IBUKU MENYURUHKU MEMINDAHKAN SELURUH TABUNGANKU KE REKENINGNYA SEBELUM PERNIKAHAN. KUPIKIR ITU HANYA KARENA IA TERLALU MENGKHAWATIRKANKU. HINGGA DI DEPAN LEBIH DARI DUA RATUS TAMU, CALON IBU MERTUAKU TIBA-TIBA BERKATA BAHWA DIALAH YANG AKAN MENYIMPAN KARTU ATM-KU—DAN SAAT ITULAH AKU AKHIRNYA MENGERTI MENGAPA IBUKU MELAKUKAN SEMUA ITU.**
## BAGIAN 1
Aku tak pernah membayangkan akan datang hari ketika ibuku sendiri meminta sesuatu yang begitu sulit kupahami.
“Transfer semua tabunganmu ke rekening Ibu.”
Aku langsung menatapnya.
“Bu… apa yang Ibu bilang?”
Ia duduk tenang di ruang tamu kecil kami, perlahan mengaduk kopi di cangkirnya.
“Semuanya.”
“Tabunganmu, bonusmu, dan semua uang yang sudah susah payah kamu kumpulkan selama bertahun-tahun.”
Aku tertawa kecil karena terlalu terkejut.
“Bu, Ibu sadar nggak dengan apa yang Ibu minta?”
“Aku menabung uang itu selama tujuh tahun.”
“Beberapa bulan lagi aku akan menikah.”
“Itu adalah jaminan masa depan untuk keluargaku nanti.”
Ibu meletakkan sendoknya dengan pelan.
“Ibu tahu.”
“Kalau begitu, kenapa?”
Ia menatapku dalam diam.
“Karena Ibu tidak ingin suatu hari nanti kamu kehilangan semuanya.”
Aku semakin bingung.
“Bu, Ken bukan orang seperti itu.”
“Dia baik.”
“Keluarganya juga baik.”
“Mereka selalu memperlakukanku dengan sopan.”
Ibu hanya tersenyum tipis.
“Nak…”
“Semakin manis seseorang berbicara…”
“Semakin berhati-hatilah kamu.”
Aku menggeleng.
“Ibu terlalu banyak curiga.”
Ia tidak menjelaskan apa pun.
Hanya satu kalimat yang kembali ia ucapkan.
“Percayalah pada Ibu.”
“Ibu tidak akan menyakitimu.”
Sejak kecil, ibuku memang bukan orang yang banyak bicara.
Sejak Ayah meninggal karena sakit, beliau membesarkanku seorang diri.
Setiap hari beliau berjualan makanan agar aku bisa menyelesaikan kuliah.
Beliau tak pernah membeli pakaian baru untuk dirinya sendiri.
Tetapi beliau juga tak pernah membiarkanku kekurangan uang kuliah.
Karena itulah, meskipun aku sulit menerima permintaannya…
Aku juga tidak sanggup menolaknya.
Keesokan harinya kami pergi bersama ke bank.
Satu per satu seluruh uang di rekeningku dipindahkan ke rekening ibuku.
Saat petugas bank mengatakan bahwa transaksi telah selesai, rasanya seperti ada bagian besar dari diriku yang ikut hilang.
Tujuh tahun kerja keras…
Seolah lenyap hanya dalam hitungan menit.
Saat kami keluar dari bank, ponselku berdering.
Ken menelepon.
“Sudah selesai?”
“Sudah.”
“Ibumu bilang apa?”
Aku terdiam sejenak.
Aku ingin mengatakan yang sebenarnya.
Tetapi aku teringat tatapan ibu sebelum kami berangkat.
Akhirnya aku berbohong.
“Nggak ada apa-apa.”
“Kami cuma ngobrol soal pernikahan.”
Ken tertawa senang.
“Aku tahu kok.”
“Ibumu melakukan semua itu karena sayang sama kamu.”
“Kalau nanti kita sudah menikah…”
“Kita kan sudah jadi satu keluarga.”
“Uangmu dan uangku…”
“Sama saja.”
Entah kenapa…
Dadaku tiba-tiba terasa sesak.
