Posted in

Aku Pulang Membawa Rahasia Kemenangan Kartu Gosok, Tetapi Aku Mendapati Hewan Peliharaanku yang Menemaniku Selama Sepuluh Tahun Menjadi Hidangan di Tengah Pesta; Saat Ibu Mengusirku Demi Cucu Palsu, Aku Menutup Hati dan Membuka Kasus yang Menggemparkan Seluruh Kampung

Aku Pulang Membawa Rahasia Kemenangan Kartu Gosok, Tetapi Aku Mendapati Hewan Peliharaanku yang Menemaniku Selama Sepuluh Tahun Menjadi Hidangan di Tengah Pesta; Saat Ibu Mengusirku Demi Cucu Palsu, Aku Menutup Hati dan Membuka Kasus yang Menggemparkan Seluruh Kampung

Bagian 1: Pada Malam Mereka Menyajikan Hewan Peliharaanku Sebagai Pemuas Ngidam, Dimulailah Balas Dendam Sunyi dari Anak yang Selama Ini Mereka Remehkan

Aku tidak pernah menyangka bahwa hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku justru akan menjadi malam ketika aku mengubur keluargaku untuk selamanya di dalam hatiku.

Aku sedang berada di ruang istirahat kantor di kawasan Ortigas ketika aku hampir berteriak karena terlalu gembira. Di tanganku ada kartu gosok yang kubeli hanya karena kebetulan lewat sebuah minimarket dan merasa kasihan pada pria tua yang menjualnya di luar. Awalnya kukira hanya memenangkan hadiah kecil, tetapi ketika melihat angka yang tertera, lututku langsung lemas.

Rp700.000.000.

Aku tidak bisa berteriak keras karena beberapa rekan kerja sedang tidur di pantry. Jadi aku menggigit punggung tanganku sendiri sambil gemetar.

Orang pertama yang terlintas di pikiranku adalah Ibu.

Lalu Ayah.

Kemudian Kakakku.

Dan tentu saja, Bintang.

Bintang adalah anjing peliharaanku yang sudah tinggal bersama keluarga kami selama sepuluh tahun di sebuah perumahan tua di Cavite. Ia adalah anjing kampung berbulu cokelat madu dengan tanda putih di dahinya yang menyerupai bintang kecil. Karena itulah aku menamainya Bintang.

Dia bukan sekadar anjing.

Dia menemaniku saat masih bersekolah di SMA negeri.

Dia ada ketika aku menangis diam-diam di belakang rumah karena tidak punya uang untuk tugas sekolah.

Dia ada saat Ayah sakit.

Dia ada saat Ibu hampir tidak bisa berdiri karena penyakit rematik.

Dan ketika kebakaran pernah terjadi di belakang kompleks kami, Bintang menggonggong tanpa henti hingga Kakakku terbangun. Jika bukan karena dia, mungkin Kakakku tidak akan sempat keluar dari kamar yang sudah dipenuhi asap.

Karena itu, sambil memegang kartu gosok yang menang besar itu, rencanaku sangat sederhana.

Aku ingin membeli rumah yang lebih layak.

Ada halaman kecil untuk Bintang.

Ada kamar khusus untuk Ibu agar tidak perlu lagi naik turun tangga.

Ada sudut pribadi untuk Ayah merawat tanaman kesayangannya.

Dan ketika istri Kakakku melahirkan nanti, bayi itu akan memiliki kamar yang nyaman.

Aku bukan orang kaya.

Aku hanya seorang supervisor call center.

Sering kali aku pulang saat dini hari, dan kadang ketika sudah tidak ada angkutan umum, aku harus berjalan kaki dari ujung jalan sampai rumah.

Tetapi pada hari itu, aku merasa langit akhirnya memberiku kesempatan untuk membalas semua pengorbanan.

Aku belum memberi tahu siapa pun.

Aku ingin memberi mereka kejutan pada hari Minggu.

