DI HARI PEMOTRETAN PRE-WEDDING, DIA DATANG TERLAMBAT EMPAT JAM. TAPI SAAT AKHIRNYA TIBA BERSAMA WANITA YANG DULU PERNAH PALING DICINTAINYA, AKULAH YANG DISEBUT BERLEBIHAN DI PERNIKAHANKU SENDIRI. DAN SAAT ITULAH AKU BARU SADAR, UNTUK SIAPA SEBENARNYA JANJI YANG SELAMA INI KUKENAKAN.**
Aku berdiri selama empat jam di dermaga tua Subic, mengenakan gaun pengantin yang kupilih sendiri.
Bahu dan lenganku membeku diterpa angin.
Namun ketika pria yang akan menjadi suamiku akhirnya datang, bukan aku yang pertama kali ia hampiri.
Seorang wanita turun dari kursi penumpang mobilnya.
Celina Reyes.
Cinta pertama Rafael Alonzo.
Dan di tangannya, ia memegang jas milik tunanganku.
“Maaf ya, Maya,” kata Celina dengan wajah polos. “Rafael tadi menjemputku di bandara. Aku benar-benar nggak tahu kalau sesi foto pre-wedding kalian jadi tertunda.”
Aku tak langsung bisa menjawab.
Sejak pagi sampai sore, fotografer berkali-kali bertanya apakah kami sebaiknya menjadwalkan ulang pemotretan.
“Mbak Maya, kalau terus begini kita nggak akan sempat mengejar matahari terbenam.”
Ia mengatakan itu enam kali.
Dan enam kali pula aku membela Rafael.
“Dia sebentar lagi sampai.”
“Ada urusan mendadak di kantor.”
“Dia pasti datang.”
Namun setiap kali mengucapkan kalimat itu, perlahan aku merasa bahwa hanya aku sendiri yang masih percaya pada kebohongan tersebut.
Saat Rafael tiba, bukannya meminta maaf, ia mengambil kembali jasnya dari tangan Celina lalu memakaikannya lagi ke bahu wanita itu.
“Di sini dingin,” katanya lembut.
Lembut.
Nada suara yang sudah lama tak pernah lagi kudengar ditujukan kepadaku.
Fotografer menghampiri.
“Pak Rafael, mataharinya hampir tenggelam. Bagaimana, kita lanjut?”
Rafael memandangku dari kepala sampai kaki.
Ia mengernyit.
“Makeup-mu sudah luntur, Maya. Rapikan dulu. Kita tes pencahayaan pakai Celina dulu.”
Rasanya seperti disiram air es.
“Maksudmu apa?”
“Cuma test shot,” jawabnya, seolah aku yang tidak mengerti. “Biar nanti pas giliran kamu lebih cepat.”
Sebelum sempat kubalas, Celina sudah berjalan menuju gerbang kayu putih yang dipenuhi gantungan lonceng angin.
Tempat itu kucari selama enam bulan.
Dermaga tua.
Gerbang kayu putih.
Suara lonceng angin.
Kenangan akan janji yang dulu pernah diberikan Rafael kepadaku.
Malam saat ia melamarku di Tagaytay, ada sebuah lonceng angin kecil di beranda restoran.
Ia menggenggam tanganku sambil berkata,
“Setiap tahun kita akan mencari tempat yang memiliki suara seperti ini. Hanya kamu dan aku.”
Kini…
Di bawah janji itu justru berdiri Celina.
Mengenakan jasnya.
Beberapa saat kemudian aku melihat seorang asisten bahkan memasangkan bridal veil milikku ke kepala Celina.
Tanganku mengepal kuat di ujung gaun.
Aku mendengar seorang kru berbisik,
“Mereka lebih cocok. Rasanya kisah cinta mereka jauh lebih dalam.”
Rafael tidak membantah.
Bahkan ia tak menoleh kepadaku.
Beberapa menit kemudian ia datang sambil membawa secangkir teh.
“Teh hangat,” katanya. “Minumlah. Jangan cemberut. Kita semua sudah capek.”
Aku menatap gelas kertas itu.
Masih mengepulkan uap.
Tetapi ketika kusentuh, isinya sudah dingin.
Persis seperti permintaan maafnya.
Datang terlambat.
