PENGKHIANATAN DI BALIK PERJALANAN CARPOOL
AYAH BILANG DIA DI PABRIK SEPANJANG NATAL… TAPI AKU SENDIRI YANG MENJEMPUTNYA DI SEBUAH HOTEL BERSAMA STAF “ACCOUNTING”.
DI PERJALANAN CARPOOL ITU, DIA TIDAK TAHU BAHWA SOPIRNYA ADALAH ANAKNYA SENDIRI.
DAN SAAT MOBIL BERBELOK KE ARAH RUMAH KAKEK, SEMUA KEBOHONGANNYA TIDAK BISA LAGI BERSEMBUNYI.
Setelah Natal usai, saat lampion-lampion perlahan mulai berdebu dan sisa makanan pesta telah tersimpan rapi di lemari es, aku bersiap untuk kembali ke Jakarta.
Namaku Mara Villanueva, dua puluh enam tahun, bekerja di sebuah perusahaan marketing di kota—sebuah tempat di mana lampu tidak pernah benar-benar padam dan orang-orang seolah tidak pernah tidur.
Aku pulang ke Pampanga untuk merayakan Natal bersama keluarga. Di sana tinggal Ayah Rogelio dan Ibu Estela. Dalam ingatanku, Ayah adalah sosok yang selalu diam dan pekerja keras, dengan tangan yang kasar karena besi dan mesin. Ibu sering bilang bahwa kapalan di tangannya adalah fondasi dari rumah kami ini.
Agar ada tambahan uang bensin untuk kembali ke Jakarta, aku membuka aplikasi carpool. Tak lama, sebuah pesanan masuk.
Titik jemput: Sebuah hotel mewah di kota.
Tujuan: Sebuah mall di Jakarta.
Aku sempat heran mengapa lokasinya di hotel, tapi aku pikir mungkin itu hanya turis. Aku tidak menyangka bahwa orang yang menunggu di depan hotel tersebut adalah ayahku sendiri.
Dia memakai kemeja polo baru, rambutnya rapi, tampak lebih muda dari biasanya. Dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja “lembur di pabrik” seperti yang dia katakan pada Ibu.
Belum sempat aku pulih dari rasa terkejut, seorang wanita keluar dari hotel. Mengenakan pakaian ketat, lipstik menyala, dan senyum yang penuh percaya diri. Dia mendekat dan memeluk Ayah seolah-olah mereka sudah lama menjalin kasih.
Aku mengenalinya.
Dia adalah Carla Dizon, staf accounting di pabrik. Sudah beberapa kali dia datang ke rumah kami dengan alasan “urusan pekerjaan.”
Dia mendekat ke arah Ayah dan berbisik:
— “Rogelio, kamu yakin ini tidak apa-apa? Kita bersama di sini sepanjang Natal… apa istrimu tidak akan curiga?”
Ayah tertawa, ada nada sombong dalam suaranya:
— “Jangan khawatir. Si tua itu mengira aku ada di pabrik dan sedang lembur. Kepercayaannya padaku sangat penuh.”
Rasanya seolah ada yang meremas jantungku.
Seketika itu juga, ponselku bergetar. Pesan dari Ibu:
“Nak, kalau bisa, mampirlah ke pabrik jemput Ayah sebelum kamu berangkat. Kasihan dia, bekerja sepanjang Natal. Suruh dia istirahat sebentar.”
Aku menelan ludah.
Ibuku—wanita yang tidak pernah membeli baju mahal atau perhiasan untuk dirinya sendiri. Semua barang miliknya selalu yang paling murah. Semuanya demi berhemat untuk keluarga. Sementara Ayah… menghabiskan uang di hotel dengan wanita lain.
Aku menarik napas dalam-dalam. Aku memakai masker dan kacamata hitam. Aku merendahkan suaraku saat menjawab telepon dari penumpang.
— “Halo, saya sudah di luar hotel.”
Suara Ayah menjawab dengan nada agak tidak sabar:
— “Cepat sedikit. Kami sedang buru-buru.”
Aku membunyikan klakson pendek dua kali.
Mereka mendekat. Ayah membukakan pintu untuk Carla terlebih dahulu sebelum dia naik ke kursi belakang. Dia tidak mengenaliku—mobil ini baru, dan wajahku tertutup.
Begitu duduk, Carla langsung bersandar di bahu Ayah.
— “Rogelio, Natalku tahun ini sangat bahagia. Aku tidak perlu mencurimu dari pekerjaan.”
— “Memang lebih nikmat istirahat kalau bersama orang yang tepat,” jawab Ayah sambil menggenggam tangan wanita itu.