Namun sekitar pukul tiga sore, Ibu menelepon.

— Mara, nanti kamu pulang, kan?

Aku langsung mengernyit karena suaranya terdengar gemetar.

— Kenapa, Bu? Ada apa?

Ia menarik napas panjang lalu berbisik.

— Soalnya Lorie. Kamu tahu sendiri, dia sedang hamil. Dari tadi dia menangis terus. Katanya dia tidak akan tenang sebelum makan daging anjing.

Rasanya seperti ada air es yang disiramkan ke tengkukku.

— Apa?

— Mungkin cuma ngidam, Nak. Jangan langsung marah.

Aku langsung berdiri dari kursi pantry.

— Bu, jangan macam-macam dengan Bintang. Dia sudah sepuluh tahun bersama kita. Dia keluarga.

— Ibu tahu.

— Tidak, Bu. Ibu tidak tahu kalau Ibu masih menganggap serius kegilaan Lorie itu.

Beberapa saat ia diam.

— Ibu bilang Ibu tahu.

— Bintang di mana sekarang?

— Di dapur. Lagi tidur.

— Tolong ikat dia dulu di kamarku. Jangan biarkan dia keluar. Dan makanan anjing yang kubeli akan diantar kurir besok. Sudah kubayar. Jangan dijual.

Nada suara Ibu tiba-tiba berubah.

— Berapa lagi itu harganya? Kamu boros sekali untuk anjing. Tapi kalau Ibu minta uang untuk vitamin Lorie, kamu malah banyak tanya.

Aku memejamkan mata.

— Bu, Kakak punya pekerjaan. Lorie juga bekerja sebelum cuti. Jangan jadikan aku ATM keluarga.

— Wah, sekarang kamu berani membantah?

— Bu, aku sedang bekerja. Pokoknya jangan sentuh Bintang.

Aku menutup telepon dengan perasaan gelisah yang sulit dijelaskan.

Berjam-jam aku tidak tenang.

Aku mengirim pesan kepada Kakakku.

Tidak dibalas.

Aku menelepon Ayah.

Juga tidak diangkat.

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa mereka tidak mungkin setega itu.

Aku salah.

Sekitar pukul enam sore, aku membuka Facebook sambil menunggu lift.

Di situlah aku melihat story milik Lorie.

Sebuah meja makan.

Sebuah panci besar.

Piring-piring berisi nasi.

Dan di sudut foto, tergantung kalung merah tua milik Bintang.

Caption-nya berbunyi:

“Ngidam terpuaskan. Terima kasih atas rezekinya.”

Tubuhku langsung lemas.

Aku sulit bernapas.

Aku memperbesar foto itu berkali-kali, berharap aku salah melihat.

Tetapi aku mengenali kalung itu.

Akulah yang membelinya di pasar dari gaji pertamaku.

Ada gantungan logam kecil berbentuk bintang.

Dan gantungan itu terlihat jelas di samping mangkuk.

Suara-suara di lobi seakan menghilang.

Seolah seluruh dunia menyusut dan yang tersisa hanya foto itu di layar ponselku.

Aku berlari keluar dari gedung.

Aku bahkan tidak menunggu angkutan umum.

Aku naik taksi meskipun tahu biayanya mahal.

Sepanjang perjalanan aku terus menelepon Ibu, Ayah, dan Kakakku.

Tak seorang pun menjawab.

Saat aku tiba di rumah, gerbang sudah terbuka.

Ada suara tawa dari dalam.

Ada aroma minyak goreng, cuka, bawang putih, dan sesuatu yang tidak sanggup kusebutkan.

Aku masuk tanpa mengetuk.

Mereka semua ada di meja makan.

Ibu.

Ayah.

Kakakku yang menunduk.

Dan Lorie yang duduk di tengah seperti seorang ratu.

Tangannya bertumpu di atas perutnya.

Lipstiknya tebal, dan minyak makanan masih berkilau di sudut bibirnya.

