cukup untuk Membeli Seluruh Harga Diri yang Mereka Injak**

### Bagian 1: Aku Pulang Membawa Koper dan Hati yang Sunyi, Tetapi Satu Pertanyaan dari Ibu Membuka Malam Paling Menyakitkan dalam Hidupku

Hari ketika aku keluar dari pengadilan setelah menandatangani dokumen terakhir pembatalan pernikahan, langit tidak sedang hujan, tetapi seluruh kota terasa basah.

Langit di Quezon City tampak berat. Suara jeepney memenuhi persimpangan jalan. Seorang penjual taho berdiri di pinggir jalan, sementara sebuah becak motor melaju kencang dengan pengemudinya berteriak kepada penumpang.

Aku hanya berdiri di depan gedung pengadilan, memegang koper kecil yang terasa seperti satu-satunya hal yang tersisa dari tujuh tahun pernikahanku.

Mantan suamiku, Rafael, berdiri di sampingku. Ia mengenakan kemeja polo putih, rambut tertata rapi, sepatu bersih, dan wajah yang dingin.

Seolah kami tidak pernah melewati malam-malam penuh pertengkaran.

Seolah aku bukan perempuan yang pernah menjual perhiasannya untuk membayar gaji pertama para karyawan perusahaan yang ia bangun.

Seolah aku bukan orang yang bangun pukul dua dini hari untuk membereskan kuitansi, kontrak, surat jalan, dan utang-utang yang bahkan tidak sanggup ia hadapi sendiri.

Ia menarik napas panjang lalu menyerahkan sebuah amplop.

“Ada di rekeningmu sekarang. Bagianmu sudah ditransfer.”

Aku menatapnya.

“Berapa?”

Bukan karena aku tidak tahu.

Aku tahu.

Akulah yang menandatangani perjanjian penyelesaiannya.

Aku hanya ingin mendengarnya dari mulutnya.

Ia memandang ke kejauhan.

“Dua puluh delapan juta peso Filipina. Tidak kurang satu sen pun. Aku juga tidak akan mengambil saham yang masih atas namamu. Semua sudah selesai, Mariel.”

Mariel Santos.

Itulah namaku sebelum menjadi istri Rafael Reyes.

Sekarang aku kembali menggunakan nama itu, seperti luka lama yang baru saja dibuka perbannya.

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia tertawa kecil.

“Hanya itu?”

“Apa lagi yang harus kukatakan?”

Ia terdiam sesaat.

Kemudian menunduk melihat koperku.

“Kau tetap tidak mau dijemput?”

“Tidak perlu.”

“Keluargamu sudah tahu?”

“Akan kuberi tahu.”

Ia mengangguk, tetapi ada bayangan kekhawatiran di matanya.

Ia mengenal keluargaku.

Mungkin bahkan lebih mengenal mereka daripada yang kusadari.

Selama tujuh tahun, ia melihat bagaimana aku selalu diam setiap kali Ibu menelepon untuk meminta uang.

Selama tujuh tahun, ia mendengar Ayah berkata bahwa anak perempuan yang baik harus membantu saudara-saudaranya.

Selama tujuh tahun, ia menyaksikan bagaimana aku membayar biaya kuliah adik bungsuku, cicilan motornya, uang muka rumah mungilnya, bahkan pesta menyambut kelahiran anak pertama istrinya, Mica.

Dan selama tujuh tahun itu pula, keluargaku tidak pernah sekali pun bertanya apakah aku lelah.

Pertanyaan mereka selalu sama:

**“Ada uang yang bisa dikirim?”**

Aku menarik napas panjang.

“Rafael, semuanya sudah selesai. Jangan khawatirkan aku lagi.”

Ada sesuatu yang berkilat di wajahnya.

Penyesalan?

Belas kasihan?

Atau sekadar kelegaan karena ia tidak lagi harus berhadapan dengan perempuan yang mengenalnya sebelum ia kaya?

Aku tidak ingin mencari tahu.

Aku berbalik dan berjalan menuju jalan raya.

Begitu masuk ke dalam taksi, ponselku berbunyi.

Pesan dari bank.