Tak lagi memiliki kehangatan.
“Rafael,” tanyaku pelan, “apa benar aku pengantin hari ini?”
Ia terdiam sesaat.
“Apa lagi sih, Maya?”
“Aku cuma bertanya.”
Ia menghela napas.
“Ya jelas kamu pengantinnya.”
“Kalau aku pengantinnya, kenapa dia yang memakai veil-ku? Kenapa dia yang berdiri di lokasi yang kupilih sendiri?”
Celina segera mendekat dengan wajah seolah-olah dialah yang tersakiti.
“Maya, jangan salah paham ya. Aku cuma mau membantu. Kalau kamu nggak nyaman, aku bisa pergi.”
Ia pura-pura hendak melepas jas itu.
Namun Rafael langsung menahannya.
“Nggak usah. Di sini dingin.”
Lalu ia menatapku.
“Celina baru tiba setelah penerbangan jauh. Kondisinya lagi nggak enak. Kenapa kamu harus membesar-besarkan masalah?”
Aku tertawa.
Namun tak ada sedikit pun rasa bahagia.
“Aku berdiri kedinginan di sini selama empat jam.”
“Aku memakai gaun off-shoulder.”
“Seluruh kru menungguku.”
“Tapi justru dia yang dianggap lemah?”
“Aku kan sudah memberimu teh.”
Hanya itu.
Empat jam penantian.
Seorang wanita yang datang bersamanya.
Veil-ku dipakaikan kepada orang lain.
Dan sebagai gantinya, aku hanya menerima secangkir teh yang sudah dingin.
Fotografer kembali mendekat.
“Pak… jadi kita lanjut?”
Rafael menjawab tanpa ragu.
“Foto saja dulu Celina. Nanti saat editing tinggal ganti wajahnya.”
Semua orang langsung terdiam.
Bahkan angin seakan berhenti berembus.
“Pak?” bisik fotografer. “Sepertinya itu tidak pantas.”
“Aku bayar dua kali lipat.”
Celina buru-buru menggeleng.
“Rafael, jangan. Maya pasti tambah sakit hati.”
Namun tatapan Rafael tetap tertuju kepadaku.
“Yang penting dia punya foto pre-wedding, kan? Hasil akhirnya saja yang dipakai.”
“Hasil akhirnya saja.”
Begitulah rupanya ia memandang pernikahan kami.
Bukan impian.
Bukan kenangan.
Bukan awal kehidupan bersama.
Yang penting bisa dipakai.
Aku melepas veil dari kepalaku lalu menyerahkannya kepada asisten.
“Aku nggak jadi foto.”
Rafael mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat.
“Maya, kamu mau ke mana?”
“Ganti baju.”
“Berhenti bikin drama.”
Aku menatap tangannya.
Dulu, setiap kali ia menggenggamku, ia takut membuatku terluka.
Sekarang…
Ia bahkan tak sadar kalau genggamannya sudah menyakitiku.
Saat masuk ke ruang ganti, aku mendengar suara lonceng angin dari luar.
Ting… ting… ting…
Seperti janji-janji yang pecah tertiup angin.
Ketika keluar, aku sudah mengenakan pakaian kasual.
Sementara Celina berdiri di depan kamera, memegang ujung veil-ku, dan Rafael sendiri sibuk mengarahkan fotografer.
“Sudut samping wajahnya lebih bagus,” katanya. “Dari dulu memang cahaya seperti ini paling cocok buat dia.”
Aku mengambil ponselku.
Kubuka sistem undangan digital pernikahan kami.
Undangan otomatis dijadwalkan terkirim keesokan harinya.
Aku menekan tombol **Batalkan**.
Muncul tulisan:
**Konfirmasi pembatalan?**
Tanganku tidak lagi gemetar.
Aku menekan **Ya**.
Keesokan paginya, grup persiapan pernikahan menerima foto-foto hasil test shot.
Foto pertama:
Celina berdiri di bawah lonceng angin, mengenakan veil-ku, dibalut jas Rafael.
Siapa pun yang melihatnya pasti mengira dialah sang pengantin.
Ibu Rafael mengirim voice note.
“Bagus sekali fotonya. Tapi… mana Maya?”
Ibuku mengirim pesan.
“Apa yang terkirim ini foto yang salah?”