Saat melihatku, dia tersenyum.

— Oh, Mara. Pas sekali. Coba rasakan. Ternyata empuk kalau direbus lama.

Rasanya seperti ada sesuatu yang meledak di dalam kepalaku.

Aku menatap meja itu.

Aku melihat kalung merah Bintang.

Masih basah.

Diletakkan di samping piring kecil seperti hiasan.

Bintang sudah tidak ada.

Anjing yang selalu berlari menyambutku saat aku pulang.

Anjing yang tidur di depan kamarku ketika aku sakit.

Anjing yang pernah menyelamatkan Kakakku.

Mereka menjadikannya makanan.

Dan perempuan yang mengatur semuanya justru tersenyum di hadapanku.

Aku melangkah mendekati meja.

— Siapa yang melakukan ini?

Tidak ada yang menjawab.

Ayah menatap lantai.

Kakakku memejamkan mata.

Ibu menghindari pandanganku.

Hanya Lorie yang masih tersenyum.

— Jangan berlebihan. Itu cuma anjing. Aku hamil. Anakku lebih penting daripada peliharaanmu.

Aku tidak bisa menahan diri lagi.

Aku menarik sisi meja dan membalikkannya.

Piring-piring berjatuhan.

Nasi berserakan.

Kuah tumpah ke lantai.

Lorie menjerit sambil memeluk perutnya.

— Bu! Dia mau membunuh anakku!

Ibu langsung menghampiriku dan menamparku.

Keras.

Suara tamparannya menggema di seluruh dapur.

— Kurang ajar! Iparmu sedang hamil!

Aku memegang pipiku.

Bukan karena sakit.

Tatapan Ibu jauh lebih menyakitkan.

Seolah aku penjahatnya.

Seolah aku yang tidak punya hati.

— Mereka membunuh Bintang, Bu.

— Itu cuma anjing!

Aku menatapnya.

Cuma anjing.

Dua kata yang menghancurkan sisa rasa hormatku.

— Dia pernah menyelamatkan Kakak saat kebakaran.

— Itu sudah lama.

— Aku yang merawat Ibu saat Ibu tidak bisa berdiri. Aku yang mengantar ke rumah sakit. Aku yang membeli obat-obatan. Tapi hanya karena satu tangisan Lorie, Ibu tega membunuh sahabatku?

Wajah Ibu memerah.

— Jangan ungkit semua yang sudah kamu lakukan. Kamu anak kami. Itu kewajibanmu.

Lorie tertawa kecil.

Pendek.

Tajam.

— Dengar itu? Kewajibanmu. Tapi akulah yang akan memberi cucu untuk keluarga ini.

Aku menoleh ke arah Kakakku.

— Miguel, bicara!

Rahangnya gemetar.

Tetapi tidak satu kata pun keluar.

Saat itulah aku mengerti.

Mereka bukan hanya membunuh Bintang.

Mereka memilih Lorie dibandingkan aku.

Mereka memilih kandungan Lorie dibandingkan sepuluh tahun kasih sayangku.

Mereka memilih janji seorang cucu dibandingkan anak yang selama ini membantu mereka bertahan hidup saat kekurangan uang.

Aku mengambil gelas dari dekat wastafel dan melemparkannya ke dinding di samping Lorie.

Pecah.

Dia menjerit.

Aku tidak berniat mengenainya.

Aku hanya ingin mereka mendengar suara sesuatu yang hancur.

Karena itulah suara hatiku saat itu.

Ayah akhirnya berdiri.

— Pergi dari rumah ini.

Aku menatapnya.

— Yah?

— Kamu tidak mau minta maaf? Keluar dari rumahku.

— Rumahmu?

— Ya. Rumahku. Dan kalau kamu tidak bisa menghormati wanita hamil di sini, kamu tidak punya tempat di keluarga ini.

Aku tertawa meski bibirku gemetar.

— Aku tidak punya tempat?

