Posted in

IBUKU DATANG DIANTAR OLEH OJEK KE GERBANG APARTEMEN SAMBIL MEMBAWA TAS ANYAMAN BERISI OLEH-OLEH, TAPI IBU MERTUAKU MENYURUHNYA MASUK LEWAT LIFT SERVIS—DAN SAAT ITULAH AKU MENDENGAR KALIMAT YANG MEMBUKA MATAKU TENTANG SIAPA SEBENARNYA YANG PALING KOTOR DI RUMAH INI*

*IBUKU DATANG DIANTAR OLEH OJEK KE GERBANG APARTEMEN SAMBIL MEMBAWA TAS ANYAMAN BERISI OLEH-OLEH, TAPI IBU MERTUAKU MENYURUHNYA MASUK LEWAT LIFT SERVIS—DAN SAAT ITULAH AKU MENDENGAR KALIMAT YANG MEMBUKA MATAKU TENTANG SIAPA SEBENARNYA YANG PALING KOTOR DI RUMAH INI**

**Bagian 1 — Di depan satpam, mereka mengejek ibuku karena “bau kampung”, padahal beliau menempuh perjalanan empat belas jam hanya untuk menemuiku, sementara suamiku memilih diam dan memihak keluarganya.**

Ibu tiba di Jakarta menjelang senja.

Beliau tidak minta dijemput.

Katanya tidak mau merepotkanku.

Dari terminal bus, beliau naik angkot, sempat turun di persimpangan yang salah, bertanya kepada penjual gorengan, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek hingga sampai di gerbang kompleks apartemen kami di Jakarta Timur.

Di tangannya ada sebuah tas anyaman tua yang, katanya, dijahit sendiri oleh tetangga kami di kampung.

Di dalamnya ada dua stoples serundeng kelapa manis, satu sisir pisang kepok, cumi asin kering yang dibungkus rapi dengan koran, serta sebuah tikar kecil hasil anyamannya sendiri yang beliau kerjakan hingga larut malam selama beberapa hari.

Katanya semua itu untukku.

Supaya aku masih bisa mencium “aroma rumah” meski sudah lama tinggal di kota.

Sesampainya di lobi, satpam tidak langsung mengizinkannya masuk.

Satpam meneleponku.

Saat itu aku sedang mengiris bawang di dapur untuk menyiapkan makan malam.

Belum sempat aku menjawab interkom, suara ibu mertuaku, Bu Corazon, sudah terdengar dari ruang tamu.

“Siapa lagi itu? Kok bawa barang sebanyak itu? Kayak habis belanja di pasar.”

Aku melihat layar monitor.

Di balik pintu kaca, kulihat Ibu berdiri di sana.

Tubuhnya kurus, mengenakan blus putih yang sudah sedikit kusut karena perjalanan panjang, sambil memeluk tas anyaman itu seolah kalau dilepaskan, keberaniannya juga akan ikut hilang.

Aku langsung membuka pintu.

“Ibu!”

Beliau tersenyum, tetapi matanya terlihat sangat lelah.

“Nak, tidak usah turun. Ibu bisa sendiri.”

Belum sempat aku menjawab, Bu Corazon sudah menatap monitor.

Wajahnya langsung berubah kaku.

“Oh… itu ibumu? Kenapa masuk lewat lobi utama? Harusnya yang bawa barang seperti itu lewat pintu servis.”

Aku terdiam.

“Bu, itu ibu saya. Beliau tamu kami.”

Ia menatapku seolah akulah yang tidak mengerti.

“Justru karena tamu. Dia membawa makanan yang kita tidak tahu asalnya dari mana. Besok apartemen ada jadwal pengendalian hama.”

Suamiku, Paolo, keluar dari kamar masih mengenakan kemeja yang dipakainya untuk rapat daring.

“Ada apa ribut-ribut?”

Bu Corazon menunjuk layar monitor.

“Itu ibu istrimu. Bawa tas anyaman. Nanti lift jadi bau.”

Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kudengar.

Namun yang lebih sulit kupercaya adalah ketika Paolo hanya melihat layar, mengernyitkan dahi, dan sama sekali tidak tersenyum.

“Kenapa beliau datang hari ini? Nanti malam kita makan bersama Kak Lorna.”

Kak Lorna adalah kakaknya.

Sudah dua bulan tinggal di kamar tamu apartemenku bersama putrinya, Mika, katanya karena sedang menenangkan diri setelah berpisah dari pasangan kumpul kebonya.