Celina langsung membalas.
“Maaf ya, Tante. Aku cuma jadi model test shot. Semoga Maya nggak marah.”
Tak lama kemudian Rafael ikut menulis.
“Itu cuma draft foto. Maya, jangan dibesar-besarkan.”
Aku menatap kalimat itu lama sekali.
**Jangan dibesar-besarkan.**
Baginya…
Semua rasa sakitku selalu dianggap hal sepele.
Aku lalu menelepon wedding organizer.
“Mbak Ara, tolong batalkan dekorasi lonceng angin di resepsi.”
Ia langsung terdiam.
“Bu Maya, itu konsep utama acara. Pak Rafael sudah berkali-kali berpesan supaya jangan diubah.”
“Hapus semuanya.”
Beberapa detik sunyi.
“Bu… sebenarnya tadi pagi Pak Rafael juga menambahkan satu dekorasi lagi.”
“Apa?”
“Sebuah piano tua. Katanya akan diletakkan di samping lonceng angin. Nanti Bu Celina yang memainkan piano saat resepsi.”
Seluruh tubuhku terasa membeku.
“Lagu apa yang akan dia mainkan?”
Perlahan Mbak Ara menyebut judul lagu itu.
Dan seketika ingatanku kembali ke suatu malam ketika Rafael mabuk di apartemennya.
Bersandar di sofa.
Menyanyikan melodi yang sama persis.

Setelah lagu itu selesai…
Ia membisikkan sebuah nama.
Bukan namaku.
Lagu itu adalah lagu yang sama yang Rafael nyanyikan saat ia menangis di malam pertunangan kami—bukan karena bahagia bersamaku, melainkan karena meratapi kepergian Celina ke luar negeri.
Saat itu, aku dengan bodohnya mengira ia hanya sedang emosional karena selangkah lagi akan melepas masa lajangnya. Kini, potongan-potongan puzzle itu menyatu dengan sempurna. Lonceng angin di Subic, gaun pilihan Celina, hingga lagu piano di hari resepsi… Semua itu bukan untuk merayakan masa depan kami, melainkan ego Rafael yang ingin mewujudkan pernikahan impiannya yang tertunda bersama Celina, menggunakan aku sebagai pengantin pengganti dan penyandang dananya.
Hari Pernikahan: Topeng yang Hancur
Hari pernikahan yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Aula hotel bintang lima di Manila sudah dipenuhi oleh ratusan tamu. Sebagian besar adalah kolega bisnis keluarga Rafael dan kerabat jauhnya.
Di ruang rias, Ibu Rafael masuk dengan wajah masygul. Ia melihatku masih mengenakan gaun kasual, sama sekali belum menyentuh gaun pengantin.
“Maya! Apa-apaan ini? Kenapa kamu belum siap-siap?” suaranya meninggi, dipenuhi tuntutan. “Rafael bilang kamu membatalkan undangan digital karena cemburu buta soal foto pre-wedding kemarin. Jangan kekanak-kanakan, Maya! Kamu mempermalukan keluarga kami!”
Aku menatap wanita paruh baya itu melalui cermin. “Tante, apakah Tante tahu lagu apa yang akan dimainkan Celina di atas panggung nanti?”
Ibu Rafael mendengus remeh. “Cuma lagu penyambutan! Celina itu berniat baik mau mengisi acara. Kamu ini terlalu berlebihan, selalu membesar-besarkan masalah kecil!”
Kalimat yang sama. Persis seperti yang selalu diucapkan Rafael.
Tak lama kemudian, Rafael masuk dengan setelan tuksedo lengkap. Wajahnya mengeras saat melihatku belum bersiap. “Maya, cukup dramanya. Keluar sekarang. Para tamu sudah menunggu di luar. Jangan membuatku menyesal telah memilihmu.”
“Menyesal?” Aku berdiri, mengambil tas tanganku, lalu berjalan melewatinya begitu saja menuju pintu aula utama. “Mari kita lihat siapa yang akan menyesal hari ini.”
Alunan Melodi untuk Pengantin yang Salah
Ketika aku melangkah masuk ke dalam aula, bisik-bisik langsung menjalar di antara dua ratus lebih tamu yang hadir. Aku berjalan membelah karpet merah, bukan sebagai pengantin wanita yang anggun, melainkan sebagai seorang wanita yang siap menjemput kembali harga dirinya.