Ibu mulai melemparkan barang-barangku keluar dari kamar.

Sebuah tas.

Beberapa blus.

Selimut lama.

Bahkan foto wisudaku dilempar ke lantai.

— Ayo! Bukankah kamu keras kepala? Pergi! Kita lihat sejauh apa kamu bisa bertahan.

Di belakang mereka, Lorie terisak.

— Bu, aku takut. Nanti dia kembali dan menyakitiku.

Ibu langsung memeluknya.

— Jangan takut. Dia tidak akan bisa masuk lagi ke sini.

Aku adalah anak kandung mereka.

Tetapi dia yang dipeluk.

Aku yang kehilangan segalanya.

Tetapi dia yang dihibur.

Aku mengambil tasku.

Tidak semua barang kubawa.

Aku sudah tidak sanggup menyentuh apa pun yang masih berbau rumah itu.

Saat aku keluar gerbang, aku mendengar suara kunci diputar.

Lalu suara Ibu.

— Mulai sekarang, jangan biarkan dia masuk lagi.

Aku berhenti di tengah jalan.

Lampu jalan berkedip-kedip.

Di seberang sana ada seekor anjing liar yang kurus dan basah karena gerimis, sedang menatapku.

Saat itulah aku teringat kartu gosok di saku jaketku.

Rp700.000.000.

Tadi siang aku ingin menggunakan uang itu untuk membangun rumah bagi mereka.

Sekarang aku hanya ingin menjadikannya tembok.

Tembok yang memisahkanku dari orang-orang yang sanggup menyebut sahabatku hanya sebagai “seekor anjing”.

Saat aku hendak pergi, sebuah pesan masuk.

Dari Bu Nena, tetangga kami.

“Mara, Nak, tadi aku tidak ikut campur karena takut. Tapi kamu harus melihat ini.”

Ada sebuah video yang dikirim.

Tanganku gemetar saat menekan tombol putar.

Dalam video itu, hari masih pagi.

Ibu berdiri di depan gerbang rumah sambil memegang tali Bintang.

Lorie berdiri di belakangnya dengan saputangan menutupi hidung, sambil tersenyum.

Dan sebelum sepuluh detik pertama berakhir, aku mendengar suara Ibu.

— Cepatlah. Nanti Mara pulang dan membuat keributan.

Video itu terus berputar di layar ponselku, membiaskan cahaya redup di tengah gerimis jalanan Cavite yang sepi.

Aku melihat Bintang. Ekornya yang cokelat madu bergoyang pelan. Dia tidak tahu apa-apa. Dia mengendus sandal Ibu, lalu menatap Ibu dengan sepasang mata bulatnya yang penuh rasa percaya—mata yang sama yang selalu menyambutku setiap kali aku pulang kerja larut malam. Bintang mengira dia akan diajak jalan-jalan sore. Dia tidak tahu bahwa wanita yang diberi makan dari sisa gajiku itu sedang menuntunnya menuju sebuah pembantaian demi memuaskan ego menantu kesayangannya.

“Cepatlah. Nanti Mara pulang dan membuat keributan.” Suara Ibu di video itu begitu dingin, begitu jernih, tanpa ada sedikit pun keraguan atau rasa bersalah.

Tepat setelah kalimat itu, seorang pria dengan motor matik berhenti di depan gerbang. Dia membawa karung karung rami besar. Dan di sana… video itu terputus karena Bu Nena tidak sanggup lagi merekamnya.

Aku menatap layar ponselku yang kini basah oleh tetesan air hujan, atau mungkin air mataku. Rasa sakit yang luar biasa di dadaku mendadak menguap, digantikan oleh kekosongan yang teramat dingin. Rasa sedihku telah mati bersama Bintang. Yang tersisa sekarang hanyalah satu hal: kemarahan yang murni.

Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku, lalu meraba selembar kertas berharga di saku jaketku. Kartu gosok senilai Rp700.000.000.