**“Dana sebesar ₱28.000.000,00 telah berhasil diterima pada rekening berakhiran 2197. Saldo tersedia: ₱28.004.612,75.”**

Aku menatap layar itu selama beberapa detik.

Aku tidak merasakan apa-apa.

Bukan bahagia.

Bukan takut.

Bukan juga keinginan balas dendam.

Hanya sebuah kejernihan yang dingin.

Seolah akhirnya aku memegang kunci dari pintu yang selama ini mereka kunci rapat di hadapanku.

Aku membuka grup keluarga.

Namanya:

**“Keluarga Santos Selamanya.”**

Lucu.

Katanya selamanya.

Aku mengetik:

**“Bu, pembatalan pernikahanku dengan Rafael sudah selesai.”**

Belum sampai sepuluh detik, telepon dari Ibu langsung masuk.

Ia tidak menanyakan kabarku.

Tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.

Tidak bertanya apakah aku menangis di pengadilan.

Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah:

“Dapat berapa?”

Aku memejamkan mata.

Di luar jendela taksi, seorang anak sedang makan fishball di trotoar. Seorang perempuan memberikan kembalian di warung kecil.

Dunia tetap hidup.

Tetapi di dalam diriku, ada sesuatu yang mati perlahan.

“Tidak ada, Bu.”

Sunyi di seberang sana.

“Maksudmu?”

“Aku pergi tanpa mengambil apa pun. Aku tidak mau memperpanjang semuanya. Aku hanya ingin semuanya berakhir.”

Suara pecahan seperti muncul dari ujung telepon.

“Mariel, jangan bilang kau bertindak bodoh lagi.”

“Bu, aku lelah.”

“Lelah? Kau lelah? Tujuh tahun tinggal di kondominium ber-AC, punya sopir, punya kartu kredit, lalu kau bilang lelah? Jawab pertanyaanku. Dapat berapa?”

“Tidak ada, Bu.”

Napasnya terdengar tajam dan penuh amarah.

“Pulang sekarang juga.”

“Boleh aku tinggal di rumah dulu?”

Ia mendengus.

“Kau masih berani bertanya? Pulang. Begitu sampai, kita akan bicara soal bagaimana kau menyia-nyiakan hidupmu.”

Lalu sambungan diputus.

Aku tiba di rumah lama kami di Caloocan sekitar pukul lima sore.

Rumah dua lantai yang sempit.

Ada toko kecil di depannya, dengan atap baru yang dulu kubayar sendiri.

Lantai ruang tamunya juga kubiayai.

Kulkas baru yang berdiri di dapur pun kubelikan ketika yang lama rusak.

Tetapi saat berdiri di depan rumah itu, aku merasa seperti orang asing.

Bukan anak.

Aku mengetuk pintu.

Ayah yang membukanya.

Arturo Santos.

Mantan sopir jeepney yang sekarang lebih sering duduk di kursi plastik di depan toko sambil mendengarkan radio.

Ia memandangku dari kepala hingga kaki.

“Oh, kau.”

“Ayah.”

Ia tidak mengambil koperku.

Hanya bergeser memberi jalan.

Saat aku masuk, Ibu duduk di sofa.

Adik bungsuku, Jonel, duduk tanpa alas kaki sambil bermain ponsel.

Di kursi lain ada Mica yang sedang hamil tujuh bulan sambil memegang segelas jus mangga.

Tidak ada yang tersenyum.

Tidak ada yang berdiri.

Tidak ada yang memelukku.

Ibu berbicara lebih dulu.

“Katakan di depan semua orang. Dapat berapa?”

Aku meletakkan koper di dekat pintu.

“Tidak ada, Bu.”

“Rumah?”

“Milik Rafael.”

“Kondominium?”

“Milik Rafael.”

“Mobil?”

“Milik Rafael.”

“Bisnis?”

“Milik Rafael.”

“Perhiasan?”

“Aku tidak mengambilnya.”

Ibu berdiri.

Cepat.

Sebelum sempat menghindar, telapak tangannya sudah mendarat di pipiku.

Keras.

Panas.

Menusuk.

Seolah aku kembali menjadi gadis enam belas tahun yang pernah dimarahi karena mendapat nilai 92, bukan 98.