Hari-hari pun berlalu.
Keluarga Ken semakin akrab denganku.
Hampir setiap hari calon ibu mertuaku menelepon.
“Memangnya tabunganmu sekarang ada berapa?”
“Nanti setelah punya anak kamu mau berhenti kerja?”
“Kalian nanti bakal buka rekening bersama, kan?”
Awalnya kupikir pertanyaan-pertanyaan itu wajar.
Tetapi semakin lama…
Aku terus teringat ucapan ibuku.
“Ada pertanyaan yang terdengar seperti bentuk perhatian.”
“Padahal sebenarnya…”
“Mereka hanya sedang mengukur seberapa banyak yang bisa mereka dapatkan darimu.”
Aku berusaha mengabaikannya.
Sampai suatu malam.
Tiba-tiba ibu bertanya kepadaku.
“Mereka sudah pernah minta password mobile banking-mu?”
Aku langsung terdiam.
“Ibu kok bisa tahu?”
Beliau tidak menjawab.
Sebaliknya, beliau kembali bertanya.
“Sudah kamu kasih?”
“Belum.”
Beliau mengangguk.
“Bagus.”
Lalu beliau menatapku dengan serius.
“Mulai sekarang…”
“Siapa pun yang bertanya…”
“Jangan pernah bilang kalau kamu sudah tidak punya uang.”
Aku semakin bingung.
“Kenapa, Bu?”
Beliau menjawab dengan tenang.
“Kalau mereka benar-benar mencintaimu…”
“Mereka tidak akan peduli berapa banyak uang yang kamu punya.”
“Tapi kalau yang mereka incar adalah uangmu…”
“Mereka sendiri yang akan menunjukkan wajah asli mereka.”
Hari pernikahan pun tiba.
Gedung resepsi penuh oleh tamu.
Semua orang tampak bahagia.
Aku mengenakan gaun pengantin putih sambil menyambut para tamu.
Ibuku hanya duduk tenang di meja bagian belakang.
Beliau hampir tidak berbicara.
Saat tiba giliran keluarga kedua mempelai memberikan sambutan, calon ibu mertuaku naik ke atas panggung.
Ia tersenyum sambil memegang mikrofon.
“Anak saya benar-benar beruntung.”
“Calon istrinya baik.”
“Rajin.”
“Dan pandai menabung.”
Semua tamu bertepuk tangan.
Aku pun ikut tersenyum.
Hingga tiba-tiba ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan langsung hening.
“Karena sebentar lagi kita sudah menjadi satu keluarga…”
“Setelah acara pernikahan selesai…”
“Serahkan saja kartu ATM beserta akses mobile banking-mu kepada saya.”
“Biarlah saya yang mengelola keuangan kalian berdua.”
“Orang yang lebih tua tentu lebih paham cara mengatur uang.”
Seluruh aula langsung sunyi.
Tubuhku membeku.
Aku menoleh ke arah Ken.
Tak ada sedikit pun ekspresi terkejut di wajahnya.
Sebaliknya…
Ia malah tersenyum tipis lalu mengangguk.
Dan tepat pada saat itu…
Ibuku perlahan berdiri dari kursinya.
Beliau meletakkan gelas air dengan tenang.
Lalu menatap lurus ke arah keluarga calon besanku.

Setelah itu beliau berkata dengan suara tenang, satu kalimat yang seketika menghapus senyum dari wajah mereka semua.
“Maaf…”
“Anak saya sudah tidak punya uang yang bisa diserahkan kepada siapa pun…”
Mendengar ucapan ibuku, mikrofon di tangan calon ibu mertuaku sempat bergeser, menimbulkan suara berdengung nyaring yang memekakkan telinga. Seluruh aula yang tadinya sunyi kini mulai dipenuhi bisik-bisik dari dua ratus lebih tamu yang hadir.
“Apa maksud Ibu?” suara calon ibu mertuaku berubah ketus, senyum palsunya runtuh seketika. “Jangan bercanda di depan umum seperti ini. Semua orang tahu anak Ibu sudah bekerja tujuh tahun di perusahaan multinasional dan terkenal pintar hemat.”