Dua bulan.

Tetapi ibuku sendiri baru pertama kali menginjakkan kaki di rumahku, sudah dianggap masalah.

Aku turun menjemput Ibu.

Saat pintu lift terbuka, aku mencium aroma keringat, hujan, dan kampung halaman.

Bukan bau yang menjijikkan.

Itu aroma perjalanan panjang.

Aroma bus tua tanpa pendingin udara.

Aroma seorang ibu yang menghemat uang makan hanya agar bisa membawakan oleh-oleh untuk anaknya.

Aku menggenggam tangannya.

Dingin sekali.

“Kenapa tidak bilang kalau datang hari ini?”

Beliau tersenyum tipis.

“Ibu ingin memberi kejutan. Kemarin kamu bilang capek terus. Jadi Ibu pikir, nanti Ibu masakkan kolak pisang kesukaanmu.”

Dadaku terasa sesak.

Sebelum kami masuk ke lift, Bu Corazon keluar dari pintu lobi.

Paolo berjalan di belakangnya.

Di tangan Paolo ada botol semprotan hand sanitizer.

Saat itulah aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.

Bu Corazon menatap Ibu dari ujung kepala sampai kaki.

Tidak menyapa.

Tidak tersenyum.

Ia menunjuk tas anyaman itu.

“Isinya apa?”

Ibu buru-buru menjawab.

“Oleh-oleh sedikit, Bu. Ada serundeng, pisang, cumi asin. Sebagian sudah saya masak dulu sebelum berangkat supaya tidak cepat rusak.”

Bu Corazon langsung mengernyit.

“Cumi asin? Di apartemen? Kamu tahu baunya bisa menempel di gorden?”

Tubuh Ibu seolah mengecil.

“Maaf ya, Bu. Sudah saya bungkus rapat.”

Paolo mendekat.

Ia mengambil tas anyaman dari tangan Ibu.

Kupikir ia akan membawanya ke unit.

Ternyata ia berjalan menuju tempat sampah besar di sisi lobi.

“Paolo.”

Ia berhenti, tetapi tidak menoleh.

“Jangan mulai drama, Mira. Nanti malam ada tamu. Rumah kita tidak boleh bau seperti balai desa.”

Lalu ia membuka tutup tempat sampah.

Satu per satu oleh-oleh yang dibawa Ibu dimasukkannya ke dalam.

Bukan dibuang dengan kasar.

Justru pelan.

Rapi.

Seolah yang dipegangnya bukan makanan, melainkan barang bukti yang harus disingkirkan.

Stoples serundeng jatuh membentur dasar tempat sampah.

Pisang meluncur keluar dari plastik.

Cumi asin masih tergeletak di atas koran yang terbuka, seolah ikut dipermalukan.

Ibu menarik napas panjang.

Kulihat bibirnya bergetar.

Tetapi beliau tidak menangis.

Beliau justru menunduk.

“Maaf ya, Nak. Ibu tidak tahu kalau tidak boleh.”

Beliau meminta maaf bukan kepada Paolo.

Melainkan kepadaku.

Saat itulah ada sesuatu yang pecah di dalam diriku.

Namun aku masih belum berkata apa-apa.

Aku hanya menatap Paolo.

“Kamu benar-benar membuangnya?”

Ia menyemprotkan hand sanitizer ke kedua tangannya.

“Biar Mama tidak marah. Lebih praktis.”

Bu Corazon terkekeh pelan.

“Mira, jangan terlalu sensitif. Di kampung mungkin itu biasa, tapi di sini ada standar.”

Standar.

Selama tiga tahun mereka tinggal di apartemen yang kubeli bahkan sebelum aku menikah.

Tiga tahun aku membiarkan sepatu Bu Corazon berserakan di sofa.

Tiga tahun aku memunguti bungkus camilan Mika di bawah meja makan.

Tiga tahun aku memberi makan Kak Lorna, padahal sekalipun ia tidak pernah membantu membayar tagihan listrik melalui dompet digital.

Setiap kali aku mengeluh soal rumah yang berantakan, Paolo selalu berkata,

“Mereka keluarga. Jangan hitung-hitungan.”

Sekarang, hanya karena tas anyaman milik ibuku masuk ke gerbang apartemen, tiba-tiba mereka bicara soal standar.

Aku menggenggam lengan Ibu.

“Ayo, Bu. Kita naik.”

Namun Bu Corazon menghalangi kami.