Uang ini tidak akan pernah menyentuh kulit mereka. Uang ini tidak akan membelikan Ibu obat rematik, tidak akan memperbaiki atap rumah mereka yang bocor, dan tidak akan membiayai persalinan Lorie. Uang ini… akan menjadi peluru pertama dari pembalasan dendamku.

Bagian 2: Hukum Tabur Tuai di Kampung Tua

Malam itu juga, aku tidak kembali ke tempat kosku di Jakarta. Aku menyewa sebuah kamar hotel di dekat alun-alun kota Cavite. Menggunakan sisa uang di rekeningku, aku menyewa seorang pengacara dari firma hukum ternama yang kukenal melalui koneksi call center tempatku bekerja.

Keesokan paginya, ditemani oleh pengacaraku, kami pergi ke kantor pusat penyedia kartu gosok resmi untuk mencairkan hadiah. Prosedur berjalan lancar. Setelah dipotong pajak, uang ratusan juta rupiah itu resmi masuk ke dalam rekening pribadiku.

Saat keluar dari bank, pengacaraku, Pak Aris, menatapku. “Jadi, Nona Mara, apa langkah pertama yang ingin Anda lakukan dengan dana ini? Membeli properti?”

Aku tersenyum tipis—sebuah senyuman yang belum pernah kutunjukkan seumur hidupku. “Pak Aris, Anda tahu hukum perlindungan hewan di negara kita? Dan… Anda tahu tentang hukum kepemilikan tanah di perumahan tua tempat orang tuaku tinggal?”

Pak Aris menaikkan kacamatanya, mulai menangkap arah pembicaraanku. “Undang-Undang Kesejahteraan Hewan sanksinya sangat tegas untuk penyiksaan dan pembunuhan hewan peliharaan secara ilegal. Dan mengenai perumahan Anda… setahu saya tanah itu masih berstatus sengketa waris klan lama, bukan?”

“Tepat,” kataku datar. “Saya ingin Anda melakukan dua hal. Pertama, ajukan laporan pidana resmi atas pembunuhan Bintang. Saya punya bukti video, saksi tetangga, dan foto digital bukti forensik dari media sosial pelaku. Kedua… cari tahu siapa pemilik sah sertifikat induk tanah dari rumah yang ditempati orang tuaku saat ini. Beli tanah itu atas nama saya. Berapa pun harganya.”

Bagian 3: Guncangan di Ruang Tamu

Satu minggu berlalu tanpa suara. Keluarga di rumah Cavite mungkin mengira aku sudah kalah, menangis di pojokan kos-kosan Jakarta karena diusir. Mereka bahkan memblokir nomor teleponku.

Sampai pada suatu hari Jumat yang cerah, sebuah mobil polisi dan dua mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pagar rumah mereka.

Suara sirine yang dinyalakan pendek mengejutkan seluruh gang. Bu Nena dan tetangga-tetangga lain segera keluar rumah, berkerumun untuk menonton.

Ibu Estela keluar dari pintu dengan wajah panik, diikuti oleh Ayah Rogelio dan Miguel. Lorie menyusul dari belakang, memegangi perutnya yang mulai membuncit dengan wajah sok suci yang mendadak pucat.

Dua orang petugas polisi turun, membawa surat perintah resmi. Di belakang mereka, aku melangkah turun dari mobil hitam, mengenakan pakaian formal, tanpa kacamata hitam, menatap mereka lurus-lurus.

“Ada apa ini? Pak Polisi, ada salah apa kami?” teriak Ibu Estela, suaranya melengking panik melihat tetangga-tetangga mulai berbisik.

“Nyonya Estela dan Nona Lorie Dizon?” tanya petugas polisi itu tegas. “Kami menerima laporan pidana terkait pelanggaran Undang-Undang Kesejahteraan Hewan atas penyiksaan dan pembunuhan hewan peliharaan secara ilegal dengan sengaja. Kami memiliki bukti rekaman video keterlibatan Anda berdua, serta bukti digital pengakuan di media sosial.”