Ken, yang tadinya tersenyum, melangkah maju dan berbisik setengah mendesak di telingaku, “Kamu belum cerita ke ibumu soal rencana kita? Cepat bilang sesuatu, jangan bikin Ibu malu di depan koleganya.”
Aku menatap Ken. Laki-laki yang selama ini kupikir lembut dan penuh perhatian, kini menatapku dengan mata yang penuh tuntutan—bukan cinta. Detik itu juga, topeng mereka runtuh total di mataku. Aku akhirnya mengerti mengapa ibuku bersikeras mengosongkan rekeningku. Ibu tidak sedang merampas hakku; beliau sedang membangun benteng pertahanan terakhir untukku.
Ibuku berjalan perlahan membelah kerumunan tamu, melangkah menuju panggung dengan keanggunan seorang ibu yang siap bertarung demi anaknya.
“Saya tidak bercanda,” ujar ibuku tenang, suaranya menggema lewat pengeras suara aula. “Semua tabungan, bonus, dan aset atas nama anak saya telah dipindahkan seluruhnya ke rekening saya dua minggu lalu. Di dompetnya saat ini hanya ada kartu ATM dengan saldo minimum.”
Wajah calon ibu mertuaku langsung memerah keunguan. Tanpa sadar, niat aslinya meluncur begitu saja dari mulutnya. “Apa?! Dipindahkan ke rekening Ibu? Kurang ajar! Itu kan uang yang seharusnya dipakai untuk mencicil rumah baru atas nama Ken dan membayar utang pesta pernikahan ini! Kenapa Ibu egois sekali?!”
Mendengar jeritan itu, para tamu spontan terkesiap. Rahasia besar itu terbongkar: mereka tidak hanya ingin mengelola uangku, mereka sudah berencana menggunakan seluruh keringatku selama tujuh tahun untuk keuntungan pribadi mereka, bahkan sebelum janji suci diucapkan.
Ken menatapku dengan tatapan tak percaya, kilat amarah menggantikan wajah manisnya selama ini. “Kamu benar-benar menguras rekeningmu tanpa diskusi denganku? Sialan, lalu bagaimana dengan semua rencana keuangan yang sudah Ibu siapkan untuk kita?!”
Aku menarik napas dalam-dalam. Rasa sesak yang menyiksa dadaku berhari-hari lenyap seketika, digantikan oleh kejelasan yang luar biasa. Aku menatap Ken, lalu beralih ke ibunya yang masih berdiri mematung menahan malu di atas panggung.
“Kalian tidak sedang mencari seorang istri untuk Ken,” kataku, suaraku terdengar mantap melalui mikrofon yang kuambil dari meja dekorasi. “Kalian sedang mencari mesin ATM gratis yang bisa dikendalikan.”
Aku melepas hiasan kepala pengantin yang terasa berat, lalu meletakkannya di atas meja di hadapan Ken.
“Pernikahan ini batal.”
“Hei! Kamu tidak bisa mempermalukan keluarga kami seperti ini!” teriak calon ibu mertuaku, tetapi suaranya tenggelam oleh riuh rendah bisikan para tamu yang kini memandang sinis ke arah panggung.
Aku tidak memedulikan mereka lagi. Aku berjalan turun dari pelaminan, menghampiri wanita paruh baya bergaun sederhana yang berdiri di ujung karpet merah. Ibuku. Wanita yang membesarkanku dengan peluh dan air mata, yang insting keibuannya jauh lebih tajam daripada logika cintaku yang buta.
Ibu mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya erat.
“Ayo pulang, Nak,” bisik Ibu lembut, senyum tulusnya akhirnya kembali. “Uangmu aman bersama Ibu. Dan masa depanmu jauh lebih berharga daripada tempat ini.”
Kami berjalan keluar dari aula pernikahan itu, meninggalkan kepanikan, makian, dan keserakahan di belakang kami. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, aku bisa bernapas dengan lega. Aku kehilangan sebuah pernikahan, tetapi berkat ibuku, aku berhasil menyelamatkan seluruh hidupku.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.