“Bodoh!” teriaknya. “Kami membesarkanmu, menyekolahkanmu, mempercantikmu, menikahkanmu dengan orang kaya, lalu kau pulang tanpa membawa apa-apa?”

Aku tidak bergerak.

Tidak menangis.

Aku hanya memegang pipiku yang mati rasa.

Ayah berdiri di dekat meja dengan wajah dingin.

“Nena, cukup.”

Kupikir ia akan membelaku.

Tetapi kata-kata berikutnya jauh lebih menyakitkan daripada tamparan itu.

“Kalau kau tidak membawa apa-apa, jangan berharap masih punya tempat di sini.”

Aku menatapnya.

“Ayah?”

“Adikmu sudah berkeluarga. Mica akan segera melahirkan. Kami tidak bisa menambah beban.”

**Beban.**

Jadi itulah sebutan mereka untuk seorang anak yang sudah tidak berguna lagi.

Jonel tersenyum seolah merasa kasihan.

“Kak, bukan berarti kami mengusirmu. Kalau memang tidak punya tempat tinggal, masih ada gudang di belakang. Bisa kau bersihkan dan pakai.”

Aku tidak menjawab.

Ia melanjutkan.

“Tapi tentu tidak gratis. Harga kebutuhan sekarang mahal. Dua belas ribu peso Filipina sebulan. Sudah lebih murah daripada sewa kamar.”

Mica segera menimpali.

“Dan harus ikut bayar makan. Lima ribu peso Filipina lagi. Aku sedang hamil, jadi butuh makanan yang bagus. Tidak bisa hanya menambah pengeluaran.”

Ibu menyilangkan tangan.

“Karena kau tinggal di sini, kau yang mengurus masak, mencuci, dan bersih-bersih. Ini bukan hotel.”

Aku memandang mereka berempat.

Orang-orang yang dulu kuanggap rumah.

Wajah-wajah yang berkali-kali kumaafkan.

Tangan-tangan yang selalu menerima uangku tetapi tidak pernah menggenggamku saat aku membutuhkan mereka.

Aku mengangguk.

“Baik.”

Mereka tampak terkejut.

Jonel tertawa lebih dulu.

“Nah, begitu. Ternyata kau masih bisa mendengarkan.”

Aku mengambil koper dan berjalan ke belakang rumah.

Gudang itu dulunya tempat menyimpan peralatan rusak.

Ada kipas angin tua yang tidak berfungsi, kotak dekorasi Natal, kereta bayi lama, kaca pecah, dan ranjang lipat berkarat.

Bau debu dan kecoak memenuhi ruangan.

Ada jendela kecil tanpa tirai.

Dari luar, aku mendengar Mica berbisik.

“Bu, pasti benar dia tidak dapat apa-apa. Kalau punya uang, tidak mungkin mau tidur di situ.”

Ibu menjawab:

“Dasar bodoh. Mungkin dia pikir harga diri bisa dimakan.”

Ayah berkata pelan:

“Awasi saja dia. Siapa tahu masih ada perhiasan atau kartu yang disembunyikan. Bisa jadi hanya pura-pura.”

Aku berhenti melangkah.

Perlahan aku meletakkan koper.

Lalu membuka ponselku.

Pesan dari bank masih ada di sana.

**Saldo tersedia: ₱28.004.612,75.**

Aku tersenyum tipis.

Bukan karena bahagia.

Tetapi karena untuk pertama kalinya aku melihat mereka dengan sangat jelas.

Mereka mengira aku pulang dalam keadaan hancur.

Mereka mengira aku hanya pantas tidur di gudang.

Mereka mengira perempuan yang diam adalah perempuan yang tidak bisa melawan.

Malam itu, saat berbaring di ranjang lipat yang berkarat, aku mendengar Jonel berbicara di depan pintu.

“Bu, besok kita bicara dengan Kakak soal sertifikat rumah itu. Sekarang dia tidak punya suami dan tidak punya uang. Akan lebih mudah membuatnya menandatangani dokumennya.”

Seluruh tubuhku membeku.