Lorie memekik kaget, wajahnya memutih bak mayat. “Apa?! Itu cuma anjing kampung! Polisi macam apa yang menangkap orang karena seekor anjing?! Saya sedang hamil!”

“Hukum tidak peduli Anda hamil atau tidak, Nona,” jawab polisi itu dingin. “Ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan. Jika terbukti, ada hukuman penjara dan denda besar yang menanti Anda.”

“Mara! Kamu tega melaporkan ibumu sendiri dan iparmu yang sedang mengandung?!” teriak Ayah Rogelio, matanya melotot marah ke arahku. “Kamu benar-benar anak durhaka! Hanya karena hewan sialan itu kamu menghancurkan keluarga ini!”

Aku berjalan mendekat ke pagar, menatap Ayah dengan mata yang kosong.

“Keluarga ini sudah hancur sejak kalian merobek kesetiaan makhluk yang menjaga kalian selama sepuluh tahun,” ucapku, suaranya begitu tenang namun sanggup membungkam teriakan Ayah. “Dan Ayah… jangan panggil aku anak durhaka. Karena mulai hari ini, hubungan darah kita sudah selesai.”

Pak Aris, pengacaraku, kemudian maju dan mengeluarkan sebuah dokumen bermaterai resmi dari tas kulitnya. Ia menyerahkannya kepada Ayah Rogelio.

“Apa ini?” tanya Ayah dengan tangan gemetar.

“Itu adalah surat perintah pengosongan rumah,” jawab Pak Aris dengan senyum profesional yang mematikan. “Klien saya, Nona Mara Villanueva, baru saja membeli secara sah sertifikat induk dan hak milik atas tanah yang berdiri di atas rumah ini dari pemilik aslinya. Dan karena Anda sekalian bukan pemilik tanah dan tidak pernah membayar sewa… Nona Mara memberikan waktu 3 x 24 jam bagi Anda semua untuk mengemas barang-barang dan keluar dari sini.”

Ibu Estela terduduk di lantai teras, menangis histeris. “Mara… ini rumah kita! Ini rumah tempat kamu dibesarkan!”

“Ini rumah yang dibangun dari uang hasil keringatku yang kalian sebut sebagai ‘kewajiban’, Bu,” balasku, menatapnya tanpa ada rasa kasihan sedikit pun. “Kalian mengusirku demi cucu palsu dan nafsu makan iparku. Sekarang, silakan bawa menantu kesayanganmu itu untuk tinggal di tempat yang menurut kalian pantas.”

Miguel, kakakku, mencoba memegang tanganku dengan wajah memelas. “Mara, tolong… Lorie sedang hamil. Di mana kami harus tinggal?”

Aku menarik tanganku dari genggamannya, menatapnya dengan rasa jijik yang mendalam. “Kamu seorang suami dan calon ayah, Miguel. Tapi kamu membiarkan istrimu memakan hewan yang pernah menyelamatkan nyawamu dari kebakaran. Kamu tidak layak disebut laki-laki, apalagi seorang kakak.”

Polisi segera menggiring Lorie dan Ibu Estela yang terus menangis histeris masuk ke dalam mobil patroli di hadapan seluruh warga kampung yang menonton sambil berbisik penuh hujatan kepada mereka. Rahasia kekejaman mereka di malam Natal kini telah terbuka lebar, menggemparkan seluruh perumahan.

Aku berbalik, berjalan menuju mobilku tanpa sekali pun menengok ke belakang. Gerimis kecil mulai turun lagi, membasahi jalanan. Aku menyentuh kalung merah milik Bintang yang kini tersimpan rapi di dalam tas kerjaku.

Bintang, kita sudah punya rumah baru sekarang. Rumah yang tenang, luas, dan tidak akan pernah ada orang jahat yang bisa menyentuhmu lagi.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.