“Tunggu. Dia tidak boleh naik lewat lift utama. Harus lewat lift servis.”

Aku menatapnya.

“Dia?”

Ia tetap tidak bergeming.

“Mira, jangan dibesar-besarkan. Dia membawa bau. Di sini ada aturan lobi.”

Satpam mendekat dengan wajah canggung.

“Maaf, Bu. Sebenarnya tamu penghuni boleh menggunakan lift utama—”

Bu Corazon langsung memotong.

“Biar saya yang urus. Pihak pengelola kenal saya.”

Sementara Paolo justru menatapku seolah akulah yang mempersulit keadaan.

“Mira, tolonglah. Ikuti saja kata Mama. Cuma soal satu lift.”

Aku menatap lurus ke matanya.

“Yang sedang kita bicarakan adalah ibuku.”

Ia terdiam.

Aku merasakan genggaman tangan Ibu semakin erat.

“Nak, tidak apa-apa. Kita lewat lift servis saja. Ibu tidak mau ada orang marah gara-gara Ibu.”

Itulah masalahnya dengan seorang ibu yang terlalu terbiasa mengalah.

Mereka mengira mundur berarti menjaga kedamaian.

Padahal sering kali, setiap langkah mundur hanya membuat orang-orang yang tidak punya hati menjadi semakin berani.

Kami akhirnya naik lewat lift servis.

Di dalam lift, Ibu berdiri di samping tong sampah besar milik petugas kebersihan.

Beliau tidak mengeluh.

Beliau bahkan masih merapikan ujung blusnya, seolah ingin terlihat pantas di depan keluarga yang sebenarnya tidak pantas menerima kebaikannya.

Saat kami tiba di unit, suasana sudah ramai.

Kak Lorna berbaring di sofa sambil menonton sinetron di tablet.

Mika mengacak-acak meja tamu dengan krayon.

Melihat Ibu datang, Kak Lorna bahkan tidak berdiri.

“Oh, ada tamu ya? Duduk saja di kursi makan dulu. Sofa baru saja kami bersihkan.”

Aku hampir tertawa karena begitu tebal wajahnya.

Sofa itu kubeli.

Apartemen itu kubeli.

Bahkan internet yang dipakainya untuk menonton setiap hari juga kubayar.

Tetapi ibuku yang tidak boleh duduk di sana.

Ibu mendekat kepadaku.

“Nak, tidak usah. Ibu di dapur saja.”

Aku hendak menjawab ketika Bu Corazon keluar dari lorong sambil membawa handuk tua.

Ia menyodorkannya kepada Ibu.

“Bisa tolong lap kaki dulu? Lantai kami baru dipel.”

Lantai kami.

Aku tidak tahu mana yang lebih menjijikkan.

Kata “kami”, atau keberaniannya mengucapkan itu di rumah yang bahkan tidak pernah ia beli satu rupiah pun.

Ibu menerima handuk itu.

Bukan karena ingin.

Melainkan karena sungkan.

Dan rasa sungkan orang baik sering kali menjadi senjata yang dipakai orang jahat.

Aku segera mengambil handuk itu sebelum sempat beliau gunakan.

“Ibu tidak perlu melakukan itu.”

Beliau tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa, Nak.”

Tetapi bagiku, semuanya sangat berarti.

Aku melemparkan handuk itu ke samping.

Lalu mengambil sepasang sandal bersih dari rak sepatu dan meletakkannya di depan Ibu.

“Ibu duduk di ruang tamu.”

Tatapan Bu Corazon langsung tajam.

“Mira, jangan kurang ajar di depan orang yang lebih tua.”

“Betul, Bu.”

Ia menoleh kepadaku.

“Karena itu, Ibu juga harus menghormati ibu saya.”

Rahang Paolo mengeras.

“Mira, sudah.”

Namun malam itu belum selesai.

Di meja makan sudah tersedia babi panggang renyah, mi goreng, dan kue karena sepupu Bu Corazon akan datang dari Jakarta Selatan.

Saat Ibu duduk di ujung meja, Bu Corazon segera menaruh sebuah piring terpisah di meja kecil dekat dapur.

“Beliau makan di sana saja. Biar tidak sempit.”

Aku tidak perlu bertanya kenapa.

Meja makan memiliki delapan kursi.

Kami hanya berlima.

Masih ada tiga kursi kosong.

Namun bagi mereka, satu kursi terasa terlalu mahal jika yang duduk adalah ibuku.