Cengkeramanku pada setir semakin erat.
Di kaca spion, aku melihat Carla mengangkat tangannya, memamerkan sebuah gelang emas.
— “Ini benar-benar favoritku, pemberianmu.”
Gelang itu… persis seperti yang dicoba oleh Ibu tahun lalu di toko perhiasan. Saat itu Ibu menatapnya lama, lalu mengembalikannya karena berkata: “Mahal sekali, ini setara biaya hidup kita setengah tahun.”
Waktu itu, Ayah hanya diam. Baru sekarang aku mengerti—bukan karena mahal, tapi karena dia memang tidak rela mengeluarkan uang untuk Ibu.
Aku menyambungkan Bluetooth dan memutar lagu lama: “Bakit Ngayon Ka Lang” (Mengapa Baru Sekarang)—lagu yang digunakan Ayah untuk merayu Ibu di alun-alun kota dulu.
Pada nada pertama saja, aku merasakan tubuhnya menegang.
— “Bisa tolong ganti lagunya?” katanya dengan suara serak.
— “Maaf, Pak, tapi saya suka lagu ini,” jawabku dengan suara rendah.
Di cermin, aku melihat wajahnya mulai pucat.
Diam-diam aku mengubah rute. Bukan ke arah Jakarta. Melainkan ke arah desa tempat tinggal Don Ernesto Villanueva, kakekku, orang yang paling dihormati di klan kami.
Sebelum berangkat tadi, aku sudah mengirim pesan singkat:
“Kek, ada yang ingin aku tunjukkan. Aku akan membawa mereka ke sana.”
Mobil berbelok ke jalan sempit menuju persawahan. Di ujungnya berdiri rumah besar milik Kakek. Beberapa kerabat sudah menunggu di depan gerbang.
Ayah menyadari arah jalan yang salah.
— “Ini bukan jalan menuju jalan tol.”
— “Ada pengalihan rute (detour), Pak,” jawabku.
— “Siapa namamu?” tanyanya.
— “Mara.”
Hening.
— “Mara?” ulangnya.
Perlahan aku melepas kacamata hitamku. Lalu, aku menarik turun maskerku.
Di kaca spion, mata kami bertemu.
Pada detik pertama, dia belum mengerti.
Pada detik kedua, dahinya berkerut.
Pada detik ketiga, matanya terbelalak lebar.
— “M… Mara?”
Aku menatapnya dengan tajam.
— “Iya, Ayah.”

Mobil berhenti tepat di depan gerbang besi besar. Di luar, Kakek dan para kerabat berdiri tegak, diam dan serius.
Di dalam mobil, tidak ada satu pun yang berani bicara.
Pada saat itu, gerbang yang berat itu terbuka.
Dan di sanalah… semuanya baru saja dimulai….
Pintu gerbang kayu jati tua milik Kakek terbuka lebar dengan derit yang memekakkan telinga, seolah mengakhiri sandiwara yang telah tersusun rapi sepanjang perjalanan.
Di halaman rumah yang luas, di bawah bayang-bayang pohon mangga besar, tidak hanya ada Kakek Ernesto. Di sana, duduk di atas kursi teras dengan daster pudar favoritnya yang sudah mulai menipis di bagian bahu, adalah Ibu Estela. Di tangannya ada sebuah wadah plastik berisi makanan sisa Natal yang tadinya ingin ia titipkan untukku bawa ke Jakarta.
Wajah Ayah Rogelio seketika berubah pucat pasi, seperti kapur. Tangannya yang tadinya menggenggam mesra jemari Carla langsung terlepas begitu saja, seolah-olah tangan wanita selingkuhannya itu baru saja berubah menjadi bara api.
“M-Mara… apa maksudnya ini? Kenapa kita ke sini?” suara Ayah bergetar hebat. Nada bicaranya yang angkuh di depan hotel tadi lenyap tak berbekas.
Carla, yang menyadari situasi telah berbalik menjadi bencana, mencoba mengecilkan tubuhnya di kursi belakang. Gelang emas di pergelangan tangannya—gelang yang seharusnya melingkar di tangan ibuku—berdenting pelan, memantulkan cahaya matahari sore yang menyengat.
Aku tidak menjawab pertanyaan Ayah. Aku mematikan mesin mobil, mencabut kunci, lalu berbalik sepenuhnya untuk menatap mereka berdua dari kursi kemudi.
“Pabriknya pindah ke hotel mewah ya, Yah?” tanyaku, sangat tenang. Namun, setiap kata yang keluar dari mulutku terasa seperti bilah es yang menusuk. “Dan sejak kapan staf accounting merangkap jadi tugas lemburan malam Natal?”