Jadi itulah alasan mereka belum benar-benar mengusirku.

Mereka tidak hanya ingin memeras uangku.

Mereka juga ingin mengambil hal terakhir yang mereka kira masih kumiliki.

Dan di tengah kegelapan gudang itu, aku membuka aplikasi perekam suara di ponselku.

Bagian 2: Jerat yang Mereka Anyam Sendiri di Atas Meja Makan

Pagi berikutnya, bau nasi goreng bawang dan telur dadar menusuk hidungku. Namun, ketika aku berjalan ke meja makan, hanya ada menyisakan sebuah piring plastik berisi kerak nasi dan potongan kecil sosis yang sudah dingin.

“Makanlah,” kata Ibu tanpa melihatku, sibuk menuangkan jus untuk Mica. “Setelah itu, bersihkan halaman depan. Dan Jonel punya sesuatu yang harus kau tandatangani.”

Jonel meletakkan sebuah map cokelat di atas meja makan, tepat di samping piring plastikku. Wajahnya dipenuhi senyum palsu yang memuakkan.

“Kak, ini surat penyerahan hak atas rumah dan tanah ini,” kata Jonel santai, seolah sedang meminta tanda tangan di buku kenangan sekolah. “Karena Kakak sudah tidak punya penghasilan dan statusnya sekarang tidak jelas, lebih baik nama di sertifikat ini dibalik atas namaku. Biar aku bisa ajukan pinjaman ke bank untuk modal bisnis dan biaya persalinan Mica.”

Ayah, yang sedang menyeruput kopinya, ikut menimpali.

“Ini demi kebaikan keluarga, Mariel. Kau sudah gagal mempertahankan pernikahanmu. Jangan sampai kau juga menyusahkan masa depan adikmu.”

Aku menatap dokumen itu. Skenario yang persis seperti yang kudengar dari balik dinding gudang semalam. Aku tidak langsung menolak. Sebaliknya, aku menarik kursi, duduk dengan tenang, dan mengeluarkan ponsel lama yang sengaja kupasang untuk merekam sejak keluar dari kamar tadi.

“Jadi,” suaraku terdengar datar, “kalau aku menandatangani ini, kalian tidak akan mengusirku dari gudang?”

Mica tertawa renyah, meraba perutnya yang buncit. “Tentu saja tidak, Kak. Kan Kakak sudah bayar dua belas ribu peso sebulan. Anggap saja ini kontribusi terakhir Kakak sebagai anak sulung.”

“Dan kalian tidak akan pernah meminta sepeser pun dariku lagi di masa depan?” tanyaku lagi, memastikan setiap kata terekam dengan sangat jelas.

Ibu mendengus, melipat tangannya di dada. “Memangnya apa lagi yang bisa kami minta dari perempuan melarat sepertimu? Rafael sudah membuangmu tanpa sepeser uang pun. Bagiku, harga dirimu sudah habis saat kau melangkah masuk ke rumah ini membawa koper kosong.”

Bagian 3: Membeli Kembali Harga Diri yang Telah Diinjak

Aku tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat Jonel mengernyitkan dahi dan Ayah menghentikan cangkir kopinya di udara.

“Baik,” kataku pelan. “Aku akan menandatanganinya. Tetapi sebelum itu, aku ingin kalian menandatangani selembar kertas ini dulu.”

Aku mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketku. Itu adalah surat pernyataan bermeterai yang sudah kupersiapkan semalam—sebuah pernyataan bahwa keluarga Santos telah menerima seluruh hak asasi, materi, dan menganggap seluruh ‘utang budi’ asuhanku telah lunas, serta tidak akan menuntut hubungan hukum atau finansial apa pun dariku di masa depan.

“Apa ini? Ribet sekali,” gerutu Ibu. Namun, karena didorong rasa serakah agar sertifikat rumah segera berpindah tangan, Jonel dan Ibu segera membubuhkan tanda tangan mereka. Ayah pun menyusul tanpa curiga.

Begitu kertas itu kembali ke tanganku, aku melipatnya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tas. Aku berdiri, meninggalkan pulpen yang sedari tadi disodorkan Jonel tanpa menyentuh dokumen rumah mereka.