Paolo bahkan tidak menatapku.

Ia hanya menuang air minum lalu berkata,

“Ma, jangan dibesar-besarkan. Biar beliau makan di sana saja. Sebentar juga selesai.”

Sebentar.

Empat belas jam Ibu menempuh perjalanan.

Tiga tahun mereka tinggal di rumahku.

Tetapi harga diri ibuku ternyata hanya bernilai “sebentar” baginya.

Kesabaranku hampir habis ketika ponsel Bu Corazon berdering.

Ia menyalakan pengeras suara.

Suara sepupunya terdengar.

“Corazon, nanti kami sudah boleh datang, kan? Aku tidak sabar melihat apartemen kalian.”

Bu Corazon tertawa manis.

“Tentu saja. Akhirnya kamu bisa lihat unit yang dibeli dengan kerja keras anakku.”

Kerja keras anaknya.

Seolah ada air es disiramkan ke tengkukku.

Aku memandang Paolo.

Aku menunggu.

Satu kalimat saja.

Katakan apartemen itu bukan miliknya.

Katakan itu milikku.

Katakan akulah yang membayar uang muka, cicilan, dan membelinya jauh sebelum mengenalnya.

Tetapi suamiku hanya menunduk sambil terus menggulir layar ponselnya.

Saat itulah aku mengerti.

Ia diam bukan karena malu.

Ia diam karena setuju.

Belum sempat aku bicara, pintu terbuka.

Sepupu Bu Corazon masuk bersama dua tamu lainnya.

Mereka membawa kue.

Begitu melihat Ibu, mereka berhenti melangkah.

Bu Corazon langsung tertawa.

“Oh, jangan dipikirkan. Itu ibunya Mira. Datang mendadak dari kampung. Kami istirahatkan sebentar sebelum beliau pulang lagi.”

Pulang lagi.

Beliau bahkan belum sempat duduk dengan nyaman, tetapi di mulut mereka sudah dianggap akan segera diusir.

Di saat Ibu berdiri di sudut dapur, sementara tas anyamannya yang kini kosong bersandar di dinding seperti tubuh orang yang kalah, Paolo mendekat lalu berbisik kepadaku.

“Habis makan nanti, aku pesankan ojek online ke terminal buat beliau. Lebih baik beliau pulang malam ini saja. Aku malu sama tamu.”

Aku menatap wajahnya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi melihat sosok suami.

Aku melihat seorang pria yang makan di meja yang kubeli, tidur di ranjangku, memanfaatkan namaku setiap kali membutuhkan sesuatu, tetapi sanggup mempermalukan perempuan yang telah melahirkanku hanya karena beliau tidak sesuai dengan citra kehidupan yang ingin dipamerkannya.

Perlahan aku mengambil ponselku.

Kubuka aplikasi penghuni apartemen.

Di menu **Resident Access Control**, kulihat empat nama yang sudah lama tidak pernah kuperhatikan.

Paolo Reyes.

Corazon Reyes.

Lorna Reyes.

Mika Reyes.

Semuanya terdaftar sebagai **anggota rumah tangga tetap**.

Sedangkan nama ibuku?

Tidak ada.

Di bagian catatan bawah, ada satu kalimat yang tidak pernah kutulis.

**“Asisten rumah tangga pemilik yang berasal dari kampung hanya boleh menggunakan lift servis.”**

Napasku seketika terhenti.

Ini bukan lagi sekadar penghinaan.

Seseorang telah mendaftarkan ibuku sebagai pembantu.

Di rumahku sendiri.

Dan tepat di bawah catatan itu, tertulis jelas nama orang yang mengajukan permintaan tersebut.

Bagian 2 (Selesai) — Pemilik yang Sebenarnya

Nama yang tertulis di bawah catatan itu adalah: Paolo Reyes.

Dunia di sekitarku rasanya berhenti berputar. Tanganku bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Suamiku sendiri, pria yang berjanji akan menjagaku, telah mendaftarkan ibu kandungku sebagai asisten rumah tangga di sistem manajemen gedung, lengkap dengan aturan diskriminatif agar ibuku tidak memalukan citra “keluarga elit” bentukannya.

Aku menarik napas dalam-dalam. Detik itu juga, rasa cintaku pada Paolo menguap tanpa sisa. Yang tersisa hanyalah kalkulasi dingin.