“Mara, dengarkan Ayah dulu… ini tidak seperti yang kamu lihat. Ini… ini urusan bisnis bisnis pabrik—” Ayah mencoba gagap mencari alasan, keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya.
“Urusan bisnis yang membelikan gelang seharga biaya hidup kami setengah tahun?” potongku tajam. Aku menunjuk ke arah pergelangan tangan Carla yang gemetar. “Gelang yang Ibu tangisi di toko perhiasan karena dia lebih memilih menghemat uang demi kuliah adikku dan perbaikan atap rumah kita yang bocor?”
Carla mencoba membuka pintu mobil untuk melarikan diri, namun aku mendahuluinya dengan mengunci seluruh pintu secara sentral dari panel kendali di dekat setir. “Jangan bergerak, Nona Dizon. Anda menikmati uang keluarga kami sepanjang Natal, setidaknya Anda harus menyapa pemilik aslinya sebelum pergi.”
Aku membuka pintu mobilku sendiri dan melangkah keluar. Ayah, dengan tubuh yang gemetar seolah kehilangan seluruh kekuatannya, terpaksa ikut turun. Langkah kakinya berat, terseret-seret di atas tanah berpasir halaman rumah Kakek.
Kakek Ernesto bangkit dari kursi bambunya. Tubuhnya yang renta namun masih menyiratkan kegagahan seorang mantan kepala desa menatap menantunya dengan pandangan penuh penghinaan.
“Rogelio,” suara Kakek berat dan berwibawa, memecah keheningan pedesaan. “Aku menyerahkan putriku padamu puluhan tahun lalu bukan untuk kamu injak-injak martabatnya setelah kamu merasa punya sedikit uang.”
Ibu Estela berjalan mendekat. Matanya yang sembap menatap Ayah, lalu beralih ke kaca mobil tempat Carla duduk ketakutan di dalam. Ibu tidak menangis histeris. Perempuan yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada keluarga itu justru menunjukkan ketegaran yang luar biasa. Dia melihat gelang emas di tangan Carla, lalu melihat kemeja polo baru yang dikenakan suaminya.
“Rogelio…” suara Ibu lirih, namun sarat akan luka yang mendalam. “Tanganmu kapalan karena mesin pabrik, tapi hatimu ternyata lebih keras dan dingin dari besi-besi itu. Kamu bilang kamu lelah bekerja… ternyata kamu lelah membagi hatimu.”
“Estela, maafkan aku… aku khilaf. Mara salah paham!” Ayah bersujud, memegang kaki Ibu, mencoba mengemis pengampunan di depan seluruh kerabat yang kini menatapnya dengan pandangan jijik.
Kakek Ernesto memberi isyarat kepada dua sepupuku yang berbadan tegap. Mereka mendekati mobil, membuka pintu belakang, dan meminta Carla keluar beserta seluruh barang-barangnya.
“Nona Dizon,” ucap Kakek Ernesto dingin. “Besok pagi, surat pemecatan Anda dari pabrik akan selesai diproses. Dan untukmu, Rogelio…” Kakek menatap Ayah yang masih bersimpuh di tanah. “Pabrik tempatmu bekerja adalah milik keluarga Villanueva. Mulai detik ini, kamu kehilangan pekerjaanmu, dan kamu kehilangan hakmu atas rumah ini.”
Ibu Estela mundur selangkah, melepaskan pegangan tangan Ayah dari kakinya. Ia menatap pria yang telah mendampinginya selama dua puluh lima tahun itu untuk terakhir kalinya.
“Pergilah dengan wanita pilihanmu, Rogelio. Bawa kemeja barumu, bawa kemewahan palsumu. Mulai hari ini, aku tidak punya suami bernama Rogelio,” ucap Ibu dengan nada final yang tak terbantahkan.
Aku berjalan mendekati Ibuku, merangkul bahunya yang kurus namun terasa begitu kokoh malam itu. Kami berbalik, berjalan masuk ke dalam rumah besar Kakek, meninggalkan Ayah yang menangis meraung-raung di halaman bersama selingkuhannya yang kini memandangnya dengan penuh penyesalan—karena pria yang ia sangka kaya raya, kini tidak memiliki apa-apa lagi.
Saat aku menutup pintu rumah, lagu “Bakit Ngayon Ka Lang” dari pemutar musik mobilku yang masih menyala lamat-lamat terdengar dari luar, mengiringi akhir dari seluruh kebohongan yang hancur berantakan di atas tanah kelahiran kami.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.