“Kak? Kau belum menandatanganinya!” seru Jonel, mulai panik.

“Aku tidak akan pernah menandatanganinya,” jawabku tegas.

“Kau berbohong! Dasar anak tidak tahu diuntung!” teriak Ibu, wajahnya memerah padam. Ia berdiri, siap melayangkan tamparan kedua.

Namun kali ini, aku menangkap pergelangan tangannya di udara. Genggamanku kuat, membuat Ibu terkesiap karena terkejut.

“Cukup, Bu. Cukup tujuh tahun aku membiarkan tangan ini memeras dan memukulku,” kataku dengan suara yang begitu dingin hingga membuat seisi ruangan membeku.

Aku melepaskan tangannya dengan sentakan kecil, lalu merogoh ponsel pintar terbaru yang selama ini kusembunyikan di dalam tas. Aku menekan beberapa tombol, lalu meletakkannya di tengah meja makan. Layarnya menyala terang, menampilkan aplikasi perbankan digital dengan angka yang berkedip mutakhir.

Saldo Tersedia: ₱28.004.612,75

Ruang tamu seketika hening. Begitu hening hingga suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu.

Jonel membelalak, mulutnya menganga. Ia menghitung jumlah angka nol di layar itu berulang kali. “Dua… dua puluh delapan juta peso?!” bisiknya dengan suara bergetar.

Mica hampir tersedak jus mangganya, matanya menatap layar ponselku seolah melihat hantu. Sementara Ayah langsung berdiri dari kursinya, wajahnya pucat pasi.

Ibu gagap, suaranya mendadak melunak, kehilangan semua keangkuhannya dalam satu detik. “Ma… Mariel? Ini… uang apa? Kau bilang Rafael tidak memberimu apa-apa?”

“Aku berbohong, sama seperti kalian yang selalu berbohong pura-pura menyayangiku hanya saat butuh uang,” kataku sambil mengambil kembali ponselku. “Uang ini cukup untuk membeli rumah ini sepuluh kali lipat. Uang ini cukup untuk membeli seluruh harga diri yang baru saja kalian injak-injak sejak kemarin sore.”

Ibu melangkah maju, mencoba meraih tanganku dengan wajah yang tiba-tiba dipenuhi senyum memelas. “Mariel, anakku… Ibu tidak bermaksud begitu semalam. Ibu hanya kesal karena mengira kau ditipu Rafael. Kau tahu kan Ibu sangat menyayangimu? Jonel, ambilkan kursi yang empuk untuk kakakmu! Mica, buatkan teh hangat!”

“Tidak perlu,” pangkasku.

Aku berjalan menuju pintu belakang, mengambil koper kecilku dari dalam gudang yang berdebu, lalu kembali ke ruang tamu. Di depan pintu utama, sebuah mobil sedan hitam mewah yang sudah kupesan melalui aplikasi daring sejak subuh tadi telah terparkir di depan toko.

Aku berbalik untuk terakhir kalinya, menatap empat orang yang kini memandangku dengan tatapan memohon, penuh penyesalan, dan keserakahannya yang mendadak berubah menjadi keputusasaan.

“Surat pernyataan yang kalian tandatangani tadi, ditambah dengan rekaman suara pembicaraan kalian semalam dan hari ini, sudah cukup untuk memastikan kalian tidak akan bisa menyentuh satu sen pun dari uangku melalui hukum apa pun,” kataku, memamerkan kertas di tanganku.

“Mariel! Jangan tinggalkan Ayah dan Ibu seperti ini! Kami orang tuamu!” teriak Ayah, suaranya mulai serak.

“Orang tua tidak menaruh anaknya di gudang berbayar saat mereka mengira anaknya hancur, Yah,” jawabku pelan.

Aku melangkah keluar dari rumah itu, menghirup udara segar Quezon City yang bebas dari beban masa lalu. Aku masuk ke dalam mobil, membiarkan debu jalanan Caloocan tertinggal di belakang. Hari pembatalan pernikahanku memang telah resmi selesai, tetapi hidupku yang sebenarnya baru saja dimulai.

Disclaimer: This story is a work of fiction created for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.