“Mira, kenapa melamun? Ayo bantu bereskan piring,” perintah Bu Corazon dengan nada ketus dari meja makan, sementara para tamunya sedang asyik memuji interior ruang tamu—yang semuanya kubeli dengan uangku sendiri.

Aku tidak menjawab. Dengan tenang, aku berjalan ke arah meja makan, merebut perhatian semua orang. Aku mengetuk layar ponselku, lalu menyambungkannya ke TV pintar 65 inci di ruang keluarga melalui fitur screen mirroring.

Dalam sekejap, layar TV menampilkan halaman aplikasi penghuni apartemen. Sertifikat kepemilikan unit atas namaku, bukti pelunasan cicilan, dan daftar Resident Access Control terpampang nyata dengan ukuran sangat besar.

“Apa-apaan ini, Mira? Kenapa memamerkan dokumen di depan tamu?” Paolo berdiri dengan wajah panik, mencoba merebut ponselku.

“Jangan sentuh aku, Paolo,” kataku dengan suara yang teramat tenang namun dingin. “Aku cuma mau meluruskan sesuatu di depan Tante-Tante sekalian. Apartemen ini bukan dibeli dari hasil kerja keras anak Bu Corazon. Pria ini,” aku menunjuk Paolo, “bahkan tidak menyumbang satu rupiah pun untuk dinding tempat kalian bersandar malam ini.”

Suasana ruangan langsung hening mencekam. Sepupu Bu Corazon menghentikan kunyahannya. Wajah Bu Corazon memerah, antara malu dan murka.

“Mira! Jaga mulutmu! Berani-beraninya kamu mempermalukan suamimu sendiri!” pekik Bu Corazon.

“Suami?” Aku terkekeh sinis. “Suami macam apa yang mendaftarkan ibu mertuanya sebagai pembantu di aplikasi pengelola apartemen hanya supaya ibunya bisa diusir lewat lift servis? Suami macam apa yang membuang oleh-oleh dari seorang ibu yang menempuh perjalanan 14 jam ke tempat sampah?”

Aku menatap Paolo yang kini wajahnya pucat pasi seperti mayat. Tamu-tamu mereka mulai berbisik-bisik, menatap sinis ke arah Bu Corazon dan Paolo.

Aku berjalan mendekati Ibu yang berdiri terpaku di dekat dapur. Kuambil tas anyaman tuanya yang kosong.

“Ibu, ayo kita pergi dari sini,” kataku lembut.

“Mira! Jangan gila kamu! Mau ke mana malam-malam begini?” bentak Paolo, mencoba menahan lenganku.

Aku menepis tangannya dengan kasar. “Aku tidak pergi ke mana-mana, Paolo. Aku cuma mau mengantar Ibuku ke hotel bintang lima terbaik di dekat sini agar beliau bisa istirahat dengan layak. Tapi sebelum aku pergi…”

Aku menoleh ke arah manajemen apartemen melalui ponselku. Dengan tiga kali ketukan, aku mencabut hak akses utama untuk nama Paolo Reyes, Corazon Reyes, Lorna Reyes, dan Mika Reyes. Status mereka langsung berubah menjadi ‘Akses Dibatalkan’.

“Malam ini, aku beri kalian waktu sampai jam 10 malam untuk mengemas semua barang kalian. Anggap saja ini peringatan terakhir. Mulai besok pagi, kode akses pintu ini sudah diganti. Kalau kalian masih ada di sini, satpam—yang tadi kalian suruh mengusir ibuku—akan menyeret kalian keluar lewat lift servis.”

“Mira! Kamu tidak bisa mengusir mertuamu sendiri! Ini keterlaluan!” Bu Corazon berteriak histeris, air matanya mulai keluar karena malu di depan saudaranya.

“Di sini ada standar, Bu. Dan standar rumah saya terlalu tinggi untuk orang-orang parasit yang tidak punya tata krama seperti kalian,” jawabku telak.

Aku menggandeng tangan Ibu yang hangat. Beliau menatapku dengan mata berkaca-kaca, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena bangga melihat putrinya tidak lagi bisa ditindas.

Saat kami berjalan menuju pintu keluar, aku sengaja melewati lift utama dan tersenyum pada satpam yang berjaga di koridor. Saat itulah aku sadar: rumah yang bersih bukanlah rumah yang bebas dari debu atau bau kampung, melainkan rumah yang bersih dari manusia-manusia berhati kotor dan bermuka dua.

Dan malam itu, aku baru saja membuang sampah terbesar dalam hidupku.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.