Di ujung altar, sebuah piano tua berhiaskan lonceng angin telah berdiri megah. Dan di sana, Celina Reyes duduk dengan gaun putih yang sangat mirip dengan gaun pengantin, jemarinya mulai menari di atas tuts piano.
Melodi itu mengalun indah. Melodi melankolis penuh kerinduan.
Rafael menyusul di belakangku, mencoba mencengkeram lenganku, namun aku langsung menghindar dan berjalan lurus menuju podium mikrofon di samping panggung.
Ting… ting… ting… Suara lonceng angin berdenting, mengiringi lagu mereka.
Aku mengetuk mikrofon, memutus keheningan aula.
“Selamat siang, semuanya,” suaraku menggema jernih, membuat jemari Celina seketika terhenti di atas tuts piano. Semua mata kini tertuju padaku.
“Terima kasih telah datang ke acara yang sedianya adalah pernikahan saya dan Rafael Alonzo,” kataku dengan senyum tenang. “Namun, melihat dekorasi lonceng angin ini, piano tua ini, dan lagu yang baru saja dimainkan… saya sadar ada sebuah kekeliruan besar.”
Rafael maju memohon dengan berbisik di bawah panggung, “Maya, turun! Tolong, jangan bikin malu di sini!”
“Lagu yang baru saja dimainkan adalah lagu yang didedikasikan Rafael untuk cinta pertamanya, wanita yang duduk di kursi piano itu,” lanjutku tanpa memedulikan Rafael. “Bahkan konsep dermaga tua di foto pre-wedding kami adalah tempat pertama kali mereka berciuman. Selama ini, saya mengira saya adalah pengantinnya. Tapi hari ini, di depan dua ratus tamu, saya kembalikan panggung ini kepada pemilik aslinya.”
Celina berdiri dari kursi pianonya dengan wajah pucat pasi. “Maya… kamu salah paham…”
“Aku tidak salah paham, Celina,” potongku tegas. “Kalian berdua bisa melanjutkan acara ini. Anggap saja ini pernikahan kalian yang sempat tertunda.”
Bayaran untuk Sebuah Kebohongan
Ibu Rafael maju ke depan panggung dengan penuh amarah. “Maya! Kamu keterlaluan! Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah merusak reputasi anak saya?! Kamu harus membayar ganti rugi atas semua biaya gedung dan katering ini!”
Aku menatap calon ibu mertua yang tak jadi itu, lalu mengeluarkan sebuah dokumen dari tas mandiri milikku.
“Soal biaya, Tante tidak perlu khawatir,” jawabku tenang. “Karena saya yang membayar seluruh down payment awal menggunakan rekening pribadi saya, saya sudah mendatangi pihak hotel kemarin malam. Seluruh kontrak atas nama saya telah resmi dibatalkan.”
Seluruh ruangan langsung gaduh. Wajah Rafael dan ibunya seketika berubah pucat total.
“Namun, karena Rafael bersikeras acara ini harus tetap berjalan demi gengsi keluarganya, pihak hotel bersedia mengalihkan tagihan pelunasan hari ini sepenuhnya ke atas nama Rafael Alonzo. Nilainya sekitar lima ratus ribu peso, dan pihak manajemen hotel akan segera meminta gesekan kartu kredit Rafael dalam waktu sepuluh menit ke depan.”
Aku menatap Rafael untuk terakhir kalinya. Laki-laki yang mengira bisa memanfaatkan cinta dan tabunganku untuk membiayai nostalgia masa lalunya bersama wanita lain.
“Selamat menikmati lagumu, Rafael. Dan selamat membayar tagihannya,” bisikku pelan dari atas podium.
Aku meletakkan mikrofon dengan anggun, membalikkan badan, dan berjalan keluar dari aula pernikahan itu dengan kepala tegak. Di luar gedung, angin Manila berembus kencang, membawa pergi sisa-sisa dendam dan rasa sakit hati yang sempat mengendap.
Aku memang kehilangan satu cincin di jariku, tetapi hari itu, aku berhasil menyelamatkan sisa hidupku dari pernikahan yang penuh dengan kepalsuan.
Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.